
Pagi itu, seluruh penghuni kediaman Dewangga tak ada yang keluar rumah menjalankan aktifitasnya. Mereka semua wajib membantu persiapan pesta penyambutan Daniel, yang siang ini akan pulang, tentunya dengan penglihatan yang sudah pulih seperti sedia kala, setelah dia buta dalam waktu yang cukup lama.
Tak ada yang berleha-leha di dalam kamar. Semua berpartisipasi aktif membantu para pelayan dalam persiapan pesta. Para pria menyulap tempat bak istana, sedangkan para wanita sibuk di dapur bak koki semua. Hanya si ibu hamil saja yang berleha-leha, mengingat perutnya yang sudah membola.
"Mom, Rani bantuin ya?" Rani menghampiri Mommy Aghata.
"Menantu cantiknya Mommy hanya boleh duduk manis di sini, sambil menikmati buah segar ini. Ok? Mommy mau, cucu Mommy yang berada di dalam sini sehat jika maminya makan yang banyak dan bergizi," Aghata menggandeng lengan Rani, mendudukkannya dan memberinya sepiring buah yang baru saja dipotongnya.
Rani hanya menuruti semua perkataan ibu mertuanya. Sambil mengerucutkan bibirnya, potongan-potongan buah itupun dia makan dengan begitu lahapnya. Begitu buah di hadapannya habis, Rani beranjak dan mendekati Mama Davina.
"Ma, Rani bisa bantu apa?" tanya Rani sambil memeluk Mama Davina yang sedang membuat sup asparagus kesukaan Daniel dan Naja.
"Bantu apa ya? Bantu makan aja deh," sahut Mama Davina sambil terkekeh.
Sekali lagi, Rani memajukan bibirnya. Apalagi semua yang ada di dapur waktu itu ikut tertawa mendengar ucapan Mama Davina, membuat Rani keluar dari area dapur dengan bersungut kesal. Mama Davina dan Mommy Aghata yang melihat ibu hamil yang tak bisa diam itu pun hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum penuh rasa sayang.
Sampai di ruang tamu, Rani tak juga menemukan hal yang bisa dia kerjakan. Semuanya sedang sibuk menyiapkan ruangan, tanpa ada yang bisa di ganggu juga tak ada yang mau di bantu.
"Ihhh, menyebalkan," gerutu Rani sambil mendudukkan diri di sofa panjang. Diperhatikannya Ryan dan semua orang yang ada di sana sedang sibuk berlalu lalang, sambil menata barang-barang yang sudah siap di pajang.
Ryan yang menoleh sekilas ke arah istrinya yang sedang kesal pun menghentikan aktifitasnya dan menghampiri istri cantik yang sudah pasti sedang mencari perhatiannya itu.
"Kesayangan Hubby kenapa sih? Manyun aja dari tadi?" sebuah cubitan kecil mendarat manis di hidung mancung Rani, sesaat setelah Ryan datang dan duduk menemani.
"Sebel, By. Semuanya sibuk, tapi tak ada yang membiarkan Rani membantu sama sekali," adu Rani, seperti anak kecil yang sedang mengadukan temannya pada orang tuanya.
"Ibu hamil itu ...," sebelum Ryan menyelesaikan kalimatnya, Rani sudah menyela.
"Duduk manis, sambil makan buah dan makanan bergizi lainnya," Rani membeo perkataan semua orang yang selalu dilontarkan kepadanya.
"Pinter," kini cubitan di pipi yang mendarat dengan cantiknya.
"Uhh, Hubby nggak asyik. Sama aja sama yang lainnya," niat hati ingin mengadu, ternyata yang Rani dapat justru jawaban itu.
"Itu tandanya, semua orang menyayangi istri Hubby yang cantik ini. Harusnya kamu bersyukur, hidup di tengah orang-orang yang mencintai kamu sepenuh hati," ucap Ryan sambil mengusap hijab Rani penuh sayang.
Akhirnya si ibu hamil pun mau diam, dengan syarat suaminya mau menemaninya duduk manis, menyaksikan yang lain kasak kusuk dengan semua pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
***
Waktu menunjukkan pukul satu siang, semua penghuni rumah sudah siap dengan pesta penyambutan. Mereka semua sudah berdandan rapi, para pelayan dan penjaga pun sudah siap dengan tugasnya sendiri-sendiri.
Suara klakson pun terdengar, mereka semua segera keluar dan menyambut kedatangan Daniel dengan posisi berjajar. Begitu mobil masuk dan terparkir cantik di depan pintu utama, Rudi dan Johan yang bertugas untuk menjemput Daniel pun keluar dengan segera. Johan yang menyetir, segera keluar dan membukakan pintu untuk Naja, sementara Rudi yang duduk di samping pengemudi, membuka pintu untuk Daniel, si pemilik pesta.
"Selamat datang kembali," seru mereka secara bersamaan, begitu Daniel keluar.
Daniel mengedarkan pandangan ke sekelilingnya, juga orang-orang yang sangat dicintainya itu dengan penuh haru. Bahkan, kini mereka memeluk Daniel satu persatu, dengan rasa bahagia yang mengharu biru.
Tak ada yang tak menitikkan air mata ketika itu. Ya, air mata bahagia yang keluar karena akhirnya masalah di keluarga mereka akhirnya selesai satu per satu.
"Terima kasih, Ya Allah. Telah Kau kembalikan kebahagiaan keluarga kami seperti dulu. Hindarkan kami dari cobaan dan ujian di luar kemampuan kami, Ya Rabb. Karena kami tahu, setiap ujian yang Kau beri tak pernah di luar kemampuan kami," do'a Rani dalam hati.
Setelah drama penyambutan yang cukup sendu itu berakhir, akhirnya mereka masuk ke rumah utama dengan penuh suka cita. Ketika Daniel masuk, matanya kembali berkaca-kaca menyadari keluarganya telah begitu antusias menyulap rumah itu demi menyambut kepulangannya.
Ruang tamu sudah didominasi dengan warna putih bersih dan dipenuhi mawar merah di setiap sudutnya. Begitu juga ketika akhirnya mereka masuk ke ruang makan, tidak hanya dekorasi yang memanjakan, tapi juga hidangan istimewa yang disajikan.
"Mommy dan Mama Davina khusus masak ini semua buat kamu dan kita semua," ucap Aghata dengan tersenyum bangga.
"Terima kasih, Mom. Mommy dan Mama memang selalu yang terbaik," puji Daniel sambil mengacungkan dua jempol tangannya.
Setelah semua duduk dan mengambil makanan masing-masing, mereka pun segera melahap makanannya tanpa ada yang berbicara. Hanya dentingan piring dan sendok yang beradu saja yang terdengar di telinga mereka, hingga piring mereka kosong, seiring dengan perut mereka yang kini terisi penuh.
Usai makan hidangan utama, mereka berpindah ke ruang tamu. Hidangan penutup pun mereka nikmati di tempat itu, di selingi sendau gurau yang membuat riuh seisi rumah, apalagi ketika tiba-tiba Rudi memainkan gitar dan menyanyikan sebuah lagu.
__ADS_1
Takkan pernah terlintas
Tuk tinggalkan kamu
Jauh dariku, kasihku
Karena aku milikmu
Kamu milikku
Separuh nyawaku
Hidup bersamamu
Berdua kita lewati
Meski hujan badai takkan berhenti (takkan berhenti)
Sehidup semati
Mentari pun tahu
Kucinta padamu
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Aku kan selalu ada
Temani hingga hari tua
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Setia akan kujaga
Takkan pernah kulupa
Kamu yang kucinta
Dari ujung kaki
Hingga ujung kepala
Aku ingin kamu
Kamu yang kumau
Belahan jiwaku
Kamu masa depanku
Berdua kita lewati
Meski hujan badai takkan berhenti
(Takkan berhenti)
Sehidup semati
Mentari pun tahu
__ADS_1
Kucinta padamu
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Aku kan selalu ada
Temani hingga hari tua
Percaya
Aku takkan ke mana-mana
Setia akan kujaga
Sesaat sebelum Rudi menyelesaikan lagu dari Jaz yang berjudul Teman Bahagia itu, tiba-tiba Rani berteriak kesakitan.
"Auw," Rani meringis kesakitan, sambil memegangi perutnya.
Sontak, Rudi menghentikan lagunya, seiring dengan wajah semua orang yang berubah menjadi tegang seketika.
"Ada apa, Sayang? Apa perutmu sakit? Kau tidak kenapa-napa kan, Sayang? Mana yang sakit? Bilang sama Hubby!" mode khawatir Ryan mulai menyala-nyala. Semua orang yang ada di sana pun sekarang mendekati Rani dengan ekspresi khawatirnya.
"Putramu tiba-tiba menendang keras sekali, By. Biasanya gerakannya tak sekeras ini," Rani masih meringis menahan sakit.
"Oya?" muka Ryan yang awalnya tegang berubah menjadi senang. Begitupun dengan orang-orang yang kini masih mengelilinginya, semua menunjukkan perasaan lega.
"Jagoan Daddy kenapa usil di dalam? Kasihan Mommy. Atau kamu ingin ikut bernyanyi bersama Om Rudi seperti mamimu dulu ya?" ucap Ryan, diiringi gelak tawa semua orang yang ada di sana.
"Auw," Rani kembali berteriak.
"Tuh kan, benar apa yang Hubby bilang," seru Ryan dengan girang. Bahkan kini tangannya sudah menempel ke perut istrinya, menikmati tendangan-tendangan putranya yang terus dia rasakan di perut istrinya.
"Mama mau ngrasain tendangan cucu Mama dong," Davina mendekat dan menempelkan tangannya pada perut putrinya.
"Mommy juga ah," Aghata tak mau kalah, begitu juga dengan Lena, Nina, dan Naja. Semua mendapatkan giliran untuk merasakan tendangan sang putra mahkota keluarga Dewangga.
Daniel yang melihat perut Rani kelihatan bergerak dan sesekali menonjol di beberapa bagian itu pun tersenyum, dengan tatapan yang sungguh sulit diartikan.
Hingga tiba-tiba, Daniel mendekati Naja dan melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya.
"Sayang, aku mau juga seperti Ryan. Kapan perutmu akan membola dan bergerak-gerak seperti itu?" celoteh Daniel kepada istrinya, diikuti gelak tawa semua orang.
Naja yang mendengar ocehan suaminya hanya mencubit perut Daniel dengan muka yang sudah merah padam.
"Kamu usahanya gimana? Produksi terus itu bayi, baru perut istrimu berisi!" goda Ryan, lagi-lagi membuat semua orang tertawa lepas, apalagi dengan wajah Naja yang semakin merona, membuat yang lainnya semakin getol untuk menggoda.
"Ayo bubar-bubar. Biar Daniel dan Naja segera produksi bayi sebanyak-banyaknya," Arya berinisiatif meninggalkan pesta dan menarik Lena untuk pergi ke kamarnya.
"Modus kau ya," Ryan melempar sebuah bantal ke arah Arya, tapi berhasil di tangkisnya.
"Siapa lagi yang mau masuk kamar? Kau Niel? Atau kamu Jo?" Ryan menatap Johan dan Daniel secara bergantian.
Baik Daniel maupun Johan hanya saling bertatap mata, mereka berdua jadi malu untuk meninggalkan pesta, gara-gara ledekan yang dilontarkan Ryan dan Arya.
"Baiklah kalau tak ada yang mau. Aku dan Rani saja kalau begitu. Ayo, Sayang!" Ryan beranjak dan menarik tangan Rani, sebelum akhirnya mereka masuk ke dalam kamar.
"Modus juga kamu ya?" giliran Daniel yang berteriak.
Davina, Aghata dan Arsen hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah anak-anak mereka.
BERSAMBUNG
__ADS_1