
Hawa dingin menyapu tubuh Rani begitu saja, walaupun selimut tebal sudah menutupi tubuh Rani hingga sampai ke bagian lehernya. Kini dia tidur di sebuah ranjang khusus penunggu pasien, sementara Ryan masih terkulai lemas di ranjang pesakitan yang terletak tak jauh dari Rani berada.
Hingga hampir tengah malam, Rani masih membolak-balikkan tubuhnya, mencoba mencari posisi ternyamannya.
"Ahhh," Rani mendesah kasar.
Perutnya kini benar-benar sudah membola. Di usia kandungannya yang telah jalan delapan bulan, hanya untuk sekedar tidur saja menjadi pekerjaan yang betul-betul sangat sulit dilakukan. Bukan hanya posisi nyaman yang susah di dapatkan, gerakannya yang biasanya lincah pun kini sudah mulai melamban.
"Kenapa di saat-saat seperti ini cobaan justru datang silih berganti?" gumam Rani dalam hati.
Matanya sudah berkaca-kaca, bahkan dia mulai frustasi karena tidak juga bisa nyaman dengan posisi tidurnya, hingga lebih memilih bangun dan duduk di sofa. Tapi baru saja Rani menghempaskan tubuhnya di atas sofa, tiba-tiba Ryan memanggilnya.
"Sayang!" panggil Ryan lirih.
"Kok Hubby nggak tidur?" Rani beranjak dari duduknya dan menghampiri Ryan, kemudian duduk di samping ranjang.
"Bagaimana Hubby bisa tidur, kalau istri Hubby untuk tidur aja sulit. Kamu nggak nyaman ya, Sayang, dengan perut segedhe itu?" Ryan mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Maaf, Hubby jadi terganggu ya? Sejak perut Rani mulai membesar, Rani memang jadi sulit sekali tidur karena susah mendapatkan posisi ternyaman," sahut Rani merasa nggak enak.
"Kenapa minta maaf? Justru Hubby yang harusnya minta maaf. Selama ini Hubby selalu tidur pulas, sementara istri Hubby harus bersusah payah hanya untuk sekedar tidur, karena sedang mengandung anak Hubby," Ryan sungguh merasa bersalah.
"He-he-he. Nggak papa, By. Ini adalah bagian dari perjuangan seorang perempuan, By. Alhamdulillah, Rani sangat bersyukur bisa merasakan hal menakjubkan ini. Makanya, setiap prosesnya akan Rani nikmati, hingga satu setengah bulan lagi, kita akan benar-benar menjadi seorang Mommy dan Daddy," Rani menanggapi ucapan Ryan dengan begitu santainya. Dia terkekeh begitu lepas, seolah semua yang dia rasakan selama kehamilannya bukanlah sebuah beban tapi sebuah kenikmatan.
"Terima kasih, Sayang," lirih Ryan. Bahkan kini matanya sudah menggenang.
"Untuk?" Rani mengerutkan dahinya.
"Untuk semua yang telah kau korbankan. Kau sudah begitu ikhlas menjadi istri Hubby dan ibu dari putra yang sedang kau kandung ini. Terima kasih juga karena telah menjadi istri yang setia dan sabar, walau dalam perjalanan kita banyak sekali ujian dan cobaan yang datang," Ryan menggenggam tangan Rani dengan erat.
"Terima kasih juga, Hubby. Telah membuat Rani merasa menjadi wanita yang paling Hubby cintai di dunia ini," ucap Rani sambil membalas genggaman tangan suaminya.
"Sekarang, tidurlah di sebelah Hubby. Ranjang pesakitan ini rasanya cukup lebar untuk kita berdua tidur malam ini," Ryan tersenyum nakal.
"Tempat tidurnya sempit, By. Mana cukup untuk menampung Rani yang perutnya sudah sebesar ini. Apalagi perut Hubby kan masih sakit. Jadi ...,"
"Hubby tidak akan melakukan apa-apa, Sayang. Untuk satu aktifitas itu, ranjang ini memang terlalu sempit. Tapi hanya untuk sekedar tidur, cukuplah. Lagian Hubby juga tidak suka main di tempat yang sempit. Cukup punyamu yang sempit aja yang Hubby suka. Ha-ha-ha-ha," Ryan tertawa lepas, sambil menahan rasa nyeri di bagian perutnya.
"Huh, udah sakit, masih aja mesum," Rani mengerucutkan bibirnya dan mencoba beranjak dari duduknya.
"Sayang, mau kemana?" Ryan kembali meraih tangan istrinya.
"Tidur," sahut Rani sambil melepaskan tangan Ryan.
__ADS_1
"Hey, kamu benar tak mau tidur sama Hubby?" Ryan menaikkan kedua alisnya.
"Mana Rani bisa tidur, kalau di sebelah Rani ada suami mesum kayak Hubby,"
Mendengar perkataan istrinya, Ryan hanya terkekeh dan memandang Rani yang sudah mulai merapatkan selimutnya lagi di atas ranjang khusus penunggu pasien, dengan tatapan penuh cinta.
"Have a nice dream, Honey. I love you," ucap Ryan lembut.
"I love you too, my lovely husband," sahut Rani sambil memejamkan matanya.
***
Daniel terus melingkarkan tangannya ke pinggang Naja selama perjalanan dari rumah sakit ke hotel Green Canyon yang berada di satu area dengan wisata alam yang mereka kelola.
Provokasi Ryan kepadanya untuk segera memproduksi bayi yang tadi didengarnya, kini membuat pikirannya tak bisa lepas dari Naja dan apa yang akan mereka lakukan setelah mereka sampai pada peraduan mereka.
"Tidakkah kau bisa menyetir lebih cepat lagi, Jo? Jika memang tak bisa, mulai besok kau harus carikan supir khusus untukku," gumam Daniel, tak sabar.
"Sebentar lagi kita sampai, Tuan," Johan yang begitu paham dengan apa yang sedang diingini tuannya sekarang karena sempat menangkap ucapan Ryan pun menekan pedal gas mobilnya lebih dalam, untuk menambah kecepatan.
Naja yang tahu dengan maksud suaminya itu hanya menghela nafas kasar, menghadapi kelakuan suaminya yang semakin menggila. Bahkan dari arah pinggang, tangan Daniel sudah bergerilya dan tak bisa dikondisikan karena tak mampu menahan hasratnya.
"Sayang, jangan begini. Ada Johan di depan kita," bisik Naja, sambil menahan tangan suaminya yang sudah bergerak kemana-mana.
"Kita sudah sampai, Tuan," ucap Johan sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
"Kau harus belajar menyetir lebih cepat lagi, Jo, atau aku benar-benar akan menyuruhmu mencari supir untukku," ucap Daniel sambil membantu Naja turun dari mobil, kemudian berjalan dengan tetap menggenggam tangan istrinya.
Johan yang sangat paham dengan sikap tuannya itu pun tak menanggapi apapun perkataan Daniel. Dia justru memberi isyarat pada salah seorang petugas hotel untuk segera mengantar Daniel dan Naja ke kamar mereka, agar Daniel tak semakin marah dengan kerja mereka yang dianggap sangat lama, hanya gara-gara Si Tuan Besar tak bisa segera menyalurkan keinginannya.
"Sayang, kamu ini kenapa sih, marah-marah nggak jelas seperti itu?" bisik Naja saat mereka berdua, dengan seorang pelayan hotel berada di dalam lift.
Daniel sama sekali tak menjawab pertanyaan Naja. Dia justru melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, membuat tak ada jarak lagi di antara tubuh keduanya. Bahkan nafas Daniel sudah memburu, dan terasa sangat panas di leher Naja.
Makanya begitu pintu lift terbuka dan petugas hotel itu mengantarkan mereka memasuki kamar mereka, Daniel langsung menutup pintu dan menarik tubuh Naja dalam dekapannya. Sedetik kemudian, Daniel mengambil gerakan memutar dan membuat tubuh istrinya bersandar pada dinding kamar.
"Sayang, setidaknya izinkan aku membersihkan tubuhku dulu. Aku belum sempat membersihkan diriku selapas perjalanan jauhku tadi," ucap Naja sambil menatap Daniel yang sedang menatapnya begitu intens.
Daniel tak menghiraukan rengekan istrinya. Dia justru menempelkan tubuh depannya ke bagian depan Naja, dan meletakkan dua telapak tangannya di samping telinga kanan dan kiri Naja dengan posisi menempel ke dinding.
"Aku rindu keringatmu," ucapan Daniel membuat Naja bergidik ngeri. Pikirannya sudah traveling bagaimana buasnya suaminya beberapa saat lagi, dan entah berapa lama mereka akan mengakhiri aktifitas panjang mereka malam ini.
Dan ternyata benar. Setelah mengucapkan kata itu, Daniel langsung memangsa Naja dengan begitu buasnya. Dia terus melahap bibir ranum milik istrinya tanpa ada kesempatan bagi Naja untuk berkata apapun kepadanya. Helaian benang yang menutupi tubuh polos mereka pun sudah Daniel hempaskan dan terserak kemana-mana, tak ada satu pun yang tersisa.
__ADS_1
Puas bermain di sana, Danil pun mengangkat tubuh Naja hingga tangan istrinya melingkar di lehernya, dan kakinya melingkar di bagian pinggangnya. Dalam posisi seperti itu, Daniel berjalan tanpa melepaskan pagutan bibirnya, sebelum akhirnya mendaratkan tubuh istrinya di sebuah meja bundar yang terletak tak jauh dari ranjang tempat mereka akan melakukan pelepasan pada akhirnya.
Kini, berbagai atraksi mereka lakukan di atas meja itu. Menimbulkan sensasi yang berbeda memang. Dan mereka sangat menikmati permainan itu. Setiap inchi bagian tubuh istrinya, Daniel nikmati tanpa ada yang terlewat sedikitpun, membuat alunan nada yang keluar dari mulut mereka akan terasa ngeri jika saja ada yang mendengarnya.
Puas menggelar atraksi di atas meja bundar, Daniel kembali mengangkat tubuh Naja dengan gaya yang masih sama. Tangan Daniel di pinggang Naja tanpa melepaskan bibir yang saling berpautan, begitupun dengan tangan dan kaki Naja yang tetap melingkar dengan manis di leher dan pinggang suaminya.
Dan di sinilah mereka sekarang. Di tempat peraduan yang sangat lebar, sebuah kasur empuk king size yang mendukung mereka untuk melakukan aktifitas ranjang dalam waktu yang sangat panjang. Bahkan sampai tak terhitung berapa kali lenguhan dan desahan yang keluar dari mulut dua anak manusia yang sedang beradu kemesraan itu, yang jelas mereka melakukannya dengan penuh kenikmatan.
"Sayang," suara Naja sangat parau.
"Lepaskan, Sayang," Daniel menjawab tanpa berhenti dengan aktifitas senjata pusaka di bawah sana.
"Aaaugt," sebuah lenguhan panjang keluar dari mulut Naja, seiring dengan tubuhnya yang kian mengejang.
Rupanya Naja sudah merasakan pelepasan pertamanya, tapi Daniel masih bertahan dengan keperkasaannya. Hingga setelah membiarkan Naja istirahat sebentar, dia pun kembali melakukan dorongan dan tarikan seiring dengan nafas mereka yang kian tersengal.
"Sayang, aku mau keluar lagi," dengan nafas tersengal, Naja kembali bersuara.
"Sebentar lagi, Sayang. Tunggu aku sebentar," Daniel semakin mempercepat aksinya, hingga beberapa saat kemudian, sebuah lenguhan panjang keluar dari mulut mereka secara bersamaan.
"Terima kasih, Kesayanganku," sebuah kecupan hangat mendarat di kening Naja setelah pelepasan mereka, hingga akhirnya tubuh kekar Daniel tumbang begitu saja di samping tubuh istrinya.
Naja tak berkata apa-apa. Hanya sebuah senyuman yang tersungging di bibirnya, namun mampu menggambarkan bahwa dia bahagia dengan apa yang baru saja dilakukan Daniel kepadanya.
Sesaat, Daniel mengatur kembali nafasnya, sebelum akhirnya bangkit dan meraih tisu di atas nakas yang terletak di samping tempat tidurnya. Setelah beberapa lembar tisu itu dia tarik, dia segera membersihkan sisa-sisa cairan yang berceceran di bagian bawah tubuh istrinya, kemudian membersihkan cairan pada pusakanya sendiri. Setelah milik keduanya bersih, Daniel membersihkan beberapa bagian ranjang yang terkena cairan itu, lalu menarik selembar selimut dan menutupi tubuh polos istrinya hingga di atas dada.
"Tidurlah!" ucap Daniel, sembari ikut masuk ke dalam selimut itu.
"Peluk ...," rengek Naja sambil memiringkan tubuhnya ke arah suaminya.
"Tentu saja aku akan memelukmu," sahut Daniel sambil memeluk tubuh Naja, hingga tubuh mereka kembali bersatu tanpa ada lagi jarak di antara mereka.
"Ha-ha-ha-ha," tiba-tiba Daniel terkekeh, membuat Naja mengerutkan dahinya karena bingung dengan tingkah suaminya yang tertawa tanpa sebab yang jelas.
"Apa yang membuatmu tertawa?" tanya Naja penasaran.
"Aku tak bisa seperti ini, Sayang. Kau yang memintaku untuk memelukmu dalam kondisi begini, jadi jangan salahkan aku jika aku ingin memulainya lagi," ucap Daniel, yang seketika itu juga sudah membuat Naja berada di bawah kungkungannya.
"Aaaaaa ..., kenapa aku lupa kalau dia itu tak pernah ada puasnya," teriak Naja dalam hati.
"He-he-he," Daniel kembali terkekeh, sambil mengulang atraksinya lagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1