
Ryan adalah pria yang sangat menjaga pola makannya, berbeda jauh jika dibandingkan dengan Rani yang suka makanan instan dan makanan cepat saji lainnya, termasuk jajanan keliling yang berbau pedas dan saus. Ya, Ryan lebih suka makanan sehat dan cenderung pilih-pilih untuk urusan makanan. Parahnya, dia juga memaksa orang-orang di sekelilingnya untuk mengikuti peraturan makannya, termasuk Rani. Alhasil, ada deretan makanan kesukaan Rani yang masuk dalam daftar makanan yang dilarang, termasuk cilok dengan saus dan sambalnya yang khas.
"Cari cilok di restoran saja, Sayang. Lebih bersih dan terjamin," Ryan memberi jalan tengah, agar istrinya itu tetap bisa makan cilok, tapi tetap terjamin keamanan dan kebersihannya.
"Nggak mau, Rani maunya cilok yang biasa nongkrong di ujung jalan itu, Hubby. Rasanya beda. Lebih enak beli di abang yang di sana," rengek Rani.
Mereka memang sudah sering berdebat urusan makanan, bahkan jauh sejak sebelum Rani hamil dan ngidam. Pikir Rani, kali ini akan lebih mudah memintanya dari Ryan, mengingat dia sedang hamil dan bisa meminta apapun dengan alasan ngidam. Tapi ternyata salah. Ryan akan tetap selektif dalam memilih makanan yang boleh Rani makan. Jadilah akhirnya mereka berdebat panjang.
Namun sebelum Ryan menjawab lagi rengekan Rani, tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Bahkan setelah Ryan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orang di seberang sana, ekspresi mukanya pun menjadi berubah.
"Apa?" teriak Ryan.
"Oke. Aku segera susul kalian," ucap Ryan lagi kemudian menutup ponselnya.
"Hubby mau pergi lagi? Ingat, Rani belum maafin Hubby loh soal yang tadi," Rani memasang wajah kesal.
"Iya, Sayang. Nanti Hubby ceritain. Ini darurat," Ryan langsung beranjak, mencium ujung kepala istrinya kemudian melangkahkan kakinya ke luar kamar.
"Tapi, By ...," sebelum Rani melancarkan aksi protesnya, Ryan sudah sampai di ujung pintu.
"Bye," ucapnya sambil melambaikan tangan.
Rani yang merasa diabaikan pun hanya bisa menggerutu kesal, kemudian menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas ranjang.
Sementara Ryan, begitu ke luar sudah di sambut Rudi, Daniel, dan Naja.
"Bagaimana?" tanya Ryan sambil mengerutkan dahinya.
"Perhitungan kita meleset. Mereka bisa membaca kecohan kita lebih cepat dari yang kita kira. Gerak mereka pun sangat cepat, di luar perhitungan kita," Daniel memasang muka kesalnya. Wajah mereka benar-benar terlihat lelah, mengingat sejak dari semalam mereka terjaga dan belum sedetik pun bisa mengistirahatkan tubuhnya.
"Lantas, bagaimana bisa terjadi?" tanya Ryan sambil berjalan cepat menuju ke arah mobilnya.
"Saat Johan kembali, Nina sudah tidak ada di kamarnya," Naja mulai bersuara.
__ADS_1
"Periksa CCTV," titah Ryan.
"Nyaris sempurna, Tuan. Mereka mengelabuhi kita. Kita tak melihat apa-apa di sana," lapor Naja, merasa perlu lebih mengasah kemampuan IT-nya.
"Lacak terus keberadaan Nina, Naja. Masa hal sekecil ini saja kau tak mampu melakulannya?" cibir Ryan.
"Baik, Tuan. Saya sedang usahakan," sahut Naja sambil memegang laptop dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya asyik menari-nari di atas keyboard. Sedangkan kakinya, mengikuti langkah ketiga pria yang sedang bersama dengannya itu menuju mobil yang akan membawa mereka menyusul Johan.
Setelah tiga puluh menit perjalanan pun akhirnya mereka sampai di kediaman Johan.
Dengan wajah tenangnya, Johan menyambut Ryan, Daniel, Naja dan Rudi, sementara di belakangnya ada Arsen dan Mira yang terlihat sudah sangat tegang karena hilangnya Nina.
"Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan kita, Tuan," tanpa ucapan selamat datang, Johan langsung memberi laporan.
***
Flashback
Setelah selesai bertugas di rumah Arya, Johan meninggalkan rumah itu dan pulang dengan mengendari motor Ninja ZX10-R miliknya.
Ceklek.
Johan membuka pintu dengan pelan.
"Kenapa semua gelap?" batin Johan dalam hati.
Ada rasa heran yang tiba-tiba muncul di hatinya, mendapati tak ada satu lampu pun di kamarnya yang menyala. Yang dia tahu, selama dua malam ini Johan tidur bersama Nina, Nina selalu meminta lampu tidur agar suasana kamar tidak gelap, tapi tidak juga terlalu terang.
"Apa mungkin dia bangun kemudian mematikan lampu agar tidurnya tidak terganggu?" batin Johan lagi.
"Ahh, tak masalah. Suka-suka dialah," Johan tersenyum tipis, sambil melangkahkan kakinya dalam gelap .
Dia terus menyeret kakinya ke arah ranjang, dimana istrinya masih terlelap seperti saat tengah malam tadi Johan tinggalkan.
__ADS_1
Dengan pelan, Johan duduk kemudian membaringkan tubuhnya, bersiap memeluk dan memberikan sebuah kecupan.
Namun alangkah kagetnya saat Johan meraba salah satu sisi ranjangnya, dan ternyata dia sudah tidak mendapatkan Nina berada di sana.
"Kosong. Kemana dia?" lirih Johan, yang kemudian langsung beranjak dan menyalakan lampu melalui sebuah remot control yang terletak di atas nakas samping tempat tidurnya.
Dalam sekejap pun lampu menyala. Dan dilihat dari sudut manapun, Nina sama sekali tak ada di sana.
Johan mencoba untuk mencari istrinya ke kamar mandi, hasilnya nihil. Nina tidak ada di mana-mana.
Dengan sedikit berlari, Johan memeriksa seluruh ruang di rumah itu, tapi lagi-lagi tak membuahkan hasil. Bahkan kini semua pelayan dan pengawal di rumah itu pun sudah sibuk mencari keberadaan Nina, tapi lagi lagi mereka harus rela mengakhiri tugas mereka dengan tangan kosong.
"Tak kukira mereka akan bergerak secepat ini," gumam Johan dalam hati, masih dengan mengaktifkan mode tenang, meski hatinya sudah sangat geram.
***
Di waktu yang sama di tempat yang berbeda, Charles masih setia duduk di hadapan Tuan Atmaja.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?" Charles sudah terlihat tak sabar untuk segera mengeksekusi rencana balas dendamnya.
"Kita jalankan rencana kedua," jawab Atmaja dengan mantap. Bayangan putrinya yang saat ini masih terbaring dalam keadaan koma, terus menari-nari di benaknya, hingga membuat rasa sakit di hatinya kembali merajai jiwanya.
"Baiklah, kalau begitu kita harus eksekusi pancingan kedua saat ini juga, sebelum Johan sampai ke rumahnya," sahut Charles, sambil mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, dan memberikan instruksi kepada beberapa anak buah yang sudah mereka siapkan untuk berada di sekitar kediaman Johan. Seorang pengawal yang di pasang di rumah Arya pun sudah Johan minta menyingkir dari kandang musuh dan bergabung dengan anak buah Charles yang lain.
Dan dalam hitungan menit, anak buah Charles berhasil meretas CCTV di rumah Johan, sebelum akhirnya menculik Nina dengan cara memanjat pagar belakang dan masuk melalui balkon kamar. Setelah memberikan obat bius di mulut Nina, dengan mudah pun mereka bisa segera menyelesaikan misinya.
"Target sudah berada di tangan kita, Tuan," lapor salah seorang dari mereka, yang membuat Charles menyunggingkan senyum sinisnya.
End Of Flashback
***
Di kediaman Johan, Naja tampak masih sibuk dengan layar laptopnya sementara Daniel, Ryan dan Rudi mencoba masuk ke kamar Nina untuk mencari sesuatu.
__ADS_1
"Apa kau sempat memasang alat pelacak di tubuh istrimu itu, Jo?"
BERSAMBUNG