
“Hallo, apakah ada orang di sini?” tanya Ryan setengah berteriak. Dia mengulang kalimatnya berkali-kali, namun tak ada seorang pun yang menyahutnya. Hanya sisa-sisa suaranya sendiri saja yang menggema di gedung tua itu dan sampai lagi pada telinganya.
Hingga tiba-tiba, sebuah sentuhan di pundaknya mengagetkan alam sadarnya. Ryan pun membalikkan badannya dan seketika membelalakkan mata melihat siapa sosok yang tiba-tiba ada di hadapannya.
“Arya?” Ryan benar-benar tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya, melihat sekretaris sekaligus saudara angkatnya kini berdiri di depannya.
“Ikut aku, Boss. Kita tidak punya waktu lagi,” Arya berbicara tanpa menghiraukan ekspresi Ryan yang masih terlihat bingung dengan kemunculan Arya yang tiba-tiba. Ryan pun tak banyak bertanya. Rasa sayang dan percayanya kepada seorang Arya masih sama seperti dulu, tak ada yang berubah sama sekali di hatinya.
Mereka menyusuri lorong gedung tua yang semakin ke dalam semakin gelap dan pekat itu. Hawa dingin tiba-tiba menyentuh kulit mereka, akibat lembabnya ruang yang sama sekali tak tersentuh cahaya. Hanya kilatan cahaya senter dari handphone mereka saja yang membuat jalan yang mereka lalui bisa terlihat. Meski akhirnya semakin jauh berkas-berkas cahaya mulai masuk melalui lubang-lubang jendela, hingga sampailah mereka pada bagian belakang gedung yang suasananya sangat jauh berbeda.
Ternyata di bagian belakang gedung terdapat area parkir yang cukup luas, meski ilalang tetap saja mewarnai kesan kuno dalam keseluruhan bangunan. Di area parkir itu sudah berjajar lima mobil yang merupakan anak buah Arya.
“Silahkan,” Arya membuka pintu mobil yang berada di barisan paling depan dan mempersilahkan Ryan masuk, hingga Ryan duduk di kursi penumpang dan Arya memposisikan diri di belakang kemudi. Kini, di dalam mobil itu pun hanya ada mereka berdua, sementara anak buah Arya berada di empat mobil lain di belakang mereka.
Ryan tak banyak bertanya dan hanya mengikuti instruksi mantan sekretaris yang selalu bisa diandalkannya. Tak butuh waktu lama, mereka pun meninggalkan gedung tua itu tanpa banyak kata-kata, bahkan mobil Ryan yang masih terparkir di sana mereka tinggalkan begitu saja.
“Apakah ini mobil yang kau beli dari hartaku di masa pelarianmu, bocah tengil?” sindir Ryan dengan ekspresi muka yang sulit diartikan.
“Tentu saja. Bahkan semua orangmu sekarang sudah ada dalam kendaliku,” tanpa beban, Arya menjawab setiap pertanyaan konyol Ryan, bahkan dengan tawa membahana tak seperti biasanya.
__ADS_1
“Ha-ha-ha-ha. Kau memang anak tak tahu di untung. Mama sangat sedih mendengar pengkhianatanmu,” tawa Ryan membahana memenuhi mobil yang dinaikinya. Sindiran demi sindiran, ejekan demi ejekan dan umpatan demi umpatan pun keluar dari mulut mereka seolah ingin melampiaskan kerinduan dan kenangan mereka setelah sekian lama mereka tak bersua.
Mobil pun melaju semakin kencang membelah jalanan yang terlihat sangat lengang. Bukan karena hari spesial sehingga tak ada kendaraan yang berlalu lalang, namun karena mereka memilih jalur alternatif yang jauh dari keramaian sehingga mereka bebas melenggang.
Setelah satu jam perjalanan, akhirnya mereka memasuki area perkantoran. Sebuah gedung penuh kenangan yang beberapa bulan lalu harus Ryan tinggalkan karena sebuah drama pengkhianatan. Tulisan besar di atas gedung yang sejak puluhan tahun memamerkan kebesaran nama Dewangga Group, kini sudah berganti dengan nama yang diberikan oleh pemilik barunya. Ya, sebuah tulisan You And Me Group sekarang terpampang nyata di bagian atas gedung itu, mensiratkan kesiapan pemiliknya untuk menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan baru yang melesat pesat, siap mensejajarkan diri dengan perusahaan raksasa lainnya di negeri ini.
Arya pun mengajak Ryan menuju sebuah lift khusus dan memencet tombol ke lantai atas, lantai penuh kenangan saat Ryan masih menjadi presiden utama di gedung itu. Lantai dimana hanya ada ruangannya dan ruangan Arya serta satu sekretaris Arya yang ada di sana. Dan begitu pintu lift terbuka, segera saja aroma kerinduan Ryan terhadap ruangannya dulu menusuk-nusuk hatinya.
“Begitu banyak yang harus aku tinggalkan hanya karena ide gilamu itu, Ar,” Ryan menggerutu sambil terus mengikuti Arya menuju ruang Presdir. Ketika pintu terbuka, betapa kagetnya Ryan mendapatkan sebuah kejutan yang membuat hatinya berlonjak girang.
“Sayang,” Ryan membulatkan mata begitu melihat Rani sedang berada di dalam sana bersama dengan Lena.
Rani yang sedang asyik bercengkrama dengan Lena yang kini sedang berbadan dua itupun melempar senyumnya begitu saja melihat suami yang dinantikannya sudah berada di hadapannya.
“Itu semua gara-gara permainan sekretaris tak tahu diri ini,” ucap Ryan sambil mengarahkan pandangannya pada Arya, yang kini justru menghampiri istri yang sedang mengandung anaknya itu.
“Kalian? Aku tak mengerti,” Lena menatap Arya dan Ryan secara bergantian dengan tatapan penuh pertanyaan. Sementara Rani yang mendengar perkataan Lena, hanya mengangguk-angguk tanda mempunyai pertanyaan yang sama di benaknya.
Melihat tatapan tajam dari dua perempuan di depannya itu, Ryan hanya mengangkat bahunya dan mengedarkan pandangan ke arah Arya. Dari tatapan matanya, terlihat sekali bahwa saat itu Ryan meminta Arya untuk menjelaskan semuanya.
__ADS_1
“Kamu pikir, kak Tamamu ini orang sebrengsek itu hingga rela berkhianat pada orang yang telah memberikan kehidupan kepadanya selama ini?” Arya berkata dengan senyum getirnya.
“Jadi?” kali ini Rani yang bertanya.
“Hanya dengan cara membuat Dewangga Group menjadi bangkrutlah yang bisa membuat Daniel menghentikan rencananya menguasai perusahaan ini. Karena itu atas sepengetahuan Papa Prabu dan Ryan, aku tak membayar gaji karyawan selama dua bulan dan memindahkan semua keuangan perusahaan ke dalam rekeningku. Tak hanya itu saja, semua tagihan bank sama sekali tak kubayarkan, hingga seolah-olah satu-satunya cara untuk menutup seluruh hutang bank dan membayar gaji karyawan yang telah ditangguhkan hanyalah dengan menjual seluruh aset perusahaan termasuk gedung ini,” Arya menatap wajah Lena dan Rani secara bergantian.
“Terus bagaimana dengan gedung ini?” Rani tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
“Aku yang membeli gedung ini beserta seluruh aset Dewangga Group yang di jual, dan membangun perusahaan ini kembali persis seperti dulu. Dengan uang yang kugelapkan tentunya. Hanya namanya saja yang ku ubah atas request Ryan,”
Arya dan Ryan kini tersenyum puas melihat apa yang dilakukan mereka bisa berhasil mengelabuhi Daniel dan kroni-kroninya. Bahkan saat ini mereka tos, dengan begitu bangganya. Mereka membiarkan Lena dan Rani membulatkan mata dan mulutnya mendengar suami mereka menceritakan sebuah konspirasi besar itu tanpa ada beban sedikitpun, bahkan rela menyembunyikan semua rencana mereka dari istri mereka dengan segala kegundahan yang dirasakannya.
“Tapi..., kenapa kamu muncul sekarang? Bukannya ini belum saatnya?” tiba-tiba Ryan mengerutkan dahinya.
“Karena Daniel berencana menghabisi kalian berdua hari ini juga, makanya tidak ada cara lain yang bisa kupakai selain meminta Pak Rudi untuk menjemput Rani ke kantornya sebelum jadwal kepulangan Rani yang seharusnya dan menelphonmu untuk datang ke gedung tua itu agar tidak ada yang menaruh curiga,” Arya mulai menampakkan ekspresi seriusnya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
*Jangan pelit bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up* setiap hari. hehehe...
Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih**.