METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Pijar di Matanya Tak Bisa Lagi Dihidupkan


__ADS_3

"Aku akan meminta kepadaNya agar mentasbihkan janji cinta sehidup semati kita, Sayang. Hanya kau satu-satunya dan hanya kau yang akan menjadi nafasku selamanya. Bertahanlah untukku, atau ajaklah aku agar aku bisa menutup mata bersamamu," Prabu tergugu. Pertahanannya runtuh mendengar permintaan istrinya itu.


"Hidupkan cintaku dalam setiap desahan nafasmu dan jaga dia untukku," lirih Titania sambil menggelengkan kepalanya dengan pelan. Dia menolehkan kepalanya ke arah Aghata dan meraih tangannya, hingga tangan mereka bertiga kini tergenggam menjadi satu.


Tak berapa lama, Titania pun mengarahkan pandangannya ke arah Ryan dan Arya secara bergantian.


"Ryan, tuntun Mama, Sayang,"


Ryan pun mendekati mamanya dengan ragu. Setelah menata hati, akhirnya Ryan menghadapkan wajah Titania ke arah kiblat, kemudian men-talqin-nya dengan mendekatkan mulutnya ke arah telinga mamanya.


"Laa ilaaha illa Allah," bisik Ryan lirih. Dia berusaha menahan tangisnya agar sang mama bisa mendengar dengan jelas apa yang dia bisikkan.


"Laa ilaaha illa Allah," dengan terbata, Titania menirukan apa yang dibisikkan Ryan di telinganya.


Setelah kalimat itu berhasil keluar dari mulutnya, entah kenapa Titania sedikit menekuk kedua kakinya ke atas, kemudian merebahkannya kembali perlahan, seiring dengan gerakan kepalanya yang bergerak perlahan pula.


Beberapa detik berselang, tiba-tiba terdengar bunyi cukup keras dan panjang dari layar yang berada di dekat Titania. Grafik detak jantung itu pun kini hanya berupa garis-garis lurus yang tidak beranjak naik dan turun seperti sebelumnya.


"Ma! Mama! Jangan ambil dia, Ya Allah. Mama! Bangun, Ma! Bangun, kumohon!" Ryan berteriak histeris. Sementara Arya segera berlari keluar memanggil-manggil dokter dengan tak kalah histerisnya.


Dokter dan perawat yang akhirnya masuk ke ruangan itu pun segera meminta mereka keluar dan segera mengambil tindakan. Tak lama, di tangan dokter sudah ada Defibrilator, alat stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan detak jantung Titania kembali. Bahkan dokter menempelkan dua alat yang terlihat seperti setrika itu pada tubuh Titania berkali-kali, namun detak jantungnya tak bisa kembali lagi.


"Mohon maaf, kami sudah berusaha tapi Allah berkehendak lain," ucap dokter itu sambil mempersilahkan mereka semua masuk.


Kini, mereka semua hanya diam terpaku, merasakan denyar nadi yang semakin kencang berpacu. Tak rela, memang. Hingga derai air mata pun tak mau berlalu. Namun selarut apapun mereka dalam kesedihan, pijar di mata Titania tetap tak bisa lagi dihidupkan. Yang bisa mereka lakukan hanya satu, melantunkan berjuta do'a untuk sang ibu yang akan selalu mereka rindu.


***


Di pemakaman, suasana duka begitu terasa. Seluruh yang datang mengantarkan jenazah dengan rasa duka cita, bahkan tak sedikit diantara mereka yang terlihat terisak mengingat kebaikan Titania.


Setelah pemakaman selesai, para pelayat pun satu persatu meninggalkan tempat itu, menyisakan keluarga yang matanya masih membasah, menatap gundukan tanah merah yang kini menjadi jarak antara raga Titania dengan jiwa-jiwa itu.

__ADS_1


"Kenapa kau ingkari janjimu, Sayang? Bahkan kita tak hanya pernah berjanji sehidup semati, tapi kau pernah bilang ingin menua bersamaku," Prabu meremas tanah merah di atas gundukan itu.


"Panggil aku menghadapMu juga, Ya Allah. Buatlah agar kami bisa memenuhi janji kami," kini Prabu mendongakkan kepalanya ke atas, seolah ingin bercengkrama langsung dengan Tuhannya dibalik gelapnya cakrawala.


Tak ada yang tak menangis mendengar ucapan Prabu. Seorang Pria yang dikenal sangat kuat di dunia bisnis, bahkan karena kekuatannya yang luar biasa bisa diakui oleh dunia, kini terlihat begitu rapuh hanya karena kehilangan cintanya.


"Kita pulang, Pa. Kita tak boleh berlama-lama hanyut dalam kesedihan. Kita bantu Mama dengan do'a, agar dia tenang di sana," Ryan membantu sang papa berdiri dan memapahnya meninggalkan pemakaman itu.


Ryan, Rani, Arya, Lena, Aghata, juga Daniel pun memutuskan untuk tinggal di kediaman utama keluarga Dewangga sementara mereka masih berduka. Selain karena saat ini Prabu butuh kekuatan dan dukungan dari mereka semua, mereka juga ingin menikmati setiap kenangan demi kenangan di rumah itu bersama Titania.


Sepulang dari pemakaman, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing, seolah ingin menikmati kesendirian mereka bersama kenangan-kenangan yang tersisa. Begitu juga dengan Prabu. Dia ingin segera menumpahkan keluh kesah juga kegelisahannya kepada Sang Maha Pencipta, hingga tanpa mau membuang waktu, dia segera menggelar sajadahnya, menunaikan kewajiban dan melantunkan do'a, serta menumpahkan segala kegelisahannya kepada Sang Pemberi Cinta, Kehidupan dan Harapan. Dia pun menautkan hatinya kepada Rabbnya dalam panjangnya sujud yang dipersembahkannya sepenuh jiwa.


***


Hingga malam tiba, Prabu tak juga keluar dari kamarnya. Jangankan makan malam, meminta minum pun tak juga dilakukan.


Sebenarnya Bik Tum sudah mencoba mengetuk pintu tuan besarnya. Namun karena tidak ada suara dari dalam yang menyahut panggilannya, maka dengan khawatir Bik Tum menghampiri kamar Ryan dan mengetuknya.


"Bik Tum? Ada apa, Bik?" Ryan menyahut dengan lesu, sesaat setelah membuka pintu.


"Itu, Den. Tuan Besar," Bik Tum menjawab dengan bingung.


"Kenapa dengan Papa, Bik?" seru Ryan sedikit membulatkan matanya.


"Bibik mau mengantar minum dan makan malam ke kamarnya, tapi Tuan tidak menyahut, Den. Bisakah Den Ryan temani Bibik masuk? Bibik tidak berani," balas Bik Tum ragu.


"Ohh. Ayo, Bik," Ryan yang sedari tadi hanya menemui Bik Tum di depan pintu, kini keluar dan mendahului Bik Tum berjalan menuju kamar Prabu.


"Pa! Papa!" Ryan memanggil papanya sambil mengetuk pintu.


Tak ada sahutan.

__ADS_1


"Pa! Papa!" Ryan memanggil papanya lagi, kali ini dengan nada dan ketukan pintu lebih keras.


Karena belum ada sahutan juga, akhirnya Ryan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dan masuk ke dalam kamar papanya, diikuti Bik Tum yang ada di belakangnya.


Ryan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruang yang terlihat kosong. Hingga akhirnya pandangannya berhenti di satu titik.


"Ternyata Papa sedang sholat, Bik," Ryan tersenyum begitu melihat sang papa sedang khusuk dalam sujud.


"Kita tunggu saja sebentar, sampai Papa selesai sholat. Biar kita bisa pastikan Papa mau makan," lanjut Ryan sambil menoleh ke arah Bik Tum yang membawa makanan Prabu dengan sebuah nampan.


"Baik, Den," Bik Tum tetap berdiri di depan pintu, sementara Ryan duduk di tepi ranjang.


Dua menit, tiga menit pun berlalu, tak ada tanda-tanda Prabu akan beranjak dari sujud panjang itu. Ryan pun mulai tak tenang, hingga menghampiri dan menyentuh tubuh Prabu.


Alangkah kagetnya Ryan, ketika tangan itu menempel di punggung Prabu. Di saat yang bersamaan, papanya jatuh tersungkur begitu saja dengan mata yang terpejam dalam diam.


"Papaaa!" teriak Ryan.


Bik Tum Pun menjatuhkan nampannya karena kaget, hingga menimbulkan bunyi pecahan piring yang mengejutkan semua orang.


Hingga hanya dalam hitungan detik, semua berhamburan masuk ke dalam kamar secara bersamaan.


"Papaa!"


BERSAMBUNG


❤❤❤


*Jangan pelit bagi jempol dan vote nya dong, biar author semangat buat crazy up* setiap hari. hehehe...


Ditunggu juga comment positif dan bintang 5 nya. Ok? Terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2