
Allah telah menggariskan sebuah pertemuan, dengan berjuta kisah yang telah menjadi rahasia alam. Namun seperti apapun rasa dalam setiap rahasia alam itu, sudah menjadi kewajiban bagi setiap jiwa untuk menerima apapun taqdir yang telah Allah tasbihkan. Manis ataupun pahit, landai ataupun terjal, lurus ataupun berliku, semua sudah menjadi suratan takdir yang harus manusia terima dan ikhlaskan. Begitukah kisah cinta dari tiga anak manusia itu, hingga tak ada pilihan lain selain memilih kedua-duanya dari dua pilihan yang ada?
“Ahh,” Titania mendesah kasar. Begitu rumitnya dunia hanya karena sebuah kata cinta. Cinta yang membuat Titania sempat merasa hidupnya berarti, namun cinta itu pula yang harus membuat hatinya tersakiti.
“Harus kubawa kemana rumah tangga ini? Lepaskan atau tetap kugenggam? Terima ataukah harus aku hempaskan?” galau Titania dalam hati.
“Aku bersumpah, tak sedikit pun Aghata memasuki ruang di hatiku dan menggantikan dirimu dalam setiap hembusan nafasku. Bahkan, sekali pun aku tak pernah menyentuhnya karena aku masih menjaga kesetiaanku kepadamu. Sekarang, semua keputusan ada di tanganmu. Jika kau pikir dia sudah bisa kuat melanjutkan hidupnya tanpa kehadiranku di sampingnya, maka akan aku lepaskan dia,” tutur Prabu, setelah Titania siuman dan lebih tenang diajak berbicara tentang masalah di antara mereka.
Titania terpaku dalam diam. Biar bagaimanapun, pertemuan mereka bertiga bukanlah sebuah pertemuan yang secara sengaja mereka inginkan. Dia sangat yakin, bahwa rasa sakit di hatinya juga menjadi rasa sakit yang sama untuk mereka bertiga. Namun untuk mengikhlaskan, bisakah semudah itu?
Pikir Titania mengembara. Wajah Aghata tiba-tiba terus saja hadir di depan matanya. Perasaan haru yang muncul saat memikirkan betapa besarnya jasa Aghata yang telah rela memberikan darahnya untuk putra seorang Titania, juga mengingat selama satu setengah bulan ini Aghata telah bersedia merawat putranya selama Titania dalam keadaan koma, membuat hati lembut seorang Titania luluh. Keikhlasan pun berangsur-angsur tertata apik di dalam dirinya.
“Biarkan dia tetap menjadi istrimu dan adikku,” sebuah kata yang benar-benar menyakitkan, tapi terasa lega setelah Titania ucapkan.
“Maksudmu, Sayang? Kau tak harus melakukannya,” kaget, Prabu tak habis pikir dengan keputusan yang diambil oleh istrinya. Bahkan ketika dia meraba hatinya, dia sendiri pun tak tahu apakah dirinya sudah siap menjalani hidup dengan dua istri di sampingnya.
“Aku yakin bahwa ini adalah suratan takdir yang sudah Allah tuliskan, Mas. Aku tidak boleh egois,” ucap Titania, dengan senyum yang mengembang di bibirnya, tapi tetesan air mata terus menetes dari sudut matanya.
__ADS_1
“Ya Allah, Sayang. Maafkan aku! Sungguh, aku benar-benar minta maaf,” Prabu merengkuh tubuh Titania begitu saja, dengan perasaan penuh haru.
Kini keduanya saling berpelukan dengan linangan air mata. Entah apa yang mereka rasakan saat itu, yang jelas hanya mereka berdua saja yang tahu. Karena cinta telah menemukan devinisinya, maka biarkan mereka menjalankan titah cinta sesuai dengan apa yang telah menjadi keyakinan jiwanya.
***
Satu bulan sudah Titania berada di rumah, satu bulan itu pula Aghata dipersilahkan tinggal bersama mereka. Selain karena Titania belum sepenuhnya pulih sehingga butuh Aghata untuk mengasuh Ryan Dewangga, keputusan ini Titania ambil karena melihat kedekatan antara Aghata dengan putranya. Rasanya benar-benar tidak tega jika harus memisahkan mereka berdua dengan meminta Aghata untuk kembali ke rumahnya, meskipun cepat atau lambat Aghata tetap harus tinggal terpisah dengan mereka untuk kebaikan bersama.
Titania yang sudah lama merindukan suara bayi kembali di rumahnya itu pun sangat menerima Daniel Dewangga sebagai putranya. Bahkan rasa sayang Titania terhadap Daniel kecil bisa dibilang sama seperti dia menyayangi putranya sendiri, hingga tak segan Titania memberikan segala kasih sayangnya untuk putra Aghata itu.
“Aku tahu ini sakit buatmu, Kak,” lirih Aghata dalam pengembaraan pikirannya.
Aghata pun mengambil air wudhu dan bersimpuh di hadapan Rabb semesta alam, memohon petunjuk atas segala apa yang dia pikirkan dan akan dia putuskan.
Hingga di sebuah malam, Aghata memutuskan untuk pergi meninggalkan segala kebahagiaan yang telah dia dapatkan. Ya, dia memutuskan untuk pergi dan tak akan pernah kembali untuk menghancurkan hati seorang perempuan yang berhati emas itu lagi. Hingga saat semua sudah lelap dan mengembara ke alam mimpi, Aghata memutuskan untuk meninggalkan kediaman keluarga Dewangga tanpa seorangpun menyadari. Aghata hanya meninggalkan secarik kertas, dan menitipkan sebuah pesan agar mereka tak pernah mencarinya lagi dan memintanya untuk kembali.
*Mas Prabu dan Kak Tita,
__ADS_1
Ketika kalian membaca surat ini, mungkin aku sudah pergi jauh tanpa bisa kalian temui lagi. Sungguh, tak ada alasan bagi jiwaku untuk tidak bahagia di tengah-tengah kehidupan kalian yang penuh cinta. Tapi tak dapat aku pungkiri, bahwa aku hanyalah sebilah belati yang bersemayam indah dalam hati bidadari syurga yang sedang tersakiti. Karena itu, ijinkan aku pergi, dan berjanjilah untuk tidak mencariku lagi dan meminta kepadaku untuk kembali.
Dengan sepenuh cinta, Aghata*.
Berawal dari keputusan itulah sulitnya hidup harus rela Aghata lewati. Sementara Prabu, dengan keputusan bulat memenuhi apa yang Aghata minta kepadanya untuk tidak mencari dan meminta Aghata kembali.
“Carilah dia, Mas. Aku tak mau dia bertindak gegabah seperti waktu itu lagi. Kasihan Daniel. Dia hanya seorang bayi kecil yang tidak tahu apa-apa tentang kejamnya dunia,” pinta Titania.
“Aku yakin, Aghata yang sekarang bukanlah Aghata yang dulu lagi. Dia tidak serapuh dulu. Pasti dia akan menjadi wanita lebih kuat setelah mempunyai Daniel dalam hidupnya,” kekeh Prabu.
Sejak saat itulah mereka berpisah, dengan meninggalkan beribu kisah. Kisah cinta yang tetap bertahan di tengah gulungan ombak yang menerjang, selamatkan hati hingga tak tenggelam dalam lautan kesedihan. Pun jika kata pengkhianatan pernah menjadi warna hati yang menodai, namun sebuah harapan untuk meraih kesejatian cinta telah berhasil mereka genggam dalam hati.
Meski akhirnya Aghata harus pergi, tapi itulah sebuah bukti bahwa cinta tidak harus saling memiliki. Biarlah rasa itu tetap ada, dengan jauhnya jarak yang memisahkan di antara mereka. Bukankah cinta itu adalah cahaya? Maka dengan cahaya cinta itulah Aghata akan tetap bertahan walau gelapnya hidup harus kembali dia rasa.
Dalam fase-fase tersulit itu, prinsip Aghata hanya satu. Biarkan Arsen dan Prabu menjadi bagian dari masa lalu, yang akan membuat dia dan putranya mengambil pelajaran untuk hidup ke depan yang akan mereka tuju.
End of flashback
__ADS_1