
Arya seperti berada di dua persimpangan jalan, bingung memilih belok ke kiri atau ke kanan. Otaknya tak lagi bisa berpikir secara utuh, karena jika boleh, dia ingin mengambil dua pilihan secara penuh.
"Ahhh," Arya mendesah kasar, jiwanya meronta-ronta.
Rasa itu kini benar-benar menyesakkan dada, hingga mulut yang ingin terbuka pun begitu sulit mengucapkan huruf demi huruf yang ingin dia eja.
"Ma, Arya tidak bisa, Ma. Arya mau pilih dua-duanya," jawab Arya lagi, kali ini sambil menangis tergugu seperti anak kecil.
"Arya, dengarkan Mama! Kita tidak punya waktu lagi. Kau putuskan sekarang, atau kita kehilangan dua-duanya," bentak Mama Davina, merasa mereka sudah tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama lagi.
"Selamatkan istri Arya, Ma. Selamatkan Lena Adeebaku," air mata Arya tumpah, dia menutup telpon Davina dan melemparnya begitu saja, kemudian kembali tergugu.
Ryan, Daniel dan Johan yang saat itu masih dalam perjalanan bersama Arya menyusul Lena ke rumah sakit pun sangat prihatin dengan kondisi Arya, tapi tidak berani memberikan komentar apa-apa. Mereka hanya bisa menepuk bahu Arya, untuk sekedar menenangkan dan mentransfer kekuatan.
End of flashback
***
"Apa yang terjadi, Ma? Bagaimana dengan Lena?" Arya bertanya sekali lagi.
"Lena masih di ruang operasi, Nak. Yang sabar ya, Sayang. Apapun yang terjadi, kita harus merelakan dan mengikhlaskannya," Mama Davina langsung memeluk Arya dengan perasaan hancur.
"Lalu bagaimana jika bayi kami benar-benar tak bisa diselamatkan lagi, Ma? apa yang harus Arya katakan kepada Lena ketika dia sadar nanti?" Arya terisak. Dia melepaskan pelukan Mama Davina kemudian menjatuhkan diri ke lantai, sebelum akhirnya duduk dan bersandar pada dinding sambil menekuk kakinya dan menjatuhkan kepalanya di atas kedua lututnya sambil menangis tersedu-sedu.
Semua yang melihat kondisi Arya ikut meneteskan air mata, begitu juga dengan Rani, Naja, Nina, dan Aghata yang baru saja datang, ikut hancur melihat hari kelahiran anak pertama Lena dan Arya yang sudah mereka nantikan sejak lama, harus berakhir dengan kabar duka.
"Mohon maaf, apakah suami pasien sudah tiba, Nyonya?" tanya seorang dokter yamg tiba-tiba keluar dari ruang operasi, sesaat setelah lampu di atas pintu ruang itu mati tanda operasi telah selesai dilakukan.
Arya yang mendengar dokter mencarinya pun langsung berdiri dan menghampiri dokter itu, diikuti seluruh orang yang berada di sana, yang sama-sama ingin mengetahui kondisi Lena dan bayi yang telah dilahirkannya.
__ADS_1
"Saya suaminya, Dokter. Bagaimana dengan kondisi istri dan anak saya?" tanya Arya, tak sabar menunggu dokter itu memberikan penjelasan kepadanya.
"Sejauh ini kondisi istri Anda masih sangat lemah, Tuan," dokter itu menjelaskan dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
"Apa maksud Anda, Dokter?" Arya menuntut penjelasan.
"Walaupun secara umum kondisi istri Anda cukup normal, tapi pasien masih sangat lemah, Tuan. Karena itu kami meminta izin kepada Anda untuk memindahkannya ke ruang ICU terlebih dahulu, agar memudahkan kami dalam memantau kondisinya secara intensif," lanjut dokter itu.
"Tapi dia bisa selamat kan, Dokter? Lakukan apapun asal istri saya bisa selamat, Dokter. Saya mohon, selamatkan dia!" sahut Arya menceracau.
"Kami akan berusaha sebaik mungkin, Tuan Arya. Jika memang Anda mengizinkan, kami akan segera memindahkannya ke ruang ICU," ucap dokter itu sambil memberikan seulas senyum kepada Arya.
"Lalu bagaimana dengan bayi kami, Dokter?" Arya memberanikan diri untuk mendengar apa yang akan dikatakan dokter itu atas pertanyaan yang dilontarkannya.
"Kami sudah sangat berusaha untuk menyelamatkan putra Anda, Tuan. Tapi terlalu beresiko jika kami harus memilih dua-duanya," mimik muka dokter itu kembali berkabut.
"Jadi dia benar-benar tiada, Dokter?" Arya memastikan.
Ryan, Daniel dan Johan pun segera memeluk Arya, sekedar untuk memberi kekuatan.
"Belum rezeki kalian, Ar. Tapi jalan kalian masih panjang. Kalian masih memiliki banyak kesempatan," cicit Ryan sambil menepuk bahu Arya dengan pelan.
***
Arya terus berada di sisi Lena yang belum sadarkan diri pasca operasi, sementara yang lainnya memutuskan untuk pulang sejenak, mengurus pemakaman bayi mereka yang benar-benar telah dinyatakan meninggal oleh pihak rumah sakit.
"Kuatkan dirimu, Sayang. Meskipun, kau harus menjadi seorang ibu, tanpa adanya anak dalam pelukanmu," gumam Arya dalam hati.
"Bertahanlah dan tetaplah bersamaku, Adeebaku! Kita ikhtiar lagi sampai Allah menitipkannya kembali. Walau langit tak selamanya biru, awan juga terkadang berubah menjadi kelabu, tetaplah kuat untukku. Bukankah kita pernah sama-sama menyerah saat terpisah dulu? Tapi lihatlah, kekuasaanNya membuat kita bisa bersama pada akhirnya. Dan kali ini, aku sungguh memohon kepadamu, Sayang. Tetaplah bersamaku hingga sampai di ujung waktu," bisik Arya tepat di telinga Lena.
__ADS_1
Kini perasaan yang bahkan tak mampu Arya ungkapkan dengan kata-kata benar-benar telah menyesakkan dada, hingga bulir bening yang terus berderai dari ujung mata Arya pun tak terasa menetes, membasahi tangan Lena yang kini berada dalam genggamannya.
Hingga tiba-tiba, Lena berangsur-angsur tersadar. Dia mengerjab-kerjabkan matanya berkali-kali, menyesuaikan dengan bias cahaya yang mulai masuk.
Sesaat, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang, kemudian memandang suaminya dengan tatapan penuh tanda tanya besar.
"Sayang, kamu sudah sadar?" Arya tersenyum lega sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Lena mengedipkan mata seolah ingin mengiyakan pertanyaan suaminya. Bahkan bibirnya yang terlihat kering dan bewarna agak biru karena pucat terlihat bergerak-gerak ingin mengucapkan sesuatu, tapi karena kondisinya sangat lemah, suara Lena hampir tidak terdengar di telinga Arya.
"Jangan bicara apapun dulu, Sayang. Aku panggilkan dokter dulu," Arya mengecup kening Lena dan beranjak keluar untuk memanggil dokter agar segera memeriksa kondisinya.
Setelah dokter menyatakan bahwa kondisi Lena sudah stabil, mereka pun memindahkan Lena ke ruang perawatan, setelah menyuntikkan beberapa obat melalui infus yang terpasang di tangan kanan Lena.
Efek dari obat inilah yang membuat Lena tertidur hingga pagi berikutnya, sehingga Arya masih punya waktu untuk menyusun kata-kata, untuk menjawab pertanyaan Lena yang sudah pasti akan menanyakan tentang buah cinta mereka.
Dan saat-saat itu akhirnya tiba. Setelah tertidur selama 18 jam, akhirnya Lena terbangun dari tidurnya.
"Ka ... Kak Tama," panggil Lena lirih, sambil mengusap kepala Arya yang tertunduk di samping ranjang. Ya, semalaman Arya tidur di kursi jaga sebelah tempat tidur Lena, dengan kepala dia sandarkan di tepi ranjang, dimana Lena terbaring lemah di sana.
"Eh, kau sudah bangun Sayang? Apakah kau baik-baik saja? Apanya yang sakit? Biar Kak Tama panggilkan dokter ya?" cecar Arya.
Lena hanya menggeleng pelan.
"Mana bayi kita? Aku ingin melihatnya,"
BERSAMBUNG
💖💖💖
__ADS_1
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Like, vote dan rate 5 dulu, dong. Terima kasih. 😘