METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Uangku adalah uangmu


__ADS_3

Rani bersungut kesal mendapati suaminya yang selalu menggodanya. Kini bibirnya sudah mengerucut ke depan, membuat wajah cantik itu begitu menggemaskan. Sontak, Ryan yang selalu tak tahan saat melihat istrinya yang merajuk itu mencubit hidungnya dengan gemas.


"Mas Ryan punya sesuatu buat kamu. Terimalah!" ucap Ryan sambil menyerahkan sebuah benda kepada istrinya, dengan tatapan penuh cinta. Tangannya meraih tangan kanan gadisnya, dan membuat tangan itu menerima benda pipih pemberiannya dan menggenggamnya.


"Untuk apa Mas Ryan memberikan ini kepada Rani?" dengan ragu Rani menerima benda pipih yang disodorkan suaminya.


"Gunakan black card ini semau kamu," ucap Ryan, saat kartu kredit yang hanya dimiliki oleh seorang milyader itu berada di tangan Rani. Ya. Ryan memberikan sebuah kartu kredit paling elit yang hanya bisa dimiliki orang-orang dengan kekayaan fantastis. Dari gambar dan tulisan yang tertulis di permukaannya, terlihat bahwa kartu kredit yang diberikan Ryan itu dikenal dengan nama American Express (Amex) Centurion Card. Kartu kredit kalangan kelas atas ini juga lebih dikenal dengan sebutan 'The Black Card'.


"Dan ini debit card buat kamu, setiap bulan saldonya akan Mas isi sebagai bentuk nafkah yang diberikan seorang suami kepada istrinya," Ryan memberikan sebuah kartu lagi.


"Rani nggak perlu kedua kartu ini, Mas. Mas Ryan sudah memberikan semuanya buat Rani. Jadi Rani tidak butuh apa-apa lagi. Lagian Rani juga dapat gaji yang bisa Rani pakai untuk kebutuhan Rani sendiri," tolak Rani halus. Berbeda dengan kebanyakan perempuan yang suka dimanjakan dengan gelimangan harta, Rani justru terbebani dengan fasilitas yang diberikan oleh suaminya.


"Kamu tidak boleh menolak, Sayang. Ingat! Uangku adalah uangmu, tapi uangmu adalah uangmu sendiri. Lagian Mas tahu kalau seluruh gajimu itu sudah habis tanpa sisa setiap bulannya," dalih Ryan tidak bisa di tawar.


"Mm, soal gaji Rani itu, maaf. Rani tidak membicarakan dulu untuk penggunaannya sama Mas Ryan," Rani menundukkan kepalanya, merasa bersalah.


Memang, gaji seorang Anggota Dewan tergolong tinggi jika dibandingkan dengan pegawai biasa. Bisa jadi, gaji mereka sepuluh kali lipat dari gaji seorang PNS. Namun tanpa banyak yang tahu, sesungguhnya hampir seluruh gaji Rani dipergunakan untuk kegiatan sosial, bahkan hampir tidak bersisa.


"Mas tahu kalau gajimu sudah habis tak bersisa," ujar Ryan dengan santainya. Tidak ada kemarahan atau kekecewaan sedikitpun di hatinya. Selain karena gaji Rani setiap bulan tidak ada seperseratusnya jika dibandingkan dengan penghasilan Ryan setiap bulannya, sejujurnya Ryan justru sangat bangga dengan apa yang dilakukan istrinya.


***

__ADS_1


Flash back


Sore itu, Ryan sengaja pulang lebih awal dari biasanya. Entah kenapa, rasa rindu di hatinya sudah tidak bisa dibendung lagi, hingga keinginannya untuk secepat mungkin bertemu dengan istrinya ingin segera diwujudkannya.


Tak sabar, Ryan segera menaiki tangga dengan setengah berlari. Begitu sampai ke lantai dua rumah itu, dia bergegas masuk ke dalam kamar demi bisa menemui bidadarinya secepat mungkin.


"Assalamu'alaikum, Sayang," Ryan mengucap salam begitu pintu kamar terbuka, namun tidak ada sahutan. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang, namun tak dilihatnya sedikitpun ada tanda-tanda bahwa istri yang dirindukannya berada di tempat itu.


"Ran! Sayang! Kamu dimana?" panggil Ryan berkali-kali namun tak ada sahutan juga dari gadis yang sangat dirindukannya.


Ada gurat khawatir yang terlihat dari wajah Ryan ketika itu, namun semua kegalauan itu segera sirna ketika gendang telinga Ryan bergetar hingga suara gemericik air dari arah kamar mandi terdengar.


"Sedang mandi rupanya," guman Ryan dalam hati.


Namun saat Ryan memungut pakaiannya, mata Ryan tertuju pada tumpukan amplop yang tersusun rapi di atas meja. Ryan mencoba meraih tumpukan amplop itu dan memeriksanya. Disana terdapat banyak sekali amplop dengan tulisan masing-masing. Satu amplop bertuliskan dengan nama Thalassemia Center 10 juta, satu amplop yang lain bertuliskan Pembangunan masjid 10 juta, amplop yang lainnya lagi bertuliskan untuk si A 1 juta, untuk si B, si C, si D sekian juta.


Disamping tumpukan amplop itu juga terdapat beberapa tumpukan berkas yang ternyata proposal permohonan donasi untuk beberapa kegiatan. Mata Ryan pun mulai penasaran berapa gaji dari istrinya itu sehingga angka yang dia berikan untuk orang lain sedemikian besar. Diraihnya buku tabungan yang masih Rani letakkan di atas meja, ternyata luar biasa. Jumlah gaji Rani sama persis dengan jumlah uang yang berada di dalam amplop yang hendak Rani bagi-bagikan.


"Dia sungguh tidak menyisakan gajinya sama sekali?" gumamnya dalam hati.


Ini adalah hal baru yang diketahui oleh seorang Ryan Dewangga tentang istrinya, Arania Levana. Sosok luar biasa yang bahkan selalu mementingkan orang lain di atas dirinya.

__ADS_1


"Aku sungguh beruntung mempunyai istri sebaik kamu, Sayang," batinnya lagi.


Ryan pun segera merapikan tumpukan amplop yang sempat dilihatnya dan bertindak seolah-olah tidak tahu apa-apa, begitu suara pintu kamar mandi terbuka. Bahkan istri yang sangat dirindukannya itu kini muncul dari balik pintu dan langsung menghampirinya, menyambut kepulangan suaminya dengan rasa bahagia.


End of flashback


***


Rani masih saja tertunduk, menyadari kesalahannya yang belum pernah sekalipun terbuka terkait masalah keuangan kepada suaminya.


"Mas tidak keberatan dengan apapun yang akan kau lakukan dengan uangmu. Ingat, uangku adalah uangmu, tapi uangmu adalah uangmu sendiri. Pakailah black card dan debit card yang kuberikan. Ok?" ucap Ryan lembut, sambil mengelus ujung kepala Rani penuh cinta.


Rani pun tidak ada pilihan lain selain menganggukkan kepalanya. Ya. Sudah menjadi fitrah-nya, bahwa laki-laki itu diciptakan sebagai pemimpin untuk wanita, karena laki-laki memiliki tanggungjawab untuk memberikan nafkah kepada istrinya, dan hal ini bersifat mutlak serta absolut karena berdasarkan sabda Sang Pencipta.


Setelah aktivitas mereka semalaman hingga subuh yang indah itu, Ryan membantu Rani beranjak dan melepaskan mukena yang masih dikenakannya. Mereka pun memilih untuk mengistirahatkan tubuh mereka sejenak, sebelum menjalani aktifitas mereka yang akan begitu melelahkan seperti biasanya.


Hingga akhirnya, sinar hangat mentari pun masuk begitu saja dari balik tirai jendela, mengusik mata dan mengusir secara paksa tubuh lelah itu dari alam mimpi mereka, meski baru hitungan menit mereka memejamkan mata.


"Selamat pagi, Cinta. Sungguh aku ingin dapat memiliki seluruh waktu di dunia, agar aku bisa menghabiskan seluruh waktuku bersamamu," Ryan mengecup kening istrinya dengan mesra, sebelum dia beranjak dan bersiap diri untuk mengawali hari dengan seluruh pekerjaannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


❤❤❤


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan like, vote, rate 5 dan comment positinya ya guys. Terima kasih.


__ADS_2