
Senyum Sepasang kekasih itu mengembang, seiring dengan jantung mereka yang tiba-tiba berdegup kencang. Tak ada kata lagi yang keluar dari mulut mereka selain ungkapan cinta dari tatapan mata. Hingga akhirnya, suara ketukan pintu membuyarkan angan mereka.
"Ya, masuk!" suara Ryan menggema begitu saja.
Melihat siapa yang muncul dari balik pintu, Ryan dan Rani kembali saling bertatap mata.
Ryan cukup kaget melihat orang yang selama ini paling dia hindarkan dari Rani masuk ke tempat itu. Dia adalah Daniel Cullen, CEO Paradise Group yang baru Ryan ketahui juga terlibat dalam proyek besar Green Canyon di kota Y yang tahun itu akan mereka mulai.
Setelah Daniel masuk, Arya, Meysie, diikuti Hengky dan beberapa kolega Ryan yang berada di kota itu untuk membahas proyek Green Canyon rupanya juga ikut datang untuk menjenguk Rani.
"Selamat pagi Tuan Ryan Dewangga. Kami sengaja menyempatkan mampir kemari untuk berkenalan dan melihat kondisi istri Anda sebelum kami meninjau langsung lokasi proyek kita. Saya dengar dari sekretaris Anda yang mewakili Anda hari ini, bahwa Anda berhalangan hadir karena istri Anda keguguran," sapa Daniel ramah. Mulutnya manis sekali berbicara di depan Ryan, tapi tatapan matanya terus saja ke arah Rani.
"Terima kasih sudah menyempatkan untuk datang menjenguk. Perkenalkan, ini istri saya, Arania Levana," Ryan menjawab sebiasa mungkin meskipun di hatinya meragukan ketulusan Daniel. Ryan masih terus mengingat laporan Arya terkait Daniel Cullen dan sepak terjangnya, juga hubungannya dengan kasus Nina yang berakibat pada terbunuhnya Digo dan penyanderaan Lena.
"Saya Daniel Cullen, Nyonya Ryan Dewangga. Atau saya panggil Nona Rani saja ya, karena Anda masih sangat muda," Daniel Cullen menyapa Rani sambil mengulurkan tangannya.
"Senang bertemu dengan Anda, Tuan Daniel," jawab Rani singkat sambil menelungkupkan kedua tangannya di depan dada, menolak halus uluran tangan Daniel.
"Sebuah kehormatan bagi saya, bisa bertemu dengan Anggota Dewan termuda di Kota X. Saya mengikuti berita tentang Anda, Nona. Beruntung sekali bisa menyapa langsung orang hebat seperti Anda," tutur Daniel sambil menatap takjub wanita yang masih terbaring lemas itu.
Setelah berbasa-basi sebentar, Daniel dipersilahkan duduk di sofa, sedangkan Meysie, Hengky dan Arya tetap berada di samping Rani.
"Bagaimana kondisimu?" tanya Hengky dengan nada khawatir.
"Baik," jawab Rani singkat, sambil menatap Meysie dengan pandangan yang sulit diartikan.
Meysie mencoba menghindari tatapan itu dengan melepaskan pandangannya tanpa arah yang jelas. Setelah itu, dia lebih memilih duduk di sofa bersama Ryan dan Daniel.
Suasana di dalam ruang perawatan pun menjadi penuh kecanggungan karena keberadaan Meysie dan juga Daniel, sampai akhirnya mereka pamit untuk langsung menuju ke lokasi proyek.
__ADS_1
***
Flashback
Setelah dokter memberitahu tentang kondisi Rani, Ryan menelphon Arya memintanya untuk segera menyusul ke Kota Y agar dapat mewakilinya meninjau lokasi proyek Green Canyon, sehingga sekitar jam 08.00 Arya tampak sudah bergabung bersama Daniel dan yang lainnya di lobby hotel.
"Dimana Ryan?" tanya Meysie begitu melihat Arya menghampiri mereka.
"Ryan meminta saya untuk menggantikannya karena istrinya masuk rumah sakit semalam," jelas Arya, sambil menatap satu per satu orang yang ada di depannya.
Meysie tampak kaget mendengar penuturan Arya, mengingat kejadian semalam saat Rani memergokinya sedang memegang tangan Ryan.
"Rani sakit?" Hengky yang duduk tepat di sebelah Meysie bertanya dengan nada khawatir.
"Mungkin karena terlalu capek setelah menempuh perjalanan ke tempat ini, sehingga dokter mengatakan bahwa janinnya tidak bisa dipertahankan. Jadi tadi malam Rani di-kuratase," jawab Arya tanpa beban.
Mendengar obrolan rekan-rekannya itu, Daniel justru tersenyum tipis.
Mengingat Arya adalah orang yang paling tahu tentang seorang Daniel dan kartu As-nya, sebenarnya Arya keberatan. Namun karena tidak mungkin dia memperlihatkan rasa keberatannya, akhirnya dia membiarkan rekan-rekannya untuk datang ke rumah sakit menemui tuan dan nonanya.
Sementara itu, hati Daniel sungguh terkesima, melihat keberuntungannya kali itu. Bagaimana tidak? Rasa penasarannya akan seorang Arania Levana sudah sekian lama menggores keinginannya. Bukan hanya karena dendamnya yang terlanjur menyatu dalam nafas, namun karena dia ingin melihat secara langsung gadis kecil yang bukan hanya terkenal tegas dan berani, tapi juga terkenal sangat cantik dan baik hati.
"Akan lebih sempurna jika tidak hanya mengalahkan Ryan Dewangga dengan menghancurkan perusahaannya dan menggantikannya menjadi pengusaha tersukses di negeri ini, tapi juga dengan cara mengambil istrinya bukan? Ha-ha-ha," gumam Daniel dalam hati.
End of flashback
***
Ryan memutuskan untuk membawa Rani pulang ke hotel setelah dokter memperbolehkannya keluar dari rumah sakit. Perjalanan 4 jam dari kota Y ke kota X dirasa belum memungkinkan mengingat kondisi Rani belum sepenuhnya pulih.
__ADS_1
Ryan pun tak mengizinkan Rani keluar kamar sedikit pun, walau hanya untuk sekedar makan di restoran hotel, sehingga semua kebutuhan mereka Arya atau pelayan yang menyiapkan. Hal ini bukan tanpa alasan. Kedatangan Daniel ke rumah sakit dan bagaimana cara dia memandang Rani, membuat Ryan merasa lebih harus waspada terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi.
"Rani bosen," keluh Rani berkali-kali.
"Tunggu sampai kamu pulih baru kita pulang,"
"Setidaknya biarkan Rani berjalan-jalan walaupun hanya di sekitar hotel,"
"Tempat ini tidak aman untukmu,"
Rani hanya mendengus kesal. Ryan memang sudah menceritakan terkait adanya orang besar di belakang Charles dan Cafe-Cafe serupa dengan Charlie's Cafe yang harus diselidiki, namun tidak menyebutkan siapa namanya. Jadi wajar jika Rani tidak bisa menangkap kekhawatiran Ryan yang menjadi semakin menggila setelah Daniel bertemu Rani dengan tatapan yang penuh tanda tanya.
Ryan yang mengerti bahwa istrinya sudah mulai ngambek pun segera mendekatinya, dan mengelus ujung kepalanya dengan lembut.
"Tidak ada bantahan? Istri sholehah," ucap Ryan yang sukses membuat bibir Rani manyun ke depan.
Saat Rani hendak protes dengan ucapan suaminya, tiba-tiba terdengar bel pintu kamar berbunyi.
Ryan segera beranjak dan membuka pintu, ternyata seorang pelayan hotel muncul dengan mendorong sebuah rak yang berisi beberapa nampan makanan.
"Mohon maaf kami tidak memesannya," ujar Ryan dengan tatapan bingung.
"Seseorang memesannya khusus buat Anda dan istri Anda, Tuan. Pesan beliau mohon dinikmati," jawab pelayan itu dengan sopan, kemudian masuk dan meletakkan makanan itu di atas meja setelah mendapat anggukan dari Ryan.
Setelah pelayan itu keluar, Ryan pun mengambil sebuah kertas yang diletakkan bersama dengan beberapa makanan yang telah tersaji. Segera dibukanya kertas itu, kemudian dibacanya pesan yang tertulis. Sebuah nama tertera di bawah pesan, menandakan seseorang memang secara khusus mengirimkan makanan itu untuk mereka.
BERSAMBUNG
❤❤❤
__ADS_1
Jangan lupa bagi jempol dan vote nya agar authornya semangat ya guys. Ditunggu juga rate 5 dan comment positifnya. Terima kasih