METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Romantika Cinta di Kediaman Dewangga


__ADS_3

Helaan nafas Daniel terasa begitu berat, seolah ada berton-ton lumpur yang menimbun tubuhnya. Gambaran seorang ayah yang sebenarnya sangat dia rindukan, kini benar-benar ada di depan matanya, namun lidah itu terasa begitu kelu hanya untuk sekedar memanggil namanya. Ya, rasa sakit yang dia rasakan telah menutup mata dan hatinya, walau rasa dendam kini telah hilang dan tak berbekas di sana.


Kini denyar nadinya meronta. Dia kembali menilik dalamnya luka yang menganga, siapa tahu bisa terobati dengan sebuah angan dan asa akan indahnya masa depan. Tapi semakin dalam dia menelisik hatinya, sobekan hatinya justru kian mendalam. Bahkan sakit itu kini kembali dia rasakan, bagai teriris-iris ribuan pedang.


"Apa yang dia rasakan? Apakah dia benar-benar menyesal dengan semua yang telah dia lakukan? Lantas, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku memaafkannya? Atau bolehkah aku tetap membencinya?" hati Daniel kian bergejolak. Semakin dia berusaha untuk memaafkan ayahnya, semakin perih dia merasakan luka yang terlanjur telah menganga.


Hingga tiba-tiba, sebuah suara yang menentramkan jiwa terdengar begitu hangat di telinganya.


“Sebejat-bejatnya seorang ayah, dia tetaplah orang tua yang merindukan anaknya. Dan sebenci-bencinya seorang anak terhadap orang tuanya, dia punya kewajiban untuk berbakti kepadanya,” bisik Naja sambil melingkarkan tangannya ke pinggang suaminya. Dia memeluk pria yang sangat dicintainya itu dari belakang.


“Aku sudah mencoba melakukannya, Sayang. Tapi berkali-kali juga aku gagal. Aku butuh waktu untuk mengobati lukaku. Apa aku jahat?” Daniel membalikkan badannya dan memandang lekat gadis yang kini berdiri di depannya.


“Kamu tidak jahat, Sayang. Ayahmu juga pasti sangat mengerti jika kamu butuh waktu untuk bisa menerima dan membuka hatimu. Setidaknya kau sudah mencoba, dan teruslah mencoba sampai hatimu benar-benar lapang menerima semuanya dengan keikhlasan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, bahwa sejahat-jahatnya dia di masa lalu, dia tetaplah ayahmu yang mencintai dan selalu merindukanmu,” seulas senyum Naja persembahkan dengan begitu manis.


Daniel pun menganggukkan kepalanya mendengar penuturan istrinya yang sangat menenangkan itu. Di balik sikapnya yang selalu cuek jika dia sudah berkutat dengan pekerjaannya, Naja menyimpan hati seorang bidadari yang selalu menentramkan dan menyejukkan hati, setidaknya jika mereka sedang berdua saja.


“Terima kasih, Sayang,” Daniel memeluk Naja begitu erat, bahkan seolah tak ingin dia lepaskan.


***


Berbeda dengan Daniel yang ketika masuk kamar mendapati Naja yang sedang tidur pulas di kamarnya, Arya justru dikejutkan dengan keadaan Lena yang sedang menangis menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya. Melihat pemandangan yang ada di depannya, Arya pun membelalakkan mata.


“Kamu kenapa, Sayang?” setengah berlari, Arya menghampiri Lena yang sedang merintih menahan sakit di bagian dadanya.


“Kak Tama, ini sakit sekali,” keluh Lena sambil menunjuk bagian tubuhnya yang biasanya menjadi tempat favorit Arya saat mereka bercinta.


“Coba aku lihat,” Arya membuka hijab dan pakaian yang Lena kenakan.


Alangkah terkejutnya Arya ketika mendapati gunung kembar kesukaannya membesar hampir dua kali lipat, dengan warna yang sudah sangat memerah, dan ketika dia pegang pun terasa sangat keras.


“Kok bisa begini? Apa kemarin ketika dokter dan perawat itu masih di sini kamu belum merasakan sakit seperti ini?” tanya Arya dengan begitu tegangnya.

__ADS_1


“Kemarin tidak sesakit ini, karena setiap pagi, siang dan sore perawat itu mengompresnya dengan air hangat lalu mengeluarkan isinya,” terang Lena sambil merengek manja.


“Mengeluarkan isinya? Maksud kamu asinya harus di keluarkan?” Arya membulatkan matanya sekali lagi.


“Iya, asinya harus dikeluarkan, karena tidak ada yang meminumnya,” Lena kembali bersedih, mengingat putranya yang bahkan belum sempat dilihatnya, kini telah tiada.


“Lho kok malah jadi sedih gini? Aku panggil dokter aja ya?” Arya beranjak dan segera merogoh sebuah ponsel yang tersimpan manis di saku celananya.


“Tapi ...,” Lena menggantungkan kalimatnya.


“Tapi apa?” Arya meletakkan lagi ponsel yang telah diambilnya.


“Kata dokter, aku bisa melakukannya sendiri. Karena semakin lama, produksinya akan semakin berkurang jika tidak ada yang meminumnya. Tapi aku sudah coba berkali-kali tidak bisa juga,” jelas Lena dengan muka yang mulai merona.


“Jadi, aku yang harus melakukannya?” dengan semangat empat lima Arya menawarkan dirinya, sambil menarik alisnya ke atas dengan tatapan menggoda.


“Hmmm,” akhirnya Lena mengangguk malu-malu.


***


Kini kediaman Keluarga Dewangga benar-benar dipenuhi dengan romantika cinta beberapa pasang anak manusia. Berbeda dengan Daniel dan Naja, Juga Arya dan Lena, di kamar lain di rumah yang sama, ada Johan dan Nina yang masih menikmati masa-masa indah pernikahannya.


"Apa kau merindukanku?" Johan segera menjatuhkan tubuhnya di samping Nina, yang saat ini sedang duduk di salah satu sisi ranjang, dengan novel favorit yang selalu setia berada di tangannya.


Sejak Nina menikah dengan Johan, tepatnya setelah Daniel tahu bahwa Nina adalah adik sepupunya, Daniel memang tidak membiarkan Nina untuk membantu para pelayan membersihkan rumah atau berkutat di dapur, sehingga Nina yang hampir tidak bisa jika harus duduk menganggur, memilih novel untuk menghilangkan rasa bosannya.


"Untuk apa aku merindukan pria yang tidak merindukanku?" Nina berpura-pura cuek dan tetap fokus pada novel yang dia baca.


"Serius?" Johan memberingsut dan meletakkan kepalanya di atas paha istrinya, kemudian merebut novel itu dari tangan Nina.


"Sayang, kembalikan novelku," rajuk Nina.

__ADS_1


Johan justru melempar Novel itu ke atas meja dan kembali tidur di pangkuan Nina.


"Apa kau benar-benar tak merindukanku?" Johan mendongakkan kepalanya demi melihat wajah cantik istri kecilnya itu.


"Tidak," Nina mengerucutkan bibirnya.


"Tapi aku merindukanmu," sahut Johan dengan manja.


"Oya? Terus apa urusanku?" jawab Nina dengan nada datar.


"Kau harus mengobati kerinduanku," kini Johan memiringkan tubuhnya dan memeluk perut istrinya.


"Bagaimana bisa aku mengobati kerinduanmu sementara kau terus saja sibuk dengan pekerjaanmu?" cicit Nina dengan nada kesal.


"Maafkan aku. Dua hari ini tuanku memutuskan untuk bekerja dari rumah, jadi aku harus menghandel perusahaan," jelas Johan, kali ini dia bangun dari tidurnya dan duduk menatap Nina dengan tatapan tajam.


"Iya, iya, tidak usah menatapku seperti itu. Kau tak perlu mengulang kisahmu yang kau ceritakan kemarin itu lagi untuk membuatku mengerti. Aku sudah menerimanya, sebagai konsekwensiku karena telah menikah dengan orang yang terikat komitmen seumur hidup seperti kamu," Nina memajukan bibirnya, tapi kali ini tak ada ekspresi marah sedikit pun di wajahnya.


Johan pun tersenyum lega, menyadari bahwa akhirnya Nina bisa memahami posisinya.


"Lalu?"


"Apa?"


"Obati kerinduanku,"


"Ihhh, ini mah modus,"


BERSAMBUNG


❤❤❤

__ADS_1


Pembaca bijak, selalu tinggalkan jejak. Jangan lupa dukung author dengan menekan tombol like, vote dan rate 5. Terima kasih.


__ADS_2