
Di sebuah ruang berukuran 3 m x 3 m, besi putih berjejer rapat terkunci gembok para penjaga, yang menyekat indahnya kebebasan dari dunia luar. Batu bata merah pun tersusun rapi mengangkasa, menutup seluruh kerinduan dalam kehidupan siapapun yang berada di dalamnya.
Disanalah seorang lelaki tinggi besar, dengan bulu rambut yang memenuhi dagunya dan rambut panjang yang di gelung di belakang kepalanya terduduk pada dinginnya lantai dengan penuh penyesalan. Di balik jeruji besi itu, dia bersiap menghadapi hari penghakiman.
"Digo," panggil seorang penjaga, sambil membuka kunci gembok dan langsung memborgolnya, sebelum akhirnya membawanya pergi menuju tempat persidangan.
Hari itu wajah Digo tak seseram saat Rani melihatnya pertama kali di ruang tunggu Bandara bersama Nina, sang korban yang hendak di jualnya ke Malaysia. Wajahnya yang datar tanpa ekspresi, dengan tenang memasuki ruang sidang untuk pertama kalinya. Bahkan setelah diminta duduk di depan hakim, Digo masih menunjukkan wajah datarnya dan mendengarkan surat dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum dengan seksama.
Sebenarnya saat itu Digo sudah sangat tahu dengan dakwaan yang ditujukan kepadanya. Namun entah kenapa, di tengah-tengah pembacaan itu berlangsung, rasa cemas tiba-tiba hadir begitu saja di dalam hatinya, bahkan jantungnya tiba-tiba berdetak begitu cepat, tubuhnya terasa lunglai tidak seperti saat dia pertama kali duduk di sana.
"Saudara Digo, apakah ada eksepsi (keberatan) yang akan Anda sampaikan?" tanya hakim ketua setelah pembacaan surat dakwaan selesai.
"Ada, Yang Mulia," jawab Digo sambil menyapukan pandangan ke arah penasehat hukumnya.
"Baik, silahkan berikan tanggapan Anda!" ucap hakim ketua memberikan kesempatan.
Digo pun membenarkan posisi duduknya dan mengarahkan microphone yang dia pegang mendekati mulutnya. Namun sebelum dia mulai berkata-kata, tiba-tiba suaranya serak, tenggorokannya kering dan terasa sakit. Tangan kirinya memegang kepalanya yang tiba-tiba pusing, sementara tangan kanannya yang masih menggenggam microphone menjatuhkannya begitu saja dan beralih memegang lehernya yang bahkan saat itu oksigen seolah tak bisa lagi dihirupnya. Sesaat kemudian, dia jatuh tersungkur ke lantai, sehingga para petugas segera menghambur dan mengangkatnya, sebelum akhirnya melarikannya ke rumah sakit.
Sayangnya, sesampai di rumah sakit dokter menyatakan Digo sudah meninggal karena henti jantung secara mendadak. Dilihat dari gejala klinisnya, termasuk ruam-ruam di sekujur tubuhnya, dokter menyatakan bahwa Digo meninggal karena alergi makanan yang menimbulkan reaksi anakfilaksis, dimana ini adalah suatu reaksi alergi yang parah dan sangat berpotensi mengancam nyawa.
***
Siang itu, sang mentari masih berjaya pancarkan sinarnya. Meski sengat panasnya seakan siap membakar apapun yang terpapar bias cahayanya, namun waktu itu tak mempengaruhi sedikitpun wajah puas dua lelaki kekar yang sedang menikmati hasil kerja mereka.
"Apakah sudah kau pastikan bahwa semuanya rapi dan tidak ada jejak?" tanya Daniel Cullen kepada Johan sambil terus menatap siaran televisi yang sedang ramai membicarakan kematian Digo.
__ADS_1
"Jika uang yang kita berikan tidak mampu membungkam pengantar makanan ruang tahanan dan dokter itu, berarti mereka siap meregang nyawa, Tuan," jawab Johan dengan senyum tipisnya.
"Ceritakan kepadaku bagaimana kau melakukannya," tanya Daniel kemudian. Tidak seperti biasanya yang hanya menerima laporan beres dari Johan, kali ini Daniel ingin tahu langsung bagaimana anak buahnya itu bekerja.
"Tidak ada cara lain untuk melepaskan Charles selain melenyapkan Digo dan membuat seolah-olah pemegang kendali Charlie's Cafe adalah dirinya, Tuan. Karena itu kita harus memanipulasi semua yang berkaitan dengan Cafe itu dengan sempurna," jawab Johan dengan puas.
Sesuai rencana, Johan sengaja membuat Digo tidak sempat berkata apapun di sidang pertamanya, setelah memakan makanan yang sudah ditaburi racun oleh petugas pengantar makanan di ruang tahanan. Racun itu akan bekerja setelah 30 menit, dengan efek klinis sama persis dengan penderita alergi, dimana efek awal yang ditimbulkan adalah sulit bernapas, ruam-ruam merah pada kulit, saluran tenggorokan menyempit, suara serak, sakit perut, pusing, pucat dan lunglai, jantung berdebar sangat cepat, dan berakhir dengan henti jantung secara tiba-tiba.
Skenario menjadi lebih sempurna ketika dokter jaga IGD yang bertugas hari itu berhasil disuapnya, termasuk dokter spesialis forensik rumah sakit yang akan melakukan autopsi terhadap jasad Digo untuk memastikan penyebab kematiannya.
Para pekerja di Charlie's Cafe pun sudah terkondisikan sepenuhnya. Sehingga bisa dipastikan, opini yang terbangun saat persidangan Charles adalah ketidaktahuannya terkait praktik human trafficking yang dilakukan oleh Digo, juga praktik Cafe plus-plus yang selama ini berlangsung karena pemegang kendali Charlie's Cafe sepenuhnya diberikan kepada Digo.
***
Di waktu sama di tempat yang berbeda, Ryan menatap nanar sebuah email yang ditunjukkan Arya melalui laptopnya. Disana terdapat informasi detail mengenai manipulasi kasus Charles David yang direncanakan Daniel Cullen melalui anak buahnya.
"Dia tidak bisa kita remehkan," ucap Ryan sambil menutup laptop yang diberikan Arya.
Arya mengangguk. Ada sesuatu yang tiba-tiba merasuk dalam benaknya sehingga kekhawatiran akan keselamatan nonanya muncul begitu saja.
Kring-kring..., kring-king....
Sebuah nada dering terdengar dari benda pipih milik Ryan yang terdapat di atas meja kerjanya.
"Assalamu'alaikum, Sayang," sapa Ryan setenang mungkin, setelah menekan tombol hijau pada handphone-nya.
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam. Mas, sudah tahu kabar tentang kematian Digo belum?" tanya Rani.
"Iya sudah, Sayang," jawab Ryan dengan ragu.
"Pasti ada sesuatu yang terjadi, Mas. Kita harus bergerak. Pasti ada orang kuat di balik semuanya," Rani berkata dengan menggebu-gebu.
"Percayakan kepada pihak yang berwajib saja, Sayang," ucap Ryan, yang membuat Rani di seberang sana mengerucutkan bibirnya.
"Tidak bisa begitu, Mas. Karna kini Nina pasti dalam bahaya. Dan mungkin bukan hanya Nina. Ada banyak gadis seperti Nina yang butuh peetolongan kita," protes Rani dengan lantangnya.
"Pastinya pihak yang berwajib lebih tahu apa yang harus mereka lakukan, Sayang. Sudahlah," ucap Ryan kemudian, yang akhirnya diiyakan Rani begitu saja.
Setelah menutup telphonnya, Ryan mendesah dengan kasar.
"Kau yakin istriku itu tidak akan melakukan hal gila lagi?" tanya Ryan kepada Arya.
"Aku tidak yakin. Pasti Rani akan melakukan segala cara untuk mengusut tuntas kasus ini," jawab Arya jujur. Dia cukup tahu seperti apa kerasnya Rani ketika sudah menginginkan sesuatu.
"Kalau begitu bergeraklah terlebih dahulu, sebelum hal besar terjadi dan membahayakan istriku," perintah Ryan yang langsung dibalas Arya dengan sebuah anggukan.
Kini, Arya harus memikirkan bagaimana caranya mengatur serangan cantik untuk Daniel Cullen, sebelum dia bergerak terlebih dahulu yang berakibat pada terancamnya jiwa istri majikannya. Meskipun untuk urusan yang satu ini dia tidak bisa gegabah, mengingat orang yang menjadi musuh mereka saat ini adalah orang yang sangat licik, terbukti dengan begitu manisnya skenario kematian Digo juga seluruh manipulasi yang dilakukannya untuk membebaskan Charles David dari jerat hukum yang mengancamnya.
"Kau benar-benar menambah pekerjaanku, Nona," gumam Arya dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa klik like, vote, rate 5 dan favorit , juga comment-nya ya. Terima kasih telah membaca novel ini dengan setia.