METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ketulusan Cinta


__ADS_3

Saat tangan itu Ryan genggam, ada secercah harap bahwa senyum istrinya akan kembali merekah hangat, dengan semua cinta dan segala rasa yang ada. Ya, wanita itu telah memberi Ryan rasa bahagia tak terkira dalam hidupnya, walaupun jalan yang harus mereka lalui bukanlah jalan yang penuh dengan bunga mawar dan melati, namun jalan yang dipenuhi dengan onak dan duri.


Namun ketulusan cinta mereka membuat mereka selalu bersyukur, betapa Tuhan telah mempertemukan mereka dalam semua rasa yang awalnya tak pernah ada. Mereka pernah saling menolak saat takdir mentasbihkan mereka untuk bersama, mereka juga pernah berikrar bahwa berteman adalah jalan yang paling mudah satu-satunya. Tapi lagi-lagi, ukiran pena Tuhan membuat rasa rindu atas diri mereka semakin mengalir indah. Sapa demi sapa pun kian menghangat, mengukir hari-hari penuh cinta hingga menjadi lebih bermakna.


Mungkin, di dunia ini memang ada banyak cinta. Namun bagi Ryan, wanita yang baru saja melahirkan pewaris tahta keluarga Dewangga itu adalah satu-satunya cahaya terindah yang selalu berpendar-pendar di dalam hatinya. Hingga hari-hari yang dia jalani pun tak pernah terasa pedih walau hembusan angin terus menerpa. Ya, karena cintalah sepi dan duka tak pernah ada. Warna hitam pun menyala-nyala menjadi berubah warna, seiring dengan desahan nafas yang mengagungkan cinta di atas segalanya.


Begitulah Ryan menanam dengan dalam cinta itu di hatinya. Hingga saat sekali lagi ujian cinta menerpa pertahanannya, tak sedikit pun rasa itu goyah dan terlepas dari jiwa. Buktinya, Ryan masih bisa melukis senyum di bibirnya, di saat-saat berat begitu terasa dalam satu fase kehidupan mereka berdua.


Sejak sang pewaris tahta mulai melihat dunia, satu babak baru dalam kehidupan mereka pun mulai terasa. Apalagi melihat kondisi Rani yang masih digelayuti rasa trauma di dalam dirinya, membuat perlu perjuangan ekstra.


"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Ryan dengan begitu tulus. Hatinya cukup lega melihat Rani sudah terdiam dari tangisnya, walau masih bermurung durja.


Ya, hari ini dengan terpaksa Ryan meminta semua orang yang menjenguk Rani untuk pulang, karena dia sendiri yang akan membuat Rani lebih tenang. Dan ternyata benar. Saat Hengky, Fisha, Davina, Aghata, Lena, Nina, Arsen dan Arya meninggalkan ruangannya, Rani merasa lebih tenang dan tangisnya perlahan-lahan mereda.


Namun Rani belum juga mau menyahut pertanyaan suaminya. Mulutnya masih tertutup rapat, hanya sebuah gelengan kepala saja yang menjawab dengan isyarat.


Ryan pun tak memaksa Rani untuk membuka mulutnya. Melihat Rani sudah terdiam dari tangisnya saja sudah hal yang sangat mujur untuknya. Dia sungguh tak mau membuat wanita itu menangis lagi untuk yang kesekian kalinya, karena Rani sudah mengalami hal yang sangat berat dua hari ini, dan Ryan tidak ingin justru menambah beban lagi.


Hingga tiba-tiba, dua orang perawat meminta izin masuk dan menghampiri mereka.


"Mohon maaf, Tuan. Kami akan membantu Nona untuk berbersih diri. Apa kami diperbolehkan untuk membantu? Atau Tuan yang akan melakukannya sendiri?" tawar seorang perawat dengan hati-hati.


"Biar aku yang melakukannya sendiri, Sus. Istriku merasa tidak nyaman jika ada orang lain yang melihat auratnya terbuka walau dia adalah seorang wanita," sahut Ryan tanpa beban.


"Baiklah, Tuan. Sebelumnya perlu saya katakan, bahwa Nona sudah boleh memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, juga boleh belajar duduk perlahan. Untuk pertama, akan terasa sangat sakit memang, tapi itu hanya butuh penyesuaian saja. Secara medis sudah tidak berbahaya, walau rasa sakit akan terasa," jelas perawat itu, sebelum akhirnya berpamitan untuk meninggalkan ruangan.


Begitu perawat itu keluar, Ryan mengunci pintu kamar dari dalam. Dengan telaten, dia membuka sebuah koper yang sempat Mama Davina bawa saat pagi tadi datang, kemudian mulai Ryan ambil satu per satu helaian baju yang Rani butuhkan.


Setelah itu, Ryan menuju kamar mandi dan segera mengisi sebuah baskom dengan air hangat, sebelum akhirnya menghampiri Rani kembali.


"Hubby bersihkan badanmu dulu, Sayang. Biar kamu lebih nyaman," seulas senyum terlihat begitu tulus.


"By ...," lirih Rani, sambil menggelengkan kepalanya. Ini sungguh hal yang sangat baru bagi suaminya.


"Tidak apa-apa, Sayang. Ini sudah menjadi tugas Hubby memang. Hubby tidak akan merasa jijik jika harus melihatnya sekarang," Ryan berusaha meyakinkan.


"Tapi darah nifas lebih banyak dari pada darah yang biasa Rani keluarkan setiap bulan, By. Hubby pasti akan jijik. Biarkan perawat itu saja yang melakukannya, Rani tidak keberatan, By," untuk pertama kalinya setelah melahirkan putranya, Rani berbicara panjang pada suaminya.


Bagi Ryan, ini adalah perkembangan yang luar biasa dan patut disyukurinya.


"Benar kata dokter itu, aku harus menunjukkan perhatian dan kepedulianku kepadanya, agar dia merasa sangat dicintai, hingga akhirnya bisa menghilangkan sindrom yang dia alami," batin Ryan dalam hati.


"Sssttt. Hubby dengan sukarela akan melakukannya, Sayang. Ini belum ada apa-apanya jika dibandingkan dengan pengorbananmu yang telah melahirkan putraku," oceh Ryan, sambil dengan penuh kehati-hatian melepas hijab dan helaian benang yang menutupi tubuh istrinya satu per satu.


Kini, di hadapannya terpampang nyata tubuh polos istrinya yang terbaring tak berdaya di ranjang pesakitannya. Hanya sebuah benda putih tebal dibalik cel*na d*lam Rani saja yang masih tersisa, membuat Ryan sedikit mematung karena bingung apa yang sekarang harus dilakukannya.


"Yang, bisa kan kau beri tahu Hubby, apa yang harus Hubby lakukan untuk mengganti benda ini?" Ryan terlihat kebingungan.


Dan yang paling ditunggu-tunggu Ryan akhirnya bisa dia lihat juga sekarang. Sebuah senyum yang begitu dia rindukan, akhirnya tersungging dengan begitu indah dari bibir Rani.


"Hubby yakin?" Rani kembali memastikan.


"Seribu persen yakin, Sayang," jawaban Ryan membuat senyum Rani semakin melebar.


"Ambil itu dulu, By. Biar Rani yang pasangkan," Rani menunjuk sebuah plastik berisi pembalut, kemudian meminta sebuah cel*na d*lam kepada Ryan.


Setelah ada di tangan, Rani pun memasangnya dan menyerahkannya kembali pada Ryan.


"Terus gimana, Yang?" Ryan masih merasa kebingungan.

__ADS_1


"Lepas, dan bersihkan bagian yang itu dulu, By. Setelah itu pakaikan itu untuk Rani. Setelah di bagian itu beres, Hubby baru lap bagian tubuh Rani yang lain pakai air bersih di baskom yang lain," terang Rani sedikit merasa geli.


Ryan pun melakukannya sesuai dengan instruksi yang dikatakan oleh istrinya. Tanpa merasa jijik atau terpaksa, seorang presiden direktur Dewangga Group yang tak lain adalah salah satu pengusaha terbesar di Asia membersihkan hal paling menjijikkan dari fitrah seorang wanita. Ya, Ryan membersihkan **** ********** Rani tanpa terpaksa, bahkan di saat darah nifas sedang keluar banyak-banyaknya.


"Beres," seperti suporter sepak bola yang teriak goal saat tim favoritnya mencetak angka, seperti itulah yang Ryan lakukan setelah satu tugas di bagian bawah istrinya berhasil dia lakukan dengan sempurna.


"Buang dulu biar Hubby nggak risih, By," Ryan pun memasukkan benda putih itu ke dalam plastik dan memasukkannya ke dalam tempat sampah yang berada di dalam kamar mandi.


Begitu masalah terbesar selesai dipecahkan, Ryan mulai mencelupkan sebuah handuk ke baskom lain yang juga sudah terisi dengan air hangat. Dengan telaten, Ryan mengelap muka, leher, dan seluruh tubuh bagian depan istrinya dengan handuk kecil yang telah dia celupkan ke dalam air hangat itu. Dari bagian depan, Ryan berusaha memiringkan tubuh istrinya agar bagian belakangnya juga bisa dibersihkan, tapi ...,


"Auww," sebuah teriakan mengagetkan Ryan.


Bahkan secara spontan Ryan langsung memeluk tubuh Rani dan mengecupnya berkali-kali, menyadari bahwa istrinya merasa kesakitan.


"Sssttt, kata suster itu memang pertama kali sakit. Bisakah kamu tahan, Sayang? Tubuhmu harus tetap Hubby bersihkan biar kamu merasa lebih nyaman," Ryan mencoba meyakinkan.


Setelah mendapat anggukan dari istrinya, Ryan pun memiringkan tubuh Rani ke kiri dan ke kanan, sampai tubuh Rani bagian belakang tuntas dia bersihkan.


"Apa sakit sekali?" Ryan menyeka air di ujung mata Rani dengan penuh kehangatan.


Hanya anggukan kecil yang Ryan dapatkan, tapi Ryan lega anggukan istrinya masih disertai dengan senyuman.


Ryan pun lanjut membersihkan kedua kaki dan tangan Rani, sebelum akhirnya memakaikan seluruh pakaian ganti kepada sang istri.


"Terakhir, tinggal sebuah hijab untuk istri cantik Hubby, terus selesai deh," Ryan memakaikan hijab di kepala istrinya, kembali menyelimutinya, kemudian yang terakhir, tak lupa sebuah ciuman hangat mendarat di kening, kedua mata, hidung, kedua pipi dan bibir Rani.


"Makasih, By," lirih Rani, dengan mata yang sudah berkaca-kaca kembali. Hatinya tiba-tiba menghangat, melihat Ryan yang begitu peduli. Ketakutan yang dia alami setelah melahirkan, sedikit memudar karena cinta tulus yang Ryan buktikan.


"Semua yang Hubby lakukan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan perjuanganmu melahirkan putra kita. Hubby yang mengucapkan terima kasih tak terhingga, karena kamu telah bersedia bertaruh nyawa demi lahirnya penerus tahta keluarga Dewangga. Maafkan Hubby telah membuatmu merasakan sakit seperti ini. Hubby janji, Hubby akan selalu ada buat kalian berdua," Ryan kembali mengecup kening Rani dengan begitu dalam.


Tak terasa, bulir bening pun menerobos pertahanan mereka berdua.


"Hubby juga sangat, sangat, dan sangat berterima kasih, Sayang,"


Sejak sore itu, Ryan berjanji dalam hati, akan membuktikan rasa cinta kepada istrinya lebih dalam lagi. Hingga rasa trauma dan depresi yang Rani rasakan paska melahirkan benar-benar hilang, dan keluarga kecil mereka bisa bahagia dan hidup normal.


***


Naja merasa cukup segar setelah beristirahat sebentar, hingga sore itu juga dia merengek minta menjenguk Indra dan juga Rani ke rumah sakit.


Melihat Naja dengan semangatnya yang luar biasa, Daniel pun tak kuasa untuk menolak ajakan istrinya. Apalagi jika mengingat bahwa istrinya itu memang sama sekali belum bertemu dengan Rani juga Indra setelah mereka dioperasi, maka tidak ada salahnya jika kemauan Naja itu dia turuti.


"Lebih cepat lagi dong, Sayang, nyetirnya," Naja terus protes di sepanjang perjalanan mereka.


"Ini sudah cepet, Sayang," sahut Daniel tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jalanan.


"Masih bisa lebih cepat lagi atau enggak sih?" Naja mengerucutkan bibirnya. Dia benar-benar sudah tidak sabar ingin menjenguk Indra, Rani dan juga bayi kecil Rani yang pastinya terlihat lucu sekali.


"Kamu ini ya, mentang-mentang mantan pembalap liar," gumam Daniel sambil mengacak rambut Naja dengan asal.


"Ihhh, jadi berantakan ini rambut nih. Nggak cantik lagi deh," Naja semakin mengerutkan bibirnya, sambil meraih sebuah sisir dari dalam tasnya.


"Masih cantik kok. Tiada duanya pokoknya," cicit Daniel, sambil mengacak lagi rambut istrinya yang baru saja selesai di sisir Naja.


"Sayang, kamu ini ya," sebuah cubitan mendarat manis, dan begitu seterusnya hingga tak terasa perjalanan mereka sudah sampai pada tujuannya.


"Sudah sampai," seru Daniel setelah memarkirkan mobilnya.


Naja pun langsung turun tanpa Daniel membukakan pintu untuknya. Dengan secepat kilat, mereka pun segera masuk dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit itu dengan begitu semangatnya.

__ADS_1


Namun semakin ke dalam mereka masuk, Naja merasa ada bau obat yang semakin mengganggu Indra penciumannya. Perutnya pun seperti dibolak-balik, hingga dengan segera Naja menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya.


"Kamu ini kenapa sih, Sayang?" Daniel sempat menghentikan langkahnya, demi memastikan apa yang terjadi pada istrinya.


"Nggak tahan dengan bau obatnya, Yang," sahut Naja sambil mempercepat langkahnya.


Daniel yang sempat berhenti pun kembali berjalan mengejar langkah Naja yang semakin cepat saja.


"Kamu ini kayak nggak pernah ke rumah sakit saja sih? Bau rumah sakit ya kayak begini. Rumah sakit kan tempat berobat. Bukan rumah sakit namanya kalau tidak bau obat," oceh Daniel sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Naja.


"Bawel ahh. Kali ini baunya beda banget, Yang. Sumpah. Nggak tahan aku. Buruan dong," Naja terus bicara sambil tetap menutup mulut dan hidungnya dengan kedua telapak tangannya.


Hingga akhirnya, Naja pun membuka bekapannya begitu mereka sampai di ruang perawatan Indra.


"Akhirnya," Naja bernafas lega.


"Perasaan bau di ruang ini juga sama aja dengan bau di luar sana," gumam Daniel sambil melihat ke arah Naja.


"Beda, Yang,"


"Sama ahh,"


"Beda,"


"Sama,"


"Beda, Yang,"


"Sama persis, Sayang. Kamu ini mengada-ada,"


Mereka justru terus memperdebatkan masalah bau obat itu, tanpa menyadari bahwa Indra sedang menatap mereka berdua dengan begitu kesalnya.


"Sssttt, berisik," suara Indra sukses membuat Naja dan Daniel menghentikan perdebatannya.


"Upz. Sorry. Kamu sih, Yang," Naja menyenggol Daniel dengan sikunya.


"Kamu tuh," Daniel tak mau kalah.


"Kamu,"


"Kamu,"


"Kamu, Yang,"


"Ihh, kamu, tau,"


"Sssttt, kalau mau ribut, ribut aja di luar. Ganggu orang istirahat saja," gerutu Indra, terlihat malas melihat adegan musuh tapi mesra di depannya.


"Kualat tau rasa kau, dhek?" akhirnya Naja menyudahi drama dengan suaminya sore ini dan menghampiri Indra sambil mengacak rambut adiknya.


Indra yang selalu protes mendapati dirinya terus diperlakukan seperti anak kecil oleh kakaknya pun hanya mendengus kesal.


"Manyun aja," cibik Naja.


"Biarin,"


"Dasar. Gimana kondisimu? Sakit?"


"Sakitlah. Tapi lebih sakit melihat dia menahan sakit seperti itu," tiba-tiba Indra menatap Zara yang masih meringkuk di tempat tidur sebelahnya dengan tatapan sendu.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2