METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Sebuah Skenario


__ADS_3

Lamborghini Veneno warna merah itu mendecit lirih begitu tiba di halaman parkir sebuah Cafe eksklusif di ujung Kota X. Di dalam mobil itu, terlihat Zara yang begitu cantik mengenakan pakaian serba hitam dengan rambut panjang yang diikat tinggi di atas kepala, sedang mengamati seseorang dengan seksama, tanpa melepaskan kaca mata hitamnya.


"Hengky Atmaja. Itu dia orangnya," lirih Zara, begitu sosok Hengky tertangkap oleh indra penglihatannya. Netranya terus memperhatikan Hengky yang keluar dengan elegan dari mobil mewahnya, dan bergegas masuk ke dalam Cafe yang masih sepi karena biasanya akan ramai ketika malam telah tiba.


"Aku harus cari tempat yang pas agar bisa merekam pembicaraan mereka. Bukankah Tuan Felix dan anak buahnya tak akan menaruh curiga kalau ternyata aku berada di pihak musuhnya?" Zara kembali bermonolog dan sibuk menerka-nerka.


Sedetik kemudian, Zara memegang handel pintu mobil dan bersiap keluar untuk masuk ke Cafe itu, agar dia bisa menangkap apa yang menjadi pokok pembicaraan antara Hengky dengan Felix Adinata.


Namun, akhirnya Zara mengurungkan niatnya. Sebuah taxy yang tiba sesaat setelah kedatangan Hengky pun menyita perhatiannya. Apalagi ketika melihat seorang wanita berhijab keluar dari taxy itu dan masuk ke dalam Cafe melalui pintu samping, membuat jiwa kepo Zara pun meronta ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang terlihat sedang mengikuti Hengky Atmaja.


Karena begitu penasarannya, Zara pun mulai berselancar dengan benda pipih canggih miliknya, dan mencari tahu profil Hengky terutama daftar nama perempuan yang mungkin pernah singgah di dalam hidupnya.


"Arania Levana," Zara mengerutkan dahinya membaca sebuah nama disebut-sebut oleh salah satu media online yang memberitakan tentang kedekatan Rani dengan Hengky Atmaja.


"Ini kan Bu Boss. Jadi mereka pernah dekat? Tapi dilihat dari tanggal terbitnya, ini sekitar dua tahun lalu. Berarti saat dia belum menikah?" gumamnya lirih, menyadari bahwa nama yang sedang diejanya adalah nama majikannya.


"Lalu siapa perempuan itu?" Zara bermonolog sambil terus berselancar dengan layar ponselnya.


"Seorang politisi muda sekaligus penerus tahta keluarga Atmaja menikahi seorang mahasiswa bernama Nafisha Hasna," oceh Zara, mengeja judul berita sebuah media online lain yang sedang dibacanya, kemudian memperhatikan dengan seksama sebuah foto yang memperlihatkan wajah Hengky dan perempuan yang dinikahinya tepat sebelum pemakaman sang ibu dari mempelai wanita.


Dari situlah Zara kemudian bisa menyimpulkan bahwa perempuan yang membuntuti Hengki itu adalah Nafisha Hasna, istri sah dari Hengky Atmaja.


"Ada yang tidak beres kelihatannya ini. Hingga istrinya saja sampai diam-diam membuntuti Hengky sampai ke tempat ini," Zara kembali bermonolog.


Selain fokus ke arah Fisha, Zara pun melihat keadaan di sekelilingnya dan memastikan titik-titik keberadaan anak buah Felix yang sedang berjaga.


"Misi dimulai," Zara menyemangati dirinya sendiri dan segera masuk melalui pintu samping yang sempat dilalui Fisha, sesaat setelah Felix tiba.


Zara tidak perlu sembunyi-sembunyi ketika masuk dan memilih tempat duduk di belakang meja Hengky dan Felix, mengingat sejak awal memang Felix meminta kehadiran Zara. Hal ini berseberangan dengan apa yang dilakukan Fisha, karena dia datang secara diam-diam dan tidak ingin Hengky menangkap keberadaannya.


Ya, waktu itu Fisha memang terlihat memaksakan diri hingga berani melakukan hal nekat di luar kebiasaannya. Rasa curiga yang tiba-tiba menyelimuti hatinya pun membuat dia akhirnya nekat mengikuti kemana suaminya pergi.

__ADS_1


"Benar dugaanku, Mas Hengky menemui Felix Adinata. Tapi kenapa? Jangan-jangan Mas Hengky benar-benar telah berkhianat pada keluarga Dewangga," Fisha terus membatin dalam hati, sembari mengambil posisi duduk dekat Hengky tanpa keberadaannya disadari oleh suaminya.


"Bagaimana dengan tawaran saya, Tuan? Tentu Anda sudah memikirkannya bukan?" ucapan Felix terdengar jelas di telinga Fisha juga Zara.


"Baru tawaran ya? Berarti yang membocorkan rahasia proyek kemarin bukan Mas Hengky," batin Fisha lagi.


Ada sedikit kelegaan di hati Fisha, ketika mengetahui bahwa semua prahara yang terjadi bukan ulah suaminya.


"Berkali-kali saya sudah tegaskan kepada Anda, saya bukanlah tipe pengkhianat seperti yang Anda kira. Kenapa Anda masih juga memaksa untuk bertemu dengan saya? Bukankah saat kita bicara melalui telepon tadi semuanya sudah jelas dan sungguh tidak perlu untuk kita bahas lagi?" sahut Hengky datar. Dia terlihat begitu kesal terhadap Felix yang masih terus berusaha untuk membujuknya.


"Ayolah, Tuan. Saya tidak meminta Anda untuk mengkhianati kedua teman Anda. Saya hanya ingin membantu Anda untuk membalas dendam atas kematian papa Anda," bujuk Felix, tak juga menyerah untuk mempengaruhi Hengky agar mau berada di pihaknya. Dia benar-benar yakin bahwa ketika kematian ayahnya disebut, pasti akan muncul emosi dari hati Hengky hingga akhirnya dengan mudah pria di depannya itu akan berhasil dipengaruhinya.


"Papa saya sudah tenang di sana. Dan ini semua adalah bagian dari takdir yang sudah Allah tulis untuk saya dan keluarga saya," tegas Hengky, mantap. Tak ada perubahan ekspresi wajah sedikitpun yang dia tunjukkan saat Felix menyinggung masalah kematian sang papa.


"Tidakkah Anda sadar bahwa papa Anda tiada karena ulah siapa? Semua karena dia bukan? Jika saja tidak ada Ryan Dewangga, tentu semua mala petaka di tubuh keluarga Anda tidak akan pernah ada. Dan mungkin, sekarang Anda sudah hidup bahagia dengan wanita yang Anda cinta," cicit Felix, masih tetap berusaha membuat Hengky masuk dalam jebakannya.


"Semua sudah kehendak Tuhan, Tuan Felix Adinata. Sebagai seorang hamba yang beragama dan mengimani keberadaanNya, saya percaya bahwa semua skenario kehidupan yang Tuhan tuliskan untuk saya adalah jalan terbaik yang sudah dia takdirkan. Saya menerima semua itu dengan kelapangan hati dan keikhlasan, Tuan. Jadi sekali lagi saya tegaskan, jangan coba-coba untuk mempengaruhi saya dan menjerumuskan saya dalam sebuah pengkhianatan kepada sahabat-sahabat saya. Sekali lagi saya katakan kepada Anda, itu tidak akan pernah terjadi karena tidak pernah ada dalam kamus hidup saya," jawab Hengky mantap.


"Pikirkan sekali lagi, Tuan. Selain persoalan papa Anda, saya tahu bahwa ada urusan lain yang belum selesai antara Anda dengan Arania Levana. Bukankah dia adalah satu-satunya wanita yang Anda cinta? Bekerja samalah dengan saya, hancurkan mereka, dan Anda bisa merebut wanita yang Anda cintai dari tangan Ryan Dewangga," Felix mengeluarkan sebuah nama sebagai senjata pamungkasnya.


Hati Fisha berdegup sepuluh kali lebih kencang dari pada biasanya, menanti sebuah jawaban yang akan keluar dari mulut suaminya. Ya, hari ini dia akan tahu, perasaan suaminya yang sebenarnya. Benarkah dirinya sudah mampu menggeser nama Arania Levana dari hati suaminya? Atau justru sebaliknya?


"Saya tahu perasaan saya kepada Rani sama seperti perasaan Anda kepadanya, Tuan Felix. Saya pun yakin, jika saat ini Rani bersama saya, Anda pasti akan menghalalkan segala cara untuk merebutnya dari tangan saya, seperti yang saat ini sedang Anda lakukan kepada Ryan Dewangga. Bukankah semua yang Anda lakukan ini adalah karena kecintaan Anda pada istrinya? Ya, saya akui, Tuan. Kita berdua dan Ryan Dewangga memang sama-sama membangun istana cinta dalam ruang tersendiri di hati kita untuk satu perempuan yang sama," suara Hengky terdengar berat. Sama seperti beratnya mata Fisha yang sudah tak kuasa menahan genangan air di matanya, mendengar sebuah pengakuan cinta suaminya yang sungguh menyesakkan dada.


"Tapi apakah kita tidak bisa menyimpannya saja saat takdir ternyata harus merenggutnya dari kita? Keabadian cinta saya kepadanya, mungkin bisa tetap saya jaga selama hidup saya, Tuan. Tapi saya bukanlah Tuhan yang mampu mengendalikan semua seperti apa yang saya inginkan. Saya juga bukan malaikat yang bisa menjaga dia sepanjang waktu, atau membuatnya berpaling dari cinta sejatinya. Yang bisa saya lakukan untuk saat ini hanya satu, membiarkan namanya tetap menempati satu ruang kosong dalam hati saya, dan menghidupkan cinta saya kepadanya dalam sanubari yang saya miliki," dengan mantap, Hengky mengungkapkan isi hatinya pada pria yang dia yakin juga sedang merasakan hal yang sama dengan satu wanita yang pernah masuk dalam kehidupan mereka.


Fisha mendengar ungkapan hati Hengky dengan air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi. Sakit, kecewa, dan segala rasa yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata-kata, kini berkecamuk di hati Fisha, menyadari bahwa cinta Hengky untuk Rani masih ada dan akan selalu hidup dalam hati suaminya.


"Saya senang Anda jujur tentang perasaan Anda walaupun saat ini Anda sudah menikahi wanita lain, Tuan Hengky. Karena itulah, mari kita bekerja sama, demi rasa cinta sekaligus rasa sakit kita karena satu nama wanita yang sama," Felix tak juga menyerah.


Mendengar perkataan Felix, Fisha merasa tak tahan lagi jika harus mendengar jawaban suaminya.

__ADS_1


"Ternyata wanita itu masih menjadi satu nama yang kau cinta, Mas. Mungkin karena dia juga, kau akan menggadaikan akal sehatmu dan bekerja sama dengan pria ini demi membalaskan rasa sakitmu karena cinta tak berbalas yang harus kau rasakan selama ini," gumam Fisha dalam hati.


Fisha pun tak lagi kuasa untuk tetap berada di tempatnya, apalagi untuk mendengar semuanya dari mulut suaminya. Hingga dengan tergesa-gesa, Fisha beranjak dari tempat duduknya dan bersiap keluar meninggalkan tempat itu dengan hati yang terluka. Tapi tiba-tiba, Hengky kembali bersuara, yang sukses membuat Fisha duduk kembali dan mengurungkan niatnya.


"Anda tidak sepenuhnya benar, Tuan. Rani memang menempati ruang tersendiri di hati saya, karena selain dia adalah wanita yang pernah saya cinta, dia juga sahabat terbaik dalam hidup saya. Tapi perlu Anda ketahui, bahwa kini ada satu wanita yang sudah menyatu dalam hidup saya dan menjadi detak jantung juga nadi dalam setiap nafas saya. Dialah istri saya, wanita yang sudah merajai seluruh apa yang saya punya. Bahkan jika ada seribu bidadari yang turun di hadapan saya, saya bisa pastikan bahwa hati saya tidak akan pernah berpaling darinya. Anda tahu kenapa? Karena saya sadar, bahwa istri sayalah cinta sejati saya, dan akan tetap seperti itu selama-lamanya. Jadi dengarkan saya, Tuan Felix Adinata! Jangan buang energi Anda hanya untuk membujuk saya agar berada di pihak Anda, karena itu tidak ada dalam kamus kehidupan saya," oceh Hengky tegas. Bahkan dia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan pergi meninggalkan Felix begitu saja.


Fisha yang sedang terbuai dengan kata-kata suaminya itupun segera beranjak, menyadari bahwa Hengky sudah tidak ada di tempatnya. Setengah berlari, dia keluar dari Cafe itu dan segera memberhentikan taxy untuk mengikuti suaminya lagi.


Sementara Zara, dia juga langsung beranjak dari tempat duduknya dan segera menemui Felix yang masih berada di tempatnya.


"Tuan," sapa Zara sambil menganggukkan kepalanya.


"Duduklah, Zara," titah Felix datar.


Zara pun duduk, sebelum akhirnya beberapa orang anak buah Felix ikut duduk bersama mereka.


"Bagaimana?" tanya Felix, menatap wajah anak buahnya secara bergantian.


"Beres, Tuan. Semua berjalan sesuai rencana. Foto-foto Anda bersama Hengky Atmaja sudah kita dapatkan, dan akan segera kita kirimkan pada Ryan Dewangga dan Daniel Cullen," lapor salah seorang dari mereka yang disambut dengan anggukan mantap dari yang lainnya.


Zara hanya diam saja mendengarkan obrolan mereka, sambil mencerna apa yang sebenarnya sedang direncanakan oleh majikannya.


"Ha-ha-ha-ha. Hengky Atmaja sungguh sangat bodoh hingga terpancing dan masuk dalam jebakan kita. Setelah foto pertemuan kami berdua hari ini sampai ke tangan Ryan dan Daniel, bisa dipastikan hubungan mereka akan pecah karena mereka akan menuduh Hengky mengkhianati mereka," tawa Felix menggelegar. Dia benar-benar terlihat puas dengan hal gila yang baru saja dia lakukan.


"Iya, Tuan. Dan orang kita yang ada di perusahaan mereka akan tetap aman hingga tetap bisa memberikan informasi yang kita butuhkan," sahut salah seorang anak buah Felix yang lain.


"Ha-ha-ha-ha," Felix kembali terkekeh, merasa puas dan terbuai dengan bayangan kehancuran musuhnya yang sebentar lagi akan dia dapatkan.


"Bagaimana dengan tugas yang kuberikan kepadamu, Zara?" Felix menghentikan tawanya secara tiba-tiba dan memandang Zara dengan tatapan tajamnya.


"Semua aman, Tuan. Hengky Atmaja benar-benar datang sendirian, tanpa pengawalan dan tanpa ada penguntit yang bisa mendengar apa yang kalian bicarakan. Kelihatannya dia benar-benar sudah masuk dalam jebakan yang sudah Anda rencanakan," ucap Zara, semakin membuat Felix merasa besar kepala.

__ADS_1


"Sebenarnya ada yang mengikutinya, Tuan. Dia adalah istrinya. Tapi saya tidak akan pernah mengatakannya kepada Anda. Bahkan bisa saya pastikan, setelah ini istrinya akan semakin cinta kepadanya. Dan rencana yang telah Anda jalankan itu saya jamin akan gagal, Tuan. Karena saya akan memberitahu mereka, sebelum keretakan di antara mereka bertiga itu benar-benar terjadi sesuai dengan skenario Anda," batin Zara dalam hati.


BERSAMBUNG


__ADS_2