METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Ide Gila


__ADS_3

"Jadi begini ...," Daniel menempelkan mulutnya ke dekat telinga Ryan dan membisikinya sesuatu.


Ryan terlihat sangat serius dan mendengarkan apa yang dikatakan Daniel dengan seksama. Namun begitu Daniel selesai menceritakan maksudnya, Ryan segera membulatkan matanya.


"Apa kau bilang? Apa kau sudah gila?" cicit Ryan sambil meninju bahu Daniel dengan pelan.


"Aow," Daniel pura-pura kesakitan.


"Makanya kalau ngomong itu yang bener," Ryan meninju bahu Daniel sekali lagi, kali ini hanya ditanggapi Daniel dengan senyum tipisnya.


"Bukankah Om Atmaja menggunakan Rani untuk memaksamu menikahi putrinya? Kenapa kita tidak menggunakan Meysie untuk memancingnya keluar dari persembunyiannya?" lirih Daniel menekankan kembali apa yang berkecamuk dalam benaknya. Dia benar-benar sangat geram melihat kelakuan Meysie dan ayahnya yang sama-sama jahat kepada saudaranya.


"Dia itu sakit. Koma lagi. Kau mau menculiknya gitu? Kalau dia sampai mati karena ulah kita, kau tak takut berdosa apa?" Ryan memandang Daniel dengan lekat.


"Entah kenapa, aku kok lebih menantikan berita dia mati, dari pada berita kesembuhannya ya?" tutur Daniel sambil tersenyum geli dengan pikirannya sendiri.


"Hus, makin lama otakmu bukannya makin bener malah makin ngawur," Ryan memalingkan muka. Dia sungguh berpikir bahwa Daniel sudah keterlaluan dengan candaannya.


"Biarkan saja. Toh dia sudah berlaku jahat kepada istrimu," sahut Daniel masih kekeh dengan pendapatnya.


"Kejahatan jangan di balas dengan kejahatan juga," kini Ryan melangkahkan kakinya, dan duduk di sofa yang terletak di depan kamar perawatan istrinya.


"Kau mau balas kejahatannya dengan kebaikan? Oke. Tapi dengan begitu yang jahat akan semakin jahat, sementara orang baik akan terus mendapatkan perlakuan jahat, karena kelemahan yang terlihat padanya," Daniel benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir pria di depannya itu. Bahkan setelah apa yang Meysie dan ayahnya lakukan kepadanya, Ryan masih saja tak mau memberi pelajaran kepada keluarga Atmaja.


"Bukan begitu," Ryan terlihat ragu.


"Bukan begitu apanya? Sekarang aku tanya, apakah kau masih mencintai Meysie?" kini nada bicara Daniel mulai meninggi. Dia benar-benar gemas dengan pilihan Ryan yang tak mau memberi pelajaran kepada Meysie.


"Apa maksudmu?" Ryan tak mengerti.

__ADS_1


"Jawab dengan jujur! Apakah kau masih mencintai wanita itu?" Daniel memandang Ryan dengan tatapan tajam.


"Mana ada, Niel. Aku tak ada perasaan apapun kepadanya sekarang, kecuali perasaan iba dan kasihan. Biar bagaimana pun dia adalah sahabatku sudah sejak sekian lama," lirih Ryan, sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Huh, suka-suka kamulah. Tapi ingat, saat ini Atmaja dan Charles masih melenggang bebas di luar sana. Itu artinya, Rani dan orang-orang yang kau cintai masih berada dalam bahaya," setelah mengucapkan itu, Daniel pergi dari hadapan Ryan.


"Sayang, tunggu," melihat Daniel yang meninggalkan Ryan, Naja langsung mengejar dan membuntuti dari belakang.


"Ahhh," Ryan memandangi punggung Daniel dan Naja yang berlalu begitu saja dari hadapannya, sampai keduanya tak bisa lagi ditangkap dengan pandangan mata.


Ryan pun memutuskan masuk dan menjatuhkan tubuhnya di atas sofa, kemudian mulai memijit-mijit keningnya untuk menghilangkan rasa penat di kepalanya.


"Hubby," panggil Rani lirih. Dia merasa ada gelagat aneh dan tak biasa yang kali ini ditunjukkan suaminya.


"Iya, Sayang. Apa kau butuh sesuatu?" mendengar Rani memanggilnya, Ryan langsung beranjak dan melangkahkan kaki mendekati ranjang pasien yang ditempati istrinya.


"Hubby kenapa? Apa masih ada masalah?" Rani menelisik.


"Bagilah kegundahan Hubby itu dengan Rani," Rani mengambil tangan Ryan yang masih asyik membelai kepalanya, kemudian menggenggamnya erat.


"Om Atmaja dan Charles masih bebas di luar sana. Sampai sekarang, anak buah Hubby juga aparat yang berwajib belum juga berhasil menemukan mereka," ucap Ryan lirih.


Rani tak berkomentar apa-apa. Dia menunggu sampai Ryan melanjutkan ceritanya.


"Hubby hanya takut, kalian semua masih dalam bahaya, terutama kamu, Sayang. Hubby tidak mau mereka menyakitimu," Ryan menarik nafas panjang, kemudian melepasnya perlahan.


"Terus rencana Hubby bagaimana?" Rani membuka suara.


"Daniel memberiku ide gila. Dia mau menggunakan Meysie sebagai umpan untuk menangkap Om Atmaja," tutur Ryan sambil meremas tangan istrinya yang kini berada dalam genggamannya.

__ADS_1


"Apa? dia kan masih terbaring di ICU, By. Dia koma. Rani tidak setuju, By. Meskipun dia sudah sangat jahat kepada Rani, tapi menculiknya dan menjadikannya sebagai umpan tetap saja tidak manusiawi," protes Rani.


"Hubby pikir juga begitu," Ryan tersenyum lega mendengar jawaban Rani yang selaras dengan pemikirannya.


"Ayo kita jenguk Meysie, By," tiba-tiba Rani ingin sekali menemui Meysie juga Hengky dan ibunya.


"Untuk apa, Sayang? Mereka bukan orang baik-baik. Kita memang tak perlu membalas kejahatannya dengan kejahatan serupa, tapi tidak perlu juga dekat-dekat dengan mereka. Lagian kau ini masih sakit," tolak Ryan, yang sama sekali tidak berniat untuk memenuhi keinginan konyol istrinya.


"Tapi, By ...," belum sempat Rani menyelesaikan kalimatnya, Ryan sudah menyela.


"Sssttt ..., tidak boleh. Titik. Jangan pernah berhubungan lagi dengan keluarga Atmaja, termasuk Hengky!" putus Ryan tidak bisa ditawar.


Mendengar keputusan suaminya, Rani hanya menghela nafas panjang, kemudian dia duduk, meraih botol infus yang berada di sampingnya kemudian beranjak. Hingga tiba-tiba ...,


"Auwww," Rani merintih kesakitan.


Ryan yang tidak memperhatikan Rani karena masih kesal dengan permintaannya yang ingin menemui Meysie pun, terbelalak melihat istrinya menjatuhkan botol infus yang sudah berada di tangannya itu hingga jatuh ke lantai dan jarum yang menancap di pembuluh darah bagian tangannya terlepas hingga darah mengucur deras.


"Sayang, kau mau kemana? Bukannya sudah Hubby bilang kau tidak boleh menemui mereka? Kenapa kau begitu keras kepala sih?" omel Ryan sambil membunyikan tombol panggilan gawat darurat yang ada di kepala ranjang, agar perawat dan dokter segera datang.


"Kenapa Rani sakit Hubby malah marah-marah? Rani mau ke kamar mandi, Hubby. Bukannya mau ke ICU melihat Meysie. Tapi kaki Rani sakit, Rani tidak kuat berdiri, jadi botol infus itu terjatuh," Rani menjawab omelan Ryan dengan kesal, sambil meringis menahan sakit. Bukan hanya sakit karena jarum infus yang menancap di tangannya terlepas dengan paksa, namun karena kedua kaki Rani terasa sakit luar biasa.


Mendengar ucapan istrinya dan juga darah yang kini mengucur deras dari tangannya hingga membuat sprey yang terpasang di sana penuh dengan noda darah, Ryan mulai panik dan memegangi tangan Rani dengan begitu tegangnya. Apalagi ketika melihat kaki Rani dan memeriksanya, Ryan benar-benar kaget sampai membulatkan mata dan mulutnya.


"Ya Allah, kakimu kenapa, Sayang? Kenapa bisa seperti ini?"


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan rate 5 juga favorit ya. Terima kasih.


__ADS_2