
Matahari hampir terbangun dari malam yang panjang, namun paragraf-paragraf cinta sepasang kekasih itu masih terus bergema indah di atas peraduan. Untaian kata yang terlukis dari pandangan mata saat mereka saling bersitatap, membuat desiran hati dan degup jantung keduanya pun kian mengencang.
"Aghhh," rintih Ryan sebelum akhirnya dia menjatuhkan tubuhnya di samping Rani, setelah aktivitas mereka yang panjang.
Rani pun segera beranjak dan menarik selimut dari ujung tempat tidur, menutupi tubuh polos mereka dengan tubuh yang masih saling merapat satu sama lain.
"I love you, my sweet wife," ucap Ryan sambil mengecup ujung kepala istrinya berkali-kali. Senyum termanis menjadi hadiah terindah di pagi yang kian merekah.
"I love you too, my handsome husband," balas Rani sambil mempererat pelukannya. Dia membalas senyuman suaminya dengan senyum penuh cinta.
Sesaat, mereka semakin merapatkan tubuh mereka dan mempererat pelukan masing-masing. Rasa lelah yang mendera setelah serangan demi serangan menjelang fajar hingga shubuh datang, membuat dua tubuh itu lunglai tak bertenaga. Ditambah mata yang mulai meredup setelah terjaga semalaman, membuat rasa kantuk yang melanda benar-benar tak tertahankan.
Namun suara adzan yang tiba-tiba menembus pendengaran membuat mereka bangun seketika. Ryan menepiskan selimut yang masih membungkus rapat kedua tubuh itu, kemudian beranjak dan membopong tubuh istrinya begitu saja. Sesampai di kamar mandi, mereka saling membersihkan diri di bawah guyuran air shower hingga lengket akibat lelehan peluh di tubuh mereka setelah pertempuran yang panjang bersih dan tubuh mereka kembali tersegarkan.
Setelah selesai, mereka keluar kamar mandi secara bersamaan. Binar bahagia sungguh terpancar dari mata kedua anak manusia itu, apalagi setelah basuhan air wudlu mengenai tubuh hingga mampu menyirami kalbu dan membawa jiwa mereka dalam kondisi penuh ketenangan.
Mereka bersimpuh menghadap Rabb semesta alam, memohon dan memuji kebesaran, keagungan serta kemuliaanNya yang telah memberi mereka banyak kenikmatan. Cahaya kesyukuran yang teramat besar mereka kembalikan kepada Sang Pemilik Cinta, Kehidupan dan Harapan, dengan tak henti-hentinya hati itu bersyukur dengan jalan yang dipenuhi dengan bait-bait rindu kepadaNya, hingga Diapun selalu tunjukkan arti bagaimana mereka harus menyempurnakan ketundukan mereka kepada Rabb mereka.
__ADS_1
Mulai dari takbiratul ihram hingga salam, mereka terlihat sangat khusuk menyelami percintaan mereka dengan Sang pencipta. Hingga setelah salam kedua, seperti biasa mereka duduk saling berhadapan. Rani mencium punggung tangan Ryan, Ryan pun mengecup ujung kepala istrinya itu berkali-kali dengan penuh kesyukuran. Setelah itu, mereka larut dalam untaian do'a masing-masing.
"Ya Allah, dia sungguh mujahid sejatiku yang Kau pilihkan untuk berjuang bersamaku dalam menegakkan kalimatMu, mewujudkan selongsong asa tuk lengkapi sayap perjuanganku hingga aku dapat terbang menggapai RidloMu. Maka berikanlah jalan terang agar kami dapat melewati setiap cobaan yg Engkau hadirkan Ya Allah. Berikanlah gumpalan kekuatan hingga kami bisa membagun jembatan kasih sebagai suami istri yg ditasbihkan. Limpahkanlah kepada kami, Cinta yang menjadikan pengikat rindu antara Rasulullah dan Khadijah. Hilangkanlah ego kami, musnahkanlah sifat benci kami, dan kuatkanlah ikatan kami diatas janji setia ini hingga kain putih mengkafani diri kami suatu saat nanti. Aamiin," do'a Rani lirih.
"Ya Allah, sempurnakanlah kebahagiaan kami dengan menjadi kan hubungan ini sebagai ibadah kepada-Mu, dan bukti cinta kami kepada sunah Rasul-Mu. Karna pada satu jiwa cinta kami telah menemukan bejananya, maka jadikan cinta ini juga sebagai pengukir tiap inci kenangan yg tercipta. Entah tangis atau tawa, jadikan dua-duanya sebagai hikmah yang bermakna. Ya Allah, sucikan hati-hati kami hingga kami dapat melaksanakan kehendak dan rencana-Mu dalam hidup yang Kau Ridhoi. Jadikan sayap-sayap perjuangan kami sebagai pengikat cinta kami, hingga peluh-peluh kami akan menyatukan kami kembali di JannahMu. Aamiin," do'a Ryan penuh harap.
Setelah mereka memanjatkan do'a, Ryan membalikkan tubuhnya hingga mereka duduk berhadapan kembali. Dia meraih tangan istrinya dan menggenggam tangannya dengan mesra. Sesekali, diangkatnya tangan itu sebelum akhirnya sebuah ciuman lembut mendarat dengan lembut pada jari-jari lentik istri tercinta di hadapannya.
"Terima kasih karena telah menjadi pelangi yang memberi warna dalam hidupku. You are my soulmate, forever," dikecupnya seluruh bagian wajah Rani tanpa meninggalkan sisa. Senyum pun kembali mengembang di wajah cantik itu, menambah aura kesempurnaan seorang wanita terpancar dengan indahnya.
Empat bulan sudah cinta itu mereka rajut dan torehkan dalam legenda kehidupan mereka, meski cerita pernikahan mereka memang bukan kisah cinta yang sederhana. Mereka sama-sama tahu, bahwa cinta itu bukan hanya tentang janji setia ataupun cinta sehidup semati. Jauh lebih dari itu, cinta itu adalah wasilah yang akan menguatkan ketundukan mereka kepadaNya, karena Sunnah bersejarah itu diakadkan untuk menghimpun kebaikan dan melengkapi kekurangan di antara mereka. Dan biarkan semua itu terus mengalir dalam arus kehidupan mereka, bagai air yang senantiasa memberi kesejukan, atau udara yang menerbangkan lara. Biarkan ikatan itu tumbuh subur seperti benih yang tersemai, hingga mekar seperti bunga-bunga.
Meski ada dinamika, namun selalu mampu mereka lebur dalam asa cita-cita yang sama. Meski banyak yang berbeda, namun selalu mereka lukis menjadi lapis-lapis pelangi dengan harapan bahwa keberkahan akan Allah berikan atas niatan tulus mereka.
Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan mereka dengan senyum yang masih terus merekah.
"Tunggu sebentar, ada yang mau Mas berikan kepadamu," ucap Ryan sambil beranjak dari duduknya, melangkah menuju meja dan mengambil sesuatu dari dalam tas kerjanya.
__ADS_1
Rani hanya melihat setiap gerakan suaminya dari tempatnya duduk dengan seksama. Sungguh dia baru tersadar bahwa laki-laki yang telah sah sebagai suaminya itu ternyata seorang pria yang luar biasa.
"Kenapa memandangi Mas Ryan seperti itu? Apa kamu baru sadar kalau Masmu ini adalah pria yang tampan?" goda Ryan, saat menyadari bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian. Tak lama, dia mengambil posisi duduk kembali di hadapan istrinya.
"Ihh, apaan sih?" wajah Rani memerah menahan malu.
"Kamu lucu sekali saat malu-malu gitu, Sayang. Ha-ha-ha," tawa Ryan pecah begitu saja.
Rani pun hanya bersungut kesal mendapat godaan suaminya. Kini bibirnya sudah mengerucut ke depan, membuat wajah cantik itu begitu menggemaskan.
"Oiya, Mas Ryan punya sesuatu buat kamu. Terimalah!" ucap Ryan sambil menyerahkan sebuah benda kepada istrinya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
Jangan Lupa bagi jempolnya ya guys. Jangan lupa vote, rate 5 dan comment positifnya juga. Terima kasih.
__ADS_1