
Ega tak bisa berkata-kata mendapatkan satu ciuman dari istrinya. Bagaimana tidak? Ini adalah kali pertama Meysie berinisiatif untuk menciumnya terlebih dahulu, jadi wajar jika hanya senyum bahagia yang mampu Ega tunjukkan saat itu.
"Aku tak akan mencucinya," bisik Ega sambil memegangi pipi bekas ciuman istrinya.
"Apa?" sahut Meysie, dan tiba-tiba mukanya berubah menjadi merah padam seketika, saat menyadari apa yang baru saja dia lakukan kepada suaminya.
"Ayo pakai jaketmu, Bang," Meysie mengalihkan pembicaraan, demi menghalau rasa malunya yang tak mampu dia sembunyikan.
Meysie langsung saja merebut satu jaket lagi dari tangan Ega dan membantu Ega mengenakannya. Setelah jaket itu telah dipakai suaminya, giliran skybo dan slayer yang dia pasang di kepala dan leher Ega.
"Siap?" Ega memastikan.
"Siap, Bang," sahut Meysie dengan semangat yang membara.
"The Rockies, here I come," seru Meysie sambil berlari meninggalkan Ega di belakang.
"Jangan lari, Sayang. Nanti kamu terjatuh," teriak Ega sambil mengejar istrinya.
Ya, saat ini mereka sedang berada di The Rockies. Salah satu tempat teromantis di Amerika Serikat yang menjadi pilihan tempat bulan madu bagi pasangan yang suka dengan tempat outdoor. Pegunungan Rocky adalah tempat yang sangat asyik untuk bermain ski, bermain salju, dan mendaki. Ditambah lagi dengan suasana romantis di depan api unggun saat malam hari atau di bak mandi air panas dengan pemandangan puncak bersalju, membuat pegunungan Rocky cocok menjadi teman petualangan bagi siapa saja yang suka dengan tantangan. Di sekitar pegunungan ini, terdapat banyak hotel yang menawarkan fasilitas mewah, yang menambah deretan alasan bagi setiap pasangan kekasih untuk menjadikan tempat ini sebagai tujuan bulan madu mereka.
Kini, Meysie dan Ega berada di tengah hamparan salju yang luas. Melihat itu, Meysie sudah merengek minta bermain ski seperti anak kecil yang minta mainan kepada orang tuanya.
"No, Honey," tolak Ega.
"Why?" Meysie mengerucutkan bibirnya.
"Terlalu berbahaya buat kamu, Sayang. I don't want anything to happen to you," jelas Ega sambil mengelus ujung kepala istrinya.
"Kalau gitu Meysie mau itu," Meysie menunjuk ke arah beberapa pengunjung yang sedang melakukan snowmobiling.
Snowmobiling merupakan salah satu olahraga ekstrem yang populer di negara-negara yang mengalami musim dingin. Kegiatan ini menggunakan kendaraan khusus seperti motor yang dirancang untuk meluncur di atas salju.
"Untuk bermain itu, sangat dianjurkan bagi rider pemula mengikuti safety class dan mempelajari tips-tips dan instruksi yang fokus pada pentingnya snowmobile training, Sayang," sahut Ega.
"Di sini ada trail heads atau trail beginnings di mana kita bisa mencoba perjalanan kita, Bang. Ada banyak klub yang semuanya terbuka dengan member baru," Meysie terus merajuk, ingin mencoba kedua olah raga ekstrim itu. Buat Ega sebenarnya tidak masalah, karena dia sudah sering melakukannya. Tapi untuk Meysie? Ega benar-benar khawatir.
"Meysie pernah coba keduanya, Abang. Don't worry about me," Meysie meraih tangan Ega dan merajuk manja.
"Baiklah. Tapi janji sama Abang, hati-hati. Bukankah Abang belum mewisudamu? I am very worried about you," Ega menatap istri tercintanya dengan lekat. Meysie yang di tatap menjadi salah tingkah, apalagi apa yang Ega katakan itu mengutip dari apa yang dia katakan saat tadi Ega kebut-kebutan.
"Janji, you will be fine," ucap Ega lagi.
"Of course, my dear husband," jawab Meysie spontan.
__ADS_1
Ega tersenyum bahagia mendapat jawaban istrinya. Ini untuk pertama kalinya Meysie menyebutnya dengan panggilan suamiku sayang.
Akhirnya, kesampaian juga Meysie melakukan dua olah raga ekstrim yang sangat diingininya itu. Hari itu pun mereka sungguh bersenang-senang tanpa ada beban. Mereka saling tertawa, berteriak sepuasnya, dan yang paling penting hilang sudah kecanggungan diantara mereka berdua. Ya, kini keduanya semakin dekat, hampir tak ada jarak di antara mereka.
Setelah puas bermain ski dan snowmobiling, mereka menghabiskan waktu mereka untuk bermain salju sepuasnya.
Baik Meysie maupun Ega, membuat patung salju dengan karakter masing-masing. Dengan telaten, mereka membuat bentuk kepala lengkap dengan mata, hidung dan telinga sehingga menyerupai wajah mereka.
"Ini wajahku?" Ega menunjuk patung kepala buah karya istrinya.
"Hmmm," Meysie menggangguk sambil tersenyum geli memandang karyanya sendiri.
"Lumayanlah," ucap Ega dengan sedikit terpaksa. Dia sungguh tak tega ingin memberi penilaian yang sebenarnya.
"Abang ngasih nilai jujur atau menyenangkan?" tanya Meysie serius.
"Jujur menyenangkan," sahut Ega asal.
"Maksudnya jujur menyenangkan?" Meysie memperjelas pertanyaannya.
"Ya jujur menyenangkan," Ega mencubit hidung istrinya dengan sayang.
"Ihh, gimana maksudnya?" kejar Meysie.
Meysie pun lupa soal jujur menyenangkan yang dia tanyakan. Kini dia fokus pada patung salju bentuk kepala yang hampir menyerupai gambaran dirinya.
"Kok Abang bikinnya bisa bagus begini sih?" Meysie mendekati patung salju itu.
"Karena, Abang membuatnya dengan sepenuh hati, untuk orang yang paling Abang cintai," Ega tersenyum tulus.
Tanpa aba-aba pun, Meysie langsung menghambur ke arah suaminya.
"Maafkan Meysie," setitik air bening, tak sadar menetes begitu saja.
"Hey, apa ini? Kita kan ke sini untuk bersenang-senang. Jangan ada air mata saat kita bersama, Sayang. Karena Abang hanya ingin melihatmu bahagia," tutur Ega penuh cinta.
Meysie pun tersenyum tulus, mendengar apa yang di ucapkan oleh suaminya. Walaupun dia tidak yakin dengan perasaannya, tapi satu hal yang pasti, dia sudah memantapkan diri untuk membuka hati hanya untuk suaminya.
"Kita pulang ke hotel sekarang?" tawar Ega.
"Ayuk," Meysie menjawab sambil berlari meninggalkan Ega.
"Hey, gadis nakal. Jangan curang! Kau mencuri start," seru Ega sambil mengejar istrinya.
__ADS_1
Meysie pun terus berlari saat menyadari bahwa Ega sudah semakin dekat dengan posisinya. Namun sayang, kecepatan Meysie tak sebanding dengan kecepatan Ega, hingga dalam waktu singkat Ega mampu mengejarnya.
"Yap, kena kau ya," Ega mendekap Meysie dari belakang, kemudian mengangkatnya dan memutar-mutar tubuh gadisnya itu dengan tawanya yang begitu lepas.
Meysie pun sangat menikmatinya. Dia hanya tertawa-tawa saat Ega mengangkat dan memutar-mutar tubuhnya begitu dia berhasil mengejarnya.
"Cukup, Bang. Meysie pusing," rengek Meysie.
Ega pun menurunkan istrinya, membalikkan tubuhnya dan memeluk erat istri tercintanya itu.
"Jangan pernah lari dari Abang, karena sejauh apapun kau pergi, Abang pasti akan mendapatkanmu kembali," tutur Ega sambil mendaratkan puluhan kecupan di setiap inchi wajahnya.
Meysie hanya mengangguk sambil mengembangkan senyumnya. Hari itu Meysie benar-benar tersadar, bahwa ternyata dia sangat beruntung mendapatkan seorang Ega yang mendampinginya sepenuh cinta.
Setelah beberapa saat, mereka kembali turun dari pegunungan yang menjadi saksi bisu tumbuhnya benih-benih cinta di hati Meysie untuk Ega Rahardian.
Mereka berjalan dengan saling bergandengan tangan, bahkan sesekali Ega rela menggendong Meysie di punggungnya agar istrinya itu tak merasa keletihan.
Setelah cukup jauh mereka berjalan, mereka langsung menuju hotel untuk mengistirahatkan tubuh mereka yang sudah terasa kelelahan.
Namun sebelum masuk kamar, mereka memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu di restoran hotel, mengingat hari mulai malam dan mereka sudah kelaparan.
Mereka memasuki restoran yang terletak di samping lobby hotel dengan tetap bergandengan tangan. Setelah masuk, mereka pun mencari tempat duduk ternyaman, sebelum akhirnya seorang pelayan datang memberikan daftar menu dan mencatat semua makanan yang mereka pesan.
Kini mereka hanya saling pandang, sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang. Hingga tiba-tiba, seorang perempuan datang menghampiri meja mereka dan langsung memeluk Ega dari belakang.
Baik Meysie maupun Ega sama-sama kaget menyadari sesuatu yang terjadi di luar dugaan.
"Hello, my dear. I miss you so much. Don't you miss me?" ucap perempuan itu manja. Dia tak melepaskan pelukannya, bahkan dengan pedenya justru meletakkan dagunya di bahu Ega.
Meysie membulatkan mata melihat adegan yang ada di depannya. Bahkan kini dia seperti obat nyamuk, mendapati suaminya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang perempuan itu sampaikan satu per satu kepadanya.
"Abang, Meysie capek. Meysie ke kamar dulu, ya. Silahkan kalian lanjutkan obrolan kalian dulu, mungkin kalian sudah saling rindu setelah cukup lama tidak bertemu," Meysie betul-betul tak tahan, melihat perempuan itu terus bercengkerama dengan suaminya dengan begitu mesra. Tidak hanya didengar dari ucapannya yang sangat manja, tapi secara fisik, perempuan itu juga terus menyentuh suaminya tanpa mempedulikan tatapan tajamnya.
"Makanlah dulu, Mey. Katanya lapar?" sahut Ega datar.
"Mey? Mana panggilan sayang yang biasa Abang ucapkan? Ohh, apa karena ada perempuan ini? Iya?" gerutu Meysie dalam hati.
"Meysie tidak lapar, Bang. Terima kasih," dengan tangis yang tertahan, Meysie segera meninggalkan Ega bersama perempuan itu.
Setelah minta kunci di front office, Meysie pun akhirnya pergi ke kamarnya seorang diri.
BERSAMBUNG
__ADS_1