
Hening. Malam itu hanya terdengar suara putaran jarum jam yang berdetak di dinding ruang mewah yang telah di sulap menjadi tempat peraduan yang indah. Lena dan Arya sama-sama terdiam menatap langit-langit kamar, mencoba untuk memejamkan mata, namun berkali-kali itu juga salalu gagal.
Arya menekuk lengan kanannya, menjadikannya alas setelah bantal. Kini tubuhnya dimiringkan ke arah pengantinnya yang kini sedang tertidur membelakinya.
"Deeba, jangan pura-pura tidur! Kakak tahu kamu belum terlelap," bisik Arya lirih. Tangan kirinya mengelus punggung gadis kecil yang sangat dirindukannya itu.
Tak ada jawaban dari mulut Lena. Hanya terdengar nafasnya yang berat saja saat dengan ragu Lena membalikkan tubuhnya dan memposisikan badan miring menghadap ke arah suaminya.
Tatapan mereka bertemu. Dengan sedikit bergetar, Arya memegang pipi kiri Lena, kemudian mengecup keningnya dengan lembut. Pandangannya sama sekali tak beralih dari wajah cantik gadis kecil yang sangat dirindukannya itu.
"Apa kamu belum siap?" mendadak pertanyaan itu keluar dari mulut Arya. Kini jantungnya semakin berdegup kencang tak beraturan.
"Siap untuk apa?" Lena berpura-pura tidak mengerti ucapan Arya, sambil memberanikan diri untuk terus memandang lelaki yang kini telah halal baginya itu dengan tatapan yang sulit di artikan. Sungguh, malam itu Lena kembali menemukan tatapan Kak Tamanya yang dulu, yang tidak dia temukan pada tatapan Arya ketika menolongnya saat drama persidangan Charles beberapa hari yang lalu.
Tanpa berkedip, tatapan Arya pun menyelami lebih jauh ke dalam mata indah Lena. Menikmati pipinya yang sedikit merona, juga bibir tipisnya yang menggoda hingga membuat Arya tak hanya sekali penelan salivanya.
"Tentu saja malam pertama kita, Sayang," Arya menggaruk kepalanya yg tidak terasa gatal.
"Buka ya?" lanjut Arya memberanikan diri.
"Buka apa?" Lena masih pura-pura tidak mengerti.
"Buka hijabmu," lirih, Arya berbisik di telinga Lena yang sukses membuat pori-pori kulitnya membesar karena merinding.
Tanpa menunggu persetujuan, tangan Arya meraih kain berbahan kaus yang menutupi kepala Lena, lalu mengusapnya dengan lembut. Perlahan Arya membuka hijab itu tanpa ada penolakan.
Seketika, rambut lurus Lena indah terurai. Wangi shampo yang memanjakan langsung saja menguap menusuk indra penciuman Arya.
"Rambutmu indah, Sayang. Kau juga cantik, masih secantik gadis kecilku dulu," ucap Arya sambil menyelipkan anak rambut Lena ke belakang telinganya.
Arya semakin mendekatkan wajahnya. Jemarinya mengusap lembut pipi dan bibir Lena. Dan debar di dadanya kini semakin mengencang saat Arya mencium istrinya dengan singkat.
__ADS_1
Wajah Lena hanya tertunduk, menyembunyikan kedua pipi yang sudah merah merona. Lagi, Arya semakin mendekatkan wajahnya hingga tak ada jarak lagi di antara mereka.
"Kak Tama, tunggu," pinta Lena sambil menahan tubuh Arya dengan telapak tangannya mendorong dada bidang Arya yang hampir tak berjarak dengannya.
"Kenapa?" Arya mengernyitkan keningnya, seolah sebuah harapan tak lagi ada untuk malam pertamanya.
"Deeba takut," tutur Lena lirih.
Arya hanya tersenyum, kemudian meraih lembut jemari Lena. Mata mereka beradu, namun tak ada satu kata pun yang terucap dari kedua mulut itu.
Kini, wajah mereka memerah semu, karena saling tersipu malu. Senyum simpul itu pun hadir di antara temaram abu abu. Mereka mulai bercengkerama melalui denyar nadi tanpa kata-kata di bawah cahaya rembulan yang mulai merayapi temaram. Dalam kamar bermandikan mawar itu, sepasang cinta telah bertasbih, mengarungi samudera ibadah agung hingga mereka mengukir kisah yang terpahat dengan berjuta janji untuk saling memiliki.
***
Saat bintang-bintang masih setia menari bersama dinginnya malam sambil menanti sang surya kembali datang, dua anak manusia sudah terkulai lemas di bawah sinar temaram. Tak kalah dengan Lena dan Arya di malam pertama mereka, Ryan dan Rani tak mau melewatkan ibadah mereka barang semalam saja.
"Mas," panggil Rani ketika Ryan merapatkan selimut ke tubuh polosnya dan hendak beranjak ke kamar mandi.
"Iya," jawab Ryan mendekatkan tubuhnya kembali ke arah istrinya.
"Mas ke kamar mandi bentar ya, Sayang. Pengen buang air ini," tutur Ryan, sambil mengusap ujung kepala Rani dengan lembut.
"Mas nggak mau peluk Rani?" Rani menggeleng kasar. Matanya mendadak berkaca-kaca mendengar penolakan suaminya. Entah kenapa malam itu Rani benar-benar ingin terus bermanja.
"Loh kenapa jadi nangis gini sih? Mas mau bangetlah peluk istri cantik dan sholehahnya Mas Ryan," Ryan kaget melihat respon istrinya yang tidak terduga, kemudian memilih masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh Rani dan melingkarkan tangannya pada perut istrinya.
"Ihh, tapi badan Mas Ryan lengket banget. Bau lagi. Mandi dulu deh, baru boleh peluk Rani sampai pagi," Rani melepas tangan yang melingkar di perutnya dan bergerak sedikit menjauhi suaminya.
"Ini udah tengah malam, Sayang. Mandinya sebelum shubuh aja sekalian mau sholat. Lagian Mas nggak bau ahh," tolak Ryan sambil mengarahkan indra penciumannya ke bagian atas lengan kanannya, kemudian berpindah ke bagian atas lengan kirinya.
"Ya sudah kalau Mas Ryan nggak mau," bibir Rani mengerucut kemudian berbalik membelakangi Ryan sambil merapatkan selimutnya.
__ADS_1
"Ya sudah, jangan ngambek nanti cantik dan sholehahnya ilang lho. Mas mandi dulu ya, Sayang," akhirnya Ryan menuruti permintaan istrinya tanpa berusaha protes sama sekali.
Dengan malas, Ryan beranjak dari posisi tidurnya dan segera menuju pintu kamar mandi.
"Mas!" belum sempat Ryan membuka pintu, istrinya yang tiba-tiba manja itu sudah memanggilnya lagi.
Ryan menghela nafas panjang, mulai menerka-nerka apalagi yang akan diminta istrinya tengah malam seperti itu.
"Iya, Sayang," jawab Ryan sambil berbalik.
"Rani mau mandi juga," tutur Rani sambil merubah posisinya.
"Memangnya nggak takut masuk angin?" Ryan menjawab sambil mengernyitkan dahinya.
Rani menggeleng mantab, namun tak juga beranjak dari tempat tidurnya. Rani hanya menatap suaminya penuh harap.
"Mau digendong?" tebak Ryan melihat tingkah aneh istrinya.
Rani hanya mengangguk.
"Mau dimandiin juga?" telisik Ryan sambil kembali menuju tempat tidurnya.
Lagi-lagi Rani hanya mengangguk, membenarkan semua tebakan suaminya. Tak lama, Ryan pun mengangkat istrinya menuju kamar mandi dan membaringkan tubuh istrinya ke dalam bathtub setelah mengisinya penuh dengan air hangat.
Bahkan di dalam kamar mandi itu Rani tak berniat melakukan aktivitas mandinya, dan membiarkan suaminya memandikannya seperti seorang gadis kecil yang sedang bermanja pada orang tuanya.
Setelah tubuh mereka bersih pun Rani tak mau beranjak dari sana hingga akhirnya suaminya mengeringkan tubuh basahnya, menggendongnya kembali ke tempat tidur dan mengganti pakaiannya, baru menyelimutinya dan memeluknya sesuai permintaan aneh Rani di tengah malam itu.
"Tumben banget manja gini," gumam Ryan dalam hati, sambil membiarkan tubuh lelahnya hanyut dalam lelap.
BERSAMBUNG
__ADS_1
🌹🌹🌹
Jangan lupa bagi jempol dan vote-nya ya guys. klik tombol favorit dan kasih aku bintang lima juga. Terima kasih.