METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Kisah Prabu dan Aghata (Part 6)


__ADS_3

Tatapan mata Prabu tiba-tiba kosong, seiring dengan hatinya yang kini hancur menjadi serpihan-serpihan kecil bagai debu yang di tiup angin. Jiwanya mengembara, pikirannya pun menari-nari dalam balutan air mata kesedihan yang bahkan tak mampu lagi dia rasakan. Bagaimana tidak? Bahkan kini, suratan takdir benar-benar tak berpihak kepadanya, hingga istri dan putra yang dia cinta harus terbaring lemah hanya karena kebodohannya.


“Ini semua salahku. Salahku!” Prabu tergugu. Penyesalan demi penyesalan kini muncul begitu saja, memenuhi setiap inci dalam rongga dadanya.


“Iya, ini semua memang salahmu. Apa kau puas, hah?” timpal Wisnu penuh amarah. Kini Wisnu, Davina, Pak Mamad dan Bik Tum beralih memandang Aghata dengan tatapan penuh kebencian.


Aghata hanya bisa menelan salivanya, tanpa berani menatap beberapa pasang mata yang kini menatapnya dengan lekat. Sungguh, ingin sekali Aghata beranjak dan pergi dari tempat itu, namun mengingat Prabu sedang membutuhkan dia untuk tetap berada di sisinya, akhirnya Aghata memutuskan untuk bertahan dan siap menata hati serta menerima kebencian demi kebencian yang sudah pasti akan dia dapatkan.


Hingga tak berapa lama, dokter keluar. Prabu yang menyadari bahwa ada seorang dokter mendekatinya pun segera beranjak, disusul Wisnu, Davina, Aghata, Bik Tum dan juga Pak Mamad yang begitu ingin mendengar kabar tentang kondisi Ryan dan Titania dari dokter secara langsung.


“Bagaimana kondisi putra dan istri saya, Dok?” tanya Prabu dengan cemas.


“Putra Anda mengeluarkan banyak darah, Tuan. Kami membutuhkan golongan darah AB untuk menyelamatkannya, namun stok darah golongan darah tersebut kosong. Adakah pihak keluarga yang bergolongan darah sama dengan putra Anda?” jelas dokter itu dengan raut muka sedikit panik.


Semua yang berada di tempat itu pun saling pandang dan menggeleng pelan, seolah ingin mengatakan bahwa di antara mereka tidak ada yang bergolongan darah sama dengan yang dokter butuhkan.


“Yang bergolongan darah sama dengan putra saya adalah mamanya, Dok. Jadi tidak mungkin. Selain mamanya, tidak ada yang...,” sebelum Prabu menyelesaikan kalimatnya, Aghata sudah menyela.


“Ambil darah saya, Dokter. Golongan darah saya sama dengannya,” tutur Aghata mantab.


Mendengar penuturan Aghata, dokter itu tersenyum lega seraya memanggil seorang suster dan menyuruhnya agar membawa Aghata masuk ke dalam untuk di periksa. Prabu, Wisnu dan yang lainnya pun menatap kepergian Aghta dengan tatapan penuh harap.


“Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dok?” setelah sempat tersenyum lega mendapatkan donor darah untuk anaknya, tiba-tiba wajah Prabu menegang lagi menunggu penjelasan dokter terkait kondisi Titania.

__ADS_1


“Istri Anda kehilangan kesadaran temporal karena mengalami perdarahan intraserebral (perdarahan jaringan otak), Tuan. Kemungkinan besar disebabkan oleh benturan yang cukup keras, yang membuat pecahnya pembuluh arteri di bagian otak istri Anda. Hal ini menyebabkan perdarahan lokal di jaringan sekitarnya, juga menyebabkan matinya sel-sel di otak. Karena perdarahan yang istri Anda alami terjadi pada bagian batang otak, maka kemungkinan istri Anda akan koma,” jelas dokter itu dengan terbata.


“Berapa lama sampai istri saya bisa siuman, Dok?” tanya Prabu dengan tatapan sendu. Kini kabut tebal benar-benar menyelimuti hati dan jiwanya.


“Kami akan berusaha sekeras mungkin, Tuan. Mekipun begitu, kami tidak bisa memastikan berapa lama istri Anda akan siuman. Bisa dalam hitungan hari atau pekan, bisa juga dalam hitungan bulan bahkan tahun,” lanjut dokter itu sambil mengelus bahu Prabu kemudian berlalu.


***


Beberapa hari setelah transfusi itu, akhirnya Ryan diperbolehkan pulang ke rumah. Karena Prabu dan Bik Tum harus menjaga Titania di rumah sakit secara bergantian, maka Prabu meminta Aghata dan Daniel kecil untuk tinggal di rumahnya agar bisa menjaga dan merawat Ryan di masa-masa pemulihannya. Di saat-saat itulah kedekatan Ryan dan Aghata mulai terbangun. Mereka mulai dekat dan saling terikat satu sama lain.


Hingga satu setengah bulan kemudian, hal yang membahagiakan sekaligus menegangkan tiba-tiba datang.


“Mas,” ketika Prabu sedang tertidur di tepi ranjang tempat Titania dirawat, tiba-tiba dia merasakan ada sebuah tangan yang mengelus kepalanya dan mendengar seseorang memanggil namanya.


“Kau sudah sadar sayang? Apa kau pusing? Atau ada yang sakit? Mana yang sakit?” cecar Prabu, sambil menciumi seluruh bagian wajah istrinya. Titania hanya menjawab rentetan pertanyaan suaminya itu dengan tersenyum dan menggeleng pelan.


“Kalau begitu aku panggil dokter dulu,” tutur Prabu sambil berlari ke luar.


Tak berapa lama, Prabu pun segera kembali bersama seorang dokter dan suster yang langsung memeriksa kondisi Titania. Dokter itu terlihat memeriksa mata dan bagian tubuh Titania yang lain. Setelah semua dirasa dalam kondisi baik, dokter meminta sang suster untuk melepas kateter, alat bantu pernafasan, juga beberapa kabel yang menghubungkan tubuh Titania dengan layar monitor detektor jantung.


“Alhamdulillah semua dalam kondisi baik, Tuan. Namun saran saya instri Anda tetap harus berhati-hati, dan melakukan segala aktifitas secara bertahab,” cicit sang dokter, kemudian berlalu meninggalkan ruang itu.


Prabu terus memegangi tangan Titania dengan erat. Sesekali dia meremasnya, sesekali pula dia mengecup jemari lentik Titania.

__ADS_1


"Berapa lama aku tak sadarkan diri, Mas?" tanya Titania penasaran.


"Kau tertidur selama satu setengah bulan, Sayang. Kau benar-benar membuatku takut," jawab Prabu sambil terus mengecup tangan yang kini berada dalam genggamannya itu.


"Bagaimana dengan Ryan. Dia baik-baik saja kan?" tiba-tiba ekspresi Titania berubah menjadi tegang.


"Dia sempat kehilangan banyak darah. Untungnya, segera mendapatkan golongan darah yang cocok. Jika tidak..., ahh sudahlah. Yang penting sekarang kalian berdua kembali sehat lagi," jelas Prabu, enggan meneruskan kalimatnya.


"Tentu aku harus berterima kasih kepada orang yang telah mendonorkan darahnya untuk putraku. Siapa dia, Mas?" Titania bertanya dengan senyum yang mengembang, hingga menampakkah gigi-gigi putihnya yang sangat rapi.


"Emm, dia..., tidak penting siapa dia. Yang paling penting putra kita sudah sembuh seperti sedia kala. Dia pasti sudah sangat merindukanmu," Prabu berusaha mengalihkan pembicaraan.


Titania yang merasa bahwa suaminya menyembunyikan sesuatu pun tiba-tiba pasang muka serius. Dalam benaknya, dia bisa sedikit menebak, kenapa Prabu harus menyembunyikan identitas pendonor darah itu.


"Kenapa? Apakah dia istrimu itu?"


Entah kenapa tiba-tiba hati Titania terasa sakit saat mengucapkan kata-kata itu, walau dia betul-betul sadar bahwa saat ini sebutan istri untuk suaminya bukan tersemat hanya pada dirinya semata. Ya, kini telah ada orang lain yang mempunyai gelar yang sama dengan dirinya, yang menempati salah satu ruang kosong di hati suaminya.


BERSAMBUNG


❤❤❤


Jangan lupa like dan vote nya ya kakak...

__ADS_1


__ADS_2