
"Aku tidak butuh janjimu, Ndra. Aku butuh bukti," ketus Zara. Bahkan saat itu dia sama sekali tak mau menatap Indra, demi menahan bulir bening yang terus berusaha menerobos pertahanannya.
"Kalau begitu, berjuanglah bersamaku. Berjuanglah untuk bisa menaklukkan ibuku," Indra mengulurkan tangannya, tapi tak mampu menggapai gadis yang kini duduk mematung di sampingnya. Indra berusaha bangun, tapi sia-sia, luka operasinya sama sekali tak bisa di ajak kompromi.
Sekarang, yang bisa Indra lakukan hanya tetap menunggu sampai uluran tangannya di balas oleh Zara, dengan segala harap yang demikian tulus di dalam hatinya.
Indra tidak mau melepaskan Zara. Sudah sejauh ini, sudah sekian banyak yang mereka korbankan untuk bisa bersama, rasanya tak rela jika cinta mereka harus berakhir begitu saja. Ya, satu langkah lagi mereka harus berjuang dan mereka akan bersama selamanya. Tak bisakah mereka berjuang sekali lagi demi kebahagiaan mereka berdua?
Kini kristal-kristal bening itu mengalir membasahi pipi Zara. Meski dia sudah menutup pelupuk matanya agar tak mengeluarkan air mata, tapi ternyata usahanya tetap sia-sia. Bulir-bulir bening itu terus mengalir, bahkan semakin lama semakin deras saja. Apalagi saat sekilas Zara melihat betapa tatapan mata Indra kepadanya benar-benar memancarkan ketulusan dari hatinya, juga tangan yang terulur dengan beribu sakit yang ditahannya, membuat Zara harus mengambil satu langkah. Maju, atau pergi dari kehidupan pria yang dia cinta untuk selama-lamanya.
"Zara ..., berjuanglah bersamaku. Berjuanglah untuk bisa menaklukkan ibuku," Indra masih berharap Zara menyambut uluran tangannya, namun Zara justru memejamkan matanya kembali.
"Huhhh," Zara mengambil nafas dalam-dalam, kemudian mengeluarkannya perlahan, sebelum akhirnya dia memberanikan diri untuk balas menatap pria di hadapannya.
Melihat kedalaman mata Indra dengan tatapannya yang penuh pinta, Zara pun langsung menyambut tangan Indra kemudian menghambur ke pelukannya.
"Kamu jahat ..., jahat ..., jahat ..., hiks ..., hiks ..., hiks ...," teriak Zara sambil mendekap erat tubuh kekasihnya. Mulutnya terus mengatakan bahwa pria di depannya itu jahat, tapi tidak dengan hati dan fisiknya. Dia benar-benar tak mau melepaskan pelukannya, apalagi melepaskan cinta yang telah dia bangun dengan berjuta warna.
***
Daniel merasa semakin hari istrinya semakin aneh saja. Selain yang dibicarakan melulu soal kelucuan Raja dan rencana perjodohan anak mereka jika suatu saat nanti mereka mempunyai seorang putri, Naja juga meningkat drastis mood bercintanya. Tidak hanya setiap hari Naja meminta, bahkan bisa sehari tiga kali, seperti saat dia harus makan obat saja.
__ADS_1
"Katanya pengen cepet punya baby? Bikin lagi yuk," tak cuma sekali dua kali Naja semakin agresif dan tak enggan meminta terlebih dulu kepada suaminya.
Daniel sih seneng-seneng saja, walaupun semua pekerjaan kantor akhirnya harus berpindah ke dalam rumah, demi meladeni permintaan istrinya yang sering tak terduga.
Tapi hari itu, Daniel benar-benar harus ke kantor karena ada meeting penting yang tidak bisa di handel oleh Johan.
"Klien kita kali ini berharap bisa bertemu dengan Anda secara langsung, Tuan," kata Johan, saat Daniel menyuruhnya untuk mewakili pertemuan itu.
Mau tak mau, kali ini Daniel harus pergi. Lagi pula, sudah beberapa hari ini memang dia sama sekali tak menjenguk kantornya, pikirnya sekalian saja menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda.
Hingga pagi-pagi, Daniel sudah rapi dengan kemeja berdasi dan stelan jasnya. Karena waktu itu Naja masih tidur dengan lelapnya, Daniel pun tak kuasa untuk membangunkannya. Hingga dia hanya mengirimkan sebuah pesan melalui aplikasi whatsApp miliknya, kemudian langsung pergi begitu saja.
Dan ternyata benar. Hari itu Daniel sungguh disibukkan dengan urusan kantor yang telah tertunda beberapa hari lamanya. Bahkan mumpung Daniel bersedia ke kantor, Johan malah sengaja menjadwalkan beberapa meeting sekaligus di hari itu, hingga Daniel sama sekali tak punya waktu menghubungi Naja hanya untuk sekedar memberikan kabar padanya.
"Untuk hari ini sudah selesai, Tuan. Mari saya antar Anda pulang," sahut Johan, kemudian berdiri mempersilahkan Daniel untuk keluar ruangan.
"Selesaikan saja pekerjaanmu, Jo. Biar aku pulang sendiri," Daniel meraih kunci mobil dari tangan Johan kemudian keluar ruangan.
Daniel pun melajukan mobilnya dengan kencang. Sesekali dia memeriksa ponselnya, mencoba mengecek apakah ada pesan atau panggilan dari Naja, tapi hasilnya nihil. Naja sama sekali tak membalas pesannya, atau menghubunginya seperti biasa.
"Pesanku dibaca. Tapi kenapa dia tak membalasnya?" Daniel bermonolog, melihat pesannya dibaca Naja, tapi tak ada satu balasan pun yang dia terima.
__ADS_1
"Apa dia marah?" gumam Daniel di sepanjang perjalanan.
Begitu Daniel sampai di rumah, dia segera memarkirkan mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam. Daniel mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruang. Biasanya jam segitu Naja sedang berada di ruang tengah, entah sibuk dengan laptopnya untuk mengecek beberapa data yang Rani minta, atau sekedar duduk dengan ponsel di tangannya sambil menunggu Rani, barangkali ada tugas yang akan dia berikan kepadanya. Tapi kali ini, Naja benar-benar tak ada di sana.
Hingga akhirnya, sebuah suara mengagetkan Daniel.
"Kamu baru pulang, Nak?" tanya Aghata tiba-tiba, melihat putranya datang dan seolah sedang mencari seseorang.
"Iya, Mom. Mommy lihat Naja nggak, Mom? Biasanya jam segini dia masih standby di sini" sahut Daniel masih terlihat celingukan.
"Mommy kira malah Naja pergi sama kamu, Nak. Dari tadi pagi Mommy tidak melihat dia. Atau memang dia sama sekali tidak keluar kamar ya?" Aghata terlihat mengerutkan dahinya. Tiba-tiba dia jadi merasa khawatir dengan menantunya. Maklum, biasanya Naja yang paling pagi keluar dari kamarnya. Jadi kalau seharian hanya di dalam kamar, dijamin tidak ada satu orang pun yang akan curiga, karena mengira Naja sudah pergi untuk urusan pekerjaannya.
"Daniel pergi ke kantor sejak pagi, Mom. Pas Daniel berangkat tadi, Naja masih tidur jadi Daniel biarkan. Sebenarnya Daniel sudah mengirim sebuah pesan untuknya, tapi hanya Naja baca tanpa dia membalasnya," Daniel mulai terlihat panik.
Dia pun segera lari menaiki tangga menuju kamarnya. Ketika dia membuka pintu kamarnya, semua gelap. Tak ada satu lampu pun yang menyala. Bulan dan bintang yang bersinar terang di atas cakrawala pun tak bisa menembus kamar itu, karena gorden yang menutup kaca jendela kamarnya sama sekali tak dibuka.
Dengan berjuta tanda tanya, Daniel meraba sebuah saklar yang berada di dekat pintu itu, kemudian menekannya. Seketika, lampu pun menyala, hingga Daniel bisa melihat setiap sudut ruang untuk mencari sosok istrinya.
Mata Daniel berhenti di satu titik. Di sana, mata Daniel menangkap sosok yang sedang dicarinya dengan ekspresi yang sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
"Naja! Kau kenapa?"
__ADS_1
BERSAMBUNG