METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA

METAFORA CINTA LEGISLATOR MUDA
Bertemu Tante Safira Lagi


__ADS_3

Tak ada yang lebih membahagiakan selain kabar yang Dokter Amanda berikan. Ya, seorang anak laki-laki pewaris tahta keluarga Dewangga, beberapa bulan lagi akan terlahir dari seorang Rani dengan menyimpan berjuta harapan.


Sebenarnya apapun jenis kelaminnya, tak akan mengurangi rasa syukur mereka atas nikmat yang Allah berikan untuk mereka. Namun jika boleh meminta, Ryan memang berharap bahwa seorang jagoan yang nanti akan Rani lahirkan.


Bahkan dalam setiap do'anya, Ryan selalu menyebutkan bahwa salah satu yang dia minta adalah bisa dikaruniai seorang anak laki-laki yang sholih dan pemberani, seperti salah seorang sahabat Rasul, yaitu Umar Bin Khattab. Dan Kini, do'anya akan Allah kabulkan sebentar lagi. Walaupun atas kehendak Allah apapun bisa berubah, tapi kewajiban manusia adalah berikhtiar sebesar yang manusia bisa.


"Terima kasih telah bersedia mengandungnya dalam rahimmu, Sayang," tutur Ryan lembut. Kini mereka sudah berada di dalam mobil, dan melaju menuju salah satu pusat perbelanjaan terbesar di kota X.


"Rani bahagia bisa mengandung dan menjadi ibu dari anak Hubby," Rani yang kini duduk di kursi sebelah pengemudi, menatap laki-laki di sampingnya itu dengan tatapan penuh arti.


Sesaat, mereka saling pandang. Ada seulas senyum yang saling mereka persembahkan. Bahkan, kini Ryan memegang tangan Rani dan menggenggamnya begitu erat.


"Apa Hubby bahagia?" tanya Rani sambil terus memandang lekat suaminya.


"Hubby sangat, sangat, sangat bahagia, Sayang," Ryan mengangkat tangan Rani dan mengecup punggung tangannya dengan sayang. Rani pun menerima setiap perlakuan manis dari suaminya itu dengan penuh rasa kesyukuran.


Setelah lima belas menit perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota X. Walaupun, yang ingin Rani datangi bukanlah mall-nya yang terkenal dengan barang-barang branded yang super mahal, tapi sebuah butik baru yang sedang viral, yang berada di kompleks pusat perbelanjaan itu. Di butik itu, tidak hanya menyediakan pakaian jadi yang siap menggoda setiap mata yang memandangnya, tapi juga menerima pesanan sesuai request dari para pelanggannya.


"Kamu yakin mau cari pakaianmu di sini, Sayang?" Ryan kembali memastikan. Sebenarnya bukan tidak yakin dengan tempat dimana mereka berada sekarang. Tapi mengingat butik itu adalah butik baru, jadi di dalam hati Ryan agak sedikit ragu.


"Ini butik baru, Hubby. Perlu kita coba. Jika ke depan kita cocok, kita kan bisa menjadi pelanggan setianya, By. Coba Hubby bayangkan, jika semua orang hanya belanja pada tempat-tempat yang sudah besar dan berdiri cukup lama saja, bagaimana caranya butik-butik atau usaha-usaha yang baru berdiri akan mampu mengembangkan dirinya?" jelas Rani panjang lebar. Inilah yang membuat Ryan selalu mengagumi istrinya. Rani selalu bisa berpikir dan memandang sesuatu dari sudut pandang yang lain dari pada sudut pandang kebanyakan orang.


"Baiklah. Ayo kita masuk!" Ryan turun dari mobilnya dan seperti biasa, dia mengambil gerakan memutar demi bisa membukakan pintu mobil untuk istri kesayangannya.

__ADS_1


Begitu mereka berdua turun, dengan bergandengan tangan mereka memasuki butik itu. Begitu mereka masuk, seorang pelayan yang berada di pintu masuk menyambut mereka dengan ramah. Beberapa saat kemudian pun, dua orang pelayan yang lain menghampiri Rani dan memawarkan diri untuk mengantar mereka berkeliling.


Tak terasa, tiga puluh menit sudah Rani ditemani suaminya melihat-lihat seluruh koleksi butik itu, tapi belum ada satu pun model dan warna yang mampu memikat Rani.


"Gimana, Sayang?" tanya Ryan seolah ingin mengajak Rani berpindah ke butik lain yang lebih terkenal.


"Belum ada yang sreg, By," jawab Rani lesu.


"Ya sudah, kita pindah ke tempat lain?" Ryan kembali bertanya untuk memastikan.


"Mohon maaf, Tuan dan Nona. Jika Anda berkenan, mungkin Nona bisa bertemu dengan desainer sekaligus owner butik ini. Barangkali saja Nona bisa request model, dengan ukuran juga warna yang sesuai dengan keinginan Anda," tutur salah seorang pelayan itu dengan sopan.


Rani melihat ke arah suaminya seolah minta pertimbangan. Begitu Ryan mengangguk, Rani pun menyetujui apa yang pelayan itu tawarkan.


Setelah kurang lebih sepuluh menit, sang owner pun datang.


"Mohon maaf telah membuat Anda menunggu. Apakah ada yang bisa kami bantu?" ucap seorang perempuan paruh baya kepada mereka.


Rani dan Ryan yang sedang asyik bermanja pun membenarkan posisi duduknya dan melihat ke arah perempuan yang mengajak mereka berbicara.


"Tante Safira?" pekik Rani seolah tak percaya.


"Rani? Tante sangat merindukanmu, Sayang," Tante Safira langsung menghambur ke arah Rani dan memeluknya erat.

__ADS_1


Mereka berpelukan sangat lama. Dan selalu saja, derai air mata mewarnai pertemuan mereka, karena setiap bertemu dengan Rani, mode otomatis Tante Safira selalu membuatnya mengingat putranya yang telah tiada. Ya, dia adalah Tede. Orang yang pernah berarti dalam hidup seorang Arania Levana.


Karena Tante Safira semakin tergugu teringat putranya yang telah meninggalkannya terlebih dahulu, secara otomatis Rani jadi terbawa suasana. Walaupun benar-benar tak ada lagi secercah cahaya cinta dalam hati Rani untuk mendiang Tede untuk saat ini, tapi minimal perasaan sayang itu tetap masih terpatri.


Ryan mulai gusar mendapati istrinya yang ikut larut dalan kesedihan. Bukan karena Ryan cemburu, toh yang namanya Tede itu juga sudah pergi meninggalkan dunia ini terlebih dahulu. Tapi karena emosi Rani yang harus tetap terkendali selama kehamilannya ini, membuat hal-hal tertentu yang bisa membuat emosi dan mood-nya terganggu harus segera dihindari.


"Maaf, Tante. Lain kali saja kami datang lagi. Tidak nyaman rasanya membicarakan pekerjaan di saat kondisi Tante seperti ini. Raninya juga sudah capek, Tante. Maklum, dia sedang mengandung anak kami," Ryan sengaja memutus drama di depannya demi menjaga mood Rani.


Mendengar penuturan Ryan, Tante Safira pun melepaskan pelukannya dan memandang ke arah perut buncit gadis yang hampir pernah menjadi menantunya itu.


"Kamu hamil, Sayang?" tanya Tante Safira sambil mengelus perut Rani.


Dan lagi, air matanya kembali mengalir seketika. Ya, dalam hatinya dia terus berandai-andai jika saja bayi itu adalah anak Rani bersama dengan Tede.


"Maaf, Tante. Kami harus pamit," ucap Ryan sekali lagi.


Tante Safira hanya mengangguk pelan dan mengecup kening Rani dengan penuh kehangatan. Setelah itu dia mendudukkan dirinya di atas sofa, sambil mengusap dengan kasar air mata yang terus saja menetes di pipinya.


"Tante," panggil Rani ragu.


Tante Safira hanya melambaikan tangannya, mengisyaratkan bahwa dirinya baik-baik saja, dan meminta Rani untuk meninggalkannya seorang diri. Melihat itu, Ryan langsung berinisiatif menggenggam tangan Rani dan segera mengajaknya pergi.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2