
Dengan pelan, Ryan membuka pintu kamar hingga tak sedikitpun derit pintu terdengar di telinganya. Sebelum masuk, dia mengintip ke dalam. Terlihat tempat tidur kosong dengan selimut yang sedikit berantakan.
"Kemana dia?" Ryan berucap dengan lirih.
Disapunya pandangan ke seluruh penjuru ruang, tak juga nampak wajah Rani ada disana. Ryan pun segera masuk dan mendekat arah pintu kamar mandi, terdengar ada suara gemericik air yang membuat Ryan tersenyum lega.
"Ternyata dia sedang di kamar mandi," gumamnya dalam hati.
Tak berapa lama, Rani pun keluar dari kamar mandi. Ketika dia menyapukan pandangan ke sekeliling ruang, ternyata Ryan sudah tertidur lelap di tempat tidur.
Rani mendekati tubuh itu. Diusapnya wajah lelah suaminya, yang terlihat banyak beban dan pikiran. Tak lama, dia ikut naik dan memeluk Ryan yang masih tak bergeming dari posisinya.
"Terima kasih karena selalu ada untuk Rani. Rani tahu, Mas Ryan sudah membereskan semuanya dan Rani bisa tenang sekarang," ucapnya lirih, kemudian ikut tertidur.
Ryan yang sebenarnya masih bisa mendengar dan merasakan apa yang dilakukan istrinya itu pun hanya tersenyum, dan membiarkan istrinya tertidur dalam dekapnya hingga pagi datang dan mereka bisa melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya.
***
Aksi massa beberapa bulan lalu yang ricuh dan berakibat pada cideranya seorang Arania Levana seperti yang santer dikabarkan hampir di seluruh media yang sempat Ryan baca waktu itu, ternyata menyisakan PR pelik yang harus menguras energi juga pikiran Rani dan teman-temannya yang tergabung dalam sebuah Panitia Kerja.
Pasalnya, massa yang berdemonstrasi itu adalah para nasabah dari Perusahaan Daerah yang bergerak di bidang perbankan, yang merasa ditipu karena selama beberapa bulan terakhir tidak dapat mencairkan uang mereka yang sengaja mereka depositokan dengan suku bunga yang telah di akadkan.
Parahnya, ada indikasi bahwa kasus penggelapan ini melibatkan banyak pejabat kota X. Bahkan kredit fiktif pun ikut memperparah kondisi perusahaan yang disinyalir sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Siang itu Rani memimpin rapat dengan serius. Agenda rapat waktu itu adalah mendengarkan penjelasan terakhir yang akan di paparkan oleh pihak Era Bank.
Saat itu Fredly Iskak yang didampingi beberapa bawahannya sudah berada dalam sebuah ruang rapat yang sengaja di setting membentuk huruf O, sehingga semua yang hadir bisa duduk saling berhadapan.
__ADS_1
Rani bersama dua rekannya duduk pada barisan kursi yang berada di bagian paling depan menghadap pintu, di barisan samping kanan dan samping kiri diisi anggota panitia kerja yang lain. Sementara pada barisan kursi yang menghadap ke depan diisi oleh Fredly dan para bawahannya, sehingga posisi mereka tepat berhadapan dengan posisi Rani disana.
"Silahkan jika ada yang perlu Anda sampaikan, untuk mengawali pertemuan ini! Harap diingat bahwa pertemuan hari ini adalah kesempatan terakhir untuk Anda berbicara, karena mulai besok kami akan menyusun rekomendasi, apakah kasus ini kita tutup sampai disini atau kita rekomendasi untuk dilakukan penyidikan oleh aparat," ucap Rani dengan tenang.
Sebenarnya sebelum berangkat ke kantor tadi, Ryan sudah menceritakan siapa pengirim paket misterius itu, namun Rani memilih untuk pura-pura tidak tahu. Rani pun tidak berusaha memberi tahu rekan-rekannya tentang gratifikasi yang coba dilakukan oleh Fredly, sehingga rapat waktu itu bisa berjalan secara alami.
Berbeda dengan Rani yang bersikap tenang, Fredly menghadapi forum itu dengan keringat dingin. Setelah percobaan penyogokan terhadap Rani yang gagal kemarin, dia sadar sepenuhnya bahwa pejabat kecil yang kini berada tepat di hadapannya itu akan membereskan dirinya saat itu juga.
"Berhentinya perputaran uang di Era Bank, diakibatkan oleh kredit macet yang selama beberapa tahun ini trend-nya semakin naik, tidak semakin turun," hanya kalimat itu yang terus di pertahankan Fredly dari awal pertemuan, hingga rapat selesai.
Dan hari itu adalah hari yang panjang bagi Rani dan teman-temannya, karena dari investigasi mereka selama beberapa hari terhadap seluruh pihak terkait menunjukkan satu kejahatan terselubung yang benar-benar nyata, sehingga mau tidak mau hukum yang harus berbicara.
***
Malam itu Ryan menunggu Rani di area parkir gedung Dewan yang masih terlihat ramai dengan mobil yang terpakir, menandakan aktivitas di dalam gedung belum ada tanda telah berakhir. Sekilas, dia melirik jam yang terpasang di tangan kirinya, waktu menunjukkan sudah lewat tengah malam. Menyadari itu, Ryan mulai gelisah dan menerka-nerka apa yang sedang terjadi di dalam sana, mengingat ini adalah kali pertama dia mendapati istrinya belum juga pulang hingga selarut ini sejak mereka menikah.
Terdengar suara ketukan di kaca mobil, membuyarkan pikiran Ryan yang sedang mengembara entah kemana.
"Mas, buka!" suara renyah Rani segera terdengar disana.
Dengan bersemangat Ryan langsung menekan central lock mobilnya, sehingga Rani bisa membuka pintu mobil dan duduk di kursi sebelahnya.
"Maaf telah membuat suami tercinta Rani menunggu," ucap Rani dengan riang, meskipun wajah itu terlihat lelah.
"Coba ulangi lagi, apa yang kamu bilang barusan!" pinta Ryan, ingin Rani mengulang kata suami tercinta yang barusan dia dengar.
"Maaf telah membuat Mas Ryan menunggu," kata Rani lebih keras.
__ADS_1
"Bukan, bukan yang itu. Tadi kamu bilangnya tidak begitu loh," ucap Ryan masih menuntut jawaban.
"Ahh, sudahlah. Rani lupa. Ayo kita pulang!" Rani mengalihkan, dengan muka merah yang berusaha dia sembunyikan.
"Baiklah, kita segera pulang. Kamu harus segera memberikan bayaran setimpal karena telah membuat Mas menunggu hingga selarut ini," ucap Ryan sambil mengerlingkan satu matanya.
"Ambillah bayaran sebanyak yang Mas mau," ucap Rani dengan senyum penuh arti.
Mendengar kata-kata istrinya yang sudah mulai berani itu, Ryan langsung bersemangat. Dengan segera dia melajukan mobilnya, tidak sabar ingin segera sampai ke rumah mereka.
"Mas tahu hari ini kamu sangat menikmati setiap aktivitasmu, Sayang. Dan Mas tahu apa artinya itu. Mulai hari ini akan semakin banyak musuh yang akan mengincarmu, karena kasus Era Bank adalah kasus gunung es yang sudah kamu permainkan," gumam Ryan dalam hati.
Ryan yang sudah cukup memahami siapa Rani itu pun, bahkan sudah menyiapkan penjagaan berlapis untuk mengamankan setiap hal membahayakan yang justru selalu dinikmati istri kecilnya. Karena setelah hari ini, mungkin akan ada paket misterius demi paket misterius selanjutnya yang pasti Rani terima.
"Huhh, kenapa jalan ini yang mesti kamu pilih, Sayang. Bukannya lebih enak menjadi istri sholehah yang hanya duduk manis di rumah?" batin Ryan kemudian.
Ryan pun terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang sudah mulai lengang tanpa mobil yang berlalu-lalang. Dia menoleh ke arah istrinya, ternyata dia sudah tertidur pulas.
Ada senyum tipis yang tersungging di pipi Ryan, melihat istrinya yang akan sedikit merepotkannya memang. Namun dalam hati, Ryan sudah berjanji. Akan menjaga Rani dengan penjagaan sempurna yang dia bisa.
BERSAMBUNG
***
***Hallo Readers*...
Jangan lupa tinggalin jejak ya. Kasih vote, like, comment dan favorit. Jangan lupa juga kasih rate 5. Oke? Terima Kasih**.
__ADS_1
***