
Beberapa mobil yang masuk ke halaman parkir rumah sakit itu tiba-tiba mendecit bersahutan. Beberapa detik kemudian, Naja membukakan pintu untuk Rani, hingga nonanya bisa segera turun dan setengah berlari menyusuri lorong demi lorong rumah sakit itu, diikuti Naja, Davina, Arsen dan Aghata juga Rudi serta beberapa pengawal tepat di belakangnya.
"Jangan berlari, Nak. Hati-hati! Kau ini sedang hamil, Sayang," seru Aghata sambil terus mengikuti langkah Rani yang seolah tak mendengarkan ucapannya.
Dengan nafas tersengal, mereka pun tak menyerah dengan panjangnya lorong yang harus mereka lewati. Bahkan sesekali, mereka terlihat tak peduli saat harus menyenggol atau menabrak orang yang tak sengaja berpapasan, karena dalam otak Rani dan yang lainnya hanya ada Ryan, Ryan dan Ryan seorang.
Hingga tiba-tiba langkah Rani terhenti, melihat Daniel, Hengky, Johan, Arya dan Indra sedang duduk terkulai di lantai depan IGD. Bahkan Arya terlihat begitu terpukul dan sedang terisak sambil mendekap lututnya.
"Dimana suamiku?" Rani menghampiri mereka dengan nafas yang memburu. Bahkan air matanya kembali meleleh, melihat kelima pria yang tengah terkulai lemas itu menatapnya dengan tatapan yang sulit terbaca.
"Katakan! Dimana suamiku?" teriak Rani, merasa tak mendapatkan jawaban secepat yang dia inginkan.
"Tenanglah, Ran," Daniel berdiri dan menghampiri Rani.
"Katakan bahwa dia baik-baik saja!" Rani mulai tergugu.
"Sayang. Biarkan Daniel bicara dulu. Kamu mau tau kondisi suamimu kan?" Davina mendekati Rani kemudian mendekapnya.
"Tapi Rani harus gimana jika terjadi apa-apa sama suami Rani, Ma? Rani tidak bisa hidup tanpa dia," keluh Rani dengan isakan tangisnya.
"Kata dokter kondisinya kritis, karena Ryan kehilangan banyak darah. Arya, Indra dan beberapa pengawal juga para pekerja di Green Canyon sudah mendonorkan darahnya. Tim dokter pun sudah melakukan transfusi pada Ryan, tapi sampai saat ini belum ada kabar lagi dari dalam," jelas Daniel, sambil menahan sesak di dadanya yang sudah membuncah. Bahkan kini, bulir-bulir bening itu mengalir tak tertahankan, dari ujung matanya yang sedari tadi memanas menahan air mata yang sudah menggenang.
__ADS_1
"Oya? Bagaimana dia bisa terluka padahal kalian menggunakan pengamanan ekstra, hah? Pengawal-pengawal itu bisa kerja nggak sih? Kalau memang sudah tidak bisa bekerja, pecat mereka semua!" Rani begitu emosi mendengar penjelasan Daniel tentang kondisi suaminya.
"Sabar, Ran. Tetap berdo'a, sambil menunggu dokter memberi penjelasan," Arya berdiri dan menghampiri Rani.
"Sabar-sabar. Ini semua gara-gara kamu ya, Ar. Kamu yang bilang suamiku harus datang tanpa bisa diwakilkan. Jika kamu bisa handel ini sendiri, semua ini tidak akan pernah terjadi," Rani masih terus menyalakan mode marahnya tanpa bisa dia tahan.
"Sayang, jangan marah-marah begini. Kendalikan emosimu. Kamu tidak boleh stress karena akan berbahaya buat janinmu, Nak," Aghata ikut mendekati Rani kemudian mengelus punggungnya.
"Biarin, Mom. Mereka harus sadar bahwa mereka telah gagal. Dengan jumlah mereka yang banyak, bagaimana bisa mereka sampai kebobolan," Rani menatap Johan dan beberapa pengawal yang sedang berjaga dengan tatapan yang sangat tajam, membuat yang ditatap seketika menunduk dengan segala perasaan yang penuh beban.
"Ingat ya, aku tak akan pernah memaafkan kalian jika suamiku tak bisa diselamatkan," lanjut Rani masih sarat dengan emosi.
"Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?" Rani langsung mendekati pintu dan bertanya kepada dokter itu.
"Alhamdulillah, Tuan Ryan sudah melewati masa kritisnya, walaupun dia belum sadar. Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan, agar dia bisa lebih nyaman dan keluarga bisa mendampinginya sampai dia sadar," jelas dokter itu tanpa ada gurat kecemasan.
"Alhamdulillah," pekik Rani dan semua orang yang ada di tempat itu secara bersamaan. Kini mereka bisa bernafas lega, mendengar penuturan dokter itu, juga melihat ekspresi sang dokter yang sudah jauh lebih baik dari pada saat menyampaikan kondisi Ryan sebelum transfusi dilakukan.
Beberapa menit kemudian, dua orang perawat terlihat mendorong Ryan dengan ranjang pasien beroda, dari IGD ke ruang perawatan yang telah disiapkan khusus untuknya.
Rani dan yang lainnya pun mengikuti Ryan dari belakang.
__ADS_1
***
Rani memaksa ingin bersama Ryan hanya berdua saja, sehingga Davina, Aghata, juga Arsen menurut ketika Arya mengantarkan mereka ke hotel untuk mengistirahatkan tubuhnya. Sedangkan Daniel, Hengky, Johan, dan beberapa orang pengawal tetap berada di luar ruang perawatan, membiarkan Rani hanya berdua dengan Ryan di dalam. Bagaimana dengan Indra? Saat ini Indra sedang fokus melakukan investigasi pada gadis muda yang telah membuat Ryan celaka.
Dan di ruang serba putih itulah Rani sekarang. Pandangan matanya tak beralih dari suaminya yang sedang terbaring lemah di ranjang pesakitan, yang kini tepat berada di hadapannya.
Dia perhatikan, wajah Ryan begitu pucat. Matanya tetap terpejam, Rani pun tak tahu karena dia tertidur atau karena tak sadar. Yang jelas, bibirnya yang membiru membuat hati Rani bagai tertusuk sembilu. Apalagi melihat jarum infus yang terpasang di tangan kirinya, juga lilitan perban di daerah perutnya, membuat dada Rani begitu sesak, seolah ingin berbagi rasa sakit jika itu bisa dilakukannya.
"By, bangun!" Rani meraih tangan Ryan dan menggenggamnya erat.
"Bagaimana Hubby bisa penuhi janji Hubby untuk menjaga Rani, jika Hubby terbaring lemah seperti ini?" ucap Rani, sambil mengecup punggung tangan suaminya berkali-kali.
"Hubby ingat tidak? Waktu itu Hubby bilang, Hubby mau menjadi orang pertama yang menemukan uban di antara helai demi helai rambut Rani. Bahkan Hubby bilang, jika rambut Rani telah memutih, Hubby akan semakin bersemangat untuk menyisirnya, karena rambut Rani berubah tanpa butuh pewarna. Lalu bagaimana Rani bisa merasakannya, jika Hubby tak mau bangun juga?" lanjutnya, kini sambil mengelus kepala suaminya.
"By, apa Hubby tak merasakan sentuhan tangan Rani? Kenapa Hubby tak bangun juga? Putra kita tentu merindukan sentuhan tangan Hubby, juga cerita-cerita Hubby padanya melalui perut Mommynya. Ini tangan Rani, By. Balaslah genggaman istrimu ini!" Ryan tak juga merespon. Matanya terus terpejam, tak juga terbuka walau hanya sedikit saja.
"By, Rani tidak mau apa-apa lagi sekarang. Rani hanya minta Hubby kembali peluk Rani, hingga kita sama-sama tua nanti. Rani ingin menua bersama Hubby. Sadarlah, By. Rani kangen Hubby. Bangunlah dan elus putramu lagi. Kita rawat dia bersama, hingga mereka tumbuh dan bisa membuat kita berbangga," Rani tak berhenti mengajak suaminya bicara.
"Ayolah, By. Buka mata Hubby! Tidakkah Hubby ingin merasakan bagaimana kita menua berdua, dan menemani anak cucu kita bermain bersama? Ayo kita buktikan bahwa kita tetap menjadi pasangan termesra di dunia, yang selalu membisikkan kata cinta juga tetap saling memanja seumur hidup kita, By. Dan jangan pernah biarkan waktu dan usia mengikis cinta dan kasih sayang kita. Hubby ingat kan, ketika kita saling mengucap janji?" cicit Rani tanpa henti, meski Ryan tak juga menanggapi. Hingga Rani pun akhirnya tertidur di samping sang suami, berharap ketika dia bangun nanti, suaminya sudah sadarkan diri.
BERSAMBUNG
__ADS_1