METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kisah Prabu dan Aghata (Part 3)


__ADS_3

Tiga minggu kemudian


Prabu menatap wanita yang ada di hadapannya dengan lekat. Melihat Aghata begitu rapuh, sama sekali tak terlihat bahwa ada darah Jerman yang mengalir dalam tubuh wanita cantik itu, dimana kebanyakan wanita Jerman dikenal sporty dan pekerja keras. Mungkin karena separuh gen nya menurun dari darah ibunya, sehingga secara fisik saja yang menampakkan bahwa dia adalah blasteran Jerman-Indonesia.


Ya, standar kecantikan seorang wanita berdarah Jerman memang melekat pada Aghata. Dia tampil simpel dengan rambut pirang, ramping dan kulit putih mulus. Bahkan kecantikan wanita yang baru saja dinikahi Prabu itu menjadi lebih sempurna dengan warna mata hijau, yang sangat langka dan hanya dimiliki oleh dua persen manusia di dunia.


“Terima kasih telah menyelamatkan hidupku,” tutur Aghata lembut. Dia sungguh tahu, bahwa ini tidak mudah untuk Prabu, setelah mendengar sendiri dari pria yang baru saja menikahinya itu bahwa dirinya telah mempunyai istri dan seorang anak.


“Kuatlah demi aku dan bayimu. Kini kau telah memiliki seorang suami dan seorang anak laki-laki yang sangat lucu,” Prabu mengelus ujung kepala Aghata dengan lembut.


Meski Prabu tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah pernikahannya dengan Aghata, namun dia benar-benar trenyuh mendengar kisah hidup yang Aghata ceritakan kepadanya. Dan entah karena perasaan kasihan atau apa, yang jelas Prabu merasa bahwa menikahi Aghata adalah pilihan yang paling tepat. Bukan karena nafsunya sebagai pria dewasa, namun karena Aghata benar-benar membutuhkan seseorang yang bisa menguatkan kerapuhan jiwanya.


“Untung saja ada dewa penolong yang menyelamatkan kita dan membawa Mommy ke pusat Rehabilitasi, sehingga meski Mommy harus sangat tersiksa tanpa suntikan heroin itu, akhirnya Mommy bisa melihatmu tetap hidup, Nak,” ucap Aghata sambil membelai kaca inkubator bayi dimana Daniel kecil ditempatkan. Usia kandungan Aghata yang baru delapan bulan, membuat Daniel kecil lahir dengan berat delapan belas kilogram, sehingga selama beberapa pekan harus berada di inkubator itu dan tetap dirawat di rumah sakit selama tiga pekan Aghata berada di pusat rehabilitasi.


Setelah mengucapkannya, bahkan Aghata tak mampu menahan kristal bening itu lolos dari matanya. Dia terus mengingat betapa sakitnya saat dia berusaha lepas dari jerat narkoba. Proses detoksifikasi yang begitu menyiksa hingga dia harus merasa sakit di seluruh tubuhnya, juga langkah stabilisasi yang dilakukan oleh dokter kepadanya, sungguh rela Aghata lakukan setelah dia melihat Daniel kecil lahir ke dunia. Apalagi Prabu yang tak henti-hentinya memotivasi agar mereka bisa hidup normal layaknya keluarga pada umumnya, membuat Aghata mulai bisa berpikir jernih dan menata kembali serpihan-serpihan luka yang pernah menyayat hati dan jiwanya.


“Begitu jahatnya Mommy karena telah berusaha untuk mengakhiri hidupmu bersamaku, Nak,” lanjut Aghata dengan tatapan sendu.


“Sudahlah, semua sudah berlalu. Sekarang saatnya kau mendapatkan kebahagiaanmu, bersama suami dan anak kita,” Prabu kembali trenyuh, mendengar ucapan seorang ibu yang terlihat begitu terharu melihat bayi itu akhirnya bisa berada dalam pandangan matanya.


“Anak kita?” tanya Aghata dengan mata berkaca-kaca.


“Bukankah anakmu adalah anakku? Bahkan aku akan dengan senang hati menyematkan namaku di belakang namanya. Aku namai dia Daniel Dewangga,” Prabu ikut mengelus kaca inkubator dimana tangan Aghata masih berada di sana.


Aghata pun tersenyum hangat melihat ketulusan hati suaminya. Entah mengapa sejak hari pernikahan itu, kekuatan yang luar biasa tiba-tiba hadir dalam jiwanya. Sebuah kekuatan baru, yang membuat semangat dalam hidupnya tiba-tiba menggebu.

__ADS_1


***


Hari-hari yang sungguh menguras energi harus rela Prabu lewati, demi menutupi pernikahan keduanya kepada istri pertamanya, Titania. Bagaimana tidak? Prabu harus rela bolak-balik dari rumah, kemudian ke kantor, lalu ke rumah baru yang dia beli untuk Aghata, dan akhirnya kembali lagi kepada Titania setiap harinya. Untung Aghata tidak pernah protes dengan keputusan Prabu yang tidak pernah bermalam di rumah baru mereka. Bahkan Aghata benar-benar mengerti dan menerima begitu saja saat Prabu mengatakan bahwa dirinya belum siap memberikan nafkah bathin kepada Aghata, dengan belum pernah sekalipun menyentuh tubuhnya.


Bagi Aghata, kasih sayang yang Prabu berikan untuk Aghata dan anaknya sudah lebih dari cukup. Bahkan Aghata benar-benar bahagia melihat Prabu begitu antusias mengajarkannya agama yang dianutnya.


Hingga bom besar dalam cinta segi tiga itu pun akhirnya meledak. Karena handphone Titania hilang, akhirnya dia menelphon Prabu dengan handphone dan nomor baru tanpa memberitahukan kepada suaminya melalui pesan terlebih dahulu.


Prabu yang waktu itu tengah berada di kediaman Aghata, dengan sengaja meletakkan benda pipih miliknya di atas meja. Hingga terjadilah apa yang sudah seharusnya terjadi.


Saat Prabu berada di kamar mandi, dering telphon yang begitu berisik mengusik Daniel kecil yang waktu itu sedang tertidur lelap bersama ibunya. Karena tidak ingin putranya terbangun, akhirnya Aghata beranjak dan meraih handphone itu kemudian membawanya ke arah kamar mandi dimana suaminya berada.


"Mas, ada telphon," seru Aghata.


"Dari siapa?" tanya Prabu.


"Tolong angkat saja, Sayang! Bilang aku akan kembali menghubunginya," ucap Prabu tanpa pikir panjang.


Karena permintaan Prabu itulah akhirnya Aghata menjawab telphon yang masih saja berdering dalam genggaman tangannya.


“Assalamu’alaikum,” Aghata menyapa dengan ramahnya.


Mendengar suara seorang wanita mengangkat telphon suaminya, Titania yang berada di seberang sana tiba-tiba menjatuhkan handphone-nya begitu saja dari tangannya.


“Kenapa suara seorang perempuan? Bukankah sekretaris Mas Prabu laki-laki?,” guman Titania dalam hati.

__ADS_1


Titania pun segera meraih handphone itu kembali dan menata hati untuk mencoba berbicara dengan orang yang berada di balik telphonnya.


“Siapa, Sayang?” belum sempat Titania membuka mulutnya, sudah terdengar suara seorang pria di ujung sana.


“Tidak tahu, Mas. Mungkin salah sambung atau gangguan jaringan. Dari tadi tidak terdengar suaranya,” lagi-lagi suara seorang wanita yang dia yakini sedang bersama suaminya terdengar jelas di telinganya.


Titania pun berusaha menenangkan hatinya, berharap bahwa apa yang dipikirkannya adalah sebuah kebetulan semata.


“Mungkin itu adalah teman atau koleganya. Tapi kenapa Mas Prabu memanggilnya sayang? ahh, sudahlah,” gumam Titania berkali-kali, untuk menenangkan hatinya.


Bahkan sampai Prabu pulang ke rumah pun, Titania tetap bersikap biasa-biasa saja. Sekuat tenaga dia berusaha menahan diri, untuk tidak menanyakan hal yang sedang menjadi pertanyaan besar dalam hatinya.


Hingga tak terasa, siang pun datang. Lebih cepat dari prediksi Titania, orang yang dimintanya untuk membuntuti Prabu sudah memberikan sebuah laporan yang mengejutkan.


"Saya sudah mengirimkan laporan hasil perburuan saya pagi ini ke rumah Anda, Nyonya. Sebentar lagi kurir akan mengantarkannya," sebuah pesan yang membuat Titania benar-benar harus menata hatinya, masuk dalam ponsel yang selalu dalam genggamannya.


Tak butuh waktu lama, bel pun berbunyi. Dengan segera Titania membuka pintu dan mendapati seorang kurir menyerahkan sebuah amplop coklat yang memang sedang dinantikannya sedari tadi.


Setelah mengucapkan terima kasih dan kurir itu berlalu dari hadapannya, Titania pun husegera masuk dan membuka amplop coklat itu dengan kedua tangannya.


Alangkah terkejutnya Titania, ketika sebuah foto memampang dengan nyata seorang pria yang tak lain adalah suaminya sedang bersama seorang perempuan dengan seorang bayi yang ada dalam gendongannya.


Apalagi ketika melihat satu foto lagi, yang menggambarkan betapa mesranya mereka, saat Prabu mencium ujung kepala perempuan yang sedang bersamanya itu dengan hangatnya. Dari foto itulah Titania tahu bahwa dunia yang dia bangun bersama seorang Prabu Dewangga untuk menuju syurga-Nya benar-benar telah hancur dan luluh lantak bersama sebuah pengkhianatan yang kini benar-benar nyata menerjang rumah tangga mereka.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Pembaca setia, karena beberapa hal, mohon maaf episode 100 s.d. 104 ceritanya author ganti ya. Semoga tetap menarik dan bisa dinikmati. Terima kasih.


__ADS_2