
Ryan tak menghiraukan Felix dan apa yang terjadi di belakangnya lagi. Begitu melihat istrinya tersungkur dan jatuh begitu saja, dia langsung menghambur memeluk istrinya dengan perasaan hancur dan sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata. Apalagi melihat begitu banyaknya darah segar yang mengalir di kaki istrinya, membuat matanya membelalak dan ketakutan luar biasa.
"Sayang!" Ryan berteriak sekencang-kencangnya.
"By, selamatkan putra kita, By," lirih Rani dengan muka yang sudah pucat pasi.
"Tentu saja Hubby akan menyelamatkanmu juga putra kita, Sayang," Ryan mulai tergugu, tak tega melihat kondisi istri tercintanya itu.
"Selamatkan putra kita," hanya itu yang terucap dari bibir Rani, setelah itu dia tidak berkata apa-apa lagi. Bahkan kini matanya terpejam, dan sudah tak sadarkan diri.
"Sayang! Sayang! Bangun! Hubby mohon bangun, Sayang! Bangun!" Ryan berteriak-teriak seperti orang gila, tapi Rani terus terdiam seolah tak mendengar apa-apa. Darah yang mengalir pun kini semakin banyak, membasahi baju dan lantai hingga warna merah segar kini mendominasi di sekelilingnya.
"Darah! Darahnya banyak sekali. Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian diam saja? Segera minta helikopter itu kemari!" titah Ryan dengan emosi tak bisa dikendalikan lagi.
Johan pun terlihat memegang telinganya, mencoba mendengarkan penjelasan Naja yang mengendalikan kerja mereka dari mobil, melalui peralatan canggih yang berada di bawah kendalinya.
"Lima menit lagi," terdengar suara Naja melalui earpeace yang terpasang di telinga mereka.
"Lima menit lagi kau bilang? Istriku tidak bisa menunggu lima menit lagi," Ryan sudah sangat murka. Arya dan Daniel yang mencoba mendekat dan menenangkannya pun tak dihiraukannya sama sekali.
Namun di saat mereka semua tegang karena helikopter yang akan membawa Rani ke rumah sakit tak juga kunjung datang, tiba-tiba sebuah helikopter lain terlihat mendarat di helipad dengan pilot seorang perempuan.
Ya, setelah Felix dan Indra jatuh dari heli itu entah kemana, rupanya Zara mengancam pilot itu dengan senjata api yang sempat Felix jatuhkan di helikopter miliknya, sebelum peluru aparat mengenai tubuhnya. Zara pun mengambil kendali helikopter itu dan membuat sang pilot terjun bebas menggunakan parasut yang sudah tersedia di dalam pesawat.
__ADS_1
"Tuan!" teriak Zara dari dalam. Dia kesampingkan rasa khawatirnya akan nasib kekasihnya, karena dalam dirinya sudah tertanam bahwa kepentingan tuan dan nonanya adalah prioritas utama.
Ryan tak membiarkan siapapun membopong istrinya menaiki helikopter itu. Dengan tangannya sendiri, dia menggendong Rani seolah tak ingin dia lepaskan lagi. Begitu mereka masuk ke dalam pesawat, Arya dan Daniel pun ikut masuk sebelum akhirnya Zara membawa helikopter itu mengudara. Sementara Johan, Rudi, Naja dan anak buah mereka yang lainnya, mencari Felix dan Indra dengan aparat penegak hukum yang sudah siap dengan pasukannya.
***
Ryan terduduk lemas di lantai depan ruang IGD, saat tim dokter sibuk menangani istrinya. Arya dan Daniel yang ingin sekali menenangkannya pun tak mampu berbuat apa-apa, karena saat ini Ryan sama sekali tak bisa di ajak bicara.
Mama Davina yang baru saja tiba di rumah sakit bersama Aghata, Arsen, Nina dan juga Lena langsung menangis histeris saat mendengar cerita Arya tentang kejadian yang menimpa Rani dan kondisinya saat ini. Bahkan Aghata, Lena dan Nina kini terduduk dan ikut menangis sambil saling berpelukan dan saling menenangkan, mengharap dan berdo'a agar Rani dan juga bayinya baik-baik saja.
Hingga tiba-tiba, salah seorang dokter yang menangani Rani keluar, dengan ekspresi yang sangat sulit untuk diterjemahkan.
"Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok? Mereka baik-baik saja kan? Tolong selamatkan mereka, Dokter. Tolong selamatkan mereka," Ryan langsung berdiri dan menghampiri dokter itu, dengan derai air mata yang sudah tak bisa lagi dikendalikannya.
"Istri saya bagaimana, Dok?" Ryan begitu panik, mendengar dokter itu hanya menyebut keselamatan putranya.
"Kita harus menyelamatkan yang kemungkinan selamatnya lebih besar, Tuan. Untuk istri Anda, kami akan tetap melakukan yang terbaik, tapi ...," dokter itu menggantungkan kalimatnya.
"Tapi apa, Dokter?" Ryan mulai menerka-nerka.
"Kemungkinan untuk istri Anda bisa selamat sangat kecil. Dia kehilangan begitu banyak darah, dan kini detak jantungnya benar-benar sangat lemah. Kita berlomba dengan waktu, Tuan. Putra Anda, atau Anda akan kehilangan dua-duanya," dengan ragu, sang dokter tetap harus memberi jawaban itu.
"Apa maksud Anda, Dokter? Jaga ucapan Anda. Jangan pernah bermain-main dengan nyawa," Ryan mulai hilang kendali. Emosinya kini menyala-nyala, tak siap dengan perkataan dokter kepadanya.
__ADS_1
"Sekali lagi saya tanyakan, putra Anda, atau Anda kehilangan dua-duanya," tegas dokter itu, membuat Davina dan yang lainnya terkejut dan semakin tergugu.
"Saya mohon jangan katakan itu, Dokter. Selamatkan dua-duanya. Saya mohon!" Ryan menangis histeris. Hanya sekedar membayangkan hidup tanpa Rani saja, dia sudah tak bisa. Bagaimana caranya jika dia benar-benar harus kehilangan wanitanya tercinta?
"Kau ingat pesan yang tadi Rani sampaikan bukan? Dia berkali-kali meminta agar kau menyelamatkan putra kalian. Ayolah, Yan. Jangan sampai kau menyesal di belakang," Arya berusaha menepuk bahu Ryan untuk menenangkan.
"Kita tidak boleh terlambat, Tuan. Atau putra Anda juga tidak bisa kami selamatkan," dokter itu kembali memastikan.
"Lakukan yang terbaik, Dokter," ucap Ryan, lirih sekali. Dia langsung bersandar pada dinding, sedetik kemudian dia merosot hingga tubuhnya terkulai di lantai rumah sakit.
"Jangan kau tega lakukan ini kepadaku, Sayang! Jangan tinggalkan aku! Bertahanlah untukku dan anak kita," Ryan terus menangis, seolah air di matanya tak ada habisnya.
"Kenapa ini harus terjadi kepadaku? Kenapa semua orang harus pergi meninggalkan aku? Kenapa satu-satunya orang yang kumiliki saat ini pun harus merasakan kesakitan seperti ini? Sebesar apa dosaku hingga kau memberi hukuman seberat ini, Ya Allah," semua yang mendengar betapa pilunya tangisan Ryan saat itu, hanya mampu terdiam sambil menyeka air mata yang terus jatuh tak tertahankan.
"Kau boleh ambil nyawaku, Ya Allah. Tapi kumohon, jangan lagi kau ambil satu-satunya harta yang kumiliki, setelah Azzura, Papa dan Mamaku pergi,"
"Rani ..., kuatlah demi Hubby, Sayang. Jangan kau ingkari janji kita hanya sampai di sini,"
Semua menangis, tidak hanya karena mengetahui kondisi Rani saat ini, tapi karena melihat kondisi Ryan yang seolah tak hidup tak mati.
"Rani ...,"
BERSAMBUNG
__ADS_1