METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Jangan Menangis


__ADS_3

Daniel mendorong kursi roda yang diduduki Ryan hingga sampai di kamarnya. Setelah memastikan bahwa Ryan tak lagi butuh bantuannya, Daniel pun pamit keluar diikuti Naja yang terus membuntutinya dari belakang.


"Terima kasih," Ryan yang kini sudah berada di tempat tidurnya lagi, merasa sangat terharu mendapatkan perlakuan Daniel yang sudah begitu sangat perhatian.


"Kembali kasih. Istirahatlah, biar aku yang memantau pekerjaan mereka," sahut Daniel yang kini berada di ambang pintu kamar itu.


"Baiklah. Jangan terlalu capek. Kau masih harus bekerja keras untuk memproduksi Daniel yunior lebih giat lagi. Tenang saja, mereka semua selalu bisa diandalkan," goda Ryan sambil mengerling nakal.


"Kau benar. Sambil memantau mereka bekerja, aku akan sambil memproduksinya. Ha-ha-ha-ha," Daniel tergelak, diikuti sebuah cubitan keras di perutnya yang diberikan oleh Naja.


"Dasar. Sudah sana. Buat keponakan untukku sebanyak-banyaknya," Ryan terkekeh sambil memegangi perutnya. Lukanya yang lumayan dalam, membuat sedikit saja dia tertawa, mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa di area perutnya.


"Sudah-sudah. Lihat dirimu itu, Yan. Bahkan kau rela sakit seperti itu demi menertawaiku," ucap Daniel lagi sambil menutup pintu.


Rani dan Naja yang menyaksikan kedekatan keduanya itu pun hanya bisa menggelengkan kepalanya, meskipun dalam hati mereka ada keharuan yang mendalam, jika mengingat bagaimana hubungan mereka di masa silam.


"Sudah, By. Hubby harus banyak istirahat, agar luka Hubby segera kering dan Hubby bisa beraktifitas lagi. Sepuluh menit lagi dokter yang akan memeriksa dan mengganti perban Hubby akan datang, jadi Hubby istirahatlah sebentar," ucap Rani, sembari berjalan pelan hendak keluar.


"Kau mau kemana, Sayang?" tanya Ryan seolah tak rela Rani meninggalkan kamarnya.


"Rani ambilkan air putih untuk Hubby. Ini kan pertama kalinya dokter akan mengganti perban bagian dalam luka Hubby. Takutnya sakit, By. Siapa tahu aja nanti Hubby butuh minum setelah dokter itu selesai mengganti perban Hubby," sahut Rani sambil tersenyum ke arah sang suami.


"Kau jangan menakut-nakutiku, Sayang. Apakah akan sesakit itu?" Ryan mengerucutkan bibirnya.


"He-he-he-he. Rani juga nggak tahu, By. Tapi untuk pria sekuat Hubby sih, Rani yakin rasa sakitnya tak akan terasa sama sekali," Rani terkekeh sambil menutup pintu kamar mereka dari luar.


Dan ternyata benar saja. Begitu segelas air putih itu sudah berada di tangan, dokter dan dua orang perawat itu pun datang.


"Baiklah, Tuan Ryan. Hari ini kami akan memeriksa seperti apakah kondisi luka luar di perut Anda sekarang. Jika jahitan pada luka Anda ada yang masih basah, mungkin akan sedikit menyakitkan saat saya mengoleskan obat dan menutupnya kembali. Tapi jika lukanya sudah membaik, mulai hari ini Anda bisa mandi seperti biasanya karena saya akan memasang perban yang bisa terkena air," jelas seorang dokter sambil memberi isyarat kepada seorang perawat yang kini berdiri di sampingnya untuk mengeluarkan alat-alat yang mereka butuhkan.


"Lakukan apa saja yang terbaik, Dok," ujar Ryan pasrah.


"Baik, Tuan. Pertama akan saya lepas perban bagian luar dulu," kata sang dokter, sambil menggunting perban yang melilit perut Ryan.


Begitu perban bagian luar selesai di buka, dokter itu menerima cairan bertuliskan alkohol tujuh puluh persen dari perawat yang mendampinginya, dan mengoleskannya dengan kasa di bagian luka Ryan, setelah dokter melepas Wound dressing yang dipasang di luka itu.


Wound dressing yang digunakan oleh dokter itu adalah penutup untuk melindungi luka dari infeksi, sekaligus membantu penyembuhan luka. Penutup luka ini dibuat untuk bersentuhan langsung dengan luka, berbeda dengan perban yang digunakan untuk menjaga wound dressing tetap pada tempatnya. Wound dressing memiliki beberapa fungsi tergantung jenis, tingkat keparahan, dan lokasi luka. Secara umum fungsi utama wound dressing itu adalah untuk mencegah terjadinya infeksi, namun di samping itu wound dressing juga berguna untuk membantu menghentikan luka dan memulai proses pembekuan darah, menyerap kelebihan darah atau cairan lain yang keluar dari luka, juga memulai proses penyembuhan luka hingga luka itu bisa benar-benar kering dan pulih seperti sedia kala.


"Auw," Ryan meringis ,saat alkohol itu mulai bersentuhan langsung dengan lukanya.


"Tahan sebentar ya, Tuan. Ini memang akan terasa sedikit perih," terang dokter itu, sambil terus membersihkan luka Ryan dengan alkohol yang sudah dia basahkan ke sebuah kasa. Setelah luka itu dibersihkan dengan alkohol, sang dokter meminta cairan berwarna merah kepada perawat dan mengoleskan kembali ke luka itu. Begitu obat merah itu selesai dioleskan, dokter itu pun kembali memasang wound dressing yang baru, kemudian kasa berwarna putih, baru dipasangkan perban anti air yang melindungi luka itu di bagian terluar.


Karena ada tiga luka tusukan, maka dokter itu memberikan perlakuan yang sama di tiga luka yang berbeda.


"Oke. Semua sudah beres, Tuan. Tiga hari lagi saya akan datang untuk melihat luka Anda kembali. Kami sudah siapkan obat selama tiga hari ke depan, untuk membantu penyembuhan luka dari dalam," tutur dokter itu sopan.


"Terima kasih, Dok," Rani yang sedari tadi mendampingi Ryan dan menggenggam erat tangannya selama dokter itu merawat lukanya, kini berdiri dari tempatnya dan mengantarkan dokter itu keluar dari kamar mereka.


Begitu dokter dan perawat itu keluar, Rani meraih segelas air putih yang telah dia siapkan dan memberikannya kepada Ryan.

__ADS_1


"Gimana, By? Sakit?" tanya Rani sambil menunggui Ryan menghabiskan air itu.


"Tak seberapa," sahut Ryan sambil menyodorkan gelasnya.


"Kata dokter, sekarang Hubby bisa mandi seperti biasanya, tak perlu di washlap seperti beberapa hari ini. Terus, Hubby mau mandi sekarang atau gimana?" tanya Rani sambil mengelus kepala suaminya.


"Mandiin yuk," Ryan meraih tangan Rani yang kini berada di kepalanya dan mengecupnya mesra.


"Hmmm. Mandi di shower aja ya, By. Kalau berendam belum boleh. Soalnya walaupun perban itu anti air, tapi kemampuannya untuk menahan agar air tidak masuk tetap saja terbatas. Jika masih dalam batas wajar, perban itu masih berfungsi normal. Tapi jika Hubby berendam, takutnya ada air yang masuk walaupun sedikit," oceh Rani sambil menatap serius ke arah sang suami.


"Terserah kamu, mau diapain aja tubuhku ini, Sayang," sahut Ryan sambil mengerling nakal.


"Kumat deh mesumnya," celoteh Rani sambil membantu suaminya duduk.


"Nggak papalah mesum sama istri sendiri," Ryan tertawa kecil.


Beberapa detik kemudian, mereka sudah sampai di kamar mandi. Rani melepas helaian benang yang menempel di tubuh Ryan satu per satu, hingga menampakkan secara nyata tubuh polos itu.


Setelah helaian benang di tubuh Ryan terlepas tanpa sisa, giliran tangan Ryan yang mulai bergerilya hendak melepas kain penutup yang dikenakan istrinya.


"Hubby mau apa, By?" Rani berusaha menahan tangan Ryan yang sudah mulai tak dapat dikondisikan.


"Melepas pakaianmu. Memang mau apa lagi?" cicit Ryan dengan tangan yang sudah tak terkendali. Ryan terus berusaha melepas pakaian yang dikenakan istrinya, tanpa peduli dengan protes Rani kepadanya.


"Kan Hubby yang mau mandi," cegah Rani sambil memegangi tangan Ryan lagi


"Kita mandi bersama dong, Sayang," Ryan melepaskan tangan Rani dan memulai aktifitasnya lagi.


"Mandi lagilah," sahut Ryan dengan santainya


"Hubby," kini Rani sudah merengek, melihat tubuh polosnya sudah terpampang nyata akibat ulah suaminya.


"Kamu akan basah jika mandiin Hubby. Jadi lebih baik, kau juga mandi bersama Hubby," oceh Ryan sambil tersenyum menang.


Ryan menatap tubuh istrinya yang kian berisi dengan perut yang sudah membola itu dengan tatapan takjub dan rasa rindu yang meronta. Sejak Ryan terluka, memang baru hari ini Ryan melihatnya lagi. Dan seperti biasanya, pusaka sakti yang berada di bawah sana akan metonta-ronta jika sedang bersama istrinya.


Menyadari pusaka suaminya sudah berdiri menjulang meminta hak nya, wajah Rani pun menjadi merah seketika.


"Tuh kan, Hubby," Rani yang sudah mengerti dengan apa yang dibutuhkan suaminya saat itu pun hanya bisa membuang mukanya. Ya, meski mereka sudah menikah sekian lama, tapi tetap saja Rani masih merasa malu saat melihatnya.


"Boleh ya, Sayang. Hubby sudah nggak tahan," Ryan merengek seperti anak kecil yang sedang meminta jajan.


"Bukannya tidak boleh, Hubby Sayang. Tapi luka Hubby itu membuat semuanya tak mungkin kita lakukan," Rani berusaha memberikan pengertian.


"Jangankan buat melakukan hal yang begituan. Hanya untuk tertawa saja Hubby sudah merasa kesakitan," lanjut Rani sambil merapatkan tubuhnya pada tubuh suaminya.


"Tapi Hubby sudah kangen, Yang," Rajuk Ryan.


"Sama Hubby, Rani juga kangen sekali. Tapi tunggulah beberapa hari lagi, sampai luka Hubby sembuh dan tak merasa kesakitan lagi," Rani mulai menyalakan air shower hingga kini membasahi tubuh mereka berdua.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan yang sedang meronta-ronta di bawah sana?" Ryan menunjuk ke sebuah benda yang sudah berdiri menjulang di bawah sana.


"Biar Rani bantu keluarkan di sini, By. Hubby mau?" Rani tersenyum manis ke arah sang suami.


Setelah mendapatkan anggukan dari sang suami, Rani pun mematikan air shower dan mengambil beberapa tetes sabun mandi. Dengan mantapnya, dia menempelkan bibirnya ke arah suaminya, hingga Ryan pun langsung terbuai dan menikmati perhelatan bibir mereka berdua. Saat atraksi itu mereka lakukan, tangan kanan Rani mengoleskan sabun cair yang sudah dituangnya sesaat tadi ke arah tombak milik sang suami. Tangannya pun kini sudah mulai bergerak dengan lincah, membuat Ryan tak lagi mampu mengendalikan diri. Hingga akhirnya, lahar panas itupun menyembur dengan sempurna, menandakan Ryan sudah mencapai pada puncaknya.


"Terima kasih, Kesayangan Hubby. Kau benar-benar pandai melakukannya," tutur Ryan sambil mengecup ujung kepada istrinya.


"Rani senang bisa melakukan itu untuk Hubby," sahut Rani sambil menyalakan air shower itu kembali. Setelah Rani membersihkan sisa cairan milik suaminya yang mencuat hingga mengenai tangan dan pahanya, Rani pun mulai memandikan suaminya kemudian membersihkan dirinya sendiri.


"Tunggu sampai luka ini tak sakit lagi, Hubby akan melakukannya dan memanjakanmu dengan kehebatan Hubby yang berkali lipat dari biasanya," celoteh Ryan sambil menaikkan alisnya berkali-kali.


"Kenapa bisa berkali lipat dari biasanya?" Rani mengerutkan dahinya.


"Karena Hubby sudah sangat merindukanmu, Sayang. Bahkan sebenarnya Hubby sudah tidak bisa menahannya sama sekali," Ryan memandang wajah Rani dengan tatapan memelasnya.


"Kan sudah tadi, By," sergah Rani.


"Kan beda, Sayang. Rasanya lebih nikmat jika pusaka Hubby langsung tertancap di lubang goa milikmu itu," Ryan terlihat begitu manja.


"Sabar sebentar Hubby. Makanya jangan bandel biar Hubby cepat sembuh dan kita bisa melakukannya lagi," Rani berusaha memberi pengertian. Walaupun dia tahu betul bahwa suaminya itu sudah sangat tersiksa menahan hasratnya beberapa lama. Maklum saja, mereka selalu melakukannya tanpa jeda. Ya, setiap hari mereka memang melakukannya tanpa ada bosan-bosannya. Bahkan, tak jarang mereka melakukan aktifitas itu hingga dua kali atau tiga kali dalam sehari, itupun belum tentu bisa membuat Ryan tak meminta lagi kepada istrinya.


"Hubby sudah tidak sabar, Sayang. Kangen ...," Ryan justru memeluk Rani lagi.


"Iya, iya. Coba lihat tiga hari lagi seperti kata dokter tadi ya, By," ucap Rani memenangkan. Kini dia mengambil handuk dan mengeringkan tubuh suaminya, kemudian melilitkan handuk itu ke pinggang Ryan dengan penuh kehangatan. Setelah selesai, dia meraih satu handuk lagi untuk mengeringkan dan menutupi tubuhnya sendiri.


"Segarnya," gumam Ryan sambil mengikuti langkah Rani keluar dari kamar mandi.


Beberapa hari mandi kucing karena lukanya yang tak kunjung kering, membuat Ryan serasa tak mandi sama sekali. Makanya begitu dia bisa mandi hari itu, tubuhnya berasa segar luar biasa.


"Pakai dulu, By," Rani memakaikan kaos oblong pada suaminya, dan meminta suaminya merebahkan diri di atas tempat tidurnya, agar dia bisa memakaikan celana dalam juga celana santai suaminya. Ya, Rani memakaikannya dengan posisi Ryan berbaring, karena perutnya yang besar sudah sangat mengganjal dan membuatnya kesulitan jika harus berjongkok dan membantu suaminya memakainya dalam posisi berdiri.


"Terima kasih, Sayang," ucap Ryan sekali lagi.


"Sama-sama, Hubby," sahut Rani sambil tersenyum manis kepada sang suami.


Begitu Ryan sudah rapi dan kembali mengistirahatkan diri, Rani pun segera mengenakan pakaiannya kembali.


"Sayang, temenin Hubby," Ryan yang melihat Rani sudah rapi, terus memandanginya dengan keterpesonaan yang tak pernah berubah sejak cinta itu tumbuh dalam hatinya.


Rani tak menolak. Sejak dia hamil, memang Rani selalu ingin berdekatan dengan sang suami. Makanya, Rani menanggapi permintaan Ryan dengan senang hati.


"Sini, peluk Hubby," Ryan merentangkan kedua tangannya, sambil bersandar di kepala ranjang yang membuatnya dalam posisi nyaman.


Rani pun langsung naik ke tempat tidur dan menghambur ke pelukan Ryan. Hingga tiba-tiba, matanya berkaca-kaca dan mulai tak bisa menahan bulir bening yang terus menggenang di ujung matanya.


"Lho. Lho. Lho. Apa ini? Kok tiba-tiba nangis?" Ryan yang menyadari ada air mata yang menetes di pipi istrinya, menatap Rani dengan pandangan tak mengerti.


"Rani bersyukur, masih bisa Hubby peluk seperti ini. Rani benar-benar takut, saat Rani bermimpi Hubby pergi meninggalkan Rani tanpa menunggu putra kita lahir ke dunia ini," Rani semakin terisak.

__ADS_1


"Jangan nangis, Yang. Hubby mohon. Hubby selalu tak tahan jika air mata kamu keluar. Kita sama-sama berdo'a ya, agar Allah selalu memberikan rahmatNya dan memberi kesempatan kepada kita berdua untuk bisa menua bersama," tutur Ryan lembut, sambil mengabsen setiap inchi wajah Rani tanpa ada yang terlewati.


BERSAMBUNG


__ADS_2