
Daniel menatap pria yang ada di depannya dengan bulir bening yang terus berderai. Seketika, dia berlutut di hadapan Prabu begitu Aghata selesai membuka kisah masa lalu yang membuat semua orang yang berada di tempat itu ikut tergugu.
“Tolong hukum aku, Tuan. Hukumlah aku yang telah menjadikan mataku buta dalam khilaf dan dendam yang terpendam. Hukumlah aku yang telah membiarkan mulutku menjadi pedang api yang membakar ketulusan yang kau berikan. Hukumlah aku yang telah menjadikan hatiku duri yang dengan sengaja menyakiti. Hukumlah aku! Hukumlah aku!” cicit Daniel sambil menangis tersedu-sedu. Bahkan kini tangannya meraih tangan Prabu dan memukul-mukulkan tangan itu ke pipinya sendiri berkali-kali.
“Cukup, Nak. Cukup! Meski tak ada darahku yang mengalir dalam tubuhmu, tapi kau adalah putraku dan Ryan adalah kakakmu. Peluklah papamu ini, Nak. Aku tetaplah papamu,” Prabu segera menghentikan tangan Daniel yang menyakiti dirinya sendiri itu kemudian ikut bersimpuh dan memeluknya dengan hangat.
Daniel semakin tersedu mendengar ucapan seorang ayah itu. Kepingan-kepingan penyesalan kini sungguh menyeruak dan membuat dadanya begitu sesak, apalagi mengingat ada seorang ibu yang kini terbaring lemah di ruang ICU karena kebodohan dan kekhilafannya dalam lautan dendam tak bertepi.
“Terima kasih, Tuan,” ucap Daniel sambil mengeratkan pelukannya.
“Panggil aku Papa, karena sejak kau lahir di dunia, memang akulah papamu,” Prabu menatap wajah Daniel, kemudian memeluknya kembali.
Semua yang melihat adegan antara seorang ayah dan anak itu pun, tak mampu menyembunyikan isak tangisnya karena terharu. Hanya Ryan yang menampakkan ekspresi yang sulit diartikan. Antara kaget, marah, dan kecewa, kini bercampur menjadi satu.
“Kau lihat bagaimana akibatnya, Tante? Ini semua salahmu. Tak seharusnya kau menjerumuskan Daniel dalam dendam hingga dia berbuat sejauh itu. Jika saja kau tak menyembunyikan semuanya dari Daniel, ini semua tidak akan pernah terjadi. Kau tahu, Tante? Kau tak hanya membuat mamaku sekarang terbujur lemah di ruang itu, tapi kau juga telah mengorbankan ribuan perempuan yang Daniel pekerjakan untuk menjajakan tubuhnya demi memenuhi obsesi Daniel dalam misi balas dendam,” hardik Ryan penuh emosi.
Aghata hanya menunduk mendengar semua perkataan Ryan yang ditujukan kepadanya. Biar bagaimanapun, ini semua memang sudah menjadi kesalahannya.
“Aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahanku. Jika memang hukum akan menjeratku, aku pun rela,” setelah Prabu melepaskan pelukannya, Daniel berdiri dan menghampiri ibunya.
__ADS_1
Ryan hanya memasang wajah datar mendengar perkataan Daniel itu. Tentang kehadiran Aghata juga Daniel di tengah-tengah keluarganya, jujur Ryan sama sekali tidak keberatan dan dengan penuh kerelaan akan menerima mereka. Namun yang dia sesalkan, kenapa mamanya harus menjadi korban?
Suasana menjadi canggung seketika. Ryan yang tiba-tiba terlihat tak bersahabat, membuat aura kebencian yang ada diwajahnya bisa dirasakan oleh semua orang yang ada di sana. Rani yang menyadari perubahan sikap pada suaminya itupun mengelus punggung suaminya berkali-kali, berharap bisa menenangkan hati yang sedang tak stabil itu.
Hingga tiba-tiba, dokter yang merawat Titania tiba-tiba keluar dan mempersilahkan mereka semua masuk atas permintaan Titania.
Tak mau menunggu lama, mereka semua pun masuk sesuai apa yang menjadi permintaan Titania. Prabu, Ryan, Rani, Aghata, Daniel, Arya dan juga Lena tak mau menunda lagi untuk bertemu dengan perempuan yang sangat mereka sayangi itu. Mereka pun mendekati tubuh yang sedang terbaring lemah itu dengan perasaan tak menentu.
Dengan Nafas yang masih tersengal meskipun sudah mengenakan alat bantu pernafasan, Titania terlihat tersenyum melihat satu per satu orang yang dia sayangi datang dan berkumpul di tempat itu. Dengan pelan dan terbata, dia pun mulai mengucapkan sesuatu.
“Arya, kau telah kembali, Nak? Lihatlah, kau bahkan akan segera memberi Mama cucu,” Titania tersenyum melihat Arya dan Lena secara bergantian.
“Iya, Ma. Mama yang kuat ya, Ma. Insya Allah anak Arya nanti perempuan. Dia pasti akan cantik seperti Azzura,” Arya mengelus tangan Titania dengan derai air mata yang tak mampu ditahannya.
“Iya, Ma. Maafkan Daniel ya, Ma. Cepatlah sembuh buat Daniel, Ma. Kita sama-sama lagi seperti saat Daniel masih kecil dulu,” Daniel menghambur begitu saja dan memeluk Titania erat. Keduanya kini tergugu.
“Ryan! Rani! Sini, Sayang,” Titania yang semakin lemah itu pun merentangkan tangannya, hingga putra dan menantu kesayangannya itupun dipeluknya dengan seerat-eratnya.
“Kuatkan cinta kalian, karena itu yang akan membuat kalian kuat menghadapi apapun yang menerjang. Mama titip Papa, Arya, Mommy Aghata dan Daniel bersama kalian. Mereka adalah keluarga kalian, jaga dan cintai mereka seperti kalian menjaga dan mencintai Mama, Nak. Berjanjilah,” Titania semakin mengeratkan pelukannya di tengah isakan tangis yang tak mampu lagi untuk ditahannya. Entah kenapa, Titania merasa bahwa itu adalah pelukan terakhir mereka.
__ADS_1
“Ryan janji, Ma. Ryan akan mencintai dan menjaga mereka semua dengan taruhan nyawa Ryan,” Ryan menangis sendu.
"Aghata..," panggil Titania lirih. Kini Daniel membantu ibunya berdiri dari kursi roda dan memapahnya untuk mendekati Titania.
"Tetaplah jadi adikku dan mommy buat Ryan dan Arya. Sekali lagi aku memintamu untuk menjaga anak-anakku seperti saat aku koma dulu. Cintai mereka seperti kau mencintai Daniel," Titania menggenggam erat tangan Aghata. Isakan tangis pun kini menggema memenuhi setiap sudut ruang serba putih itu.
"Kita cintai mereka sama-sama, Kak. Seperti dulu. Aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian lagi. Bertahanlah untukku dan untuk mereka semua yang kau cintai, Kak. Aku mohon. Bertahanlah. Bertahanlak, Kak!" Aghata tak mampu menyembunyikan perasaan takut kehilangan perempuan yang berhati bidadari itu.
"Pa...," nafas Titania semakin tersengal. Dia mengarahkan tangannya ke arah suaminya.
Prabu pun mendekat dengan matanya yang sudah begitu sembab. Kini tak ada jarak lagi di antara mereka. Bahkan dengan terampilnya, Titania melepas alat bantu pernafasannya begitu saja, agar dia bisa benar-benar mengucapkan kata terakhirnya untuk suaminya.
"Jangan lepaskan, Sayang. Aku mohon," Prabu berusaha mencegah tangan Titania yang membuang alat bantu nafasnya ke sembarang arah, namun sebuah gelengan kepala membuat Prabu mengurungkan niatnya dan membiarkan Titania melakukan apapun yang menjadi keinginannya.
Prabu pun mengarahkan kedua tangannya hingga bisa memegang leher Titania, kemudian mendekatkan wajahnya di atas wajah istrinya, hingga kening mereka kini saling beradu.
"Aku bebaskan dirimu dari janji cinta sehidup semati yang pernah kita ucapkan dulu, Pa. Aku tak mau cinta sehidup semati. Aku hanya mau, menunggumu hingga kita bisa berkumpul denganmu di syurgaNya nanti," ucap Titania lirih. Dia tersenyum sambil menatap orang yang begitu dia cintai itu dengan tatapan penuh arti.
BERSAMBUNG
__ADS_1
❤❤❤
Mau lanjut? Bagi jempol dan vote-nya dulu. Jangan lupa rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih.