METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Drama Kesalahpahaman


__ADS_3

Cukup lama Ryan menghela nafas panjang. Bukan karena dia sedang kesal, tapi karena di benaknya penuh dengan bait-bait penyesalan. Rasa itulah yang membuatnya takut kalau pelangi kehidupannya takkan lagi datang, menyisakan rintik-rintik air hujan dari gumpalan kapas putih yang tiba-tiba menghitam.


Kemarahan Rani adalah hal yang paling menakutkan. Bukan hanya karena dia sedang hamil besar, tapi karena rasa cinta Ryan yang begitu mendalam. Apalagi Rani marah bukan karena Ryan gagal paham dengan kemauan Rani. Ya, Ryan sangat memahami bahwa tak ada satu pun yang boleh mengambil cinta yang mereka miliki. Namun mengingat kondisi dan posisi Ryan saat bersama Meysie malam itu benar-benar merupakan hal yang tak terprediksi, maka mau bagaimana lagi? Semua konsekwensinya tetap harus Ryan hadapi.


"Bismillah," gumam Ryan lirih, sebelum masuk ke sebuah kamar yang kini ditempati istrinya.


Rani sedang terbaring lemah, dengan Dokter Dina dan beberapa orang temannya yang sedang menemaninya. Selang infus pun akhirnya mereka pasang, mengingat Rani yang begitu lemas karena tak mau makan dari semalam.


Begitu Ryan masuk, Rani menatap ke arah pintu dengan tatapan penuh amarah. Apalagi melihat wanita yang semalam berpelukan dengan suaminya itu ikut datang, membuat emosinya semakin sulit dikendalikan.


"Sudah kubilang, pergi! Jangan temui aku lagi! Apalagi bersama perempuan itu," teriak Rani sambil sempoyongan mendudukkan dirinya. Bahkan Dokter Dina dan teman-temannya langsung mendekati Rani dan memeluknya, demi menghalau emosi yang akan membahayakan dirinya juga janin yang sedang dikandungnya.


"Ran, maaf. Semua yang kau lihat semalam tidak seperti yang kau pikirkan," Meysie mendekat, tapi tak berani menyentuh Rani sama sekali. Secara historis, mereka memang bukan teman, dan cenderung mempunyai hubungan tidak baik gara-gara cinta Meysie kepada Ryan.


Rani hanya terdiam, tak bernafsu untuk menanggapi perkataan perempuan yang selalu menjadi duri dalam kehidupan cintanya, sejak awal menikah hingga saat ini.


"Semalam, aku menghubungi Ryan hanya untuk berpamitan. Besok pagi aku akan pulang ke Amrik, dan akan menetap di sana untuk selamanya. Aku hanya ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya, dan meminta maaf kepada kalian. Tapi sayangnya, Ryan bilang tak tega jika harus mengajakmu mengingat kamu sedang hamil besar. Maka dari itu dia datang sendirian," lanjut Meysie, masih tak mendapati tanggapan dari Rani.


"Terkait pelukan itu, semua murni salahku. Sebenarnya Ryan sudah beranjak keluar. Tapi entah dorongan dari mana, aku ingin sekali memeluknya. Pelukan seorang sahabat, yang sangat berterima kasih atas segala kebaikan yang telah Ryan berikan, padahal aku sudah sangat jahat pada kalian. Dan waktu itu aku tak sendirian, Ran. Kamu bisa cek sendiri, waktu itu suamiku menunggu di luar," Meysie terus berusaha meyakinkan.


"Benar, Nona. Waktu itu Meysie datang bersama saya. Saya menunggu di luar agar istri saya bisa berpamitan, sekaligus minta maaf dan berterima kasih atas kebaikan Anda dan suami Anda yang bersedia menarik laporan ke pihak yang berwajib sehingga kami bisa hidup berumah tangga dengan bahagia. Mungkin setelah ini kami tak akan lagi pulang ke Indonesia, karena itu memang kami sengaja menemui suami Anda untuk yang terakhir kalinya," Ega membantu istrinya menjelaskan semuanya.


Ryan hanya terdiam, memperhatikan ekspresi istrinya yang kini terdiam seribu bahasa mendengar penjelasan Meysie dan Ega.


"Ran," Meysie memberanikan diri untuk mendekat dan meraih tangan Rani.


"Aku sudah menemukan cintaku sekarang. Do'akan agar aku dan Ega bisa hidup bahagia selamanya. Aku pamit, karna besok kami akan pulang ke Amerika dan menetap di sana. Aku minta maaf untuk yang semalam, juga untuk semua hal buruk yang pernah aku lakukan. Terima kasih telah begitu baik, hingga aku bisa terbebas dari hukuman berat yang seharusnya menjeratku," tak terasa air mata Meysie meleleh.

__ADS_1


"Kamu mau maafin aku kan, Ran?" tanya Meysie dengan suara yang bergetar.


Rani membalas genggaman tangan Meysie dan mengangguk pelan.


"Aku percaya padamu. Maafkan untuk kesalahpahamanku. Aku berdo'a, semoga kalian bahagia selamanya," Rani tersenyum lega, sebelum akhirnya membalas pelukan Meysie yang tiba-tiba menghambur ke arahnya.


Semua orang tersenyum lega, melihat pemandangan indah di depan mereka. Ya, dua wanita dengan sebuah cinta untuk pria yang sama, akhirnya kini menemukan masing-masing kebahagiaannya.


Beberapa menit setelah moment mengharukan itu, Meysie dan Ega pun berpamitan. Di susul Dokter Dina dan semua orang yang waktu itu menyaksikan drama kesalahpahaman yang begitu mengharukan. Semuanya pergi meninggalkan pasangan suami istri itu, yang pasti sudah tak sabar menumpahkan segala rasa yang seharian sudah terpisah karena sebuah kecemburuan.


"Sayang," panggilan itu begitu Rani rindukan, tapi Rani masih juga terdiam.


"Sayang, Hubby kangen," Ryan mendekat dan menggenggam tangan Rani, tapi masih juga belum ada sahutan.


"Bukankah semua sudah jelas, sekarang? Kau percaya dengan apa yang dia katakan bukan?" Ryan mengerutkan dahinya.


"Kau benar-benar memaafkannya kan?" tanya Ryan sekali lagi.


"Hmmm," masih jawaban singkat yang Ryan dengar.


"Terus?" Ryan tak mengerti.


"Rani memaafkannya, bukan berarti juga memaafkan Hubby," Rani menjawab dengan begitu ketusnya.


"Kok?" Ryan masih memasang mode bingung.


"Memang Meysie yang memeluk Hubby. Tapi kenapa Hubby membalas pelukannya?" Rani menatap suaminya dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Itu karena ...," Ryan kebingungan.


"Karena ingin?" Rani memastikan. Kehamilannya ini membuat dia tiga kali lipat lebih garang.


"Bukan itu, Sayang. Hubby hanya ...," Ryan masih menggantungkan kalimatnya, bingung harus menjawab dengan kalimat apa.


"Nggak tega?" cicit Rani.


"Sayang, Hubby memang tak tega melihat dia menangis dan meminta maaf. Demi Allah, tidak ada rasa apapun lagi di hati Hubby untuknya, ataupun untuk semua wanita di dunia ini. Karna yang Hubby cintai hanya kamu," jelas Ryan sambil menggenggam erat tangan istrinya.


"Sekasihan apapun, dia itu bukan muhrim Hubby. Bukankah Hubby sudah berjanji akan menjaga diri Hubby dari wanita lain?" Rani bersungut kesal.


"Hubby mengaku salah, Sayang. Hubby janji tak akan mengulanginya lagi. Tolong maafkan Hubby!" Ryan terus memohon.


Rani masih tak bergeming. Bujukan suaminya tak begitu mudahnya bisa menggoyahkan kekesalan hatinya. Hingga tiba-tiba, Ryan berlutut di samping istrinya.


"Kalau kau masih mencintai Hubby, balaslah uluran tangan ini. Tapi jika yang kau rasakan di hatimu adalah rasa benci, maka palingkanlah dirimu membelakangi Hubby," ucap Ryan sambil mengulurkan tangannya.


Rani membulatkan mata melihat hal konyol yang dilakukan suaminya. Benci? Itu tidak mungkin. Tapi membalas uluran tangannya, sama saja memaafkan kesalahan suaminya dengan begitu mudahnya.


"Sayang? Hanya ada dua pilihan. Cinta ..., atau benci ...," ucap Ryan lagi.


Merasa tak ada pilihan, akhirnya Rani meraih tangan Ryan dan membalas uluran tangannya.


Ryan melebarkan senyumnya dan langsung beranjak dari tempatnya. Sedetik kemudian, Ryan sudah menarik tubuh Rani dan memeluknya erat.


"Hubby kangen, Sayang,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2