
Sejak mengambil cuti kerja, hari-hari Rani lebih banyak dia habiskan di dalam kamar. Maklum, keluhan kehamilan Rani di tri mester akhir ini menjadi semakin banyak saja. Rani sangat susah tidur, karena sulit mencari posisi ternyaman setiap dia membaringkan tubuhnya. Untung saja setiap malam Ryan selalu setia menemaninya, bahkan dengan tak ragu selalu memijit, mengelus, mengambilkan makanan dan minuman, atau bahkan hanya sekedar menemaninya bercerita, sampai Rani ketiduran dengan sendirinya.
Rani juga sudah mengalami yang namanya kontraksi palsu atau braxton hicks
walau tidak sering. Kalau sudah begitu, Ryan akan segera memanggil Dokter Amanda, walaupun berkali-kali dokter cantik itu sudah bilang bahwa hal ini adalah sesuatu yang sangat biasa terjadi pada wanita yang sedang hamil tua. Mungkin karena Rani sampai harus keluar keringat dingin, hingga Ryan benar-benar tak tega melihatnya.
Begitulah hari-hari Rani di masa penantian kelahiran buah hatinya. Ryan akan selalu berusaha untuk pulang tepat pada waktunya, bahkan sebisa mungkin akan membawa pekerjaannya ke rumah demi bisa memantau langsung kondisi istri dan janin yang kini masih berada dalam kandungannya.
Tapi sore itu, yang dinanti tak juga kunjung tiba. Ryan yang biasanya akan mengabarinya jika sore tak bisa menemaninya, kali ini benar-benar tak ada kabar beritanya. Rani mencoba meneleponnya, tak ada respon walau nada dering terdengar di telinga. Hingga sebuah telepon dari nomor asing masuk, dan membuyarkan semuanya.
"Sayang ..., tolong ke rumah sakit sekarang! Hubby terluka," sebuah suara di ujung telepon sana membuat Rani tak bisa berpikir dengan logika.
"By! Hubby! Hubby kenapa? Hubby dimana?" pertanyaan yang hanya dijawab dengan nada telepon yang terputus, membuat Rani semakin takut dan tak bisa lagi berpikir untuk mengecek ke nomor suaminya.
Ya, walau telepon itu berasal dari nomor yang berbeda dengan nomor yang biasa dipakai suaminya, namun mendengar suara yang sangat mirip dengan suaminya meronta menahan sakit dan meminta kedatangannya segera, membuat Rani langsung meraih kunci mobilnya tanpa meminta Rudi ataupun Naja untuk mengantarnya.
"Anda mau kemana, Nona? Biar saya antarkan Anda," perkataan Naja waktu itu seolah tak terdengar di telinga Rani, hingga Rani terus berjalan tanpa menghiraukan tawaran Naja.
"Nona, apakah ada masalah?" Rudi yang mencium gelagat aneh nonanya pun ikut bertanya, tapi lagi-lagi Rani tak menghiraukan apapun perkataan Rudi kepadanya.
Hingga akhirnya, Rani berhasil masuk ke dalam mobilnya, dan menginjak pedal gasnya sedalam-dalamnya, melajukan mobil yang dibawanya sekencang yang dia bisa.
"Nona!" teriak Naja dan Rudi spontan, sambil berlari mengikuti Rani dari belakang. Sementara Daniel yang sejak tadi tidak ikut berkomentar langsung berinisiatif untuk mengecek Ryan melalui sebuah ponsel yang kebetulan sedang dia genggam.
"Hallo, Niel," sapa Ryan di ujung telepon.
"Yan, apa kau baik-baik saja?" sahut Daniel dengan nada bicara yang tak biasa.
"Apa maksudmu bertanya seperti itu?" Ryan mengerutkan dahinya.
"Tadi Rani keluar begitu saja dan membawa mobilnya sendiri, setelah mengangkat sebuah telepon dan memanggil-manggil namamu. Rudi dan semua penjaga yang bertanya kepadanya pun tak dihiraukannya. Rani terus saja melajukan mobilnya, bahkan kini Rudi dan anak buahnya yang mengejar langsung kehilangan jejak begitu saja," ungkap Daniel dengan begitu tegang. Tangan kanannya masih menempelkan ponsel itu di telinganya, sementara tangan kirinya sibuk membaca pesan dari Naja menggunakan satu ponsel yang lainnya.
"Apa? Bagaimana bisa kalian gagal mencegahnya?" Ryan langsung menutup teleponnya dan berlari menuju tempat parkir untuk mengambil mobilnya.
***
__ADS_1
Kode bahaya, siaga satu. Seluruh anak buah Ryan dan Daniel mendapatkan panggilan darurat melalui ponsel mereka, membuat mereka semua kalang kabut dibuatnya.
Semua tim yang mereka punya langsung diturunkan, baik melalui jalur darat maupun udara.
"Kode bahaya, darurat. Status siaga satu. Nona Rani menghilang tanpa jejak dan berita," begitulah instruksi yang diberikan oleh Johan dan Rudi yang kini terlihat sangat tegang, sementara Naja yang sedari tadi berusaha meretas semua CCTV di dalam kota masih geram karena tak kunjung mendapatkan apa yang sedang di carinya.
Kode bahaya, status siaga satu. Hanya itu yang terngiang-ngiang di seluruh isi kepala anak buah Daniel Cullen dan Ryan Dewangga, yang saat ini sudah fokus pada pencarian mereka akan keberadaan sang nona.
Bahkan Indra dan Zara yang sampai saat ini masih dalam masa perawatan di rumah sakit pun tak luput dari serangan pesan darurat itu.
Kode bahaya, status siaga satu. Membaca pesan itu sontak membuat Indra dan Zara secara spontan mencabut jarum infusnya secara paksa, dan langsung beranjak dari ranjang pesakitan yang menyangga tubuh lemah mereka. Kucuran darah yang keluar dari bekas jarum itu pun seolah tak membuat keduanya beralasan dan mangkir dari tugas utama mereka, menjaga keluarga Dewangga beserta anak dan keturunannya.
Memang begitulah Indra dan Zara. Seolah sudah ditasbihkan untuk saling melengkapi dengan segala kelebihan dan kekurangannya, secara kompak mereka keluar dari ruang perawatan mereka masing-masing secara bersama, dengan pakaian dan amunisi lengkap yang selalu ada dimanapun mereka berada.
"Apa kau kuat, Zara?" tanya Indra begitu keluar dari ruang perawatannya dan melihat Zara tengah melakukan hal yang sama.
Para pengawal yang berjaga di depan ruang perawatan mereka pun rupanya sudah hengkang terlebih dahulu dari tempat itu, dan bergabung dengan yang lainnya untuk mencari keberadaan sang nona.
"Pertanyaan macam apa itu, Tuan? Anda pikir saya selemah itu?" Zara terus berjalan tanpa melihat muka Indra yang kini sedang berjalan di sampingnya. Pikirnya, pertanyaan yang dilontarkan Indra untuknya itu, sungguh meremehkan kemampuan Zara.
Melihat mereka saat bekerja seperti itu, sama sekali tak terbayang jika sempat ada adegan syahdu di antara keduanya beberapa saat yang lalu. Ya, begitulah pasangan itu, romantika cinta tak mampu membuat kinerja mereka menurun, bahkan justru sebaliknya. Di misi mereka kali ini, mereka seratus kali lebih bersemangat jika dibandingkan dengan misi mereka sebelumnya.
"Kode bahaya, status siaga satu," sebuah suara terdengar dari earpeace yang sudah terpasang di telinga Indra dan Zara.
"Indra dan Zara siap menerima perintah," sahut Indra sambil terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju jalan keluar.
"Segera menuju landasan. Halipad ada di atap gedung rumah sakit itu. Saatnya kalian berdua bekerja dari jalur udara,"
Indra langsung berbalik arah dan berjalan menuju sebuah lift yang berada tak jauh darinya, diikuti Zara yang terus mengekor kemanapun Indra melangkahkan kakinya.
"Sial!" Indra berteriak, menyadari pintu lift tak juga terbuka karena padatnya pengunjung yang memakainya.
"Kita naik tangga!" tak sabar, Indra langsung berlari ke arah tangga, lagi-lagi Zara tak banyak bicara. Dia lebih suka menjawab perintah Indra dengan sebuah aksi nyata, bukan hanya jawaban di mulut saja.
"Sepuluh lantai dari tempat kita, Zara," ucap Indra lagi tanpa berhenti menaiki anak tangga demi anak tangga yang ada di depannya.
__ADS_1
Zara tak mengeluh. Baginya, sepuluh lantai saja masih bisa dibilang ringan jika dibandingkan dengan apa yang harus dilakukannya selama menempuh pendidikan sebelum dia menjadi seorang agen mata-mata.
"Apa kau sudah siap, Zara?" Indra menatap Zara, begitu mereka sampai ke atap gedung itu dan sebuah helikopter sudah siap pada halipad yang menjadi landasannya.
"Siap, Tuan," sahut Zara, langsung menaiki helikopter yang ada di depannya tanpa menunggu perintah Indra.
"Mulai berani kau ya," Indra geleng-geleng kepala melihat Zara yang sudah mendahuluinya.
Zara tak berkomentar apa-apa, dan memilih untuk berpura-pura tak mendengar omelan Indra kepadanya. Walaupun saat itu, Zara benar-benar merasa bahagia dan begitu menikmati kebersamaan mereka.
Ndret-ndret.
Ponsel Indra bergetar. Rupanya sebuah titik koordinat Naja kirimkan kepadanya, pertanda perintah agar mereka segera mengeksekusi misi itu harus segera dimulai.
"Jalan!" titah Indra, langsung direspon sang pilot yang sudah menunggu sebuah perintah dari mulutnya.
"Apakah Felix dibalik semuanya?" Zara menatap intens wajah Indra.
"Jika aku tak pernah kembali dari misi ini, berjanjilah kepadaku," Indra berucap datar. Bahkan jika saja Zara tidak sedang memandangnya dengan lekat, bisa dipastikan bahwa Zara tak akan mendengar ucapannya.
"Jangan sekali-kali Anda minta saya berjanji, jika Anda sendiri belum menepati janji Anda kepada saya, Tuan," Zara berusaha mengalihkan pandangannya. Dia kembali teringat akan janji Indra, yang akan mengajaknya bertemu dengan sang ibunda begitu dia pulih dari cideranya.
"Berjanjilah, Zara. Bahagiakan dirimu, jika sampai aku tak sempat membahagiakanmu," entah kenapa, ada firasat tak enak yang tiba-tiba menggelayuti hati Indra.
"Saya akan membahagiakan diri saya, dan itu hanya bersama Anda, Tuan," Zara langsung membuang mukanya, tak mau terbawa suasana dengan apa yang Indra katakan.
"Dasar gadis bodoh. Keras kepala," gerutu Indra, walau sebenarnya hatinya berbunga-bunga.
Hingga akhirnya, sampailah mereka pada titik koordinat yang Naja kirimkan kepada Indra. Sebuah pulau kecil, yang terlihat sangat sepi dari hiruk pikuk manusia seperti sebuah tempat tinggal pada umumnya.
"Ambil arah memutar, Pak. Terlalu beresiko jika kita langsung mendarat di pulau ini. Turunkan kami di sebuah kapal nelayan atau kapal apapun, yang nanti bisa kita gunakan untuk menuju tempat ini," titah Indra, merasa bahwa keputusan untuk mendarat langsung di pulau itu sungguh tidak aman. Ya, suara bising sebuah helikopter tak akan bisa diredam dan disembunyikan begitu mereka sampai dan melakukan misi mereka di sana.
"Menurut Anda, apakah Nona berada di tempat ini, Tuan?"
BERSAMBUNG
__ADS_1