
"Baiklah Indra, bagaimana hasil pencarian kalian. Apakah nama pengkhianat itu sudah kau pegang?" Ryan beralih menatap Indra dan Zara dengan lekat.
"Sudah, Tuan. Tapi hanya ada satu nama yang kami temukan. Zara sudah mencocokkan semua wajah karyawan perusahaan, tapi hanya perempuan itu yang Zara temukan. Prediksi kami, pria yang bersama Felix semalam adalah orang luar yang membantu perempuan itu untuk melancarkan aksi yang sudah dia rencanakan," jelas Indra kepada tuannya.
"Jadi pengkhianat itu adalah seorang perempuan? Katakan, Indra. Siapa dia?"
"Sesil Melsita," Indra menyebut sebuah nama yang membuat Ryan, Arya, Rani dan Rudi membelalakkan matanya.
"Sesil?" Rani memastikan. Sesil adalah salah satu nama yang selalu Rani ingat karena selalu menemaninya di kantor suaminya, saat Ryan sedang tak ada di tempatnya. Sesil juga wanita yang telah memergokinya mencium Ryan di ruang kerjanya, karena Rani lupa jika Sesil belum keluar dari sana. Jadi, nama itu memang tak akan pernah Rani lupa.
"Betul, Nona. Sesil Melsita, dia adalah sekretaris Tuan Arya Hutama," Indra memperjelas ucapannya.
"Apa penjelasan yang bisa kau berikan, Ar?" Ryan menatap Arya dengan tatapan tajam.
Arya yang ditatap, hanya terdiam dengan tangan yang mengepal kencang. Sekarang terjawablah sudah, kenapa Felix bisa menangkap konsep Green Canyon secara detail dan membuat mega proyek tandingan yang lebih besar dengan tawaran yang lebih menarik kepada lara investor asing. Semua karena seluruh rahasia perusahaan Arya pegang, dan Sesil bebas akses pada beberapa hal tanpa batasan.
"Dasar perempuan tak tahu berterima kasih. Jika Papa Prabu tak menerimanya ketika itu, mungkin saat ini dia sudah menjadi wanita jalang yang menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang. Kurang besar apa coba, kita menggajinya? Dia masih juga melirik materi kemana-mana dengan menggadaikan kesetiaannya," omel Arya, tak bisa menyembunyikan kemarahannya.
"Biar kuberi dia pelajaran," Arya langsung beranjak dari duduknya.
"Tahan dia, Jo," Ryan menatap ke arah Johan, hingga Johan pun langsung menghalangi Arya untuk ruangan.
"Kenapa kau menghalangiku?" protes Arya tak mengerti dengan apa yang Ryan lakukan.
"Kendalikan emosimu, atau kau akan semakin melihat proyek ini hancur berantakan," Ryan masih bisa berbicara dengan tenang.
"Maaf," lirih Arya sambil kembali ke tempatnya.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Daniel tak kalah tenang, mengingat di dunia bisnis, sebuah pengkhianatan selalu identik dan hampir tak pernah bisa dihilangkan. Meskipun ada banyak pengusaha yang memilih mendapatkan kesuksesan dengan cara yang halal, tapi tak sedikit pula yang mengambil jalan pintas untuk meraih keuntungan yang besar.
"Ini adalah misi yang kuberikan kepada Indra, maka Indra dan Zara juga yang akan menyelesaikannya. Kalian tau apa yang harus kalian lakukan bukan?" kini tatapan Ryan beralih ke arah dua anak muda di depannya. Indra dan Zara yang pun berdiri dengan kompak, kemudian keluar setelah sebelumnya berpamitan.
***
Indra dan Zara kembali ke apartemen mereka dengan mobil masing-masing. Begitu masuk, mereka langsung berganti pakaian serba hitam dan menyiapkan segala alat yang mereka butuhkan untuk perburuan mereka nanti malam.
Indra yang sudah siap terlebih dahulu, segera masuk ke apartemen Zara melalui balkon kamar seperti biasanya.
Zara yang sudah mulai terbiasa dengan kedatangan Indra yang tiba-tiba itu pun tak lagi kaget ketika tahu-tahu Indra sudah muncul di hadapannya.
"Apa kau sudah siap, Zara?" Indra duduk di atas sofa kamar Zara sambil menyilangkan kakinya.
"Anda membawa pengawal atau kita hanya berdua saja, Tuan?" tanya Zara sambil memasang earpeace di telinganya.
"Baiklah jika kau hanya ingin kita berdua saja, Zara. Aku akan dengan senang hati melakukannya," sahut Indra dengan wajah datarnya.
"Apa, Tuan? Bukan begitu maksud saya," sergah Zara, tak mengerti dengan jalan pikiran Indra.
"Aduh, kok dia nangkapnya begitu sih?" batin Zara geram.
"Bukan bagaimana, Zara? Bukankah kau bilang ingin kita hanya berdua saja?" Indra masih kekeh dengan ucapan pertamanya.
"Tadi itu saya bertanya kepada Anda, Tuan. Pertanyaan saya, malam ini kita akan menjalankan misi bersama para pengawal atau kita hanya berdua saja?" Zara mengulang pertanyaannya, kali ini lebih diperjelas agar Indra tidak salah paham lagi dengan ucapannya.
"Karena di awal tadi kau berkata kita hanya berdua saja, maka kita akan eksekusi misi kita malam ini hanya berdua saja. Kau dengar itu, Zara? Berdua saja," ucap Indra dengan ekspresi anehnya.
"Terserah Anda saja, Tuan," Zara yang mulai geram dengan ucapan Indra, akhirnya menyerah dan tak bernafsu lagi melayani keanehan patner kerjanya itu.
__ADS_1
"Baiklah, Zara. Apa semua sudah siap?" Indra memastikan semuanya.
"Sudah, Tuan. Tinggal alat komunikasi saja yang harus kita cek apakah berfungsi dengan normal," sahut Zara, sambil menyentuh earpeace yang sudah terpasang di telinganya.
"Baik, kita cek sekarang," Indra segera menjauh dari arah Zara dan bergerak ke balkon kamar utama.
"Kau dengar aku, Zara?" Indra mulai mencoba berbisik, untuk memastikan apakah fungsi earpeace itu normal atau sebaliknya.
Karena Zara hanya terdiam, akhirnya Indra kembali masuk dan menghampiri Zara dengan mengerutkan dahinya.
"Apa tak terdengar, Zara?" tanya Indra sambil membenarkan posisi earpeace-nya.
"Tidak terdengar apa-apa, Tuan. Kita coba ganti earpeace yang sedang Anda kenakan," sahut Zara, sambil mengambil earpeace baru dari kotak kecil miliknya, dan menyodorkannya kepada Indra.
"Baiklah, kita coba lagi. Kali ini kau yang mencobanya, apakah aku mendengarnya atau tidak," titah Indra yang disahut anggukan kecil Zara.
"Apa Anda mendengar saya, Tuan?" bisik Zara, mulai mengecek kenormalan alat komunikasi yang terpasang di telinganya dan Indra.
Tidak ada sahutan. Indra sama sekali tak menyahutnya.
"Anda mendengar saya atau tidak, Tuan?" bisik Zara sekali lagi.
Indra masih tak menyahut.
"Hey, Tuan Misterius, Tuan Narsis, Tuan Aneh, Anda benar-benar tidak mendengar saya?" Zara kembali berbisik, kali ini lebih nyeleneh dari ucapan pertamanya. Pikirnya, kapan lagi kan, Zara bisa mengumpat Indra secara langsung? Walaupun kali ini Indra tak mendengarnya karena earpeace mereka tidak berfungsi normal, tapi hanya dengan seperti itu, hati Zara seolah bisa terpuaskan.
"Huh, Anda sungguh menyebalkan Tuan. Selain Anda sering mengagetkan saya dengan datang secara tiba-tiba, Anda juga pria yang telah mencuri ciuman pertama saya," bisik Zara sekali lagi.
Di ujung balkon, Indra sedang tersenyum-senyum sendiri mendengar ucapan Zara. Dia memang sengaja tak menjawab, saat Zara mencoba mengecek alat komunikasinya, karena berbuat ingin mengerjai gadis itu. Namun di luar dugaan, Zara justru mengucapkan kata-kata itu.
"Jadi Anda pura-pura tidak dengar saat saya memanggil Anda?" Zara berseru dengan kencang.
"Ha-ha-ha-ha. Aku salut denganmu, Zara. Di tengah-tengah pergaulan bebas anak milenial di jaman sekarang, kau masih bisa menahan satu hal itu," Indra terkekeh, tanpa menanggapi ocehan Zara yang sudah pasti sedang sangat kesal kepadanya.
"Tidak ada yang lucu, jadi jangan coba-coba tertawa di depan saya," ketus Zara, yang tambah membuat tawa Indra semakin membahana.
"Anda mau tertawa terus di tempat ini, atau mau segera eksekusi misi ini?" tanya Zara sambil menggerutu kesal.
"Oke. Satu jam lagi kita bertemu di rumah Sesil," Indra kembali menuju ke arah balkon dan turun menuju apartemennya melalui seutas tali.
Satu jam kemudian, baik Indra maupun Zara sudah berada di ujung jalan dekat rumah yang ditempati oleh Sesil seorang. Malam itu, Indra dan Zara sama-sama mengendarai motor sport ternama yang mereka sembunyikan di sebuah gang kecil agar tak diketahui oleh musuh-musuh yang sangat mungkin akan ditemui mereka di saat mereka mancarkan aksinya. Tanpa Zara ketahui, para pengawal sudah tersebar tak jauh dari lokasi, dan siap siaga saat Indra membutuhkan mereka kapan saja.
Dari gang kecil itu, Indra dan Zara berjalan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka, untuk memastikan bahwa misi mereka akan berjalan dengan aman.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di sebuah rumah kecil bergaya modern yang ditinggali Sesil seorang diri. Baik Indra maupun Zara pun terus bergerak dengan cara mengendap-endap agar Sesil tak menyadari kedatangan mereka. Namun melihat pagar keliling yang menjulang cukup tinggi yang menghalangi mereka untuk langsung masuk ke rumah kecil itu, Indra dan Zara pun berhenti dan memikirkan cara.
"Cukup tinggi, Zara," ucap Indra setengah berbisik.
"Kita bisa pakai ini, Tuan. Tapi sebelum kita masuk, biarkan saya meretas CCTV di rumah ini dulu," Zara terlihat mendudukkan diri di tanah tepat di belakang rumah Sesil dan berselancar dengan sebuah benda pipih canggih yang selalu menjadi andalannya.
"Bagaimana, Zara?" tanya Indra sambil memeriksa keamanan di sekelilingnya.
"Sedikit lagi, Tuan," sahut Zara tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalau dirasa sulit dan butuh bantuan, jangan gengsi untuk mengakuinya di depanku. Dari pada kita membuang waktu,"
"Dasar Tuan Misterius. Di saat-saat seperti ini, sempat-sempatnya coba dia mengejekku," gumam Zara dalam hati.
__ADS_1
"Bagaimana, Zara. Kau sungguh lambat sekali. Serahkan kepadaku, sini," Indra berusaha merebut alat canggih itu dari tangan Zara.
Namun sebelum Indra berhasil merebutnya, Zara sudah beranjak dari duduknya, dan meletakkan benda itu lagi di saku celananya.
Tanpa berpikir panjang, Zara segera meraih tali yang sempat dia bawa dan melemparkan pengaitnya ke atas, hingga pengait itu mendarat sempurna di bagian ujung dinding pagar. Setelah Zara memastikan bahwa tali itu aman, dia segera memanjat dinding pagar dengan tali yang telah dia siapkan.
Hanya dalam hitungan detik, Zara pun sudah sampai ke atas pagar. Setelah menunggu Indra menyusulnya, dia meraih pengait tali dan merapikannya, kemudian meletakkan tali itu di atas pagar, barangkali mereka masih akan membutuhkan.
"Kita masuk lewat atap saja, Tuan," Zara berbisik pada Indra.
"No, Zara. Akan memakan waktu terlalu lama. Kita langsung masuk melalui pintu belakang saja," Indra mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah pintu yang terletak di belakang.
"Tadi saya sempat melihat Ada mobil Tuan Felix di depan, Tuan. Apa tak sebaiknya kita pantau mereka dari atas saja?" sergah Zara, memilih cara lebih aman agar kedatangan mereka tak ketahuan.
"Felix? Aku tak melihat mobilnya, Zara," Indra mengerutkan dahinya.
"Mobil hitam yang terparkir di luar itu adalah mobil Tuan Felix, Tuan. Dia hanya memakainya pada saat-saat tertentu saja. Saya hafal betul, Tuan. Karena saya pernah memergokinya memakai mobil itu beberapa kali," kekeh Zara, berusaha meyakinkan Indra.
"Baiklah, Zara. Kita masuk lewat atap rumahnya," Indra akhirnya menyetujui usulan Zara.
"Oke. Kita berpencar atau langsung berdua saja, Tuan?" ucap Zara sambik bersiap melompat ke atap rumah Sesil.
"Hey, dari tadi kau terus menanyakan itu, Zara? Kau benar-benar tidak ingin jauh-jauh dariku, hingga dalam situasi seperti ini saja kau selalu ingin berdua denganku?" oceh Indra tanpa memperhatikan reaksi Zara.
"Bukan begitu, Tuan. Maksud saya ..., ahh sudahlah," Zara sudah tak mau membuang-buang waktu dengan melayani kenarsisan Indra.
Tak mau menunggu lama, Zara pun melompat ke atas genteng di susul Indra. Begitu mereka sampai di atas, mereka mengambil beberapa genteng dan mematahkan kayu-kayunya agar ada lubang yang bisa membawa mereka masuk ke dalam.
Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun segera masuk dan mengambil pijakan di kayu-kayu penyangga untuk menahan tubuh mereka.
"Gelap sekali, Tuan," keluh Zara, karena Sesil mematikan lampu di beberapa bagian rumahnya, hingga cahayanya tidak bisa masuk ke atas melalui celah-celah plafon rumah itu.
"Pakai senter kepala, Zara," sahut Indra sambil memasang sebuah senter di kepalanya.
"Apa cahayanya tidak tersebar ke bawah, Tuan?" Zara terlihat ragu, takut jika misi mereka malam ini gagal.
"Tidak akan, Zara. Senter kepala itu kecil. Persebaran cahayanya juga tidak luas. Aku yakin seratus persen, cahaya kita tak akan tertangkap oleh orang yang berada di bawah sana," jawab Indra mantap.
"Masalahnya di bawah gelap, Tuan. Sesil mematikan lampu hampir di seluruh bagian rumahnya. Saya takut meskipun kecil, cahaya senter kita akan menembus celah-celah plafon itu," Zara masih tak yakin dengan keputusan Indra.
"Bagaimana jika kita pakai satu lampu saja, Zara?" Indra mencoba menawarkan idenya.
"Kelihatannya tidak ada pilihan lain, Tuan. Tapi kita harus ingat, begitu ada orang di bawah yang kita temukan, senter langsung kita matikan," sahut Zara sambil menganggukkan kepala.
"Deal. Aku setuju," ucap Indra sambil langsung menyalakan senter di kepalanya.
Setelah senter menyala, mereka pun berjalan di atas plafon rumah Sesil dengan sangat hati-hati. Sebelum mereka melewati kayu yang akan diinjaknya, Indra yang berjalan di depan memeriksa apakah kayu itu layak atau sudah lapuk dimakan usia hingga bisa membahayakan keselamatan juga keberhasilan misi mereka.
Dari arah dapur, mereka berjalan menyusuri rumah itu ke ruangan lain, mencari sosok Felix dan Sesil, sosok yang malam ini menjadi target perburuan.
"Tak ada dimanapun, Tuan. Atau apakah mereka keluar? Jika Tuan Felix ada di rumah ini, harusnya dia berada di ruang tamu atau di ruang makan," cicit Zara dengan lirih.
"Masih ada satu ruang lagi yang belum kita periksa, Zara," bisik Indra sambil memandang lekat gadis yang sedang bersamanya itu.
"Yang belum kita periksa hanya kamar utama, Tuan. Mana mungkin Tuan Felix berada di kamar Sesil?"
BERSAMBUNG
__ADS_1