METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hasrat Kerinduan


__ADS_3

Hujan turun tiba-tiba, memecah keheningan yang menggenang selama beberapa lama. Hujan yang sama, masih menetes pula di pipi Nina. Dia terus mengalir mengukir jejak, seiring dengan tubuhnya yang ikut berguncang saat dirinya kian terisak.


"Sayang," Johan segera menghampiri Nina, begitu matanya menangkap gadis yang sudah sangat dia rindukan itu sedang berbaring di satu sisi ranjang, membelakangi pintu dimana Johan sedang berdiri dengan tatapan yang begitu sulit diartikan.


Nina tak merespon. Dia justru semakin mengeratkan tangannya, memeluk guling yang selama ini selalu menemani dalam setiap tidurnya.


Merasakan gelagat negatif dari istrinya, Johan pun menarik nafas panjang. Johan mencoba menata hati, dan bertekad untuk meyakinkan gadis itu sekali lagi. Ya, Nina harus tahu bahwa hanya kepadanyalah kerinduan itu selalu bermuara. Hanya kepadanyalah khayalan itu selalu meraba. Dan hanya bersamanyalah Johan ingin merangkai cerita cinta. Sayangnya, mereka tak pernah punya waktu untuk bersama, hingga mau tak mau, saat-saat dimana istrinya mulai jenuh dengan kondisi pernikahan mereka pun harus rela dilaluinya.


"Sayang," panggil Johan sekali lagi. Dia terus berjalan mendekati Nina, yang belum juga bergeming dari posisinya.


Johan naik ke atas tempat tidur, kemudian memberingsut ke sisi ranjang dimana Nina masih berbaring membelakanginya.


"Apa kau marah padaku?" tutur Johan lembut sambil memeluk Nina dari belakang.


Nina masih tak bergeming.


"Kumohon, jangan seperti ini, Sayang. Aku sungguh tak tahan kau diamkan," kini Johan menciumi lengan Nina dengan penuh penghayatan. Bahkan dia benar-benar tak bisa menjelaskan, betapa takutnya dirinya kalau-kalau dia akan ditinggalkan.


"Sayang, katakan sesuatu. Marahi aku kalau perlu. Bahkan kau boleh hukum aku sesuka hatimu jika itu bisa membuatmu tak mendiamkan aku seperti ini," Johan terus memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Nina masih terdiam. Hanya tubuhnya saja yang semakin berguncang, seiring dengan isakan tangis yang kian terdengar.


"Jangan menangis, aku mohon!" Johan berusaha membalikkan tubuh Nina, agar menghadap ke arahnya. Namun lagi-lagi gagal. Nina berusaha dengan keras menahan tubuhnya agar tak berhadapan dengan suami yang sebenarnya sangat dia rindukan itu.


"Aku menikahimu untuk membuatmu bahagia, Sayang. Bukan membuatmu hidup penuh dengan air mata. Berbicaralah kepadaku, kita bicarakan baik-baik apa yang sekarang menjadi keinginanmu," rayu Johan sambil membelai rambut hitam Nina yang panjang.


Mendengar ucapan Johan, Nina langsung membalikkan tubuhnya, dan segera duduk menatap tajam ke arah suaminya. Johan yang mendapati reaksi istrinya secara tiba-tiba pun sedikit kaget dengan tingkah yang ditunjukkan Nina, apalagi ketika melihat mata gadis itu begitu sembab, akibat tangisnya yang tumpah ruah selama berjam-jam lamanya.


"Kau benar-benar ingin tahu apa yang menjadi keinginanku sekarang? Baiklah, dengarkan baik-baik," Nina mengatur nafasnya, dan mengusap air mata yang berderai di pipinya dengan kasar.


"Katakan, Sayang! Apa yang kau inginkan?" sahut Johan sambil meraih tangan istrinya, meski sayang sungguh sayang, tangan itu Nina hempaskan begitu saja.


"Kembalikan masa depanku. Kembalikan masa remajaku. Kembalikan kebebasanku dan kembalikan kesucian yang telah kau renggut dariku," ucap Nina tegas.


"Sayang, aku ...," mulut Johan tercekat. Lidahnya begitu kelu, tidak menyangka jika kata-kata itu keluar dari mulut gadis belasan tahun yang telah dia nikahi beberapa bulan yang lalu.


"Kenapa? Kau tak bisa melakukannya bukan? Lalu kenapa kau campakkan aku begitu saja setelah kau merampas semuanya dariku? Apa kau tak juga tersadar bahwa aku sudah membayar sangat mahal hanya untuk mencintai dan menjadi istrimu? Tapi apa yang aku dapatkan? Menjadi seorang istri yang bahkan tak punya hak sedikitpun atas hidupmu? Menjadi seorang istri yang tinggal serumah tapi tak pernah bisa menemukan waktu untuk bisa bertemu? Pernikahan macam apa itu?" Nina tak mampu menahan emosi yang sebenarnya sudah sangat dia tahan sejak sekian lama. Semua ucapan itu Nina keluarkan bukan tanpa alasan. Sebenarnya saat memutuskan untuk bersedia menikah dengan Johan beberapa bulan yang lalu, Nina benar-benar tertekan karena sebenarnya dia masih ingin sekolah. Tapi karena kemantapan hati dan berbagai pertimbangan, akhirnya Nina mengambil keputusan itu.


Awalnya Nina membayangkan pernikahan yang indah seperti pernikahan Rani dan Ryan, atau pernikahan Lena dan Arya. Namun nyatanya salah, sumpah setia suaminya membuat dia harus menjadi istri yang seolah menjanda.


Johan tak mampu berkata apapun di hadapan istrinya. Sikap dingin dan kerasnya bahkan selalu saja meluruh jika sudah berhadapan dengan istrinya itu.

__ADS_1


"Jangan gantung aku, kumohon. Lepaskan aku jika memang kau tak siap dengan sebuah ikatan. Biarkan aku pergi dari kehidupanmu, jika hadirku hanya mengganggu kesenanganmu terhadap pekerjaanmu. Kumohon, lepaskan aku. Aku rela menjanda jika memang itu akan membuatmu terbebas dari kewajibanmu terhadapku," Nina tergugu. Dia sendiri tak tahu kenapa dia mengeluarkan kata-kata itu.


"Jangan pernah memintanya dariku karena aku tak akan pernah melakukannya," sahut Johan sambil menarik tubuh Nina dan merengkuhnya dalam pelukannya.


"Lepaskan aku, lepaskan!" Nina memberontak. Dia berusaha dengan sangat keras untuk bisa terlepas dari pelukan suaminya, namun karena tubuh mungilnya sudah berada dalam kungkungan tubuh kekar Johan, Nina tak mampu melepaskan diri dari pelukannya.


"Sayang, dengarkan aku dulu," ucap Johan sambil terus menahan istrinya dalam pelukan.


"Sudah cukup kau membuat aku hidup tanpa kepastian. Kau tahu rasanya menjadi istri seperti tak punya suami? Kau pikir aku ini apa? Aku bukan boneka yang bisa kau tiduri di malam pengantin kemudian kau campakkan aku begitu saja," cicit Nina tajam.


"Dengarkan aku dulu, Sayang. Sekali ini saja," timpal Johan penuh harap.


"Tidak mau. Biarkan aku pergi darimu. Lepaskan aku! Kumohon, lepaskan aku!" Nina masih memberontak, berusaha mendorong tubuh Johan agar dia bisa terlepas dari suaminya, tapi sia-sia. Semakin Nina berusaha untuk melepaskan diri, semakin erat pula Johan mendekapnya.


"Nina, Cukup!" bentak Johan dengan kerasnya. Sebenarnya Johan tak mau mengeraskan suaranya. Tapi karena tak ada cara lain yang bisa menenangkan Nina, dengan terpaksa Johan melakukannya.


"Aku akui aku salah kepadamu. Tapi jangan pernah sekali-kali kau meminta perpisahan kepadaku, karena hanya kematianku yang bisa membuatku melepaskanmu. Sekarang, katakan kepadaku, apa yang kau inginkan dariku. Apa kau menginginkan tubuhku? Baiklah, akan aku berikan tubuhku ini setiap saat yang kau mau. Kau ingin nyawaku? Oke, saat ini juga kau boleh merenggutnya dariku. Kau ingin menghukumi atas semua kelalaian yang aku lakukan kepadamu? Ayo, hukum aku sebanyak hukuman yang kau mau, bahkan kau boleh memukuliku sepuasmu," oceh Johan sambil memegang tangan Nina dan memukul-mukulkan tangan itu ke dadanya.


"Kenapa kau tak melepaskan aku, sementara kau tak mencintaiku?" kata Nina parau. Tak terhitung lagi berapa banyak air mata yang sudah dia keluarkan saat itu.


"Aku mencintaimu, Sayang. Jangan ragukan aku," tutur Johan mulai melembut.


"Jangan pernah kau ungkit kecintaanku kepada tuanku, karena kau tahu bahwa dia adalah segalanya untukku," Johan selalu emosi, jika kesetiaannya kepada Daniel selalu diungkit dan dipermasalahkan oleh istrinya itu.


"Kalau begitu lepaskan aku, dan biarkan aku pergi dari kehidupanmu karena aku sama sekali tak berarti untukmu. Jangan pernah cari aku, apalagi menemuiku, sebelum kau mampu memaknai arti pernikahan itu dalam hatimu," ucap Nina, sambil sekuat tenaga melepas pelukan suaminya.


Tangan Johan sedikit mengendor begitu Nina menyelesaikan ucapannya, hingga akhirnya Nina bisa melepaskan diri dari kungkungan suaminya.


Dengan secepat kilat, Nina langsung menyambar hijab yang dia letakkan di sandaran sofa kamar, kemudian segera memakainya dan berlari ke arah pintu.


Johan yang segera tersadar dengan ucapan dan apa yang akan dilakukan istrinya pun langsung beranjak dan mengejar langkah cepat Nina. Hingga tepat di depan pintu, Johan berhasil mendapatkan tubuh gadisnya itu, kemudian langsung menggendong tubuh mungilnya dan membaringkannya di atas peraduan.


"Sudah kubilang, aku tak akan membiarkanmu pergi," lirih Johan, sesaat setelah Johan menaiki tubuh istrinya dan membuat Nina berada dalam kungkungannya.


Nina membuang muka. Dia benar-benar tak mau menatap suaminya yang sudah begitu siap menerkamnya.


"Untuk apa aku tetap bertahan, sementara kau sendiri seolah tak tahu jalan pulang," Nina kembali terisak.


"Maafkan aku," Johan mendaratkan bibirnya di kening Nina.


"Aku tidak mau di duakan," Nina berusaha menghindar. Dia sedikit menggeser posisi kepalanya agar Johan tak bisa menciumnya.

__ADS_1


"Kumohon, mengertilah. Apa kau tak ingat, bahwa aku masih hidup sampai saat ini hanya karena belas kasihan darinya? Bukankah kau tau sendiri bahwa hanya Tuan Daniel dan Nyonya Aghata yang waktu itu bersedia menampungku dan merawatku hingga aku bisa seperti ini?" ucap Johan sendu.


"Aku janji, aku akan berubah. Aku akan lebih memberikan hakmu sebagai istriku. Tapi tolong jangan ungkit sumpah setiaku, kecuali aku telah kehilangan nyawaku. Atau kau ingin aku sungguh menukar nyawaku dengan sumpah itu? Jika itu maumu, akan kubuktikan, Sayang. Bahkan sekarang juga aku bisa melakukannya, dan kau akan memiliki jasadku seutuhnya," Johan semakin tak bisa mengendalikan ucapannya.


"Sssttt. Jangan teruskan, aku tak mau mendengarnya," sahut Nina sambil melihat ke arah suaminya.


"Kenapa? Bukankah kau mau menjadi satu-satunya orang yang memiliki hak atasku?" kata Johan parau.


"Apa aku salah jika ingin mendapatkan perhatianmu? Apa aku salah jika aku meragukan cintamu?" ucap Nina penuh tanya.


"Kau tidak salah, Sayang. Ini semua salahku. Aku terlalu larut dalam menjalankan tugasku hingga aku benar-benar lalai terhadapmu. Karena itu aku mohon, beri aku satu kesempatan, akan aku buktikan bahwa aku benar-benar mencintaimu," tutur Johan lembut, seiring dengan sikap Nina yang semakin melunak.


Johan pun melepaskan cengkeramannya pada tangan Nina. Merasa tak ada perlawanan, Johan langsung menghujani wajah istrinya itu dengan puluhan kecupan. Mulai dari kening, kedua mata, hidung, pipi, dan menikmati bibir ranum Nina yang sudah lama tak dinikmatinya itu.


Ya, mereka memang baru beberapa kali saja melakukannya, karena Johan yang terlalu larut dengan pekerjaan dan urusan tuannya. Apalagi datangnya cobaan demi cobaan yang satu per satu hadir di tengah-tengah keluarga Dewangga, membuat mereka tak pernah punya waktu untuk bersama.


Dan di sore yang hujan itu, Johan kembali menikmati maha karya terindah Tuhan yang telah ditakdirkan untuk menjadi miliknya. Diabsennya satu per satu setiap lekuk tubuh istrinya itu, bagai kembali menjadi pengantin baru. Bahkan Johan masih saja takjub dengan keindahan tubuh polos istri kecilnya, walau ini bukanlah yang pertama.


"Sayang, lepaskan aku dulu," kata Nina di saat Johan sudah mulai gila dengan hasratnya.


Johan pun menghentikan atraksinya, dengan kening yang sudah mengernyit penuh tanya.


"Kau belum juga memaafkan aku?" tanya Johan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya.


"Bukan gitu. Aku mau pipis dulu," rengek Nina.


"Apa? Tidak boleh. Pipis aja di sini," sahut Johan sambil menenggelamkan kepalanya di leher jenjang istrinya.


"Sayang, aku tak tahan lagi. Aku harus ke kamar mandi," Nina mendorong tubuh Johan, lalu segera berlari ke arah kamar mandi.


Johan pun tersenyum lega, melihat istrinya yang sudah kembali menunjukkan senyum indahnya. Tak sabar, dia segera menyusul Nina ke dalam kamar mandi. Setelah Nina selesai menyelesaikan hasrat pribadinya, Johan langsung membopong tubuh polos istrinya. Nina pun melingkarkan kakinya ke pinggang Johan, juga kedua tangannya ke leher suami yang sudah sangat dia rindukan.


"I love you," ucap Johan sambil memagut bibir ranum milik Nina.


"I love you too," sahut Nina sambil mengimbangi permainan suaminya.


Mereka tetap pada posisi itu, hingga akhirnya Johan terduduk di ranjang, sementara Nina terus menikmati permainan mereka di pangkuan suaminya. Sekitar sepuluh menit mereka di posisi itu, gejolak arus bawah sudah meronta-ronta meminta haknya, hingga Johan mengangkat tubuh istrinya dan menindih tubuh itu, sesaat sebelum akhirnya mereka tuntaskan semua kerinduan yang telah sekian lama tertahankan.


"Ahhhh ..., ahhh ..., ahhh ...," bunyi-bunyi aneh kini menggema memenuhi seluruh sudut kamar, bersaing dengan gemericik air hujan yang semakin menambah syahdu percintaan dua anak manusia yang sudah penuh dengan hasrat kerinduan.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2