
Malam ini Ryan tak bisa tidur. Matanya terus membelah malam, dalam cahaya temaram yang bersinar remang-remang. Seperti rembulan yang mulai redup, hati Ryan pun kini direndam kabut. Rasa kehilangan yang masih berdesir, membuat sekelumit dendam terus mengalir.
"Semua tidak akan terjadi jika Daniel dan Mommy Aghata tidak pernah hadir dalam kehidupan Papa," keluh Ryan, sambil memandangi langit-langit kamarnya.
Mendengar ucapan Ryan, Rani hanya diam terpaku. Dia mulai berpikir bagaimana caranya membuat suaminya tersadar bahwa ada atau tidaknya Daniel dan Aghata, ini semua tetap akan terjadi jika sudah menjadi kehendakNya.
Ya, beberapa hari setelah mama dan sang papa meninggal, sikap Ryan memang cenderung berbeda. Dia lebih banyak diam dan jarang keluar kamar. Sekali bicara pun membuat semua yang kini masih tinggal di kediaman utama keluarga Dewangga, terutama Daniel dan Aghata jadi merasa tidak nyaman.
“Jangan rusak kebaikan Mama dan Papa dengan dendam, Mas. Mas Ryan sudah berjanji akan memenuhi wasiat Mama, bukan? Bukankah Mas Arya, Daniel dan Mommy Aghata adalah bagian dari wasiat itu?” kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Rani. Ryan pun tampak mencerna setiap kata demi kata yang Rani ucapkan.
Hingga pagi pun datang. Tepat sebelum sarapan, Aghata dan Daniel menemui Ryan di meja makan.
“Mommy dan Daniel pamit pulang, ya Sayang. Kamu tidak apa-apa kan?” pamit Aghata ragu. Sebenarnya Aghata sungguh tahu bagaimana perasaan Ryan saat itu.
“Mommy mau pulang kemana?” tanya Ryan terdengar bersahabat. Kecanggungan setelah pemakaman Prabu yang sempat terjadi di antara mereka, kini terdengar mulai mencair seperti sebelumnya.
“Mommy pulang ke rumah Daniel, Sayang. Mommy janji, Mommy akan sering-sering menjengukmu kemari,” jelas Aghata sembari melempar sekulum senyumnya. Kini dia merasa cukup lega, melihat putra dari suaminya itu mulai bisa menerima semua yang telah terjadi kepadanya. Begitu juga Rani. Dia hanya mendengar percakapan mereka dengan senyum dan rasa lega.
“Apakah Mommy tidak ingat bahwa Mama telah meminta Ryan untuk menjaga kalian dan juga Arya? Jadi Ryan mohon, Mom. Tinggallah disini agar Ryan bisa melaksanakan wasiat Mama,” tutur Ryan penuh harap.
“Tapi, Nak,” Aghata terlihat ragu. Dia melihat Daniel dan Rani secara bergantian, seolah meminta pertimbangan.
__ADS_1
Rani hanya mengangguk, sementara Daniel terlihat mengangkat bahu, itu artinya dia akan mengikuti kesepakatan antara Ryan dan mamanya itu. Lagi pula ada satu hal yang masih mengganjal di hatinya. Daniel masih harus mencari jawaban dan meminta pertanggungjawaban kepada Naja jika memang dia adalah Daysie yang mengkhianatinya. Meskipun kini hati Daniel telah sadar sepenuhnya, namun terkait sebuah pengkhianatan dia akan tetap pada prinsipnya. Bahwa seorang pengkhianat tetaplah harus mempertanggungjawabkan pengkhianatannya. Setidaknya jika Daniel tetap tinggal di rumah itu, dia akan dengan mudahnya bisa mencari tahu.
Setelah diskusi panjang, akhirnya mereka pun membuat kesepakatan. Arya dan Lena serta Nina akan menemani dan tinggal bersama Mama Davina, sementra Aghata dan Daniel akan tetap tinggal di kediaman keluarga Dewangga bersama Rani dan Ryan. Tentu Pak Rudi, Naja, Bik Tum dan suaminya juga tetap bertahan karena sekarang hanya Ryan dan Ranilah majikan mereka.
***
Berada dalam satu atap dengan Daniel, membuat Naja tak bisa mengendalikan kegalauan hatinya. Bagaimana tidak? Kini dia harus tinggal bersama dengan orang yang pernah meminta sumpah setia dari dirinya, dan dengan sangat terpaksa Naja harus melanggar sumpah setia itu dengan mengkhianatinya dan berikrar setia untuk keluarga Dewangga.
Meski kini Daniel telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keluarga Dewangga, tapi dalam hati kecilnya, Naja sangat yakin bahwa Daniel pasti akan mencari tahu tentang jati dirinya yang sebenarnya. Karena itulah Naja memilih untuk selalu menghindar jika harus bertemu mata dengan mantan majikannya itu, meskipun sangat mustahil jika hal itu akan terjadi dalam waktu yang panjang mengingat kini mereka berada dalam satu tempat tinggal.
Seperti pagi itu. Selama Aghata berdiskusi tentang wasiat Mama Titania, Daniel justru menfokuskan matanya hanya pada Naja yang saat itu berada di ujung ruang untuk berjaga-jaga.
Naja yang sudah terbiasa bermain peran selama dia menjadi seorang agen mata-mata yang siap melakukan apapun perintah tuannya itu pun entah kenapa begitu tegang kala menyadari kemana tatapan Daniel tertuju.
“Apa yang akan dia lakukan jika dia tahu bahwa Daysie adalah aku?” gumam Naja dalam hati.
Naja pun bergidik ngeri ketika meraba-raba apa yang akan Daniel lakukan kepadanya. “Mata yang dulu selalu meminta kematian itu, akankah juga meminta itu kepadaku jika dia benar-benar tahu?” pikiran Naja terus berkelana.
“Jika saja aku tak memikirkan ibu dan adikku, tentu aku akan memilih kematian waktu itu,” lirih Naja mengingat kejadian demi kejadian yang menimpa dirinya.
Ya, Naja yang kehilangan kariernya tepat saat berada di puncak ketenarannya, harus berbalik arah menjadi seorang agen mata-mata hanya untuk tetap bertahan hidup dan memberi penghidupan pada orang-orang yang teramat sangat dicintainya. Dan karena alasan yang sama itu pulalah, dia akhirnya memutuskan mengkhianati janji setia kepada seorang Daniel dan justru mengabdikan diri kepada Prabu Dewangga.
__ADS_1
“Naja!" sebuah panggilan membuyarkan lamunan Naja. Ternyata dia tidak dengar ketika Rani berkali-kali memanggilnya sehingga Rani mengeraskan panggilannya.
“Siap, Nona,” Naja segera menghampiri nonanya, yang saat ini masih bercengkerama bersama Daniel dan yang lainnya.
“Bawakan koper Daniel dan Mommy Aghata kembali ke kamarnya. Jangan lupa minta tolong sekalian bereskan juga,” perintah Rani kepada Naja.
“Baik, Nona,” Naja mengangguk dan segera menggeret dua koper milik Daniel dan Aghata yang sebelumnya mereka gunakan untuk mengemasi barang-barang mereka, sesaat sebelum mereka berpamitan. Namun karena akhirnya mereka memutuskan untuk tetap tinggal di rumah itu, maka Rani meminta Naja untuk membereskan barang mereka kembali.
Setelah Naja memberesi barang Aghata di kamarnya, dengan ragu Naja pun segera berpindah ke kamar Daniel untuk membereskan semua pakaiannya ke dalam lemari. Dan apa yang dikhawatirkan Naja ternyata benar-benar terjadi.
“Tuan,” Naja tersentak ketika menyadari pintu kamar itu tertutup.
“Selesaikan perkerjaanmu, Naja. Aku hanya ingin beristirahat. Aku tak akan mengganggumu,” ucap Daniel sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa. Matanya terus mengikuti kemana arah Naja bergerak, sembari berpikir cara apa yang paling tepat untuk membuka rahasia besar yang telah dilakukan mantan agen mata-matanya itu.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Untuk episode kali ini maaf ya readers, jika kurang greget. hehehe....
Tapi tetep minta jejaknya boleh dong ya. Klik like, vote, rate 5 and comment positifnya. Terima kasih.
__ADS_1