METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Penyelamatan Lena


__ADS_3

Lena berusaha untuk tetap tenang walaupun saat itu dia berada pada posisi antara akan tetap hidup atau mati. Dia terus menegarkan hati, mencoba menjalani setiap takdir yang telah Allah gariskan untuk dirinya. Setetespun tak ada bulir bening yang mengalir dipipinya, Lena hanya terbatuk-batuk karena dekapan tangan Charles di lehernya sedemikian kuat sehingga nafasnya begitu sesak.


Saat Charles menyeretnya ke arah luar begitu cepatnya dengan senjata api masih mengarah pada pelipis kanannya, Lena masih sempat menyapukan pandangan ke arah orang-orang yang berusaha menolong di depannya.


Aparat yang terbagi dua karena sebagian sibuk mengurusi hakim yang terluka, membuat Lena pesimis bahwa mereka akan berhasil menolongnya. Meskipun Lena yakin dalam hitungan menit aparat yang lain akan dikerahkan untuk menyelamatkannya dan menangkap Charles, tapi saat itu juga Charles bisa menarik pelatuknya ke arah kepalanya.


"Jangan ambil nyawaku sekarang, Ya Allah. Aku belum menikah. Setidaknya pertemukan aku dulu dengan orang yang aku cintai dan beri kesempatan aku untuk bisa hidup bahagia bersamanya," do'a Lena dalam hati.


Tiba-tiba pandangan Lena tertuju pada Arya dan anak buahnya. Bahkan saat itu mata Lena sempat bertemu dengan mata Arya yang masih begitu datar tanpa ada pergerakan.


"Apakah dia tidak akan menyelamatkanku untuk yang kedua kalinya? Ah, tentu saja. Dia tidak mungkin bergerak dan ikut campur urusan aparat kalau sudah seperti ini," Lena pasrah begitu saja.


Matanya kini terpejam, seolah telah mengikhlaskan apapun yang akan terjadi kepadanya. Bahkan saat akhirnya Charles membawanya masuk ke dalam sebuah mobil dan anak buahnya yang mengemudi langsung menancapkan gas nya, Lena sudah merasa bahwa hari itu adalah akhir dari hidupnya.


Hampir dua puluh menit mobil Charles melaju dengan kencang. Suara sirine mobil aparat yang sejak tadi terdengar pun kini hilang dari pendengaran menandakan mereka sudah terlalu jauh dari pengejaran. Hingga akhirnya, tubuh Lena dan Charles terdorong ke depan begitu saja, saat sang pengemudi menginjak pedal rem nya dengan begitu kuatnya.


"Sial," gerutu sang pengemudi, sambil memukul setir mobil yang masih dipegangnya.


Rupanya di depan, ada truk kontainer yang tiba-tiba muncul dan memalang jalan, sehingga menghalangi mobil mereka. Di samping kanan dan samping kiri mobil Charles yang akhirnya berhenti juga sudah berjejer mobil hitam, yang tak lama penumpangnya berhamburan keluar lengkap dengan senjata api yang mengarah ke arah mobil mereka. Ternyata Arya sudah mengantisipasi jika hal ini akan terjadi, sehingga anak buahnya bergerak sangat cepat dalam penjalankan skenario penyelamatan kedua setelah kesaksian Nina di persidangan.


Lena yang menyadari situasi, mengarahkan pandangannya ke arah Charles yang sedang meringis kesakitan karena benturan tubuhnya pasca mobil berhenti mendadak tadi. Lena memperhatikan tangan Charles, tidak ada senjata di sana. Rupanya senjata yang sejak tadi diarahkan kepada Lena terjatuh.

__ADS_1


Sebelum Charles meraih senjatanya kembali, dengan sigap Lena menarik pelatuk kunci mobil dan segera keluar begitu saja. Charles yang menyadari hal itu, segera mengambil senjata yang jatuh tepat di kakinya dan segera mengarahkannya pada Lena yang saat itu sudah keluar mobil dan hendak masuk ke dalam mobil Arya.


"Aaaau," teriak Lena begitu sesuatu menancap di tubuhnya, seiring dengan suara keras yang muncul dari senjata Charles.


Melihat kejadian yang begitu cepat itu, Arya segera menarik tubuh Lena yang kini berlumuran darah, sementara anak buahnya mengarahkan semua senjatanya ke arah mobil Charles, hingga baku tembak tak dapat terelakkan. Adu senjata pun semakin sengit, ketika dari arah belakang tiba-tiba muncul beberapa mobil bersenjata yang ikut membantu Charles.


Namun di saat itulah terdengar sirine mobil aparat yang saling bersahutan, sehingga Arya dan anak buahnya memutuskan untuk masuk ke dalam mobil mereka dan segera melaju setelah truk kontainer yang dikemudikan anak buah Arya bergerak dari tempat itu.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Charles dan anak buahnya, demi melepaskan diri dari kejaran aparat yang memang sedang membidiknya sejak pelarian dirinya dari jerat hukum yang siap memangsanya.


***


Sepanjang perjalanan, muka Rani basah karena butiran kristal bening yang terus meleleh di pipinya. Setelah mengetahui situasi persidangan Charles yang berakhir dengan penyanderaan Lena, Rani langsung merengek kepada Ryan untuk segera menyusulnya ke ibu kota. Apalagi setelah mengetahui dari Arya bahwa Lena terluka karena sebuah tembakan yang dilepaskan Charles, membuat hati Rani bukan hanya sedih, namun juga menyesal karena telah melibatkan Lena terlalu jauh dalam urusannya.


Ryan yang kini menemani Rani duduk di kursi penumpang karena mobil dikemudikan Pak Mamat, hanya mengelus punggung Rani dan merengkuh tubuhnya untuk sekedar menenangkan.


"Kata Arya, kondisi Lena baik, Sayang. Nina juga di bawah kendali Arya sekarang, jadi tidak ada yang perlu kamu khawatirkan," tutur Ryan dengan lembut.


"Tapi tetap saja dia terluka karena Rani," sanggah Rani dengan ekspresi cemas yang tidak bisa disembunyikan.


"Hmmhh...," Ryan menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Padahal Arya sudah menyusun rencana serapi mungkin. Tapi kenapa masih bisa kecolongan seperti ini?" gumam Ryan lirih.


"Maksud Mas Ryan?" tanya Rani tidak mengerti.


Setelah semua yang terjadi, Ryan merasa terlalu berbahaya jika Rani tidak mengetahui tentang Daniel Cullen dan jaringannya, termasuk hubungan antara Charlie's Cafe dan Cafe serupa lainnya yang berada di beberapa kota di Indonesia, termasuk di kotanya. Karena itulah, akhirnya sepanjang perjalanan Ryan menceritakan semua rahasia yang Ryan simpan tentang akibat dari penyelamatan Nina sepulang mereka dari Bali ketika itu.


"Kenapa Mas Ryan tidak cerita ke Rani?" protes Rani sambil mengerucutkan bibirnya.


"Karena Mas tahu, kamu tidak akan diam saja dan pasti akan bergerak untuk membongkar jaringan mereka dengan caramu sendiri. Dan Mas tidak mau itu terjadi, karena itu akan sangat membahayakanmu. Daniel bukan orang yang sembarangan. Bahkan dalam waktu singkat dia hampir mensejajarkan perusahaannya dengan Dewangga Group. Apa kamu pikir jika dia kau usik akan diam saja?" jelas Ryan sambil menatap wajah istri yang masih di dekapnya itu dengan tatapan penuh makna.


"Berjanjilah untuk tidak melakukan hal bodoh yang bisa membahayakanmu, Sayang!" pinta Ryan kemudian.


Rani mencoba menghela nafas panjang, mencerna setiap perkataan suaminya yang kini terus bergelayut dalam pikirannya. Mulai saat itu dia berjanji pada dirinya sendiri, akan lebih berhati-hati sehingga apa yang dilakukannya tidak berimbas buruk terhadap orang lain.


"Jika tidak mau kejadian pada Lena terulang lagi, aku harus lebih berhati-hati sekarang. Setidaknya apa yang aku lakukan tidak akan berdampak buruk kepada orang lain," gumamnya dalam hati.


Kini, di benak Rani mulai muncul tentang sosok Daniel Cullen dan jaringannya, juga terkait Cafe yang diceritakan suaminya.


BERSAMBUNG


🌹🌹🌹

__ADS_1


Terima kasih telah membaca cerita ini dengan setia. Jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara like, comment dan rate 5 ya. Klik tanda love juga agar kalian bisa langsung membaca kelanjutan cerita ini setiap author up episode baru. Thank you. ❤


__ADS_2