
"Ada beberapa mobil mengikuti kita," suara yang terdengar dari earpeace yang terpasang di telinga mereka membuat mereka semua menajamkan mata.
Tak lama setelah itu, terdengar suara tembakan dari arah belakang yang membuat telinga mereka tiba-tiba memerah. Bukan hanya telinga saja, bahkan muka mereka kini sudah memerah menahan marah.
"Percepat mobil satu!" titah Daniel, yang membuat mobil yang berada di depannya mempercepat lajunya.
"Halangi mereka hanya sampai di mobil tiga!" Daniel kembali memberi perintah, sehingga baku tembak antara mobil tiga dengan mobil di belakangnya pun tak terelakkan.
Sayangnya, jumlah mereka terlalu banyak sehingga mobil anak buah Daniel yang berada di belakangnya terguling akibat ban mobil yang pecah karena tembusan peluru.
"Sial. Apa kau sudah menghubungi polisi, Arya?" umpat Daniel.
"Sudah sejak kita keluar dari ruang bawah tanah itu. Seharusnya mereka sudah datang dari arah yang berlawanan sejak tadi," gerutu Arya.
"Kerahkan bantuan!" seru Daniel yang emosinya mulai tak bisa dikondisikan.
Dalam waktu singkat pun anak buah Ryan dan Daniel di kerahkan. Mereka hanya menyisakan beberapa pengawal untuk menjaga rumah dan empat orang pengawal untuk berjaga di rumah sakit.
Tapi musuh bergerak dengan begitu gesitnya, hingga tak butuh waktu lama, mereka bisa mengejar mobil Daniel dan menghimpitnya, membuat mereka bertiga terkepung dengan dua mobil di samping kiri dan kanan mereka, dan dua mobil di belakang mereka.
"Apakah ini akhir dari hidup kita?" Daniel menyeringai sambil menarik senjatanya.
"Jangan dulu. Setidaknya biarkan saya hidup, Tuan. Saya belum menikah seperti kalian," sahut Rudi dengan tatapan tetap ke depan, dan kaki kanan menginjak pedal gas mobilnya lebih dalam.
Bruggg.
Tiba-tiba sebuah benturan tak terelakkan dari arah kiri.
Bruggg.
Satu benturan lagi kini datang dari arah kanan.
Bruggg.
__ADS_1
Kini mobil mereka di tabrak dari arah belakang.
"Percepat lagi lajumu jika kau masih ingin hidup, menikah, dan menikmati surga dunia!" Arya menimpali, sambil membungkukkan tubuhnya karena beberapa tembakan sudah mulai diarahkan ke mobil mereka.
"Surga dunia? Apa itu, Ar?" tanya Rudi sambil tetap mempercepat lajunya.
"Kita hindari mereka, setelah itu menikahlah, baru kau akan tahu apa itu surga dunia," sahut Daniel, dengan posisi menunduk persis seperti posisi Arya.
"Memang ada wanita yang mau menikah dengan seorang spionase seperti kamu? Rani sudah bersama Ryan, Naja bersama denganku. Lena sudah jadi milik Arya dan sekarang Johan menikahi Nina. Kau? Apakah kau mau menikahi Meysie?" cibir Daniel, di tengah suara tembakan yang beberapa kali mengarah ke mobil itu.
"Kalian ini di saat-saat genting seperti ini masih sempat mencibirku juga ya?" hardik Rudi, sambil menabrakkan mobilnya ke samping kanan dengan kencang, kemudian ke samping kiri, hingga mobil musuh yang sedari tadi menghimpit mereka bisa oleng dan berhenti di bahu jalan.
"Ha-ha-ha. Ini baru namanya Rudi. Kau ini ya, harus dicibir dulu baru bisa strong seperti itu," Arya membenarkan duduknya dan melihat ke belakang.
"Itu karena aku ingin mencicipi surga dunia dulu sebelum kehilangan nyawaku," oceh Rudi sambil tersenyum tipis.
"Apakah kita sudah aman?" Daniel menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang, sekedar menghilangkan tegang.
Belum sempat Arya dan Rudi menanggapi peryanyaan Daniel, tiba-tiba mobil yang membawa keempat anak buah Atmaja menghentikan lajunya secara tiba-tiba, hingga membuat Rudi mendadak menginjak pedal remnya. Benturan pun tak terelakkan, seiring dengan bunyi mendecit yang timbul akibat mobil yang terpaksa dihentikan.
"Cih, mereka benar-benar merepotkan," Rudi memukul setir mobilnya dengan kencang.
Dengan berani, Rudi keluar dari mobil dan siap menghadapi musuh yang kini berada di depan untuk menyerang.
"Cari mati apa dia?" cicit Arya.
"Huh, sudah kepalang basah. Dari pada mati sebagai pecundang, mending mati sebagai seorang pahlawan," Daniel mengikuti Rudi, diikuti oleh Arya, hingga kini mereka bertiga beserta anak buah mereka yang berada di mobil depan siap menghadapi musuh yang menghadang.
"Lepaskan senjata kalian!" seru salah seorang anak buah Atmaja.
Kini Daniel, Arya, dan Rudi beserta seluruh anak buahnya terkepung. Puluhan senjata diarahkan kepada mereka. Jika satu tarikan saja mereka menarik pelatuknya, habis Daniel dan semua orang yang saat ini bersamanya.
Daniel melempar senjatanya ke arah musuh, kemudian mengangkat kedua tangannya, diikuti Arya, Rudi dan seluruh anak buahnya.
__ADS_1
Setelah mereka tidak bersenjata, salah seorang anak buah Atmaja mengambil senjata itu, kemudian mendekati dan membawa keluar keempat pria kekar yang merupakan rekannya, dari mobil yang membawa mereka.
Setelah mendapatkan apa yang mereka mau, mereka tidak lantas pergi begitu saja. Mereka justru tersenyum sinis, dan bersiap menarik pelatuk senjata mereka.
Tak ada yang bisa Daniel dan kawan-kawannya lakukan mengingat dari sisi jumlah sudah tentu mereka kalah. Hingga pasrah, di titik itu mereka sekarang. Karena dalam hitungan detik saja, nyawa mereka dipastikan akan melayang.
Daniel dan Arya memejamkan mata, membayangkan wanita yang mereka cintai untuk terakhir kali, sambil berhitung dalam hati, satu, dua, tiga, dan ...,
"Jangan bergerak," para polisi tiba-tiba datang dan mengepung mereka dari belakang.
Daniel dan Arya sontak membuka mata, dan alangkah kagetnya ketika Johan dan anak buahnya, juga puluhan polisi datang menyelamatkan mereka.
Dalam hitungan menit pun seluruh anak buah Atmaja menyerah tanpa perlawanan dan digelandang ke kantor aparat kepolisian.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Ryan terlihat gelisah dan berjalan mondar-mandir saat tim dokter sedang memeriksa istrinya di sebuah Instalasi Gawat Darurat rumah sakit.
Untung saja ketika diculik Rani masih menggunakan mukena, sehingga tubuh Rani yang hanya menggunakan baju tidur tipis itu tidak terekspos dan tidak terlalu dingin ketika berada di ruang bawah tanah, tempat dimana Atmaja menyekapnya. Jika tidak, bisa jadi tubuh Rani akan lebih menginggil dari pada ini dan dampaknya bisa buruk untuk perkembangan janin yang kini berada di rahimnya.
"Ahhh," Ryan mendesah kasar.
"Mengapa mereka lama sekali?" cicit Ryan, tak sabar menunggu seorang dokter keluar untuk memberi kabar.
Ryan pun terus mondar-mandir sambil mengusap mukanya dengan kasar, sementara Naja yang ikut menemaninya hanya mampu berdo'a untuk keselamatan Rani dan juga suaminya yang sedang berhadapan dengan musuh di luar sana. Hingga tiba-tiba, seorang dokter keluar dan mendekati mereka.
"Bagaimana kondisi istri saya dan anak yang berada di dalam kandungannya, Dokter? Mereka baik-baik saja kan? Mereka tidak kenapa-kenapa kan, Dok?" cecar Ryan sebelum dokter itu menyampaikan hasil pemeriksaan.
"Mohon tenang dulu, Pak Ryan. Kami sudah memeriksa kondisi istri Anda dan hasilnya ...,"
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
***Like, vote* dan rate 5 nya jangan lupa. 😘**