
“Sayang,” Ryan kembali memanggil Rani, kekasih halalnya yang kini terkulai lemah di ranjang pasien ruang serba putih itu.
Namun, gadis itu terus membuang pandangannya ke segala arah. Sakit, itu yang masih dia rasakan. Bukan sakit secara fisik, tapi sakit tak berdarah karena luka di hatinya yang kian menganga, mengingat tuduhan suaminya yang sangat buruk menurutnya. Perih, rasa itu kini bercampur dengan kekecewaan yang terus mengadu di dalam jiwanya. Tangisnya pun akhirnya tak tertahan, hingga meluap dan pecah seketika.
“Sayang, Mas mohon jangan seperti ini. Maafkan Mas, Sayang. Mas memang salah. Harusnya Mas mendengarkan penjelasanmu dulu. Tapi ..., ahh Mas benar-benar cemburu,” tutur Ryan lirih, kini dia meraih tangan istrinya yang terlihat pucat itu, kemudian mengangkatnya dan mengecupnya berkali-kali.
Rani masih memilih untuk bungkam. Kata-kata manis suaminya seolah tak lagi bisa mengobati luka yang dia toreh dalam hatinya yang terdalam. Bagaimana tidak? Tuduhan yang menurut Rani sangat merendahkan dirinya harus rela Rani telan tanpa ada satu penjelasan pun yang mau suaminya dengarkan.
“Hukum Mas jika itu bisa membuatmu memaafkanku. Pukul Mas jika perlu. Mas memang bodoh tidak bisa menghargai mutiara seperti dirimu. Tapi percayalah, Sayang. Semuanya tidak bisa Mas kendalikan. Mas terlalu mencintaimu hingga malam itu Mas benar-benar cemburu,” cicit Ryan, berusaha meyakinkan istrinya yang masih juga diam membisu.
Ya, mulut itu masih saja terkunci rapat-rapat. Wajahnya terlihat datar, seolah tidak mendengar kata-kata yang Ryan ucapkan.
“Ketika melihat kalian berdua semalam, Mas pikir semua yang mereka katakan tentang kalian benar,” lirih Ryan.
“Apalagi Mas pernah membuka chatt kalian. Mas benar-benar tidak rela ada laki-laki lain yang begitu memperhatikanmu. Bahkan dalam foto pun kalian selalu berdekatan. Bukankah wajar jika Masmu ini merasa tidak nyaman?” Ryan merenggangkan genggaman tangannya, kemudian bersandar pada kursi di samping ranjang pasien dan mengusap wajahnya dengan kasar.
Rani memandang Ryan dengan tatapan tajam.
“Setidakpercaya itukah Mas Ryan kepada Rani sampai membuka handphone Rani tanpa izin?” selidik Rani, gurat kecewa terlihat jelas dari ekspresi wajahnya.
“Mas tidak sengaja, Sayang,” Ryan kembali menggenggam tangan istrinya.
“Bagaimana caranya membuka pesan Rani dengan tidak sengaja?” seru Rani, meluapkan kekesalan yang semakin berkecamuk di dadanya.
“Maaf, itu Mas lakukan sebelum kita menjadi suami istri yang sebenarnya,” aku Ryan sambil membalas tatapan Rani.
“Hah? Maksud Mas apa?” ekspresi wajah Rani semakin tidak bisa diartikan.
__ADS_1
“Malam sebelum kau pergi ke Bali di awal pernikahan kita dulu, handphone-mu terus berbunyi. Jadi Mas meraihnya agar tidak mengganggu tidurmu. Karena Mas melihat nama di chatt teratas itu Hengky, jadi Mas membacanya,” Ryan berhenti sejenak, mengambil nafas panjang. Rasanya sungguh sangat tidak enak mendapatkan tatapan tidak suka dari istrinya itu. Bahkan, ingin sekali Ryan memeluk Rani saat itu juga mengingat kerinduannya karena tidak bertemu semalaman sudah tidak lagi bisa dia tahan. Namun, melihat ekspresi yang ditunjukkan bidadari yang kini menatap tajam ke arahnya, membuat Ryan hanya bisa menelan salivanya.
“Terus?” ketus Rani.
“Suami mana yang rela ada laki-laki lain mengirim pesan seperhatian itu pada istrinya? Akhirnya Mas terus scrool ke atas pesan demi pesan yang saling kalian kirimkan. Kamu pikir Mas tidak cemburu, mengetahui sedekat apa kalian selama ini? Yang olah raga barenglah. Yang minta dibelikan juice-lah. Yang tanya udah makan atau belumlah. Justru seharusnya kamu mempertanyakan kesungguhan cinta Mas jika Mas tidak cemburu,” jelas Ryan, meluapkan segala rasa yang selama ini dia sembunyikan.
“Makanya waktu itu Mas mengajukan syarat. Jika kamu tetap mau pergi, harus menghubungi Mas setiap dua jam sekali. Kamu ingat?” lanjut Ryan.
“Astaga. Jadi karena itu, Mas Ryan marah-marah tidak jelas sebelum keberangkatanku?” gumam Rani dalam hati.
“Kamu pikir, tiga hari melepaskanmu bersama laki-laki itu, Mas bisa tidur dengan tenang begitu? Mas sama sekali tidak bisa tidur, hingga akhirnya mas menyusul kamu dan membuatmu menjadi istri Mas yang sebenarnya malam itu juga,” cicit Ryan semakin lirih.
“Huh, semua laki-laki egois. Kenapa Mas Ryan harus cemburu waktu itu? Bukannya waktu itu Mas Ryan masih mencintai perempuan lain?” Rani kembali memalingkan muka.
“Ya Allah, Sayang. Harus berapa kali lagi Mas yakinkan dirimu? Mas ini sudah mencintaimu jauh sebelum Mas mengikrarkan ijab kabul itu. Dan Mas benar-benar tersadar bahwa Mas sangat mencintaimu dan takut kehilanganmu, saat Mas membaca pesan Hengky ke nomormu,” Ryan mulai frustasi, tidak tahu dengan cara apa lagi agar istri yang sangat dia cintai itu akan percaya dan kembali bersikap manis lagi.
“Demi Allah, Mas bersumpah, Sayang. Jika Mas berbohong, Mas rela ...,” Ryan menggantungkan kalimatnya.
Ryan pun meraih tangan yang menempel di bibirnya itu kemudian mengecupnya dan memasukkan tangan itu ke dalam mulutnya.
Mendapat perlakuan seperti itu, Rani langsung menarik tangannya dan membuang kembali tatapannya, demi menutupi mukanya yang sudah merah merona. Ya, selalu saja berakhir seperti itu. Mereka tak pernah bisa mempertahankan kemarahan mereka lama-lama.
“Kenapa mukamu memerah seperti itu?” melihat perubahan sikap istrinya, Ryan berinisiatif untuk mulai menggoda.
“Enggak,” ketus Rani
“Enggak salah?” Ryan beranjak dan mendekati istrinya, kemudian membaringkan diri di samping Rani di atas ranjang pasien itu. Bahkan tangan Ryan sudah tidak tahan lagi untuk segera melingkar manis di pinggang istri cantiknya.
__ADS_1
“Enggak,” Rani masih mencoba untuk bisa bertahan, meskipun dalam hatinya sudah tidak sabar untuk segera menghambur dan memeluk suaminya dengan kencang.
“Ya udah, Mas pergi saja. Dari pada dicueki istri sendiri. Lebih baik Mas cari perhatian sama yang lain,” iseng Ryan, sambil berpura-pura turun dari ranjang.
“Coba saja kalau berani. Rani pastikan Mas Ryan akan menyesal,” seru Rani, dengan nada penuh ancaman.
“Habisnya kamu cuek gitu sama suami sendiri,” timpal Ryan.
“Yang semalaman membuat Rani menunggu siapa? Bahkan Rani sakit Mas Ryan kemana? Masih untung Rani tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai Semalam Rani mati sendirian apa Mas Ryan tidak akan menyesal?” akhirnya Rani bisa meluapkan emosinya yang dia tahan semalaman.
“Hus, kamu ini jangan nglantur kemana-mana ngomongnya,” sergah Ryan.
“Biarin. Biar Mas Ryan tahu seperti apa menderitanya Rani semalam,” kekeh Rani.
“Mas kan sudah minta maaf,” Ryan mencoba melunak, dan memeluk istrinya kembali. Kali ini dia menghujani kepala istrinya itu dengan pulahan kecupan.
“Jangan minta maaf sama Rani!” lagi, Rani masih bertahan dengan nada ketusnya.
“Terus, Mas harus minta maaf sama siapa?” timpal Ryan seolah benar-benar butuh jawaban.
“Minta maaf saja sama ...,” Rani tidak melanjutkan kalimatnya.
“Sama siapa, heh? Sama siapa?” kejar Ryan.
“Sama ...,”
BERSAMBUNG
__ADS_1
💖💖💖
Pembaca yang bijak, selalu meninggalkan jejak. Tekan like, vote, comment positif dan bintang lima nya ya. Terima kasih.😊