
“Cepat minta ambulance kemari!” Arya berteriak ke arah Johan dan Rudi yang baru saja datang.
“Tidak cukup waktu jika kita menunggu ambulance datang. Nina mengeluarkan banyak darah. Kalian bawa dia ke rumah sakit sekarang! Cepat!” Ryan ikut berteriak, sehingga Johan meletakkan kembali ponsel yang baru saja dia ambil di kantong celananya, kemudian dengan sigap langsung mengambil alih Nina dari pelukan Hengky dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Melihat kondisi Nina yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah yang terus mengucur dari perutnya, Johan membiarkannya tetap berada di kursi penumpang dalam pangkuannya, sementara Rudi duduk di balik kemudi dan langsung menginjak pedal gas di bawah kaki kanannya. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk segera meluncur menuju ke rumah sakit terdekat, dengan harapan bisa menyambung nyawa Nina.
Davina dan Aghata yang sangat mengkhawatirkan kondisi Nina pun mengikuti mereka dengan mobil lain yang dikemudikan Pak Mamat, sementara sisanya tetap berada di rumah mengingat Meysie masih ada di sana.
“Telephon polisi,” pinta Ryan kepada Arya, sambil memeluk dan mengecup kening istrinya berkali-kali. Rani benar-benar masih shock mengingat Meysie hampir saja mencelakai dirinya dan janin yang masih berada dalam kandungannya.
Mendengar perintah Ryan, Arya segera merogoh handphone yang berada dalam saku celananya. Setelah berselancar sebentar, dia memencet icon hijau begitu dia memastikan bahwa nomor yang tertera disana adalah nomor kantor polisi yang sedang dicarinya.
“Tunggu!” tiba-tiba Hengky merebut benda pipih itu.
“Aku meminta maaf atas nama kakakku,” ucap Hengky, sambil menoleh sekilas ke arah Meysie yang masih diam terpaku sambil menatap benci ke arah Rani.
Kini Meysie berdiri agak jauh dari tempat Rani duduk, dengan tangannya yang masih berada dalam cengkeraman Naja dan juga Daniel.
“Kakakmu sudah keterlaluan, Hengky. Dia harus diberi pelajaran,” Arya merebut handphone-nya kembali kemudian segera menelpon polisi.
“Semua ini salahmu!” seru Meysie dengan tatapan benci ke arah Rani.
“Aku tak akan membiarkanmu merebut Ryan dariku. Ryan mencintaiku bukan dirimu. Jadi jangan harap kau bisa hidup bahagia dengan lelakiku apalagi mengandung anak dari orang yang kucintai,” Meysie berteriak sambil meronta, berusaha melepaskan cengkraman tangan Naja dan berusaha menyerang Rani kembali dengan tangannya.
__ADS_1
Tubuh Rani bergetar hebat melihat betapa garangnya perempuan yang ada di depannya itu. Keberaniannya pun hilang seketika, mengingat sekarang kondisinya sedang berbadan dua. Bahkan rasa khawatir yang luar biasa akan keselamatan janin yang sedang dikandungnya, membuat dia tak banyak bicara. Ya, waktu itu Rani benar-benar tak berani ambil resiko untuk meladeni kegilaan Meysie hanya karena cinta butanya terhadap suaminya.
“Kau salah, Meysie. Sudah berulang kali kubilang kepadamu. Hanya Rani satu-satunya wanita yang kucintai seumur hidupku." Ryan menghela nafas panjang.
"Mengenai kita, itu semua salahmu. Kau yang meninggalkan aku dan tidak berusaha mempertahankan cinta itu. Ini salahmu, Meysie. Semua ini salahmu,” lanjut Ryan, sambil mengeratkan pelukannya kepada Rani dan memandang Meysie dengan tatapan penuh kebencian.
“Diam kau, Ryan. Dia telah merebutmu dariku. Biar kuhabisi wanita itu. Aku tak rela siapapun memilikimu jika aku tak bisa memilikimu,” Meysie terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Naja.
“Jangan gila kamu, Meysie. Kumohon, sadarlah!” teriak Ryan, berharap sahabat sekaligus cinta pertama yang bahkan tidak pernah dia miliki itu bisa sadar dengan kesalahannya.
“Kau yang membuatku gila, Ryan. Kau yang membuatku gila. Lepaskan aku. Biar aku habisi wanita itu!” teriak Meysie histeris.
“Lakukan apa yang kau mau, jika kau pikir dengan begitu bisa membuat suamiku mencintaimu,” di luar dugaan, Rani melepaskan pelukan Ryan dan menghampiri Meysie sehingga wajah mereka tepat dalam posisi berhadapan.
“Sayang,” Ryan segera berlari dan menarik Rani dalam pelukannya kembali.
“Kau benar-benar perempuan tidak tau malu, Meysie. Kau cantik, kaya, terhormat dan juga terpelajar. Kau sungguh merendahkan dirimu sendiri dengan melakukan hal sekeji ini. Aku benci dirimu, Meysie. Kau dengar itu? Aku benci dirimu,” cicit Ryan.
Mendengar kata benci keluar dari mulut Ryan, Meysie lunglai seketika. Dia membiarkan tubuhnya ambruk dan bersimpuh tanpa tenaga.
“Bahkan kau tega mengucapkan kata benci kepadaku hanya karena perempuan ini, Ryan?" Meysie tergugu. Hatinya hancur mendengar kata-kata itu.
"Benar-benar tak ada lagikah kata kesempatan untukku yang bisa kau berikan?" lirih Meysie, dengan air mata yang terus berderai.
__ADS_1
"Bahkan sudah ribuan kali aku katakan kepadamu, Meysie. Mari kita bersahabat seperti dulu. Anggaplah Rani juga sebagai sahabatmu karena dia adalah istriku. Tapi kenapa kau kecewakan aku, hah?" cicit Ryan penuh emosi.
"Karena aku tidak rela dia menjadi istrimu. Karena aku tidak mau hanya sekedar menjadi sahabatmu. Karena aku ..., hiks-hiks-hiks. Karena aku mencintaimu," air mata Meysie tumpah.
"Tidak, Meysie. Apa yang kau lakukan ini justru menyakitiku. Tidak cukupkah dulu kau menyakiti hatiku hingga sekarang kau bahkan melakukan lebih dari itu? Aku masih bisa tahan ketika dulu kau memilih menikah dengan pria itu dan mengambangkan cintaku. Tapi ketika kau berusaha menyakiti Rani, satu-satunya wanita yang kucintai, apa kau tau seperti apa sakitnya hatiku? Bahkan aku rela mati menggantikannya jika itu benar-benar terjadi," oceh Ryan, sambil memandang nanar ke arah Meysie. Sungguh, rasa sakit di hatinya ketika Meysie memilih menikah dengan tunangannya dulu kini hadir kembali.
"Kalau begitu mari kita akhiri semua ini, Ryan. Tak ada satu pun diantara kita bertiga yang boleh hidup agar tak ada satupun di dunia ini yang memilikimu," Meysie berteriak sambil meronta-ronta. Dengan sekuat tenaga, dia bangkit dan berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman Naja. Bahkan karena terlalu kuatnya, Hengky dan Arya ikut menghambur ke arah Meysie dan ikut memeganginya.
Hingga tiba-tiba, terdengar derap langkah beberapa orang memasuki rumah itu. Tidak lama kemudian, terlihat lima orang berseragam polisi lengkap dengan senjata di tangannya masuk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang.
"Tangkap wanita sialan ini, Pak. Dia telah menusuk salah satu kelurga kami," seru Daniel sambil menyeret Meysie ke arah para polisi itu.
"Dimana korban?" tanya polisi itu menyelidik. Matanya berhenti pada satu titik, dimana darah berceceran di lantai bawah sofa tempat Rani duduk di sana.
"Korban sudah kami larikan ke rumah sakit, Pak," Arya menimpali.
"Baiklah. Bawa perempuan ini!" seorang polisi memberi perintah kepada polisi lainnya.
Mereka pun melepaskan Meysie dan menyerahkannya kepada polisi itu, namun dengan secepat kilat Meysie mengambil kesempatan di saat cengkraman tangan mereka sedikit renggang. Dengan sigap, Meysie meraih sebuah senjata yang bertengger manis di pinggang polisi itu, kemudian berlari menarik Rani dari pelukan Ryan yang waktu itu lengah begitu polisi telah datang.
Dan yang selanjutnya terjadi ...,
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Like, vote dan bintang limanya dulu dong...