METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Hanya Namamu


__ADS_3

Hening.


Semua telah berkumpul di rumah itu, tapi kesunyian justru semakin membisu. Hanya suara hati yang bergemuruh di telinga mereka masing-masing, tanpa ada ucapan, apalagi jawaban.


Rani memejamkan mata. Tanpa berbicara, maupun mengeluarkan kata-kata. Tanpa berucap, tapi tak mampu membendung air mata.


"Maaf, saya tidak bisa membantu," Rani terlihat membuka mata, ketika Ryan mengucapkan kata itu.


Begitu juga dengan seluruh anggota keluarga Atmaja yang sengaja datang mengemis belas kasihan kepada Ryan. Hengky bersama kedua orang tuanya terlihat begitu terkejut, saat mendengar sebuah jawaban yang begitu jauh dari harapan.


Daniel, Naja, juga Arya dan Lena yang juga berada dalam ruangan itu pun cukup kaget dengan jawaban Ryan, walaupun mereka semua sangat memahami hal apa yang menjadi alasan.


"Saya mohon, Nak. Saat ini anak Paman hanya seperti seonggok mayat, yang tidak hidup tapi juga tidak mati. Dan hari ini kami seperti mendapat keajaiban, ketika dia menyebut namamu. Hanya namamu, Nak. Dia sungguh-sungguh mencintaimu," pinta Tuan Atmaja penuh harap.


"Kata dokter, kemungkinan dia akan merespon lebih jika mendapat rangsangan dari suara atau sentuhanmu," lanjut Tuan Atmaja dengan linangan air mata.


"Maafkan saya, Paman. Saya benar-benar tidak bisa melakukan permintaan Paman ini. Saya punya istri yang saya cintai. Apa yang Paman minta itu, akan menyakiti hatinya. Dan apa yang membuat istri saya sakit, itu lebih menyakitkan hati saya dari apapun juga," tolak Ryan halus, dengan memandang ke arah Tuan Atmaja dan Rani secara bergantian. Rani yang dipandang, justru dengan sengaja memalingkan muka untuk menyembunyikan bekas air mata yang sangat terlihat di pipinya.


"Ayolah, Nak. Hanya sampai Meysie sadar saja. Bibi tidak mau kehilangan anak perempuan bibi satu-satunya. Dan hanya kehadiranmu, suaramu, juga sentuhanmu, satu-satunya yang menjadi harapan kami, agar putri kami bisa menemukan kehidupannya kembali. Meskipun akhirnya dia harus mendekam dibalik jeruji besi, tapi setidaknya dia bisa hidup di dunia ini," Nyonya Atmaja ikut menimpali, sementara Hengky hanya diam saja tanpa mau berbicara.


"Bibi, sungguh Bibi tidak mengerti. Siapa yang bisa menjamin apa yang selanjutnya akan terjadi, jika dia sadar kemudian meminta lebih dari ini? Apakah kondisinya akan lebih baik, ketika mau tidak mau saya tetap harus pergi?" kekeh Ryan.


Semua kembali pada mode diam. Pilihan demi pilihan seolah telah terkunci dan tak ada harapan lagi.


Rani yang menyadari bahwa kini dirinya adalah satu-satunya kunci pun memejamkan mata kembali, seolah dengan begitu pelupuk yang terkatup itu mampu membendung bulir bening yang mengalir kian deras membasahi pipi.


"Rani izinkan, Hubby. Pergilah bersama mereka dan temui Meysie," suara Rani terlihat parau. Sesakit apapun hati, namun dia benar-benar tahu bahwa tidak ada pilihan lain lagi.


"Sayang? Habby tidak mau," tegas Ryan.

__ADS_1


"Bukankah Hubby menolaknya karena tidak mau menyakiti hati Rani?" mereka saling bertatapan.


"Bukan hanya itu alasan Hubby. Hubby menolaknya karena jiwa dan raga Hubby hanya untukmu. Tidak untuk yang lain. Buat apa kita membohonginya sekarang, dan setelah dia sadar nanti kita akan menyakitinya lagi. Keputusan Hubby sudah final, tidak bisa ditawar-tawar lagi," tegas Ryan.


"Setidaknya Hubby jenguk dia dan ajak dia bicara. Hanya itu saja, Hubby. Rani juga tidak mengizinkan Hubby untuk melakukan lebih dari itu," Rani meraih tangan suaminya dan meremasnya pelan untuk meyakinkan.


"Baiklah. Tapi bukan hanya Hubby yang akan menjenguknya," sahut Ryan dengan kalimat yang mengambang.


"Maksud Hubby?" tanya Rani, sambil mengerutkan dahinya tanda dirinya tidak mengerti.


"Kita yang akan jenguk dia," Ryan menimpali, sambil mengeratkan genggaman tangan Rani.


"Rani tidak mau, Hubby," tolak Rani. Dia berusaha memalingkan muka agar Ryan tidak dapat menangkap ekspresi wajahnya.


"Kenapa? Kau tak sanggup bukan, melihat Hubby menjenguknya dan berusaha menyadarkannya? Kau sakit bukan? Lalu kenapa kau menyuruh Hubby melakukan itu?" Ryan membalikkan wajah istrinya dan menatapnya tajam. Melihat dari redupnya binar di matanya, Ryan betul-betul mengerti bahwa hanya dengan membicarakannya saja hatinya sudah sangat terluka.


"Karena ini masalah nyawa, Hubby. Dan Rani tau bahwa Hubby sangat terluka melihat dia terbaring tak sadarkan diri di sana," lirih Rani masih penuh dengan derai air mata. Sungguh, hatinya kini penuh dengan dilema.


"Baiklah Hubby, kita jenguk dia. Hanya menjenguk dan mengajak dia berbicara. Itu saja," ucap Rani memantapkan.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja, Sayang?" tanya Ryan ragu. Yang ditanya hanya menganggukkan kepala dengan pelan, diiringi senyum penuh kelegaan dari seluruh keluaga Atmaja yang duduk di depan sepasang kekasih itu dengan hati penuh kerendahan.


***


Di lorong panjang rumah sakit itu, kini terlihat beberapa orang yang berjalan dengan hati penuh kecemasan. Hengky dan kedua orang tuanya berjalan di depan, diikuti Ryan dan Rani, juga Daniel, Arya, Lena juga Naja yang ikut serta.


Sepanjang perjalanan, Ryan dan Rani terus berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Namun, ketika langkah mereka harus terhenti, degup jantung mereka justru kian mengencang. Sesaat, mereka kembali terdiam, melihat seorang perempuan yang kini sedang terbaring lemah dalam sebuah tidur yang panjang.


"Masuklah, Hubby. Rani tunggu disini," lirih Rani.

__ADS_1


"Sesuai janji kita, kita jenguk dia sama-sama," Ryan menarik tangan istrinya dan hendak membawanya masuk ke dalam.


"Biarkan Rani tunggu di sini, Hubby," tolak Rani sambil melepas genggaman tangan suaminya.


"Kalau begitu Hubby akan tetap disini," tiba-tiba Ryan mengurungkan niatnya dan kembali menarik tangan istrinya.


"Hubby," Rani terlihat menahan tangis.


"Sayang," kekeh Ryan, sambil menatap istrinya dengan tajam.


"Kita masuk sama-sama. Dokter sudah mengizinkan," setelah berkomunikasi dengan dokter, Hengky menengahi Rani dan Ryan yang masih juga bimbang.


Setelah menarik nafas panjang, mereka pun masuk dan melingkar, mengelilingi Meysie yang masih terdiam dalam tidurnya yang begitu panjang.


"Ajak dia bicara, Tuan," perintah dokter itu begitu Ryan memposisikan diri duduk di samping ranjang.


Ryan yang diminta masih saja terdiam. Matanya justru menatap Rani dengan tatapan nanar, seolah mencari jawaban untuk meyakinkan. Rani yang begitu paham, hanya menganggukkan kepala pertanda mengizinkan.


"Mey, apakah kau mendengar suaraku?" kalimat itu yang pertama kali lolos dari mulut Ryan.


Tidak ada respon.


"Meysie, ini aku Ryan, Mey. Tidakkah kau bisa mendengar?" Ryan mengulangi ucapannya sekali lagi.


Setelah kalimat kedua yang di ucapkan Ryan, dokter dan semua yang ada di ruang itu menajamkan pengelihatannya.


"Mey ...,"


BERSAMBUNG

__ADS_1


💖💖💖


Jangan lupa like, vote and rate 5. Terima kasih.


__ADS_2