METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Dilema Besar


__ADS_3

Ryan terus terpaku memandangi gundukan tanah di depannya. Tatapannya nanar, dadanya terasa sesak menahan tangis. Dia mencoba untuk tegar, demi menguatkan mamanya yang kini terus meremas gundukan tanah merah yang masih basah, menutupi penghuni baru yang ada di dalamnya.


Sejak siuman semalam sampai prosesi pemakaman selesai, tak henti-hentinya Mama Titania menangis dan berteriak histeris. Papa Prabu dan seluruh keluarganya yang membujuknya di tolak mentah-mentah, sehingga tidak ada seorang pun yang berani mendekatinya.


Rani yang tidak tega melihat mertuanya yang bahkan sudah pucat dan tidak bertenaga itu pun, akhirnya mendekat dan memeluknya dengan paksa.


"Sudah, Ma. Kasihan Azzura yang sudah tenang di sana. Pasti dia sedih jika melihat Mama seperti ini," ucap Rani, berusaha membujuk Mama Titania yang masih meronta.


"Zura! Kembalilah, Nak. Jangan tinggalkan Mama. Mama tidak bisa hidup tanpa kamu," Mama Titania semakin histeris memanggil-manggil Azzura.


"Biar Mama ikut kamu, Sayang. Ajak Mama bersamamu. Jemput Mama, Nak! Jemput Mama!" lanjutnya masih dengan tangis yang menggema.


"Mama tidak boleh seperti ini. Mama harus kuat. Jika Mama seperti ini, siapa yang akan mendo'akan Azzura di sana? Mama masih punya Mas Ryan dan juga Rani. Kami akan selalu menjaga Mama," ucap Rani kembali, berusaha menenangkan.


"Ayo kita pulang, Ma. Mama butuh istirahat," ajak Ryan, sesaat setelah dia akhirnya memutuskan untuk mendekat.


"Tidak, Mama mau disini temani adikmu. Kasihan dia sendiri, Nak,"


Melihat mamanya yang tidak bisa dibujuk, akhirnya Ryan dan Arya mengangkat Mama Titania dengan paksa.


"Azzura...!"


"Azzura...!"


"Azzura...!"


Mama Titania terus menangis histeris sambil memanggil-manggil nama putrinya, hingga akhirnya dadanya sesak dan pingsan seketika. Semua yang hadir dan ikut menyaksikan waktu itu pun tidak ada yang mampu menahan air mata, melihat seorang ibu yang seperti kehilangan nyawanya sendiri saat menghadapi kenyataan bahwa putri yang dicintainya harus pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


***


Hujan terus hadir hingga menjelang penghujung malam, menambah syahdu suasana kediaman keluarga Dewangga.


Seluruh teman dan kerabat pun sudah pulang meninggalkan rumah duka. Hanya tersisa keluarga Dewangga, Arya beserta seluruh pelayan yang bekerja disana.


Mereka duduk terdiam di kamar masing-masing, bermain dengan kenangan bersama Azzura dengan cerita yang berbeda-beda. Hanya Arya yang sepanjang malam terus berjaga di ruang tamu, khawatir kalau tuannya membutuhkannya sewaktu-waktu.

__ADS_1


Sementara itu, Ryan masih juga terjaga. Kenangan akan hadirnya Azzura segera bermunculan, membuat hatinya semakin terasa gelap, seolah tak ada sepercik cahaya pun yang mampu menerangi jiwanya.


"Mas," Rani memanggil suaminya dengan lembut.


"Menangislah jika memang itu bisa membuat hatimu lega. Rani siap menjadi bahu yang bisa Mas pakai untuk bersandar," lanjutnya, sambil mengusap punggung Ryan dengan tangan kanannya, dan menggenggam erat tangan suaminya itu dengan tangan kirinya.


Dan segala rasa yang menyesak di hatinya pun akhirnya tumpah begitu saja dalam peluk mesra hingga akhirnya mereka lelap dalam tidurnya.


Hingga pagi datang, kediaman keluarga Dewangga belum bisa normal seperti biasanya. Tuan dan Nyonya besar rumah itu masih saja enggan keluar dari kamar mereka, bahkan hanya sekedar untuk melihat meja makan pun mereka tak berselera.


"Mama makan dulu ya, biar Rani suapin,"


"Papa juga harus makan, biar Rani yang suapin,"


"Mas Ryan makan ya, nanti sakit. Sini, biar Rani suapin,"


Hari itu benar-benar Rani yang harus sabar mengurus mereka. Tanpa semua orang tau, bahwa sebenarnya dirinyalah yang paling gelisah di hari itu.


Dilema besar dalam hatinya saling berkecamuk, saat dia harus memilih antara pekerjaan yang harus diselesaikannya segera, atau keluarganya yang masih berselimut duka.


Kring-kring...


Handphone Rani berbunyi berkali-kali. Notifikasi pesan masuk juga sudah bergetar puluhan kali, tapi Rani enggan untuk membukanya.


"Mereka pasti sudah menungguku", guman Rani dalam hati.


"Kenapa tidak diangkat, Sayang?" Ryan yang menyadari hal tak biasa dilakukan istrinya itu pun bertanya karena heran.


"Nggak papa, Mas," jawab Rani, berbohong.


Ryan yang sangat paham dengan Rani pun segera menyambar dan membuka HP itu. Dia terlihat mengernyitkan keningnya membaca pesan-pesan yang masuk.


"Bersiaplah, Mas akan mengantarmu pulang ke rumah untuk berganti baju kemudian kita ke kantormu," ucap Ryan sambil beranjak dari duduknya.


"Rani sendiri saja, Mas. Mas Ryan butuh istirahat. Tidak enak juga dengan Mama dan Papa jika Mas Ryan tidak di sini," jawab Rani, sedikit lega karena akhirnya suaminya sendiri yang meminta dia berangkat kerja.

__ADS_1


"Biar Mas minta Arya antar kamu,"


"Tidak usah, Mas. Biar Mas Arya handel perusahaan saja selama Mas Ryan nggak masuk,"


"Apa tidak apa-apa?" dengan ragu Ryan melepas istrinya.


Rani pun mengangguk dengan mantap.


***


Hari itu adalah hari dimana Rani beserta seluruh Panitia Kerja Dewan akan menyusun rekomendasi terkait penyelewengan Dana Era Bank dengan tersangka utama Fredly Iskak, sang direktur utama.


Berhubung Rani di dapuk sebagai ketua, maka rapat tidak bisa berjalan tanpa kehadirannya. Karena itulah Rani bergegas pulang untuk bersiap dan langsung menancap gas menuju kantornya, dengan mobil di bawah kendalinya.


Hari yang sudah ditunggu-tunggu semua orang, termasuk para nasabah dan seluruh media itu pun akhirnya datang. Tanpa mengurangi rasa dukanya terhadap kepergian Azzura, semangat Rani hari itu menggebu seolah akhir dari kerja kerasnya selama ini akan segera membuahkan hasil sesuai dengan yang diharapkan.


Namun meski sudah banyak yang menunggu, Rani tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengingat jalanan cukup ramai dengan kendaraan yang berlalu-lalang.


Bahkan saat jalanan lengang, Rani tetap melajukan mobilnya dengan tenang. Hingga tanpa dia sadar, tiba-tiba ada sebuah mobil warna silver menabrak mobilnya dari belakang, dan menyelip serta menghentikan mobil Rani dengan posisi menyilang sehingga membuat Rani menghentikan mobilnya karena tidak ada pilihan.


Tiba-tiba seorang laki-laki setengah baya keluar, dan mengetuk kaca mobil.


"Maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja menabrak mobil Anda," ucap pria itu begitu Rani membuka kaca mobilnya.


"Tidak apa-apa, Pak. Mohon maaf saya terburu-buru. Bisakah Anda membiarkan saya melanjutkan perjalanan saya terlebih dulu?" ucap Rani tanpa meminta pertanggungjawaban.


"Saya tidak akan membiarkan Nona pergi sebelum Anda memberikan kartu nama Anda, agar nanti ada yang datang untuk memperbaiki mobil Anda," ucap pria itu memaksa.


Akhirnya Rani menyerah, dan segera meraih dompet yang ada di dalam tasnya. Namun saat Rani sibuk mengambil kartu nama yang ada di sana, tiba-tiba mulutnya ditutup dengan sebuah sapu tangan yang membuat Rani tak sadarkan diri hanya dalam hitungan detik saja.


BERSAMBUNG


🌷🌷🌷


Terima kasih telah setia membaca novel ini. Jangan lupa tinggalkan jejak, favorit, like, rate 5 dan vote ya. Terima kasih ....

__ADS_1


__ADS_2