
Rani seolah tak percaya, mendengar cerita Ryan terkait keberadaan Ibu dan adik Naja sekarang, bahkan Daniel dan Ryan sudah menyembunyikan hal ini sekian lama dari Naja.
"Biar bagaimanapun, Naja berhak tau semuanya, By. Biarkan dia bertemu dengan ibu dan adiknya, hingga dia bisa mengobati semua kerinduannya. Bukankah sekarang Naja sudah bahagia? Rani rasa alasan ibu Naja tak mau bertemu dengan putrinya itu tak berlaku sekarang," cicit Rani sambil menatap suaminya dengan tajam.
"Kita tunggu persetujuan Daniel, Sayang. Dia adalah orang yang paling berhak memutuskan semuanya," jawab Ryan sambil mengelus kepala istrinya dengan sayang.
***
Naja terdiam bersama malam yang kian larut. Sunyi, hal itu yang Naja rasakan di samping sang suami. Meski di luar sana berjuta bintang bertebaran, tapi tetap saja matanya tak mau terpejam. Ya, Naja terjaga sepanjang malam, menemani suaminya yang sudah tertidur dengan sangat nyaman.
Malam ini memang tidak seperti biasanya. Kerinduannya kepada ibu dan adiknya, tiba-tiba begitu bergejolak dan menyeruak dalam dada. Belum lagi perusahaan suaminya yang kini menjadi bagian dari tugasnya semenjak Daniel buta, membuat beban pikirannya semakin berat saja.
"Huh," Naja menghela nafas panjang.
Diraihnya sebuah handphone dari atas nakas yang terletak di samping tempat suaminya terbaring. Sedetik kemudian, Naja mulai berselancar dengan benda pipih canggih milik suaminya itu, membuka email dan segera saja dia berkutat dengan semua berkas yang telah dikirimkan Johan ke email suaminya.
Setelah selesai memeriksa semua berkas, dengan iseng Naja memeriksa rekaman CCTV yang terkoneksi dengan ponsel Daniel.
Sebenarnya untuk urusan keamanan perusahaan dan kediaman Daniel, semua sudah dihandel oleh Johan. Tapi malam itu, entah kenapa Naja sangat iseng dan penasaran.
__ADS_1
Apalagi merasa matanya tak juga bisa terpejam, membuat Naja membuka satu per satu rekaman CCTV itu, sebelum akhirnya Naja membelalak, begitu matanya menangkap sosok yang selama ini dicarinya, ada di balik rekaman CCTV yang kini berada dalam genggamannya. Ya, Naja benar-benar yakin bahwa wanita paruh baya yang kini sedang duduk di balkon kamar rumah belakang kediaman suaminya itu adalah ibunya tercinta.
"Ibu?" Naja mengernyitkan dahinya, mencoba menerka apa yang sudah terjadi pada ibunya, hingga ibunya itu sampai berada di kediaman Daniel Cullen yang tak lain adalah suaminya..
Naja memandangi wajah suaminya yang sedang tidur pulas di sampingnya juga rekaman di layar ponsel itu secara bergantian. Bahkan kini ekspresi mukanya benar-benar tak bisa diartikan, apakah kecewa, marah, benci, dan penuh kecurigaan bercampur aduk menjadi satu.
***
Akhirnya pagi pun datang. Dengan mata yang memerah karena tidak tidur semalaman, Naja tetap melayani keperluan suaminya seperti hari-hari sebelumnya. Hanya satu hal yang tak seperti biasanya, kali ini Naja melakukan semuanya tanpa ekspresi sama sekali, bahkan dia cenderung diam. Hanya tangan dan kakinya saja yang dengan cekatan membantu Daniel bangun, mandi, juga menyuapinya sarapan. Tak ada ucapan dan candaan, apalagi kata-kata mesra seperti biasanya.
"Sayang, kamu kenapa? Apa kau baik-baik saja?" Daniel yang menyadari bahwa ada yang aneh dengan istrinya, sudah menduga pasti ada sesuatu yang sudah terjadi tanpa sepengetahuannya.
"Sayang, apakah kau sakit? Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?" tanya Daniel lagi, begitu tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Naja.
Sementara Naja hanya menatap suaminya dengan intens. Ekspresinya kini berubah-ubah. Kadang dia menatap penuh kebencian, kadang memandang iba dan penuh kecintaan.
"Sayang, apa kau marah kepadaku?" Daniel mencoba meraba kasur di sekitar dia duduk demi mencari tangan istrinya.
"Apakah saya berhak marah kepada Anda, Tuan?" kata itu yang keluar dari mulut Naja.
__ADS_1
"Sayang, kau ini kenapa? Kenapa kau berkata seolah aku ini adalah orang lain? Tentu saja kau berhak marah kepadaku jika aku melakukan kesalahan kepadamu. Bukankah aku ini suamimu?" Daniel mengernyitkan dahinya, mendengar Naja berbicara sangat formal kepadanya, tanpa rengekan, rajukan dan kata-kata manis seperti biasanya.
"Saya menerima apapun yang Anda katakan dan perintahkan kepada saya sesuai sumpah setia saya, Tuan. Bahkan apapun yang Anda lakukan terhadap saya, saya akan menerimanya dengan lapang dada, karena itu adalah bagian dari konsekuensi yang harus saya tanggung atas sumpah setia dan kesalahan masa lalu yang pernah saya lakukan terhadap Anda," jawab Naja datar. Matanya terpejam, namun butiran kristal bening itu berhasil lolos begitu saja tanpa ada yang bisa membendungnya.
Ibunya disekap di kediaman suaminya, hanya itu yang saat ini ada di benak Naja. Bahkan perasaan cinta yang dia terima dari sosok Daniel selama ini, kini dianggapnya sebagai pemanis saja dalam masa hukuman yang sedang dijalaninya.
"Ternyata Anda sedang menghukum saya melalui keluarga saya, Tuan? Sungguh, saya lebih rela jika Anda menghukum saya sejak malam pertama kita menikah dulu. Bukankan Anda sudah berjanji akan melepas keluarga saya? Kenapa Anda seolah-olah mengampuni saya dan memberi harapan palsu dengan cinta semu yang Anda suguhkan, sementara Anda justru menyakiti keluarga saya? Itu benar-benar hukuman yang sangat menyakitkan, Tuan," geram Naja dalam hati.
"Kamu ini bicara apa, Sayang? Kenapa kamu membicarakan masa lalu kita lagi? Bukankah dulu kita sudah bersepakat tentang semuanya? Jangan membuatku bingung dengan perkataanmu itu! Bicara yang jelas!" Daniel masih berusaha mencari tangan Naja dan ingin segera menggenggamnya, namun Naja membiarkannya begitu saja. Dia sama sekali tidak meraih tangan suaminya, walaupun dia benar-benar tahu apa yang diinginkan suaminya saat itu.
"Saya sudah bicara dengan sangat jelas, Tuan Daniel Cullen. Bahka sumpah setia saya akan tetap berlaku seumur hidup saya, seperti apapun Anda memperlakukan dan menghukum saya atas semua pengkhianatan saya. Semua hukuman saya terima tanpa terkecuali, bahkan walau Anda mengingkari janji Anda kepada saya," nada bicara Naja semakin meninggi. Dia sudah tak bisa lagi mengendalikan emosinya.
"Hukuman. Hukuman. Hukuman apa? Bukankah kau sudah tahu bahwa hukumanku adalah memberikan seluruh cinta dan hidupmu untuk menjadi istri dan wanitaku seumur hidupmu, Sayang?" Daniel belum menemukan kemana arah istrinya berbicara.
"Saya sudah mengatakan bahwa saya menerima semuanya, Tuan. Walaupun saya baru tersadar, bahwa ada hukuman berat yang Anda berikan kepada saya, tanpa saya ketahui sebelumnya," ketus Naja.
"Apa hal berat yang aku berikan kepadamu, Sayang? Katakan! Apa kau begitu terpaksa menjadi istri dan wanitaku selamanya? Apa kau tidak mencintaiku?" Daniel mulai menebak-nebak apa yang membuat istrinya tiba-tiba berubah menjadi sedingin itu kepadanya.
Sesaat, suasana menjadi hening. Baik Naja maupun Daniel sama-sama mengembara dalam pikirannya masing-masing. Kini, hanya desahan nafas yang terdengar di telinga mereka.
__ADS_1
"Sayang, sekali lagi aku bertanya kepadamu. Apa kau tidak mencintaiku?"
BERSAMBUNG