METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Gara-Gara Air Putih


__ADS_3

Malam itu, Naja bersandar pada tembok di sebelah jendela kamarnya. Pandangannya kosong tanpa arah, pikirannya menerawang jauh, memahami bait demi bait kisah hidup yang telah dia temui.


"Ahh, sungguh aku ini tak punya harga diri. Tapi jika waktu itu aku tak melakukannya, bagaimana ibu dan adikku bisa terus bertahan hidup?" cicit Naja, ketika pikirannya kembali mengingat cerita masa lalu dalam hidupnya.


Sungguh, jika memang ada pilihan, waktu itu Naja akan memilih untuk tetap menjadi seorang ballerina.


Selain karena menari adalah hobby-nya dan menjadi ballerina adalah impiannya sejak kecil, profesi itu memang hampir tanpa resiko.


Namun apa mau dikata. Nyatanya suratan nasib memang harus membawanya pada sebuah dilema dalam hidup yang dia jalani.


Meskipun akhirnya Naja tahu bahwa ternyata patner baletnya yang salah langkah hingga mematahkan kaki Naja ternyata melakukannya dengan sengaja karena alasan persaingan kerja, namun toh mau semarah apapun tidak akan mengubah semuanya. Hingga akhirnya Naja hanya bisa pasrah, dengan apapun yang akan terjadi pada masa depannya.


Dan kini, di tempat itulah Naja berdiri. Mengais rezeki hanya untuk bertahan hidup, meskipun ada orang yang harus dia khianati.


Parahnya, suratan takdir itu juga yang mempertemukannya kembali dengan Daniel, pria yang menyelamatkan hidupnya setelah kakinya patah dan tak ada sepeserpun rupiah yang bisa didapatkannya, namun dengan tidak tahu malunya Naja mengingkari sumpah setianya dan justru mengambil sumpah setia pada Prabu Dewangga, orang yang paling Daniel benci ketika itu.


"Kalau sekarang dia mau meminta pertanggungjawabanku bukankah itu wajar? Memang aku harus menerima semua hukumanku," batin Naja dalam hati. Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas sekelumit ragu yang terlihat dari wajahnya lebih dari cukup memperlihatkan betapa galau hatinya saat itu.


Hingga tiba-tiba, sebuah ketukan membuyarkan lamunannya.


"Ya, masuk," seru Naja.


Tak lama setelah Naja menutup bibirnya, Bik Tum muncul dari balik pintu dan berjalan mendekatinya.


"Ada apa, Bik?" tanya Naja penasaran. Tak biasanya Bik Tum mencarinya, apalagi sampai masuk ke dalam kamarnya.


"Itu, Nak. Non Rani memintamu menemuinya di ruang makan," jawab Bik Tum dengan agak tergesa-gesa.


"Mereka sudah pulang?" Naja bertanya dengan wajah tegang. Bik Tum hanya mengangguk pelan.


"Bagaimana bisa aku tidak tahu bahwa kedua majikanku sudah pulang? Habislah kau, Naja. Pasti Tuan akan memarahimu," gumam Naja dalam hati.


Naja pun segera mengganti pakaiannya dan langsung bergegas menuju ruang dimana keempat majikannya sedang bersiap untuk makan malam.

__ADS_1


Dengan ragu, Naja segera berjalan mendekati Ryan, dengan wajah sedikit menunduk dan hati bergetar.


"Maafkan saya, Tuan. Maafkan saya, Nona. Saya tidak tahu bahwa Anda sudah kembali ke rumah. Jadi saya...," Naja menggantungkan kalimatnya, bingung mau beralasan apa kepada majikannya itu.


Kini Ryan, Rani, Aghata dan Daniel menatapnya dengan lekat, entah apa yang sedang mereka pikirkan tentang Naja. Hal itu sukses membuat Naja salah tingkah, hingga tak berani mengangkat wajahnya.


"Kenapa kau Daysie? Bukankah biasanya kau paling jago berakting dan mengalihkan pembicaraan lawan bicaramu? Sekarang ada apa dengan dirimu? Apa-apaan ini, Daysie?" batin Daniel.


"Sudahlah, Naja. Tak masalah buat kami. Duduklah!" perintah Ryan, tak ada nada marah sama sekali.


"Duduk, Tuan?" Naja mengulang perintah tuannya, sambil mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.


"Duduk? Maksudnya di meja makan ini bersama kalian? Bagaimana mungkin?" batin Naja.


"Duduklah dan makanlah bersama kami, Naja. Ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan," Rani mengulang perintah suaminya.


"Tapi, Nona. Saya...," Naja semakin bingung.


"Baik, Tuan," Naja menganggukkan kepalanya kemudian dengan pikiran yang campur aduk segera mengambil posisi duduk di sebelah Daniel. Di seberang tempat Naja duduk ada Rani dan Aghata, sementara di kepala meja makan Ryan duduk di kursi kepala keluarga, menggantikan Prabu yang biasanya duduk di sana.


Mereka pun segera memulai acara makan malam mereka. Aghata menyendokkan nasi ke semua piring anak dan menantunya satu-satu dengan telaten, tak terkecuali di piring Naja.


Setelah itu, mereka mengambil lauk dan sayur ke piring masing-masing, kecuali Ryan yang dengan tingkah manjanya selalu menunggu Rani untuk melayaninya termasuk sekedar urusan makan.


"Hmm-hmm," Daniel berdehem melihat kelakuan Ryan yang terlihat dengan sengaja sedang memanas-manasinya.


Mendengar Daniel berdehem karena aksinya, bukannya malah menghentikan aksinya, Ryan malah justru meminta disuapi oleh istrinya.


"Suapi dong, Sayang," rajuk Ryan sambil melirik ke arah Daniel.


Tanpa malu-malu pun, dengan santai Rani menyuapi suaminya dan sebaliknya, Ryan menyuapi istrinya. Begitu seterusnya hingga makanan di piring Ryan habis begitu juga dengan makanan di piring Rani. Mereka seolah sengaja ingin membuat Naja dan Daniel panas melihat kemesraan mereka.


"Air putih," pinta Ryan dengan nada manjanya.

__ADS_1


Rani pun mengambil segelas air putih yang ada di hadapan Ryan dan mengarahkan gelas itu ke mulut suaminya. Setelah Ryan meminum setengahnya, tangan Ryan mengambil alih gelas itu dan mengarahkannya pada mulut istrinya.


"Giliran kamu, Sayang," cicit Ryan lembut.


Rani menggelengkan kepalanya. Apapun rela Rani minum kecuali cairan yang satu itu. Ya, Rani paling tidak bisa minum air putih. Jika dipaksakan, pasti Rani akan muntah dibuatnya.


"Ayolah, Sayang. Sedikit aja," Ryan memaksa.


"Mas kan tau, kalau Rani tidak doyan air putih," tolak Rani.


"Kan belum dicoba. Air putih itu segar dan menyehatkan tubuh. Ayolah," rayu Ryan.


"Rani pernah coba, Mas. Dan selalu berakhir muntah," Rani merengek seperti anak kecil. Sementara Aghata, Daniel dan Naja hanya melihat adegan sepasang kekasih itu dengan senyum tipis di bibir mereka.


"Satu teguk, aja. Tidak lebih. Mas mohon! Kamu harus belajar minum air putih," Ryan masih terus memaksa.


"Ya?" ucap Ryan sambil menganggukkan kepalanya, meyakinkan.


Rani ragu. Dia bukannya tidak mau, tapi perutnya benar-benar menolaknya. Namun karena Ryan terus memaksa, akhirnya Rani menyerah. Dengan pelan, Rani mencoba menempelkan bibirnya pada ujung gelas yang ada di tangan suaminya. Dan dalam sekejabpun, air putih itu telah memenuhi separuh mulutnya, kemudian mengalir begitu saja melewati tenggorokannya. Dan dalam hitungan satu, dua, tiga, perut Rani seolah bergerak naik turun hingga akhirnya lehernya terasa penuh dan terjadilah hal yang paling ditakutkannya.


Rani langsung berlari ke kamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya tanpa sisa.


"Sayang!" dengan panik Ryan langsung berlari menyusul istrinya. Dia memang tau jika istrinya tidak suka air putih, namun tidak menyangka akan separah itu reaksinya.


"Sayang!" panggil Ryan lagi.


BERSAMBUNG


❤❤❤


**Jangan lupa tinggalkan like, vote dan rate 5 juga comment positifnya, ya...


Terima kasih**.

__ADS_1


__ADS_2