
Ega memejamkan mata, menikmati moment kebersamaan mereka yang sudah ditunggu-tunggu sejak sekian lama. Meysie pun membiarkan Ega terus larut dengan perasaan yang membuncah di dadanya. Hatinya damai, jiwanya tenang, meski dalam hatinya belum ada perasaan cinta untuk suaminya.
"Abang, Meysie lapar," rengek Meysie, merasa belum ada tanda-tanda suaminya akan melepaskan pelukannya.
"Oke. Kita sarapan," Ega melepaskan rengkuhannya dan mencubit gemas hidung istrinya.
Meysie pun tersenyum dan mengangguk senang, mendengar jawaban suaminya yang langsung merespon apa yang dia inginkan.
"Meysie ambil tas dan sepatu dulu ya, Bang," Meysie meninggalkan Ega dari balkon menuju ke dalam kamar.
Meysie meraih tas yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya, kemudian tangan yang satunya dia gunakan untuk meraih sepatu yang dia letakkan di dalam lemari dekat sandal hotel yang tertata rapi pada tempatnya. Setelah sepasang sepatu ada di tangannya, Meysie pun duduk di atas sofa dan hendak memakai sepatunya.
Dari arah balkon, Ega berjalan masuk ke kamar menghampiri istrinya. Melihat Meysie yang sedang duduk dan memakai sepatunya, Ega langsung berjongkok di depan gadisnya, kemudian merebut sepatu itu dan memakaikannya.
"Abang, jangan. Biar Meysie yang pakai sendiri," tolak Meysie.
"Sssttt. Kamu diam. Biar Abang yang melakukannya," kekeh Ega sambil mengeratkan tali sepatu Meysie, sesaat setelah sepatu itu masuk dengan manis di kaki istrinya.
Meysie hanya memandang suaminya dengan tatapan penuh makna.
"Kenapa kamu harus sebaik ini, Bang?" batin Meysie.
"Aku bukan orang baik, Sayang. Aku hanya seorang pria yang sangat mencintai istrinya," gumam Ega seolah bisa membaca kata hati Meysie.
"Oke. Beres. Ayo kita sarapan sekarang," setelah mengeratkan tali sepatu Meysie, Ega berdiri dan meraih tangan istrinya. Dengan sedikit tarikan, Meysie pun berdiri dan mengikuti langkah Ega keluar dari kamarnya.
Sesaat kemudian, tibalah mereka di restoran hotel yang terletak di samping lobby. Ega pun tak membiarkan Meysie mengambil sendiri makanannya seperti tamu hotel lainnya. Dia sudah menyiapkan pelayan khusus yang bertugas untuk melayani kebutuhan mereka.
Begitu mereka duduk, segera saja seorang pelayan menghidangkan beberapa makanan yang di susun rapi di atas meja. Pelayan itu pun membuka satu per satu penutup piring hidangannya.
Ketika penutup piring itu mulai di buka dan Meysie melihat isinya, dia memandang ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan dengan kata-kata.
"Abang masih ingat makanan kesukaan Meysie?" kata itu yang keluar dari mulutnya. Kini Meysie menatap Ega dan makanan yang terhidang secara bergantian.
__ADS_1
Matanya tertuju pada piring demi piring yang berisi makanan kesukaannya. Piring pertama, berisi taco, yang merupakan cemilan asli Meksiko, tapi sangat populer di kalangan warga Amerika Serikat. Makanan kesukaannya itu terdiri dari tortilla gandum kering dan paduan sayur serta daging.
Mata Meysie beralih pada piring setelahnya, yang berisi grilled chicken, makanan olahan ayam yang sangat khas dan populer di Amerika, yang dimasak dengan cara dipanggang.
Dan makanan kesukaan Meysie terakhir yang dihidangkan pagi itu adalah pancake, lengkap dengan sirup maple, yang terbuat dari getah pohon maple yang dimasak untuk mendapatkan sirup murni. Selain memiliki cita rasa yang manis, sirup maple terkenal memiliki beberapa kelebihan, yaitu bermanfaat untuk mencegah beberapa penyakit seperti diabetes, kanker, alzheimer dan sejumlah penyakit lain yang diakibatkan oleh bakteri.
"Selamat menikmati, Sayang," tutur Ega lembut. Dia terus menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Tapi ...," Meysie terlihat ragu melanjutkan ucapannya.
"Tapi?" sahut Ega menunggu Meysie melanjutkan kalimatnya.
"Mmm, itu ..., anu ...,"' Meysie terlihat salah tingkah.
"Apa kau sudah tidak menyukai makanan ini lagi?" Ega mengerutkan dahinya.
"Bukan begitu, Abang," Meysie segera menyahut perkataan suaminya, takut kalau akan menimbulkan hal yang tidak mengenakkan.
"Terus kenapa? Apa kamu sedang diet?" oceh Ega asal.
"Hah, beneran?" tanya Ega seolah tak percaya dengan jawaban istrinya.
Sekali lagi hanya anggukan yang menjadi jawaban gadisnya itu.
"Terus kamu makan apa?" tanya Ega masih mencerna apa yang sedang coba dilakukan istrinya.
"Kalau pagi, Meysie hanya makan buah saja," lirih Meysie.
"Hah?" Ega kembali terkaget-kaget dengan jawaban istrinya.
"Maaf, Bang. Abang sudah mempersiapkan semua makanan yang Meysie suka, tapi malah Meysie nggak bisa memakannya," tutur Meysie, merasa bersalah.
"Mmm, kamu diet karena alasan kesehatan atau karena kamu takut kelebihan berat badan? Jika karena alasan kesehatan, Abang sama sekali tidak keberatan. Tapi jika karena penampilan dan takut kelebihan berat badan, dengarkanlah apa yang akan Abang katakan. Seperti apapun kamu, cinta Abang tak akan pernah berkurang. Kamu gemuk atau kurusan, rambutmu putih atau masih menghitam, bahkan biarpun kerutan di wajahmu sudah terlihat karena usia yang terus berjalan, ketahuilah bahwa Abang akan terus mencintaimu hingga akhir hayat Abang," Ega berucap sambil menggenggam erat tangan istrinya.
__ADS_1
Lagi-lagi, Ega membuat Meysie tak bisa berkata-kata. Segala kebaikan dan kata manisnya, membuat Meysie selalu terkesima.
"Baiklah, ayo kita makan," Meysie menyunggingkan senyumnya dan mengambil makanannya dengan semangat empat lima.
"Jadi?" tanya Ega tak mengerti.
"Ayo kita makan semua makanannya, Bang," Meysie meraih sepotong taco kemudian memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Nggak jadi diet?" Ega masih bingung dengan perubahan istrinya yang tiba-tiba.
"Kata Abang, Meysie gemuk tidak masalah kan? Dan Abang janji tidak akan ada pengkhianatan seperti apapun kondisi Meysie di masa yang akan datang?" Meysie memastikan.
"Tentu saja," jawab Ega singkat, dengan bunga-bunga cinta yang bermekaran di hatinya. Hari itu dia benar-benar bahagia, mendapati istrinya sudah menuruti semua perkataannya.
Meysie pun sudah melupakan tentang dietnya. Dia makan semua makanan yang ada di hadapannya dengan begitu lahapnya. Hingga tiba-tiba, Ega memanggil namanya.
"Mey," Ega memberi isyarat agar Meysie mendekat.
"Hmmm?" Meysie mengerutkan dahinya tanda tak mengerti.
Menyadari Meysie tak juga mendekat, Ega berinisiatif untuk mendekatkan wajahnya, hingga membuat Meysie salah tingkah dengan kelakuan suaminya yang kini hampir tak ada jarak diantara mereka.
Tiba-tiba jantung Meysie pun berdetak dengan kencangnya. Dia benar-benar tak menduga kalau di tempat umum pun Ega akan melakukannya.
Hingga tiba-tiba, khayalan Meysie pun buyar ketika ibu jari Ega menyentuh bibirnya.
"Ada saus yang mengotori bibirmu," ucap Ega sambil ******* habis sisa saus dari bibir Meysie yang kini menempel di ibu jarinya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang? Apa kau pikir aku akan menciummu sekarang?" Ega kembali menggerakkan alisnya.
Meysie tak menghiraukan perkataan suaminya. Dia justru sibuk mengkondisikan hatinya agar tidak bergejolak luar biasa.
"Kenapa kamu harus memperlakukan aku sebaik ini, Bang?" batin Meysie dalam hati.
__ADS_1
BERSAMBUNG