
Kaget, Naja membalikkan tubuhnya begitu ada seseorang yang dengan sengaja menepuk bahu kanannya. Perkiraan Naja, pasti orang yang kini sedang berada di belakangnya itu adalah salah satu di antara mereka yang menyadari bahwa kroninya telah tumbang di tangannya.
Dan hanya dalam hitungan detik, mereka sudah berdiri berhadapan, dengan posisi Naja mengarahkan senjatanya ke arah orang yang ada di hadapannya.
"Bagus sekali reflekmu," cicit orang itu dengan santai. Dia menyeringai, dengan tatapan tajam yang penuh dengan tanda tanya besar.
Naja membelalakkan matanya, menyadari siapa orang yang kini ada di hadapannya. Seketika dia menurunkan senjatanya dan menunduk, tidak tahu apa yang harus dia katakan kepada pria itu.
"Tuan, Anda belum tidur? Kenapa malam-malam begini Anda di luar?" sapa Naja, sambil mengkondisikan diri agar dia bisa bersikap sewajarnya.
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu. Tidak baik seorang gadis malam-malam begini masih berada di luar, apalagi bersama enam orang pria sekaligus. Mmm, tapi rupanya kau sangat hebat ya? hingga mampu membereskan keenam orang ini seorang diri. Apakah memang semua supir pribadi di keluarga Dewangga sehebat ini?" sindir pria itu, masih dengan tatapan yang memandang Naja dengan begitu pekatnya.
Naja masih terdiam, bingung dengan apa yang hendak dia jelaskan.
Ya, orang itu adalah Daniel. Dan keenam orang yang berhasil Naja tumbangkan adalah anak buah Daniel yang sengaja diperintahnya untuk memancing aksi Naja malam itu.
***
Flashback
Tuan meminta saya agar mengantarkan Anda untuk menemuinya sekarang, Nona," ucap Naja.
"Dimana dia?" Rani mengerutkan dahinya.
"Nanti Anda akan mengetahuinya, Nona. Permisi, saya tunggu di bawah," tutup Naja, sambil membungkukkan badanya dan berlalu dari hadapan nonanya.
Daniel bisa mendengar percakapan antara Naja dengan Rani, sesaat setelah Naja mengetuk pintu kamar Rani dan mereka membicarakan soal perintah Ryan.
Tanpa pikir panjang, Daniel pun langsung mengambil inisiatif untuk mengikuti kemana mereka pergi.
__ADS_1
Setelah memastikan Rani turun dan Naja tidak menunggu, Daniel pun mulai menyusun rencana. Apalagi ketika melihat Naja menepikan mobilnya di sebuah parkiran taman kota, membuat Daniel merasa bahwa takdir sedang berpihak kepadanya.
"Apakah kau ingin menghindari bertemu denganku Daysie? Jika tidak? Kenapa kau berhenti di tempat ini sampai selama ini? Kau pikir kau bisa lepas begitu saja dari orang yang telah menerima sumpah setiamu ini, heh?" gerutu Daniel dalam hati.
Sembari menunggu mobil yang dikendarai Naja bergerak, Daniel segera menyuruh Johan untuk menginstruksikan anak buahnya agar melakukan apa yang Daniel minta.
Sementara itu, dengan berpura-pura mencari Daniel, Johan berhasil mengelabuhi satpam yang ada di pos depan dan memutuskan sambungan telphon yang ada di sana.
Setelah sekitar tiga jam berdiam diri di parkiran taman itu, akhirnya Naja bergerak menuju kediaman Dewangga. Melihat Naja bergerak, Daniel pun ikut bergerak mengikutinya.
Begitu Naja masuk ke dalam rumah, Daniel sengaja menelphon Arya, dan seseorang diminta menelphon Pak Rudi.
"Aku yakin, kalau kau akan menelphon Pak Rudi dan Arya begitu kau masuk dalam kamarmu, Daysie. Karena melihat dua mobil anak buahku pasti akan menimbulkan beribu pertanyaan di benakmu. Tp kau kalah cerdik, Daysie. Aku bisa dengan mudah membaca apa yang akan kau lakukan," batin Daniel lagi.
Dan ternyata dugaan Daniel benar. Daniel yang memarkir kendaraannya cukup jauh dari mobil ke dua anak buahnya, bisa melihat seluruh aksi yang dilakukan Naja dari semak-semak yang dia gunakan sebagai tempat persembunyiannya.
"Kau memang Daysieku," Daniel berdecak kesal, melihat seluruh aksi yang Naja lakukan.
End of flashback
***
"Kenapa kau diam? Kaget karena tuanmu ini bisa memergoki apa yang kau lakukan? Aku tak terima sebuah pengkhianatan, Daysie," suara Daniel menggelegar, menggema dibalik kesunyian malam.
"Siapa yang Anda maksud, Tuan? Saya sungguh tidak paham. Saya adalah Naja, dan saya bekerja untuk majikan saya, keluarga Dewangga. Saya Naja, bukan Daysie seperti yang Anda sebutkan tadi. Apapun masalah Anda dengan Daysie, itu bukan tanggungjawab saya," Naja langsung bisa mengendalikan diri. Inilah kelebihan Naja. Dia memang sudah sangat terbiasa berperan sebagai apa saja dan siapa saja agar lawan bicaranya percaya.
"Kau pikir aku percaya kalau kau hanya sekedar seorang supir pribadi setelah apa yang kau lakukan pada ke enam anak buahku ini?" tanya Daniel dengan senyum sinisnya.
"Dan Anda pikir, jika saya bukan sekedar supir pribadi, saya adalah Daysie yang Anda maksud? Anda sungguh lucu, Tuan," jawab Naja tak mau kalah.
__ADS_1
Daniel semakin geram, mendengar jawaban Naja yang masih saja berputar-putar. Namun ketika Daniel ingin kembali menentang apa yang Naja katakan, beberapa mobil datang, dan belasan pria tegap berjas hitam menghampiri Naja dengan begitu sopan.
"Kami siap melaksanakan perintah Anda, Nona," ucap salah satu dari belasan pria itu sambil menunduk.
"Bantu Tuan Daniel membereskan anak buahnya," perintah Naja tegas.
"Baik, Nona," jawab pria itu.
Naja memandang anak buahnya satu-satu kemudian menatap lekat Daniel dan berkata, "Maafkan saya telah membuat anak buah Anda tak sadarkan diri, Tuan. Saya tidak tahu jika mereka bekerja untuk Anda. Oya, salam buat yang namanya Daysie jika Anda bertemu dengannya."
Setelah mengucapkan itu, Naja berbalik badan dan segera berjalan masuk ke gerbang utama.
"Daysie! Akan kubuat kau berjanji setia kembali kepadaku, bahkan seumur hidupmu. Kau harus membayar mahal pengkhianatan yang telah kau lakukan," seru Daniel kencang, namun sayangnya, Naja terus berjalan tanpa menoleh sedikitpun ke arah belakang.
Naja pun justru semakin mempercepat langkahnya hingga ke rumah utama dan masuk ke dalam kamarnya. Begitu sampai, dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat dan menguncinya, kemudian bersandar di balik pintu itu dengan mata terpejam dan tangan memegang jantung yang berdegup kian kencang.
"Untung aku bisa pergi dari hadapannya," gumam Naja lirih.
Entah kenapa, degup jantung Naja selalu kencang saat bertemu dengan Daniel. Bukan hanya karna rasa takutnya jika penyamaran dan pengkhianatannya benar-benar terbongkar, namun sejak dulu Daniel masih menjadi majikannya, misteri di hatinya itu memang sudah sangat sulit di kondisikan.
Naja juga tidak mengerti rasa apakah itu? Yang jelas, selalu saja seolah dunia sedang berhenti berputar pada porosnya saat dia dan Daniel saling bertemu mata. Entah takut atau apa, yang jelas rasa itu masih menjadi teka-teki dalam hatinya.
Sementara itu, di luar Daniel masih merasa geram dengan kepergian Naja yang masih bisa selamat dari jebakannya.
"Tunggu rencanaku selanjutnya, Daysie. Aku pasti akan membuatmu menyerahkan dirimu kembali dan berjanji setia kepadaku," ujar Daniel, dengan perasaan marah, benci, kecewa dan semua rasa lain yang berkecamuk di dalam hatinya.
BERSAMBUNG
❤ ❤ ❤
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, comment positif dan rate 5. Terima kasih