
Rani mencoba membaca kata-kata yang tersirat dari pandangan mata suaminya, setelah mendengar titah Papa Prabu yang terbilang mengejutkan itu. Sungguh, tak ada sedikitpun terlihat rasa bimbang di telaga matanya. Ryan masih bersikap tenang, bahkan langsung menyetujui titah sang papa tanpa ada penolakan.
Justru, saat itu Rani yang merasa terusik. Meski jawaban Ryan akan titah itu seolah menjadi lentera jiwa yang menerangi hatinya, namun rasa bimbang justru menyelimuti jiwanya.
"Dengan berbagai pertimbangan, Papa sudah menyetujui permintaan banyak pihak yang meminta Rani untuk mengikuti kontestasi di gelanggang pemilihan Wali Kota tahun depan," ucap Papa Prabu, yang menggelegar begitu saja di telinga Rani.
Bagaimana Rani tidak terkejut? Ucapan Papa Prabu ini benar-benar berbeda jauh dari misi awal mereka, dimana suaminyalah yang akan mengikuti kontestasi pemilihan Wali Kota tahun depan. Bahkan Rani sudah pontang-panting membuat skenario agar Ryan bisa dengan mudahnya melenggang di gelanggang kontestasi itu. Karena itulah Rani merasa tidak siap menerima mandat sang mertua.
"Papa sudah ingin menikmati masa pensiun dan istirahat di hari tua. Biarkan Ryan fokus mengurus perusahaan keluarga Dewangga. Karena itu Papa memintamu untuk menyetujui hal ini, karena Papa percaya kamu bisa. Tim survey Papa juga sudah bekerja sekian lama, kamu sudah punya modal banyak. Dari sisi popularitas kamu oke. Dari sisi akseptabilitas tak dapat diragukan lagi. Bahkan dari sisi elektabilitas kamu juga sudah terbukti. Grafikmu selalu naik dari hari ke hari. Partai yang akan mengusungmu bahkan sudah sangat siap. Jadi tidak ada alasan buatmu untuk menolaknya," titah Papa Prabu tak bisa di tawar lagi.
"Tapi Pa...," Rani mencoba mengungkapkan keberatannya, namun Ryan memberi isyarat untuk tidak berkata apapun kepada papanya. Ryan menggelengkan kepalanya dengan pelan, sambil mengelus tangannya sekedar untuk menenangkan.
"Baiklah, Pa. Kami setuju," Ryan menyetujui permintaan papanya dengan mantab. Tak ada gurat keterpaksaan ataupun keraguan sedikitpun dari ekspresi wajahnya, ketika kata itu diucapkan sebagai tanda persetujuannya akan mandat sang paduka.
Pernyataan ini sukses membuat Rani membulatkan mata dan mulutnya secara bersamaan.
"Kenapa Mas Ryan tidak bertanya kepadaku dulu?" protes Rani dalam hati.
Sayangnya, percakapan mereka siang itu tak bisa ditinjau ulang lagi. Titah paduka Prabu sudah finish, Ryan dan Rani hanya boleh mengiyakan tanpa ada kata penolakan. Walaupun tanpa mereka ketahui, sebenarnya keputusan papanya itu diambil bukan hanya karena popularitas dan elektabilitas Rani yang lebih unggul dari pada Ryan, tapi juga karena permasalahan perusahaan yang sudah tercium olehnya sejak awal.
Hingga akhirnya, sepasang suami istri itu pun pulang dari kediaman Prabu Dewangga dalam diam. Mereka duduk di kursi penumpang, dengan Pak Rudi sebagai pengemudi sementara Naja masih diminta tinggal di kediaman Papa Prabu karena ada tugas yang harus dia lakukan.
__ADS_1
Selama dalam perjalanan pulang, mereka justru sibuk menyelami pikiran mereka masing-masing, hingga tanpa mereka sadari, mereka sudah sampai di rumah mereka sendiri.
Setelah Pak Rudi membukakan pintu untuk mereka, Ryan membimbing Rani turun dari mobil dengan menggenggam erat tangannya, kemudian mengajaknya untuk masuk ke kamar mereka.
"Kemarilah, Sayang," setelah mendudukkan diri di sebuah sofa panjang yang terletak di depan tempat tidur mereka, Ryan menarik Rani untuk duduk di pangkuannya. Rani pun hanya menuruti setiap kemauan suaminya, dan duduk begitu saja di atas paha Ryan, dengan kedua tangan yang dikalungkan di leher kekasih halalnya.
"Kenapa kamu gelisah? Bukankan ini kesempatan untukmu, Sayang? Bukankah ini duniamu yang kau idam-idamkan?" Ryan bertanya sambil melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya, sementara hidungnya dia usap-usapkan pada hidung mancung bidadarinya itu.
"Menerima permintaan Papa Prabu, sama saja seperti sedang mengukir ego di atas batu cadas. Bukankah Mas Ryan bahkan pernah meminta Rani meninggalkan semuanya? Kenapa sekarang justru menyanggupi permintaan Papa dengan begitu mudahnya? Pasti Rani akan semakin sibuk di luar. Apa Mas Ryan tidak keberatan?" Rani mengungkapkan kegundahan hatinya.
"Jika Mas juga harus ikut terjun ke duniamu, lantas siapa yang akan menjagamu?" sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Ryan benar-benar membuat mulut Rani terbungkam. Ryan benar. Dunia yang Rani geluti adalah dunia yang kejam, dimana teman bisa menjadi lawan dan lawan bisa menjadi kawan. Jika mereka berdua berada pada dunia yang sama, bisa dipastikan mereka tidak akan bisa saling menjaga.
"Dunia yang kau cintai itu adalah dunia yang penuh onak dan duri, Sayang. Biarkan aku menjagamu, memelukmu, dan melindungimu dari setiap hempasan dan kegelapan yang menerpa setiap langkahmu. Tak akan pernah kubiarkan ada air mata yang menetes sedikitpun di pipimu, bahkan jika bisa aku ingin kau membiarkanku berbagi nafas dengan dirimu," lanjut Ryan dengan tatapan mata yang mendalam.
Entah kenapa bait-bait kata yang Ryan ucapkan mampu menghipnotis dan bermain indah dalam hati dan segenap jiwa Rani. Hingga penolakan demi penolakan yang telah Rani siapkan, kini berubah menjadi potongan-potongan klise yang berserak di atas hamparan pasir, yang terhempas begitu saja diterpa angin.
***
Di kediaman keluarga Dewangga, Prabu masih terlihat duduk di ruang kerjanya. Di depannya, seorang gadis yang telah mengucap janji setia kepadanya sedang berdiri terpaku menunggu titah sang paduka.
"Apakah tuanmu yang dulu ada kaitannya dengan pembelian saham secara besar-besaran di Dewangga Group akhir-akhir ini?" tanya Prabu memecah kesunyian. Untuk urusan ini, Prabu sangat mempercayai Naja mengingat dulu dia pernah menjadi seorang agen mata-mata yang ditugaskan untuk melayani pria itu.
__ADS_1
"Anda benar, Tuan. Dia adalah orang yang secara diam-diam membeli saham di Dewangga Group akhir-akhir ini," jawab Naja mantab.
"Berikan aku informasi lengkap tentang pria itu. Aku ingin tahu kenapa dari dulu dia selalu ingin mengusikku, dan kini mengusik putraku," perintah Prabu dengan ekspresi datarnya.
"Baik, Tuan," dengan sigab, Naja membungkukkan badannya dan beranjak keluar untuk melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya .
Setelah beberapa jam, Naja kembali dan menyodorkan beberapa kertas yang berisi informasi lengkap tentang kempetitor yang akhir-akhir ini sering mengusik ketenangan keluarga Dewangga.
"Dia adalah orang yang pernah hadir di masa lalu Anda, Tuan," Naja berkata dengan menundukkan kepalanya.
"Maksud kamu? Siapa dia?" seru Prabu sambil membaca informasi lengkap tentang sosok yang gigih ingin menguasai perusahannya itu. Melihat apa yang tertulis disana, tiba-tiba mata Prabu membelalak. Dia tidak menyangka bahwa takdir sedang mempermainkan dirinya.
"Jadi dia adalah...," pekik Prabu Dewangga, menyadari siapa sosok yang begitu ingin menghancurkan kehidupannya.
BERSAMBUNG
❤❤❤
**Jangan lupa tinggalkan jejak dengan mengklik like, vote dan rate 5 ya. jangan lupa juga tinggalkan comment positifnya. Terima Kasih.
Catatan**:
__ADS_1
popularitas (terkenal), akseptabilitas (diterima) dan elektabilitas (dipilih)