
Gelapnya malam mulai menambatkan hasratnya, berpadu dengan cahaya rembulan dan kerlip sang bintang yang asyik bercerita tentang pesona alam semesta. Senyap yang memahat keheningan pun bersatu padu dengan semilir angin yang menyapu lembut wajah ayu yang sedang berdiri mematung memandang keindahan cakrawala, sembari mendengarkan hati yang terus bertutur tentang kemana arah mata angin akan membawa dirinya pada sebuah totalitas perjuangan seiring dengan hiruk pikuk tingkah manusia yang sampai saat ini masih menjadi tanda tanya dalam benaknya.
"Ahh," Rani mendesah kasar. Pikirannya terus menari-nari memikirkan nasib Nina pasca kematian Digo. Entah kenapa, berita itu terus menyambar dan mengusik ketenangan hatinya.
"Sayang, lagi ngapain sih sampai suaminya pulang dicuekin aja?" tiba-tiba Ryan berbisik di telinga Rani, sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Rani dari arah belakang.
Rani yang sedari tadi sedang asyik dengan pikirannya sendiri di balkon kamar, sontak membalikkan tubuhnya dan membulatkan matanya karena kaget. Lebih kaget lagi ketika mendapati suami yang kini ada di hadapannya sudah dalam keadaan bersih, seperti habis mandi. Itu artinya, Ryan sudah pulang sejak lama tanpa Rani sadari.
"Mas Ryan sudah lama sampai? Kok Rani tidak dengar ya?" tanya Rani merasa bersalah.
"Habis istri Mas yang cantik ini asyik melamun aja sih. Sampai Mas masuk aja tidak dengar. Bahkan sampai Mas selesai mandi, kamu masih asyik sendiri di tempat ini," jawab Ryan sedikit menggoda.
"Maaf," ucap Rani dengan muka memerah.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan?" tanya Ryan sambil membelai rambut Rani dengan lembut.
Rani hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sepertinya dia enggan membicarakannya kembali dengan suaminya setelah percakapan mereka tadi siang.
"Rani hanya sedang menunggu Mas Ryan datang, sambil menikmati angin malam," jawab Rani berbohong.
"Baiklah, kalau begitu akan Mas temani kamu menikmati angin malam selama yang kamu mau," ucap Ryan dengan lembut.
Rani pun hanya mengangguk tanda setuju. Tak berapa lama, terdengar suara pintu kamar di ketuk. Karena terdengar suara Bik Tum memanggil, maka mereka mempersilahkannya untuk masuk.
"Maaf, Den. Ini coklat panas pesanan Den Ryan," ucap Bik Tum sambil menuju balkon dan meletakkan dua cangkir coklat panas pada meja kecil yang terletak di sana.
Rani pun segera duduk di kursi panjang dari bahan kayu jati yang berlapis busa empuk, yang terletak di dekat meja, di susul Ryan yang akhirnya duduk di sebelahnya.
Sesaat, mereka saling diam. Entah apa penyebabnya, yang jelas ada rasa saling tidak enak membuka percakapan, setelah percakapan tadi siang melalui telphon terkait Digo yang Ryan yakin ucapannya sangat jauh dari yang Rani harapkan.
Ryan terlihat berpikir sejenak, mencoba mencari cara bagaimana mencairkan suasana. Hingga tiba-tiba, dia meraih secangkir coklat panas itu dan meminumnya.
"Cih. Kenapa coklat ini rasanya asin?" ucap Ryan sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Mendengar ucapan Ryan yang dirasa aneh, Rani pun meraih coklat panasnya dan meminumnya.
"Masa? Punya Rani manis nih," ucap Rani sambil menyeruput coklat di tangannya berkali-kali.
"Tapi punya Mas Ryan asin, Sayang. Coba deh!" Ryan meyakinkan sambil mengangkat cangkirnya.
"Sini coba," timpal Rani sambil meminta cangkir yang dipegang suaminya.
"Nih," ucap Ryan, kemudian menyodorkan coklat panas miliknya.
Rani pun menerima coklat dari tangan Ryan dan meminumnya.
"Enggak kok. Ini manis, Mas,"
"Enggak. Itu asin, Sayang. Coba kamu minum lagi. Mungkin kamu ngicipnya terlalu sedikit,"
"Ini manis, Mas," Rani berusaha meyakinkan. Dia sangat penasaran kenapa coklat itu terasa manis di lidahnya sementara terasa asin di lidah suaminya.
"Coba kau cicip dengan lidahmu sekali lagi. Mungkin lidahmu kurang peka!"
"Ini manis, Mas," ucap Rani semakin kesal.
"Coba," Ryan yang melihat Rani sudah pasang tampang kesal meraih coklatnya kembali dan meminumnya.
"Ohh, iya. Kok sekarang jadi manis sih rasanya? Mungkin karena ada lidah bidadari yang menyentuh dan mengaduk-aduknya hingga rasa coklat yang tadinya asin bisa berubah jadi semanis ini. Hahaha," ucap Ryan sambil tergelak.
Rani yang tersadar bahwa suaminya itu sedang mengerjainya pun segera membulatkan matanya dan mencubit pinggang suaminya dengan keras.
"Iihh, resek banget sih ngerjain Rani," ucap Rani manja.
"Tapi suka kan, diresekin?" goda Ryan sambil mencubit pipi istrinya dengan hangat.
"Ihh, apaan sih?" timpal Rani tidak mau kalah.
__ADS_1
Suasana pun menjadi cair kembali. Rani menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya, sehingga Ryan merubah posisi duduknya dengan membaringkan tubuhnya pada kursi panjang yang ada disana setelah mengganjal kepalanya dengan bantal empuk yang tersedia. Ryan menarik tubuh Rani begitu saja dan direbahkannya tubuh itu di atas tubuhnya, sehingga Ryan bisa dengan bebas memeluk dan bermain-main dengan rambut panjang istrinya yang terurai. Sementara tepat di atas mereka, bintang berkedip-kedip bagai mata bidadari yang cemburu pada empat pasang mata yang kini saling memandang dengan mesranya. Sepasang kekasih yang telah halal memberikan apapun yang mereka punya sebagai ibadah kepada Tuhannya.
"Sekarang, ceritakan apa yang kamu pikirkan!" Ryan mencoba memulai pembicaraan.
"Kalau Rani membawa Nina ke rumah ini apa boleh? Biar dia membantu Bik Tum masak dan bersih-bersih," ucap Rani ragu.
"Jadi itu yang dari tadi kamu pikirkan?" tanya Ryan dengan santainya.
Rani hanya mengangguk pelan. Entah kenapa dia merasa sangat lega setelah mengatakan keinginannya kepada suaminya.
"Apakah boleh?" Rani bertanya sekali lagi untuk memastikan.
"Biar Arya yang urus keberangkatannya ke sini setelah Nina selesai bersaksi dalam persidangan," jawab Ryan dengan entengnya.
Mendengar jawaban suaminya, tiba-tiba mata Rani berbinar. Dia mengeratkan pelukannya seolah keresahan yang sedari tadi mengganggunya sirna seketika. Ryan pun menyambut Rani dengan suka cita.
"Jadi boleh?" tanya Rani memastikan.
"Hmm," jawab Ryan singkat.
"Terima kasih,"
"Hmm,"
Ryan hanya bisa menutup matanya, menikmati setiap desiran hati yang selalu terasa saat mereka sedang bersama. Meskipun setelah sekian lama bait-bait indah kata cinta itu belum pernah diikrarkannya, namun tarian aksara dan bunga bahasa selalu bermain manis dalam hatinya.
"Aku akan melakukan apapun asal kau bahagia, sayang," batin Ryan dalam hati.
Keputusan untuk membawa Nina bersama mereka mungkin keputusan yang paling tepat. Walaupun Ryan yakin, semuanya tidak akan berakhir sampai di sini. Rani sudah menyulut api kebencian di hati seseorang yang akan melakukan apapun demi bisa membalas dendam kepada siapapun yang telah mengusiknya. Bagaimana cara Ryan memadamkannya? Tergantung bagaimana Daniel Cullen mengajaknya bermain-main dengan cara seperti apa. Yang jelas, Ryan sudah bersumpah kepada dirinya sendiri, akan menjaga Rani dalam setiap jengkal nafasnya.
"Kita lihat bagaimana kau akan mengajakku bermain-main, Daniel," batin Ryan dalam hati.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan rate 5 ya. Ditunggu juga commentnya. Terima kasih