
Nuansa malam itu masih penuh misteri dalam hati Rani. Meski bulan masih terlihat indah menggantung di cakrawala, namun rasa sepi tak enggan menyelimuti separuh nyawanya. Rani memandang ke atas melalui kaca jendela mobil yang dinaikinya. Isyarat-isyarat cahaya yang memijar tetap saja menjelma gema yang menggumpal seiring dengan sang malam yang kian larut.
"Kita istirahat di hotel dulu ya, Sayang? Sudah melewati tengah malam. Lena pasti terganggu jika kita memaksa jenguk dia sekarang juga," ucap Ryan sambil mengusap ujung kepala Rani dengan lembut.
Kini mobil mereka sudah berhenti di depan lobby hotel yang akan mereka tempati selama di ibu kota. Ryan sengaja tidak meminta persetujuan Rani terlebih dahulu, karena jika ada tawaran, pasti istrinya itu akan memilih langsung ke rumah sakit.
Rani hanya mengangguk pelan, mengikuti setiap perkataan suaminya. Setelah semua yang terjadi, kini dia harus belajar untuk tidak egois dan menuntut semua harus mengikuti kemauannya.
"Istri sholehah," gumam Ryan sambil mengecup kening istrinya, yang malam ini berubah menjadi sangat penurut itu.
Mendengar ucapan suaminya, Rani hanya mengerucutkan bibirnya sambil keluar mobil menuju lobby utama. Ryan hanya tersenyum manis melihat tingkah istrinya, kemudian mengikutinya masuk begitu saja.
Setelah mereka mendapat kunci kamar, mereka pun istirahat hingga pagi datang.
***
Saat perih di bahunya mulai terasa, barisan ketegaran di hati Lena mulai rapuh. Mungkin selama ini dia bisa sekuat baja yang tak berkarat, dengan keikhlasan hati seluas langit yang membentang dalam menjalani hidup yang terus melompat dari satu jurang ke lain jurang. Namun bukankah langit juga menangis dengan menurunkan hujan?
Malam itu pertahanan Lena runtuh. Bulir bening di pipinya terus mengalir seiring dengan isakan tangis yang memecah keheningan malam.
"Apa ada yang sakit?" tiba-tiba suara Arya membuyarkan suana hati Lena yang sedang tak beraturan.
Lena hanya menggeleng pelan, sambil mengalihkan pandangan dari pria yang telah menjadi penolongnya di hari itu. Bahkan setelah dokter berhasil mengambil peluru yang bersarang di bahunya, pria itu dengan setia duduk disamping tempat tidurnya, karena sofa panjang yang ada di ruang itu di tempati Nina.
"Apa kau rindu orang tuamu?" cecar Arya lagi.
Lena hanya mengangguk, air pancuran di sela pipinya pun semakin deras mengalir.
"Beri tau aku dimana mereka. Akan kubawakan mereka untukmu," tutur Arya kemudian.
__ADS_1
"Aku tidak tahu mereka dimana. Bahkan aku belum pernah melihat mereka," jawab Lena sendu.
"Apakah kau punya sanak saudara yang ingin kau temui?"
"Aku hanya punya Rani dan keluarganya,"
"Tenanglah. Nonaku sudah berada di kota ini. Besok pagi-pagi dia akan menemuimu,"
Mendengar ucapan Arya, ada binar di mata Lena. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rani, sahabat sekaligus malaikat penolongnya itu.
Ingatan Lena tiba-tiba kembali pada pertemuannya dengan Rani 15 tahun yang lalu. Waktu itu mereka baru berumur 8 tahun.
Rani yang mengikuti kedua orang tuanya berkunjung ke panti asuhan, dengan semangat membagi-bagikan mainan kepada seluruh anak-anak penghuni panti. Namun ada satu anak perempuan yang tidak kebagian mainan, anak itu adalah Lena.
Melihat Lena yang duduk di pojok ruang dengan air mata yang berlinang, Rani merengek kepada orang tuanya yang kebetulan adalah donatur tetap di panti asuhan tempat Lena ditinggalkan orang tuanya sejak dia baru lahir ke dunia. Rani terus meminta agar Lena di ajak main ke rumahnya agar bisa memilih mainan milik Rani sepuasnya.
Dari situlah ikatan diantara mereka terjalin, hingga sebuah obrolan di antara mereka pun terekam di hati kedua orang tua Rani.
"Aku mau jadi pengacara yang hebat, biar bisa membela orang yang lemah," kata Lena mantab.
"Walaupun itu tidak mungkin, karena tidak ada orang tua asuh yang mau memungutku sampai sekarang," lanjut Lena lirih.
Rani yang waktu itu mendengar penuturan Lena tidak begitu mengerti. Namun Mama Davina yang mendengar percakapan mereka segera menghampiri Lena dan memeluknya.
"Kamu akan jadi pengacara terhandal di negeri ini, Sayang. Tante janji," tutur Mama Davina sambil membelai rambut Lena dengan lembut.
Sebenarnya ketika itu Mama Davina ingin mengajak Lena tinggal di rumahnya. Namun karena Lena menolak dengan alasan ingin membantu di panti hingga dia besar, akhirnya Mama Davina hanya menanggung pendidikan dan hidup Lena sampai betul-betul menjadi pengacara, sementara Lena tetap tinggal di panti hingga dia lulus SMA.
Dan kenangan itu terus saja menari di benak Lena hingga dia terlelap.
__ADS_1
***
Pagi itu, matahari mulai menampakkan cahaya lembut berkilauan, menyapa setiap insan yang memulai aktivitas kehidupan. Kristal yang terpancar dari balik jendela rumah sakit pun menyilaukan mata Lena yang terpejam tenang setelah aktivitas shubuh yang sempat dia lakukan.
"Lena! Kau sudah bangun? Apakah ada yang sakit? Mana yang sakit, Sayang?" suara Rani begitu mengganggu setiap telinga yang mendengarnya, begitu menyadari bahwa sahabatnya itu sudah terbangun dari tidurnya. Bahkan, kini cairan bening itu sudah lolos begitu saja dari ujung matanya.
"Kenapa kamu menangis? Aku sudah sembuh. Sudah tidak ada yang sakit lagi," jawab Lena berbohong.
"Benarkah?" tanya Rani penuh selidik.
Lena hanya mengangguk pelan, sambil tersenyum lega karena bertemu dengan orang yang paling dia rindukan.
"Baguslah kalau begitu. Kamu harus segera pulang. Mama Davina sudah menyiapkan pernikahanmu," ucap Rani tanpa beban.
"Apa? Bercandanya jangan kelewatan gitu dong," protes Lena lirih.
"Setelah semua yang terjadi, Mama mau kamu menikah. Biar ada yang menjagamu. Seperti yang Mama lakukan kepadaku. Dan kamu lihat kan? Sekarang ada Mas Ryan yang menjagaku?" tutur Rani, sambil tersenyum manis ke arah suaminya yang kini sedang duduk di sofa bersama Arya.
"Memang ada yang mau menikah dengan gadis sebatang kara seperti aku? Bahkan aku tidak tahu siapa waliku, siapa orang tuaku, dan siapa keluargaku. Aku hanya punya kamu dan Mama Davina sekarang," keluh Lena, dengan pandangan nanar.
"Pilihan Mama tidak pernah salah, Len. Aku sudah membuktikannya. Kamu percaya kan sama Mama?" kini Rani bertanya dengan serius.
Lena menatap lekat sahabatnya itu. Baru kemarin dia mengeluh kepada Tuhan bahwa dia belum mau mati di tangan Charles karena belum menikah dan ingin dipertemukan dengan orang yang dicintainya, hanya dalam waktu sekejab do'anya akan segera dikabulkan.
"Haruskah aku menikah secepat ini?" gumam Lena di dalam hati.
Bayangan menikah dengan orang yang dicintainya semenjak Lena masih kecil pun hilang seketika.
"Ahh, aku juga tidak tahu sekarang dia berada dimana. Kenapa juga aku harus menunggunya?" batinnya lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa Like dan Vote-nya ya pembaca setia. Ditunggu juga comment positifnya. Terima kasih