METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Mencekam


__ADS_3

Malam kian menggelap, hanya bunyi binatang malam yang hingar bingar di tengah keheningan. Di antara lebatnya ilalang, suara jangkrik yang mengerik pun menambah kesyahduan. Apalagi saat burung hantu seolah tertawa dengan suaranya yang menakutkan, membuat tubuh siapapun yang mendengar akan bergidik penuh kecemasan.


Malam itu, nafas yang mereka hirup terasa begitu berat. Sesuatu terasa mengganjal dan mencekik dalam setiap tarikan yang mereka buat. Ya, Charles dan Atmaja sama-sama tersengal melihat kepahitan yang berkelumit di dalam hati, bagai berjalan di atas paku atau duri yang tajam dan menusuk-nusuk menggores luka yang teramat dalam.


Inilah akhir dari sebuah kata laknat yang bernama dendam. Siksanya yang menempel lekat di ruang-ruang hati, membawa semua yang mereka miliki hanya untuk meladeni pelampiasan kemarahan dalam diri.


“Menyerahlah, atau kami tak segan-segan akan menembakmu," seru salah seorang polisi itu kepada Charles dan Atmaja, sambil menodongkan senjatanya.


Kini, Charles dan Atmaja berada tepat di tengah-tengah kawanan polisi yang menodong mereka dengan senjata api. Jika dihitung, lebih dari sepuluh orang kini telah mengepung mereka dengan senjata lengkap. Apalagi Charles termasuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) paska pelarian dirinya saat persidangan terkait kasus Nina dan human trafficking yang dilakukannya saat masih menjadi anak buah Daniel, membuat Charles menjadi target yang sangat dicari oleh pihak kepolisian.


"Turunkan senjata kalian, atau kami tak segan-segan menarik senjata kami ke arah kalian," titah salah seorang polisi yang lain, kali ini dengan nada kerasnya yang sungguh tidak bersahabat.


Melihat posisi mereka yang tidak mungkin untuk melarikan diri lagi, baik Charles maupun Atmaja tak berusaha memberikan perlawanan. Bahkan mereka menurut saja saat polisi itu meminta mereka menurunkan senjata, mengangkat kedua tangannya di atas kepala, bahkan sampai akhirnya memborgol tangannya dan membawa mereka ke kantor polisi terdekat.


Ryan, Arya, juga Rudi dan Johan yang menyaksikan Charles dan Atmaja saat berjalan dan menaiki mobil polisi itu dari kejauhan pun merasa lega dan bisa tersenyum puas, akhirnya musuh mereka yang akhir-akhir ini sungguh merepotkan mereka tertangkap.


Sayangnya, semua yang telah terlewati tidak bisa kembali lagi. Ya, putra Arya dan Lena yang bahkan mereka belum sempat merawatnya, juga penglihatan Daniel yang hilang begitu saja, tidak bisa kembali walaupun Charles dan Atmaja akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, kejahatan tetaplah kejahatan. Biar bagaimana pun, setiap kesalahan harus ada sebuah penebusan.


***


Setelah memastikan kondisi Daniel kepada dokter yang menanganinya, Hengky melangkahkan kaki meninggalkan keluarga Dewangga dan menuju ke ruang ICU dimana Meysie di rawat. Begitu masuk, dilihatnya sang ibu telah tertidur di samping ranjang pasien itu. Dia menatap wanita paruh baya yang telah melahirkan dan membesarkannya dengan segala cinta dan kasih sayangnya itu dengan begitu sendu. Bagaimana tidak? Sebuah keluarga yang dulunya sangat bahagia, kini hancur berantakan hanya karena sebuah kisah cinta.


Tak tahan, Hengky mendekati ibunya. Diciumnya penuh sayang keningnya, dilepasnya jas yang melekat pada tubuhnya untuk menghangatkan tubuh ibunya. Mendapat perlakuan itu, Nyonya Atmaja justru terbangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Hengky, kenapa kau ke sini, Nak? Apakah meeting-nya sudah selesai?" cecar Nyonya Atmaja begitu menyadari bahwa saat ini Hengky sudah bersamanya. kini, Nyonya Atmaja menatap putranya itu dengan tatapan penuh selidik.


"Iya, Ma. Meeting-nya gagal," jawab Hengky parau.


"Gagal?" Nyonya Atmaja mengerutkan dahinya.


"Daniel kecelakaan, setelah ...," Hengky tidak melanjutkan ucapannya. Dia mencoba mengatur kata-kata apa yang paling tepat, untuk memberitahukan bahwa semua yang terjadi pada Daniel adalah perbuatan ayahnya.


"Setelah apa, Nak? Bicara tang jelas! Jangan membuat mamamu ini mati penasaran!" tanya Nyonya Atmaja penasaran.


"Eh, itu, Ma. Anu. Gimana ya Hengky bilangnya? Begini, Ma ...," Hengky menjadi salah tingkah mendapatkan pandangan penuh tuntutan dari ibunya.


"Apa? Cepat katakan!" geram Nyonya Atmaja tak sabar.


Nyonya Atmaja tak berkomentar apapun mendengar ucapan anaknya. Hanya butiran kristal bening saja yang terus meleleh, menyiratkan betapa sedih dan begitu terluka hatinya.


"Lalu bagaimana dengan papamu, Nak?" tanya Nyonya Atmaja cemas.


"Mama tidak usah khawatirkan Papa. Hengky sudah mengajukan permohonan kepada keluarga Dewangga, agar mereka tidak mengerahkan orang-orangnya untuk menghancurkan Papa, tapi membiarkan Papa ditangkap oleh pihak yang berwajib saja. Jadi begitu Papa tertangkap dan selesai menjalani masa hukumannya, Papa bisa langsung kembali ke tengah-tengah kita," sahut Hengky lirih.


"Kasihan papamu, Nak," protes Nyonya Atmaja mendengar statement putranya.


"Setelah semua kejahatan yang Papa lakukan, Ryan dan anak buahnya tidak akan pernah melepaskan Papa, Ma. Akan lebih berbahaya jika mereka yang menangkap Papa. Karena mereka tak akan segan menyakitinya. Berbeda jika pihak berwajib yang menangkapnya, Papa hanya akan menjalani masa hukumannya, setelah itu kita bisa berkumpul lagi seperti sedia kala," jelas Hengky lagi, sambil mengelus bahu ibunya penuh kehangatan.

__ADS_1


"Kenapa semua ini harus terjadi pada kita, Nak?" air mata Nyonya Atmaja tumpah.


Hengky yang melihat betapa hati ibunya hancur, segera menariknya dan memeluknya erat. Tak sadar, bulir-bulir bening pun menetes dari ujung matanya, hingga suara isakan tangis keduanya bersahutan, bercampur dengan suara ketukan detektor jantung yang terpasang dan terhubung dengan tubuh Meysie, hingga suasana di kamar ICU itu semakin mencekam.


Sementara dari arah ranjang pasien, Meysie yang belum juga sadarkan diri dari tidurnya yang panjang ikut meneteskan air mata. Apakah Meysie mendengar semuanya?


***


Kata demi kata yang keluar dari mulut Nina melalui ujung telepon itu, seolah menjelma menjadi dentingan lara yang mengiris-iris jiwa seorang ayah yang bahkan belum pernah sekalipun bisa membelai dan mendapat pengakuan cinta dari putra yang pernah ditinggalkannya.


Ya. Kabar kebutaan Daniel adalah sebuah kabar duka yang menyesakkan dada. Wajah cemasnya pun terus menyelimuti wajah Arsen, menambah hari-hari kelabu yang terus menyatu dalam hati yang terus menderu.


Arsen pun menutup matanya, berharap ketika dia membuka mata, ada sosok Daniel yang begitu dirindukannya, dan semua yang terjadi selama ini hanyalah mimpi belaka. Namun salah. Semakin dia mengatupkan mata, bayangan kelam masa lalu mereka justru hadir bagai sebuah slide yang berputar-putar di hadapannya.


"Mungkin ini waktunya kutebus semuanya, Nak. Bukan karena aku ingin mendapatkan cinta dan maafmu, tapi karena aku tak ingin sekali lagi takdir merenggut kebahagiaanmu," batin Arsen dalam hati.


Malam pun kian larut, tapi mata Arsen terus mengembara. Sungguh, dia sudah tidak sabar menantikan pagi datang, hingga hal besar yang sudah dia putuskan bisa segera dia lakukan.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Jangan lupa like, vote dan rate 5 nya ya guys. Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2