
Di ruang serba putih itulah sekarang Naja bersimpuh. Meratapi sesal yang membeku dan menangisi semua kesakitan yang menderu, berharap tak ada yang terlambat untuk mendapatkan kata maaf.
Sungguh, Naja takut kisah cintanya hanya akan menjadi debu kering, yang beterbangan ditiup angin. Bahkan kini ketakutannya semakin menjadi, saat berpikir bahwa cinta itu tak akan bisa hinggap lagi di hati pria yang sungguh akan selalu dia cintai. Sesal, hanya itu yang dia rasa saat ini. Salahkah jika dia ingin menjadi kekasih takdir yang happy ending?
Suara jarum jam yang berdetak pun seolah menikam detik demi detik waktu di ruang perawatan itu. Bayangan kelam di hati Naja, menambah hancur keberaniannya untuk bisa menatap jiwa-jiwa yang kini berada di hadapannya.
“Masih adakah kesempatan?” tanya Naja dalam hati.
Jika saja waktu dapat terulang dan kembali, tentu Naja akan meminta. Semoga Allah sudi mendengar satu saja permintaannya, agar dia dapat kembali bersatu merajut asa bersama pria yang dia cinta.
"Ahhh," Naja mendesah sendu.
Naja masih saja bersimpuh di tempatnya tanpa berani mendekati pria yang teramat sangat dicintainya itu. Sungguh, ingin sekali dia mendekat dan menghambur dalam pelukan suaminya, tapi dia hanya mampu menelan salivanya. Biar bagaimanapun, dia tetap harus mempertanggungjawabkan semua yang telah dia perbuat. Dia benar-benar sudah merasa gagal. Bukan hanya gagal sebagai seorang agen, tapi juga gagal sebagai seorang anak, sebagai seorang kakak, lebih-lebih sebagai seorang istri.
"Naja! Dimana Naja, Mom? Dia begitu marah karena aku tak memberitahukan keberadaan ibu dan adiknya, bahkan dia mengira bahwa aku sengaja menyekapnya. Dia harus mendengarkan penjelasanku," ucap Daniel sendu.
"Dia ada di sini, Nak," sahut Aghata sambil mengelus bahu Daniel dengan sayang.
"Sayang, kemarilah! Kenapa kau diam saja? Apakah kau benar-benar marah kepadaku? Aku bisa jelaskan semuanya. Dengarkan aku dulu," cicit Daniel sambil menoleh ke sembarang arah, seolah mencari keberadaan Naja. Dia sungguh tidak menyadari bahwa Naja sudah tahu semuanya dan kini sedang berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Selesaikan masalah kalian baik-baik. Ingat, kali ini kami memaafkanmu, bukan karena membenarkan semua yang sudah kau lakukan, tapi karena kami memberi kau satu lagi kesempatan. Buktikan ketulusan cintamu, dalam janji setia yang pernah kau ucapkan," oceh Ryan sambil meraih tangan Rani dan meninggalkan ruang perawatan itu. Aghata dan Arsen pun melakukan hal yang sama, hingga kini hanya ada mereka berdua.
"Sayang!" panggil Daniel sambil meraba kasur di sekitarnya.
Melihat itu, Naja benar-benar sudah tidak tahan. Dia langsung beranjak dan menghambur ke arah suaminya. Dia memeluk dan menciumi kaki suaminya, dengan isak tangis yang kian menggema, memenuhi seluruh penjuru ruang dimana mereka berada.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Daniel sambil meraba ke arah kakinya, dan segera mengelus kepala istrinya begitu tangannya menangkap pucuk kepala Naja yang masih tergugu di sana.
"Ampuni aku, Sayang. Ampuni istrimu yang sungguh tak tahu diri ini. Hukumlah aku sebanyak yang kau mau, asal kau mau memaafkan sekali lagi kesalahanku," tutur Naja pilu. Air matanya benar-benar tumpah.
“Aku sungguh menyesal karena telah berprasangka buruk kepadamu, Sayang. Aku betul-betul tak tahu diri hingga tak bisa berterima kasih atas kebaikanmu kepada ibu dan adikku. Aku sungguh berdosa kepadamu, Sayang. Bahkan karena ego dan kebodohanku, aku telah membuat kau terluka. Aku benar-benar tak akan memaafkan diriku sendiri jika hal buruk terjadi padamu,” lanjut Naja tanpa memberi kesempatan kepada Daniel untuk menanggapi ucapannya.
“Kau boleh menghukumku apa saja, Sayang. Tapi kumohon, jangan benci aku. Beri aku sekali lagi kesempatan untuk membuktikan cinta dan kesetiaanku padamu. Karena itu, hukumlah aku, Sayang. Hukumlah aku!” Naja meraih tangan Daniel dan memukul-mukulkan tangan suaminya itu ke pipinya.
“Sayang, apa yang kau lakukan? Hentikan, Sayang! Hentikan," seru Daniel sambil menarik tangannya dari pipi Naja.
"Aku pantas mendapatkannya, Sayang. Hukumlah aku," tangis Naja semakin pecah, sambil meraih tangan Daniel lagi dan mengulangi hal yang sama. Dia terus berusaha membuat tangan suaminya itu menampar-nampar pipinya sesuai dengan irama yang tangannya buat sendiri.
"Sayang, Stop!" teriak Daniel, yang lebih terdengar seperti bentakan.
__ADS_1
Mendengar Daniel berteriak sekencang itu, Naja terdiam seketika. Dia mengangkat wajahnya dan memandang suaminya dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan kata-kata. Hanya bulir-bulir bening saja yang masih terus meleleh tanpa bisa dibendung, bahkan kini justru mengalir semakin deras.
"Kemarilah," setelah Naja terdiam, Daniel melembutkan suaranya. Bahkan dia merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat bahwa dia ingin sekali memeluk istrinya.
Tanpa berpikir panjang, Naja pun langsung menghambur ke pelukan suaminya. Dia menangis sejadi-jadinya, dengan air mata penyesalan yang luar biasa.
"Maafkan aku, maafkan istrimu yang tidak tahu diri ini. Maafkan aku yang tak tahu balas budi ini. Maafkan aku yang telah berdosa padamu, dan menjadi istri durhaka karena berprasangka sangat buruk pada suamiku sendiri," cicit Naja ditengah tangisnya yang pecah.
"Sssttt. Aku juga minta maaf, Sayang. Tidak seharusnya aku menyembunyikan keberadaan ibu dan Indra darimu, walau itu atas permintaan ibu. Kau tentu sangat mengkhawatirkan dan menyayangi mereka bukan?" sahut Daniel sambil menghujani ujung kepala Naja dengan ciuman bertubi-tubi.
"Tapi tetap saja aku sudah melanggar sumpah setiaku. Seharusnya apapun yang kamu lakukan aku tidak boleh berbuat seperti itu," Naja mengeratkan pelukannya.
"Baiklah, kita berdua sama-sama salah. Oke? Sekarang, hapus air matamu, dan berjanjilah satu hal padaku," tutur Daniel penuh penekanan.
"Jangan pernah pergi meninggalkan aku lagi," lanjutnya parau.
"Tidak akan, Sayang. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu menjadi mata untukmu, agar kau tetap bisa menikmati indahnya dunia yang penuh warna. Aku akan selalu menjadi jalan buatmu, tempat bagi kakimu menuju bahagia. Aku akan selalu menjadi cakrawala saat fajar dan senja datang, agar kau mampu menerjemahkan jingga yang indah di atas sana. Aku akan menjadi degup jantungmu, Sayang. Seperti kau yang sudah menjadi separuh nafasku," ucap Naja lembut, sambil merenggangkan pelukannya. Kini tangan Naja mengapit kedua pipi suaminya, dan sedetik kemudian sebuah ciuman mendarat di kening, mata, pipi dan berakhir di bibir Daniel, hingga akhirnya mereka larut dalam lembah asmara yang metonta-ronta ingin segera melampiaskan hasratnya.
Semua orang yang menunggu di luar ruang perawatan pun akhirnya pulang, melihat kondisi Daniel dan takdir cintanya yang sesuai asa. Hanya Johan dan beberapa anak buahnya saja yang tetap berjaga di luar, membiarkan dua majikannya melepas kerinduan mereka di dalam sana.
__ADS_1
BERSAMBUNG