
Di sinilah Ryan dan keluarganya sekarang. Di depan sebuah incubator dimana malaikat kecilnya sedang tertidur lelap di dalamnya.
Bulir-bulir bening itu meleleh begitu saja, bahkan sahabat dan keluarga Ryan yang menemaninya pun tak mampu menahan air mata haru saat melihat bayi mungil, sang pewaris tahta keluarga Dewangga kini benar-benar sudah terlahir di dunia.
Ryan meletakkan kedua tangannya hingga menempel pada kaca incubator itu sambil menangis tersedu-sedu. Ya, rasa syukur sekaligus haru justru membuat ayah muda itu kembali tergugu. Tak bisa dia bayangkan jika Rani benar-benar pergi meninggalkan dirinya dan putra kecilnya itu, entah apa yang akan terjadi pada masa depan penerus tahta keluarga Dewangga tanpa kasih sayang seorang ibu.
Tiba-tiba muncul getaran aneh yang terus mendesak masuk di hati Ryan. Bukti sebuah goresan pena Tuhan kini benar-benar berada di hadapan Ryan sekarang. Sembilan bulan malaikat kecil itu berada dalam kandungan istrinya tanpa ada yang bisa menggantikan, dengan satu hembusan nafas, satu degupan jantung, dan berbagi ruang kecil, dimana rahim istrinya menjadi satu-satunya tempat paling aman mulai dari segumpal darah, segumpal daging, hingga dia siap dilahirkan.
Di hadapannya sekarang ada bukti kecintaan Tuhan. Maha karya luar biasa menakjubkan kini benar-benar ada di depan mata Ryan, membuat dunia begitu terasa menenangkan.
Ryan mengangkat pewaris tahta kecilnya dengan dua tangan yang gemetar. Air mata keharuan terus menetes, seiring dengan mulutnya yang terus dia dekatkan ke arah telinga kanan sang putra mahkota. Lantunan adzan pun segera terdengar di sela Isak tangis Ryan, sebelum akhirnya dia beralih ke telinga kiri putranya dan mengumandangkan iqomah yang begitu syahdu hingga menggetarkan jiwa-jiwa yang saat itu menyaksikan.
Setelah mengumandangkan adzan dan Iqomah di telinga kanan dan kiri putranya itu, Ryan pun menciumi putranya dengan segala perasaan yang begitu bergejolak hingga di dalam kalbu.
"Selamat datang, anakku. Dalam penggalan-penggalan nafasmu dan nafas ibumu, segala do'aku terlantun indah untuk kebaikan dalam sebuah tahta keindahan. Selamat datang, lelaki kecil perkasa sang mutiara keluarga Dewangga, dalam tangismu dan tangis ibumu yang menjadi satu, teruntai segala do'a berbalut pinta kepada Sang Maha Pencipta,"
Semua menangis dalam diam, melihat pemandangan indah dimana seorang ayah sedang menimang penuh sayang seorang malaikat kecil yang terlahir dengan warna cerita sendu yang sempat terukir di hari pertamanya melihat dunia. Beruntung, Tuhan masih mengukir takdir Ryan sesuai dengan do'a yang dilantunkan, sehingga mereka bisa membesarkan bersama malaikat kecil yang baru saja Rani lahirkan.
Namun tiba-tiba, suasana keharuan itu pecah begitu saja saat suara seorang perawat membuyarkan pikiran semua orang yang berada di sana.
"Maaf, Tuan. Istri Anda sudah bisa dijenguk sekarang," kata perawat itu, membuat semua orang yang mendengarnya bisa tersenyum senang.
"Alhamdulillah, Ya Alllah," gumam Ryan, sambil mengecup putra kecilnya berkali-kali. Setelah cukup puas, Ryan pun mengembalikan sang putra mahkota ke dalam incubator agar kembali mendapatkan perawatan.
Dengan tak sabar, dia melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan dimana istrinya sudah dipindahkan sekarang. Dan begitu Ryan benar-benar telah sampai dan melihat wanita penyambung tahta keluarga Dewangga yang teramat sangat dia cinta sedang memandangnya dengan mata berkaca-kaca, tangis Ryan pun pecah sambil menghambur ke arah wanita yang di kakinya, surga anaknya akan berada.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah berjuang untukku dan putra kita," Ryan menciumi setiap inchi wajah istrinya, tanpa ada yang terlewatkan sedikit saja.
Rani tak menyahut apa-apa. Hanya air mata yang terus menetes dari ujung matanya, sambil menatap wajah suaminya dengan ekspresi yang bahkan sangat sulit diterjemahkan dengan kata-kata.
"Apa luka bekas operasinya sakit sekali, Sayang? Atau mana bagian yang sakit, biar Hubby panggil dokter sekarang. Hubby panggilkan dokter ya?" bulir-bulir bening pun masih terus keluar dari ujung mata Ryan. Ya, seperti mimpi yang menjadi kenyataan, Rani benar-benar telah kembali dalam pelukan.
"Sayang?" Ryan kembali memastikan.
Rani hanya menggeleng pelan. Yang dia inginkan sekarang hanya memandang wajah suaminya, seorang pria yang sangat dicintainya dan hampir saja terpisah jika nyawanya benar terpisah dari raga.
"Kamu kenapa terus menangis? Bilang sama Hubby!"
Tangis keduanya semakin tumpah, seiring dengan eratnya pelukan seolah tak ingin kembali terpisah.
Agatha, Davina, Arsen, Daniel, Arya, Lena dan Nina yang sekarang sudah berdiri mengelilingi sepasang kekasih itupun menangis melihat dua belahan jiwa yang kini dipertemukan Allah dalam kesempatan kedua.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Zara terus menuruni jalan setapak dalam gelap tanpa ada sedikit rasa takut pun di dalam dirinya.
Semilir angin malam yang berhembus hingga menusuk tulang, juga pemandangan sekeliling yang semua terlihat hitam karena sentuhan malam, tak sedikitpun membuat dirinya gentar. Yang ada dalam benaknya hanya nama Indra dan jalan cinta yang harus dilaluinya di masa depannya. Sanggupkah jika dirinya harus kehilangan?
"Tidak. Dia tidak akan meninggalkanku. Bukankah dia tak kan pernah mengingkari janjinya itu?" gumam Zara lirih.
"Pencarian dihentikan sementara sampai pagi tiba," tiba-tiba terdengar suara Naja dari earpeace yang masih terpasang di telinga Zara.
__ADS_1
Zara tak bergeming. Dia terus melanjutkan pencariannya, menyusuri jalan setapak berundak dimana kanan dan kirinya jurang terpampang nyata.
"Zara! Kau dengar aku? Pencarian dihentikan sementara sampai pagi tiba," Naja mengulang ucapannya, kali ini dengan suara tegas yang seolah tak ingin disanggah oleh Zara.
"Zara! Zara! Pencarian kita lanjutkan besok pagi. Kau dengar ucapanku?" Naja semakin mengeraskan suaranya, tapi tak ada niat sedikitpun di hati Zara untuk mundur dan menyerah dengan malam yang sudah gelap gulita.
Ya, seraut wajah Indra yang melintas bersama terpaan sang bayu malam itu, semakin menggelorakan gelombang rindu yang semakin menggebu. Hingga meski raganya sudah lelah, rasa cinta dan rindu itu membuat semangatnya terus menyeret langkah kaki meski Zara tak tahu kemana arah yang harus dia tuju.
"Raga kita memang jauh terpisah, Tuan. Tapi cinta kita, membuatku yakin bahwa kita akan kembali dipertemukan. Tunggu aku, dan bertahanlah untukku," gumam Zara dalam hati.
Kini, Zara benar-benar berada di tengah hutan itu seorang diri. Johan, Rudi beserta seluruh anak buahnya pun sudah berhenti mencari dan akan kembali esok pagi. Begitu juga dengan pasukan aparat kepolisian yang membantu pencarian, semua di tarik mundur karena situasi malam ini sudah tidak bersahabat lagi.
Zara tetap tak peduli, atas nama cintanya kepada sang belahan jiwa, dia bulatkan tekad dan seluruh keberaniannya untuk terus mencari Indra.
Hingga tiba-tiba, langkahnya terhenti. Titik koordinat dimana alat pelacak Indra terdeteksi, kini adalah titik dimana dia berdiri saat ini.
"Tuan! Apakah Anda berada di sini sekarang?" Zara berteriak-teriak sambil mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
"Tuan, ini Zara. Apakah suara saya Anda dengar?" seru Zara sekali lagi.
Tak ada suara sahutan sedikitpun yang tertangkap indra pendengaran Zara, namun dia tak menyerah. Baginya, jika di titik itu sebuah sinyal menunjukkan keberadaan Indra, pasti ada sesuatu yang bisa dia dapatkan sebagai petunjuk, walau Zara tak tahu petunjuk itu apa dan dimana.
"Tuan, apakah Anda di tempat ini?" Zara terus mengedarkan pandangan ke segala arah, dengan bantuan sebuah senter yang berada di tangannya.
Hingga tiba-tiba, Zara membelalakkan matanya ketika ....
__ADS_1
BERSAMBUNG