
Flashback
Begitu Felix menarik tubuh Zara masuk ke dalam helikopternya dan melihat musuh serta pasukan aparat kepolisian tak bisa berbuat apa-apa, Felix segera meminta pilot itu untuk segera menerbangkan helikopternya. Pesawat kecil itupun langsung terangkat ke udara, seiring dengan Felix yang sedang berusaha untuk menutup pintunya.
Namun jiwa kepahlawanan Indra terus meronta, tak rela jika gadisnya harus tersandra oleh mantan majikan Zara yang tentu kini sangat dendam kepadanya. Karena tak ingin terjadi apa-apa dengan kekasih hatinya, Indra pun melompat ke atas dan mencegah Felix untuk menutup pintu itu dan membawa Zara bersamanya.
Seketika, terlihatlah pemandangan mengerikan di hadapan mereka semua. Tubuh Indra ikut terangkat seiring dengan helikopter yang perlahan mengudara. Hingga Felix yang merasa berada di atas pun, terus berusaha menendang tubuh Indra yang kini bergelantung di bawah pijakan helikopternya.
"Kau ingin mengantarkan nyawamu, Anak Muda?" ucap Felix sambil berusaha membuat Indra jatuh dari helikopternya, sementara sang pilot terus menjalankan mainan canggihnya hingga semakin mengangkasa.
Sementara itu, aparat kepolisian segera berinisiatif untuk mengambil kesempatan. Melihat Felix tak lagi fokus dengan senjata api di tangannya, aparat mengambil senjatanya kembali dan berusaha membidik tubuh Felix yang kini sudah terbang semakin tinggi. Tapi karena helikopter itu belum pergi jauh, tembakan demi tembakan pun terus sang aparat layangkan ke arahnya. Satu tembakan, dua tembakan, tiga tembakan, akhirnya peluru mengenai sasaran. Tubuh Felix limbung hingga terjatuh dari pesawat kecil itu, namun sayang, tangannya berhasil meraih kaki Indra hingga mereka sama-sama jatuh entah kemana.
Zara yang kini berada dalam helikopter itu hanya bersama sang pilot, langsung mengambil senjata api kepunyaan Felix yang terjatuh di dalam pesawat sebelum Felix jatuh ke jurang bersama Indra.
"Enyahlah dari helikopter ini dengan parasutmu, atau kau tak akan pernah lagi bertemu dengan keluargamu," ucap Zara sambil mengarahkan senjatanya.
Sang pilot pun membiarkan Zara mengambil alih helikopternya, dengan satu tangan yang terus mengarahkan senjata itu ke arahnya.
Hingga akhirnya, pilot itu menjatuhkan diri dengan parasut miliknya, dan Zara membalikkan helikopter itu untuk menjemput tuan dan nonanya.
Begitu sang pilot mendarat sempurna, dia berinisiatif mencari tubuh Felix yang menurut perkiraannya, pasti terjatuh ke dasar jurang di sekitar istana itu berdiri dengan megahnya. Dan apa yang dilakukannya, ternyata tak sia-sia. Setelah menyusuri hutan itu beberapa lama, sesuai perkiraannya Felix Adinata dia temukan dalam kondisi pingsan, dengan darah yang bersimbah di sekelilingnya.
Tak jauh dari tubuh Felix ditemukan, sang pilot melihat tubuh Indra yang sudah terkapar. Dia memeriksa hidung dan pergelangan tangannya untuk memastikan nafas dan denyut nadinya, ternyata Indra hanya pingsan saja.
Tak berani berbuat lebih banyak lagi, akhirnya pilot itu pun menyeret tubuh Indra ke dekat lubang yang dia lihat tak jauh dari tempat mereka berada.
Begitu Indra dia masukkan ke lubang itu, sang pilot mengumpulkan ranting, daun, rumput dan apapun yang dia temukan di sana untuk dimasukkan di lubang yang sama, agar Indra tak bisa ditemukan oleh siapapun juga. Setelah lubang itu penuh dan Indra tak bisa lagi tertangkap oleh mata, sang pilot menggeser beberapa pohon kering yang tumbang di sekelilingnya dan menutupi lubang itu hingga terlihat sangat alami dan lubang itu betul-betul tertutupi.
Setelah masalah Indra dirasa selesai dengan sempurna, sang pilot pun meninggalkan Indra di sana dan membawa tubuh Felix pergi, untuk mendapatkan pertolongan pada luka tembaknya.
Beberapa menit setelah Felix dan sang pilot meninggalkan tempat itu, Johan, Rudi dan anak buahnya pun datang beserta aparat kepolisian. Berdasarkan titik koordinat yang ditunjukkan Naja, mereka pun menyisir tempat itu secara detail untuk mencari tubuh Indra. Sayangnya, mereka sama sekali tidak menyadari kalau ada lubang di sana, sementara Indra masih belum sadar dari pingsannya.
End of flashback
__ADS_1
***
Zara seperti kembali pada masa-masa silam yang begitu mencekam, dimana dia harus kehilangan kedua orang tuanya sekaligus secara bersamaan. Ya, ketakutan itu tiba-tiba muncul saat membayangkan jika hal yang sama juga akan menimpa kepada Indra. Begitulah perasaan Zara saat melihat kondisi Indra yang begitu lemah bersandar pada tubuhnya, dan hanya diam saja tanpa merespon apapun lagi ucapan Zara kepadanya.
"Kau tidak boleh meninggalkanku, Ndra! Bangun kubilang! Atau aku akan memarahimu seumur hidupku," Zara semakin tergugu. Otaknya seolah berhenti berpikir, karena yang ada dibenaknya hanya satu, dia tak rela jika pria yang begitu dicintainya itu akan pergi meninggalkannya saat itu juga.
Lama Zara menangis sambil terus menyebut nama kekasih hatinya. Ya, hanya itu yang bisa Zara lakukan, tanpa berani memastikan apakah pria itu benar masih hidup atau sudah pergi dari dunia ini.
Hingga setelah dia menangis cukup lama dengan terus mendekap tubuh Indra, akhirnya dia memberanikan diri untuk mengecek denyut nadi dan nafas Indra melalui lubang hidungnya.
Dengan ragu, Zara memegang pergelangan tangan pria itu, kemudian mengarahkan jarinya ke dekat hidung Indra.
Menyadari kondisi Indra saat itu, Zara pun menangis sejadi-jadinya. Karena ternyata, bukan hanya denyut nadi dan nafas Indra saja yang masih ada, tapi kelakuannya yang sering membuat Zara tak habis pikir di buatnya masih saja dia tunjukkan bahkan di saat tubuhnya sudah tak berdaya karena penuh luka.
Ya, hal tak terduga Zara dapatkan saat dengan begitu seriusnya dia memeriksa nafas dan denyut nadi Indra. Bagaimana tidak? Ketika Zara mendekatkan wajahnya dan menempelkan jarinya tepat di hidung Indra, tiba-tiba ada gerakan super kilat yang membuat sebuah pagutan mendarat dengan manis di bibirnya.
"Indraaaa! Kau jahat, sungguh jahat!" Zara benar-benar menangis sejadi-jadinya, setelah Indra melepaskan pagutannya. Ternyata Indra hanya berpura-pura tak mendengar ucapan Zara, hanya untuk mengetahui sejauh mana gadis itu mencintainya.
"Aku tak sabar menunggu saat dimana kau akan terus memarahiku seumur hidupmu, Sayang," Indra terkekeh meskipun terdengar sangat lirih. Puluhan luka di tubuhnya, tak membuat keisengannya hilang begitu saja. Begitulah cara Indra mengekspresikan kecintaannya kepada Zara, walau harus dia lakukan dengan menahan sakit akibat luka di sekujur tubuhnya.
"Aku tahu, hatiku tak pernah salah memilih dirimu untuk menjadi cinta terakhirku," kali ini nada Indra berubah menjadi sendu.
Moment itu pun benar-benar berubah menjadi moment penuh haru. Moment bahagia dengan kesyukuran yang begitu membuncah di dalam hati mereka, dimana sekali lagi goresan pena Tuhan menakdirkan mereka untuk kembali bersama.
"Apa kau masih bisa bertahan sampai mereka menjemput kita esok hari, Sayang?" Zara tak mau kecolongan. Kondisi Indra malam itu harus segera dia pastikan.
Indra tak menjawab apa-apa. Dia justru semakin mengeratkan pelukannya, pada sosok gadis yang sungguh begitu luar biasa.
"Kumohon, bicaralah. Katakan apa yang saat ini sedang kau rasakan. Katakan bagian mana yang sakit, dan apakah kau masih bisa menahannya hingga hari mulai terang," Zara masih belum bisa menghilangkan rasa khawatirnya.
"Kenapa kau diam saja? Jika memang kau benar-benar merasa kesakitan, aku akan membawamu naik sekarang," oceh Zara, membuat Indra justru mengembangkan senyumnya.
"Kau tak akan bisa, Zara. Karena kakiku tak bisa digerakkan. Aku rasa, aku mengalami patah tulang," Indra menjawab dengan entengnya.
__ADS_1
"Kau jangan bercanda!" seru Zara. Hal yang selalu membuat Zara kesal dengan pria yang kini berada di pelukannya itu adalah, dia tak pernah bisa ditebak arah pembicaraannya.
"Aku tak akan mati hanya karena luka ini, Zara. Aku akan tetap hidup sebelum bisa memilikimu seutuhnya dan kita bisa hidup bersama hingga menua bersama. Jangankan harus menunggu sampai besok pagi. Hingga bertahun-tahun pun, akan kujalani asal kau ada di sini," lirih Indra sambil mencoba menggeser kakinya, namun gagal karena rasa nyeri luar biasa yang dirasakannya.
"Apa kau yakin bisa menunggu hingga esok pagi?" Zara kembali memastikan.
"Aku tak pernah ragu dan selalu yakin dengan pilihanku. Apa kau yakin dengan keputusanmu, Zara?" ditanya dan berbalik bertanya, seolah sudah menjadi kebiasaan Indra.
"Keputusanku? Keputusan yang mana?" Zara mengerutkan dahinya.
"Keputusan untuk lebih memilih bersamaku," sahut Indra nanar.
"Kau sedang meragukanku?" protes Zara, dengan nada tak suka.
"Setelah hari ini, aku tak tahu bagaimana kondisiku, Zara. Jika ternyata aku tak lagi sempurna, jika aku menjadi cacat selamanya, apa kau mau jika aku memintamu untuk kembali kepadanya?" sebuah pertanyaan konyol lolos begitu saja dari mulut Indra.
Puluhan luka dalam tubuhnya membuat Indra seolah mati rasa. Puluhan perih dari puluhan luka yang berbeda, kini bercampur baur menjadi satu, sampai-sampai Indra tak bisa merasakan sakit di bagian tubuhnya yang mana, yang menimbulkan kesakitan luar biasa itu. Hal inilah yang membuat lintasan-lintasan pikiran buruk berseliweran di benak Indra, tanpa bisa dikendalikannya.
"Jangan harap, Indra. Bahkan sebelum kau memintanya, aku langsung akan menolaknya. Kau pikir aku mencintaimu hanya karena fisikmu saja? Kau benar-benar ingin aku memarahimu ya?" Zara benar-benar merasa kesal dengan perkataan Indra yang sungguh tak masuk akal.
"Kau sungguh tak kan menyesal, Sayang?" Indra kembali memastikan.
"Kupastikan aku tak main-main dengan ucapanku. Bahkan setelah keluar dari tempat ini, aku sungguh-sungguh memintamu untuk langsung menikahiku," putus Zara, tak bisa ditawar lagi.
"Apa?" Indra tak menyangka jika Zara minta sebuah ikatan secepat ini.
"Kenapa kau kaget seperti itu? Nikahi aku, Indra. Miliki aku seutuhnya. Aku benar-benar tak sanggup jika harus kehilangan lagi. Cukuplah hari ini rasa takut itu menguasai diriku, dan setelah ini aku benar-benar ingin menjadi milikmu, agar aku tak pernah menyesal seumur hidupku jika sesuatu terjadi padaku, atau pada dirimu," ucap Zara dengan tangis yang tertahan.
"Sssttt, tidak akan terjadi apa-apa, dan tidak ada sesuatu pun yang bisa memisahkan kita, kecuali ajal yang sudah ditakdirkan olehNya," Indra menutup mulut Zara dengan ibu jarinya.
Zara mengangguk pelan. Dia mengaminkan dalam hatinya setiap perkataan Indra dan segala do'a dan harap yang terlantun Indah dari keduanya. Dan malam itu, mereka berdua terus bercengkerama, hingga Indra terlelap dalam dekapan gadisnya.
Sementara Zara, tak berani memejamkan mata sedikitpun hingga pagi tiba. Ya, ketakutan dan kekhawatirannya pada kondisi Indra, membuat Zara terus terjaga.
__ADS_1
BERSAMBUNG