METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jiwa Jomblo Johan Meronta


__ADS_3

Maladewa atau Maldives memiliki kumpulan atol atau pulau koral yang mengelilingi laguna yang dapat memberi kita pengalaman wisata tropikal. Banyak hal yang Daniel dan Naja lakukan disana, seperti berpesta dengan orang lokal, nyemplung ke lautan biru nan jernih dan menikmati keindahan pulau dari bungalow yang eksklusif, yang paling mereka nikmati adalah pemandangan lautan dan pasirnya yang mempesona serta terumbu karangnya dapat menjadi spot foto menawan yang tidak akan mereka lupakan sepanjang hidupnya.


Satu minggu pun tak terasa cepat berlalu bagi sepasang kekasih itu. Ya, hari itu adalah hari terakhir mereka berada di pulau itu, karena pagi-pagi keesokan harinya mereka akan pulang dan kembali dengan aktifitas mereka di Indonesia. Daniel akan kembali mengurus pekerjaannya, sementara Naja masih bersikeras untuk mendampingi Rani seperti sumpah setia yang pernah diucapkannya. Meskipun Rani dan Ryan sudah melarangnya, tapi Naja tetap mempertahankan keputusannya dan hal itu sama sekali tidak Daniel permasalahkan, mengingat Rani terlalu banyak musuh yang mengincarnya, dan hanya Naja yang bisa menjaganya.


“Hari ini kita mau di kamar seharian atau mau keluar, Sayang?” tawar Daniel begitu mereka selesai sarapan.


“Kita ke Pulau Cocoa saja yuk, Sayang! Katanya pantainya eksotik, mempunyai pasir putih yang indah. Kita bisa scuba diving di sana,” usul Naja dengan tatapan penuh harap.


“Scuba diving?” Daniel mengerutkan dahinya.


“Iya, boleh ya?” rengek Naja.


“Untuk kemampuanmu, aku sama sekali tak meragukan. Tapi aku?”


“Kenapa?” kini Naja yang mengerutkan dahinya.


“Bukannya untuk melakukan scuba diving seseorang harus berlatih secara khusus dan mendapatkan sertifikat menyelam dari agensi sertifikasi yang diakui secara internasional? Aku yakin kamu sudah mendapatkannya ketika kamu dididik sebagai agen mata-mata dulu. Lah aku bagaimana?”


Naja hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Dia mengingat betapa penuh perjuangannya dia saat itu. Bahkan hanya untuk bisa scuba diving saja, dia harus belajar khusus di kelas, berlatih menyelam di kolam renang, dan berlatih menyelam di perairan terbuka atau lautan. Lebih parah lagi, dia baru bisa mendapatkan sertifikat setelah melakukan lima kali penyelaman di perairan terbuka. Jadi memang benar apa yang dikatakan suaminya. Terlalu beresiko jika Daniel dipaksa untuk ikut melakukannya.


“Kalau begitu biarkan aku saja yang melakukannya, Sayang,” Naja kembali merengek.


“Enak saja. Tidak boleh,” putus Daniel.

__ADS_1


“Terus?” bibir Naja sudah manyun, berharap dengan begitu suaminya akan berubah pikiran dan mengizinkankannya.


“Kita puas-puaskan hari ini di kamar saja,” cicit Daniel sambil mengerlingkan matanya dengan nakal.


“Huwaaa, itu maumu saja, Sayang,” sahut Naja sambil mencubit perut Daniel dengan sekuat tenaga. Dia benar-benar tahu apa yang akan dilakukan suaminya jika mereka berdua hanya di kamar saja.


“Aduh. Sakit, Sayang,” Daniel meringis menahan panas di perutnya akibat cubitan istrinya yang boleh dibilang cukup bertenaga itu.


“Tapi bohong,” Daniel pun tergelak, kemudian merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya dan mulai melihat pemandangan indah dari dalam kamar bersamaan dengan aktifitas tangannya yang sudah tidak bisa dikondisikan.


***


Johan sudah siap, begitu Daniel dan Naja sampai di Bandara. Ya, apa yang Johan lakukan hampir selalu sempurna, karena apapun yang dia lakukan sekalipun tak pernah mengecewakan majikannya. Seperti waktu itu, sudah menjadi prinsip Johan bahwa dia sudah harus ready satu jam sebelum majikannya datang. Dan bukan hanya waktu itu. Setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya, selalu dia selesaikan sebelum Daniel memintanya. Tak heran jika dia benar-benar menjadi orang andalan Daniel yang tidak tergantikan.


Hari itu mereka memutuskan untuk pulang ke kediaman keluarga Dewangga dan tinggal bersama Rani, Ryan juga Aghata, membiarkan rumah Daniel hanya Johan dan beberapa pembantunya untuk menempatinya. Semua bukan tanpa alasan. Selain karena Ryan tidak mengizinkan Daniel tinggal terpisah dengan dirinya, Naja sendiri juga meminta untuk tetap berada di dekat Rani dan seluruh keluarga Dewangga karena ikatan sumpah yang pernah diucapkannya.


“Kita langsung pulang ke rumah utama keluarga Dewangga, Tuan?” tanya Johan memastikan.


“Tentu saja. Aku tak akan pernah membuat Mommy dan kakakku kecewa lagi. Apapun yang mereka minta aku tak akan pernah lagi untuk membantahnya,” jawab Daniel datar. Dia hanya menjawab pertanyaan Johan sekenanya, karena konsentrasinya saat ini hanya tertuju pada istri yang kini sudah bergelayut manja di dalam pelukannya.


Sebenarnya Johan ingin melaporkan hasil kerja yang ditugaskan Daniel untuk mengalihkan pekerjaan para pekerja Cafe plus-plusnya itu saat itu juga. Namun melihat Daniel yang masih asyik dengan mainan baru yang baru satu pekan dinikahinya, Johan mengurungkan niatnya. Johan lebih memilih diam dan memasang earphone ke telinganya dan mendengarkan musik, untuk mengalihkan jiwa jomblonya yang kini sedang meronta-ronta menyaksikan kemesraan sepasang pengantin baru yang kini sedang asyik di belakangnya.


“Kenapa, Jo?” melihat kelakuan Johan yang tidak biasa, justru membuat Daniel mengalihkan pandangannya dari Naja ke sekretaris pribadi yang kini sedang berada di depannya.

__ADS_1


“Maaf, Tuan,” Johan langsung melepaskan earphone yang baru saja dipasangnya dan siap mendengarkan perintah yang akan keluar dari mulut majikannya.


“Carilah seorang istri agar kau tidak salah tingkah begitu ketika melihatku bersama istriku. Kau sudah harus mulai terbiasa melihat kami berdua,” ledek Daniel sambil melirik penuh arti ke arah istrinya. Yang dilirik justru semakin mengeratkan pelukannya.


“Tidak, Tuan,” sahut Johan gugup.


“Apa?” Daniel mengerutkan dahinya.


“Maksud saya baiklah, Tuan. Saya akan mencari istri sesuai kemauan Anda?” lanjut Johan lagi sambil berusaha menutupi kegugupannya.


“Kau mau cari kemana, Jo?” goda Daniel, begitu melihat ekspresi Johan yang sudah berubah.


“Tidak tau, Tuan,” Johan semakin tidak habis pikir dengan pertanyaan majikannya.


Daniel pun tergelak melihat anak buahnya yang selalu saja terlihat lucu saat di ajak bicara masalah perempuan yang akan menjadi pendampingnya.


“Anda sungguh sudah banyak berubah, Tuan. Selama saya bekerja dengan Anda, belum pernah sekalipun saya melihat Anda tertawa selepas ini,” batin Johan dalam hati.


Dan tak butuh waktu lama, mobil pun segera memasuki gerbang utama kediaman keluarga Dewangga. Tanpa mereka sadari, sepasang mata di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana, sedang mengawasi aktifitas seluruh penghuni rumah itu. Siapa sebenarnya mereka?


BERSAMBUNG


💖💖💖

__ADS_1


Jangan lupa bintang 5 nya ya guys. Like, vote dan comment nya juga. Terima Kasih.


__ADS_2