
Ryan membuka matanya secara perlahan. Cahaya lampu dari arah langit-langit ruang perawatan itu, membuatnya menyipitkan mata, menyesuaikan dengan bias sinar yang menyilaukan hingga dia harus berkali-kali mengerjabkan netranya, sampai indra penglihatannya itu bisa beradaptasi betul dengan sinar terang yang tersebar ke seluruh penjuru ruang.
Ryan berusaha mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar. Netranya menangkap warna serba putih dari seluruh dinding, membuat otaknya langsung berputar dan menyimpulkan bahwa kini dia telah berada di rumah sakit.
Seketika, ingatannya pun langsung kembali pada kejadian mengerikan beberapa jam yang lalu, dimana ada seorang gadis yang tiba-tiba datang dan menusukkan pisau beberapa kali ke arah perutnya tanpa ada rumpi atau pengaman yang bisa dijadikan penghalang.
Sedetik kemudian, Ryan merasakan tangannya yang sedikit berat. Ketika dia periksa apakah gerangan yang membuat ada beban di sana, senyum Ryan pun langsung tersungging dengan manis dari bibirnya. Ternyata istri cantiknya sedang tertidur, dalam posisi duduk dengan kedua tangan yang melingkar, dan kepala yang menindih tangannya.
"Yang ..., Sayang ...," panggil Ryan lirih.
Sungguh, saat itu ingin sekali Ryan mengusap kepala istrinya dengan sayang menggunakan satu tangannya yang lain, tapi rasa nyeri di bagian perutnya tidak bisa di ajak kompromi. Jangankan membuat tubuhnya agak sedikit miring ke arah Rani, hanya untuk bergerak pelan saja, Ryan sudah merasa kesakitan.
"Yang ..., Sayang ...," panggil Ryan sekali lagi.
Merasa ada yang memanggilnya, Rani langsung terkesiap dan segera mendongakkan kepalanya, hingga matanya pun akhirnya bertemu mata dengan pria yang kini sedang sangat dikhawatirkannya itu.
"Hubby ...," air mata Rani tumpah. Dia langsung beranjak dari duduknya dan mendekap erat tubuh suaminya begitu saja, tanpa ingat jika suaminya sedang terluka.
"Hubby sudah sadar? Hubby tahu tidak, Hubby sudah membuat Rani ketakutan. Bahkan Rani sampai bermimpi kalau Hubby ..., hiks. Hiks. Hiks," kini Rani justru menangis sejadi-jadinya.
"Aow," Ryan berteriak sambil meringis kesakitan.
"Hubby kenapa? Apa sakit sekali, By? Jangan membuat Rani takut! Hubby tunggu sebentar, biar Rani panggilkan dokter dulu," Rani melepaskan pelukannya dan langsung meraih tombol Nurse Call atau bel pemanggil perawat, sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan suatu pesan otomatis ketika tombol pemanggil tersebut di tekan oleh seseorang, baik itu pasien ataupun keluarga yang sedang menungguinya.
"Sayang ...! Sayang ...! tidak perlu!" Ryan menahan tangan Rani.
__ADS_1
"Hubby kesakitan begitu masih bisa bilang tidak perlu? Kalau bahaya gimana? Hubby itu sukanya nyepelein ya. Hubby pikir itu tubuh cuma punya Hubby? Rani berhak melakukan apapun pada tubuh Hubby karena semua itu adalah milik Rani,"
"Hubby tahu, toh selama ini Hubby selalu pasrah saja mau kamu apain aja tubuh Hubby ini," Ryan justru tersenyum nakal, tanpa melepaskan tangan istrinya.
"Bisa tidak, nggak usah bercanda di saat-saat kayak gini. Rani itu khawatir sama Hubby. Rani sangat ketakutan, By. Rani takut kalau ..., hiks, hiks, hiks, kalau Hubby tak bisa melihat putra kita lahir di dunia ini. Hiks, hiks, hiks ...," tubuh Rani serasa lemas. Dia langsung kembali duduk di kursi penunggu sebelah ranjang pasien dengan air mata yang kian berderai.
Sungguh, hanya membayangkannya saja sudah mampu membuat Rani seolah kehilangan hidupnya. Apalagi jika semua mimpi itu menjadi nyata?
"Hey, Sayang. Hubby benar-benar sudah tidak apa-apa," Ryan berusaha tersenyum semanis mungkin.
"Hubby teriak dan meringis kesakitan gitu masih mau bohong sama Rani?" protes Rani. Bahkan kini bibirnya sudah mengerucut ke depan, tak suka dengan sandiwara yang suaminya katakan.
"Tadi itu karena kesayangan Hubby yang cantik ini memeluk Hubby terlalu erat. Makanya Hubby mengaduh. Begitu tanganmu tak lagi menindih perut Hubby, sakitnya sudah tidak terasa lagi," ucap Ryan kemudian.
"Hubby pasti bohong. Hubby bilang kayak gitu karena Hubby tidak mau Rani khawatir saja kan?" sulit bagi Rani untuk langsung percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan suaminya.
"Masa ada beberapa luka tusukan Hubby bilang nggak sakit sih?" omel Rani.
"Cuma perih dikit, tapi masih bisa Hubby tahan," sahut Ryan menenangkan. Dia benar-benar tidak mau membuat perempuan yang sedang mengandung anaknya itu terlalu cemas dan stress memikirkan kondisi dirinya.
"Hubby ...," Rani menggantungkan kalimatnya. Sebenarnya banyak sekali kata demi kata yang ingin dia eja untuk menggambarkan betapa hatinya resah karena suaminya terluka. Tapi semua sesak di dadanya itu justru membuat Rani seolah kehabisan kata-kata.
"Sssttt ..., Hubby lebih mengkhawatirkan kamu, Sayang. Kau harus jauh-jauh melakukan perjalanan ke kota ini padahal kau sedang hamil besar," Ryan yang bisa menangkap kegalauan istrinya itu pun terus berusaha meyakinkan, dan menunjukkan bahwa dia adalah pria kuat yang tak akan jatuh hanya karena beberapa tusukan. Bahkan dia justru lebih memikirkan istrinya, di saat dia dalam kondisi sakit seperti itu.
"Rani tidak apa-apa, By. Rani mencemaskan Hubby. Rani tak bisa membayangkan jika Rani harus tanpa Hubby. Rani ...," Rani kembali terisak.
__ADS_1
"Sssttt. Tak boleh ada air mata lagi. Hubby akan segera sembuh, dan kita bisa bercinta lagi. Sini peluk Hubby!" meskipun sedang sakit, yang ada di otak Ryan tetap saja adegan ranjang.
"Udah sakit, masih aja mesum," ujar Rani sambil memeluk suaminya lagi.
Kali ini, Rani memeluk Ryan dengan sangat hati-hati, jangan sampai lukanya tertindih dan membuat terasa sakit lagi.
"Karna kamu adalah satu-satunya alasan untuk Hubby bisa hidup," Ryan membalas pelukan Rani dan mengecup ujung kepalanya berkali-kali.
Hingga di saat adegan mesra itu berlangsung, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" seru Rani sambil melepaskan pelukannya dan membenarkan posisi duduknya.
Beberapa detik kemudian, Daniel dan Arya masuk, diikuti oleh Indra dengan wajah datarnya. Di belakang Indra, Zara yang sudah terlihat begitu cantik dengan balutan kaos dan celana panjang serba hitam itupun ikut masuk dengan ekspresi muka yang terlihat biasa-biasa saja.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Brother," Daniel langsung tersenyum lega begitu melihat bahwa saudaranya sudah sadar dan bisa melewati masa kritisnya.
Ryan hanya tersenyum tipis menanggapi cuitan Daniel. Matanya justru tertuju pada sosok gadis itu.
"Senang mengetahui bahwa Anda sudah sadarkan diri, Tuan. Perkenalkan, dia adalah Zara. Zara ini adalah gadis itu," Indra mendekati ranjang Ryan, masih diikuti Zara dari belakang.
"Gadis itu? Maksud kamu gadis yang telah menusuk suamiku?" Rani memberi penekanan khusus pada kalimat yang telah diucapkannya.
"Benar, Nona," sahut Indra jujur, sementara Zara hanya menunduk, dan mencoba menebak reaksi yang akan ditunjukkan oleh sepasang suami istri yang kini berada tepat di hadapannya.
Rani membulatkan mata dan mulutnya mendengar jawaban Indra. Bahkan kini, dia memilih untuk menatap Zara dengan lekat, mulai dari ujung kaki, hingga ujung kepalanya.
__ADS_1
"Kamu ...,"
BERSAMBUNG